Ketabahan Seorang Ibu

Ketabahan Seorang Ibu
menyerahkan semuanya


__ADS_3

Mendengar semua penuturan Nana tentang lelaki yang bernama cu'eng,Herman pun segera terpikirkan ide yang diberitahukan Rohanah padanya,kali ini ia berfikir dirinya tak boleh kalah dari pria tersebut,mengingat orang yang dirasa saingan itu adalah orang yang mapan,jadi tekadnya sekarang sudah bulat


"Nana,ayah mau minta tolong boleh?" ucapnya tanpa ragu


"Boleh,apa memangnya?"


"Begini...,Nana 'kan,tahu.Sekarang ini ayah belum ada pekerjaan,haahhh...rasanya malu sekali sama kamu sama ibumu,ayah belum bisa membahagiakan kalian," ia menghela nafas dalam


"Terus berusaha ayah,semangat! Nana yakin ayah akan mendapatkan pekerjaan sebentar lagi," Ratna berusaha menyemangati sang ayah


"Tapi ayah tidak yakin akan mendapatkannya," ujar Herman pesimis,sekarang wajahnya tampak murung


"Tapi beda lagi ceritanya kalau Nana mau menolong ayah," menatap Nana dengan lekat,ia berharap Nana mau diajak bekerja sama


"Memangnya apa yang bisa Nana bantu ayah?"


"Ehm begini...,rencananya ayah akan membuka usaha mebel,dan itu membutuhkan modal yang sangat banyak,untuk beli kayu,untuk membeli mesin dan untuk lain lainnya," Herman berusaha menjelaskan kepada sang anak tentang semua rencana nya,berharap Nana mau membantunya


"Hmm,terus?" gadis kecil itu masih belum sepenuhnya faham tentang rencana sang ayah,terkhusus tentang permintaan tolong nya dia


"Ayah kan pengangguran,dan tak sedikitpun punya uang untuk membuka usaha itu.Jadi ayah berharap Nana mau memberikan semua perhiasan yang kau kenakan itu,untuk ayah jual dan uangnya untuk modal," tanpa rasa malu dan ragu ragu dengan sangat mudah lelaki itu meminta sesuatu yang samasekali tidak pantas sebenarnya,perlu diketahui semua perhiasan yang Ratna kenakan,dari anting,kalung,gelang,cincin serta gelang kaki adalah dari hasil jerih payah ibunya memeras keringat


Sontak saja Ratna begitu kaget mendengar permintaan ayahnya


"Tapi ayah...,"


"Maksud ayah meminjam,bukan meminta secara percuma.Nanti,jika suatu hari usaha mebel ayah sukses,janji deh semua perhiasan itu akan di ganti,dengan yang lebih bagus dan mahal," belum usai Ratna menyelesaikan kalimatnya sudah disela oleh Herman,rupanya laki laki itu tak menerima penolakan ataupun alasan lainn,untuk sekarang ia menginginkan semua rencana yang sudah tersusun rapih bisa terwujud.

__ADS_1


"Bisa ya sayang,kamu menolong ayah?" ucapnya begitu memelas


Sejenak Ratna berfikir dan bimbang,gadis itu tidak bodoh untuk begitu saja memberikan semua perhiasan nya,sang ibu begitu mewanti wanti untuk menjaga semua perhiasan yang dikenakan dengan baik,namun di satu sisi ia juga merasa kasihan melihat Herman memelas seperti itu,apalagi niat nya baik.Demi kelangsungan hidup mereka.


"Nanti deh,Nana ijin dulu sama ibu," setelah berfikir ia memutuskan untuk terlebih dahulu bilang kepada sang ibu


"Ah,begini nak.Sebelumnya ayah sudah minta tolong sama ibumu,tapi dia tidak mau menolong ayah," ucapnya sendu


"Begitu?" Nana tetap berprasangka baik terhadap sang ibu,ia tidak terpengaruh ucapan Herman,yang seperti sedang menjekkan Mirah dihadapan nya


Melihat reaksi Nana yang biasa biasa saja Herman merasa dongkol,sebetulnya ia berharap ratna mendukung,dengan begitu dirinya akan mudah menaklukan Mirah melalui anaknya


"Nana mau kan menolong?" tanya Herman memastikan sekali lagi


"Baiklah kalau begitu, tapi sebelum itu aku mau bertanya,selama ini 'kan,kata ibu ayah bekerja di sumatera untuk mencari uang,memangnya kemana semua uang hasil dari pekerjaan itu? sampai sampai Nana baru tahu sekarang sekarang ini kalau ternyata punya ayah,waktu kecil aku mengira pak Musa lah ayahku.Ini,silahkan ambil semuanya," setelah mengatakan semua yang ingin diketahuinya Nana kemudian melepaskan satu persatu perhiasan itu dan memberikan nya kepada sang ayah,sedangkan Herman dibuat bungkam oleh semua ucapan Nana


"Hahhh...,baiklah.Jadi,bukannya ayah tidak punya apa apa samasekali,di sumatera ayah punya rumah,kebun kopi,kebun teh serta kebun lada putih dan hitam,namun semua itu kutinggalkan dan kuberikan kepada sahabat ayah yang sangat baik,ketika kami kesulitan ekonomi dan yang pertama kali mengajari caranya bertani adalah orang itu," ucapnya kembali terkenang semua harta yang di titipkan kepada sang sahabat


"Nah,itu.mengapa sebelumnya tidak ayah jual? mungkin sekarang tidak akan kesulitan seperti ini," ucapan Nana seperti orang dewasa,padahal gadis itu baru kelas empat SD dan sebentar lagi akan naik ke kelas lima.


"Ayah terlalu rindu kepadamu,ingin segera bertemu dan memelukmu anak'ku,sehingga ayah merelakan semuanya dan segera pulang ke puau Jawa ini," ucapan Herman benar benar membuat Nana terharu,anak itu bahkan sampai menitikkan air mata.


"Mengapa tidak dari dulu ayah pulang,jika benar merindukan Nana? mengapa membiarkan Nana hidup tanpa seorang ayah? untung saja ada pak Musa,Mak Disah dan ibu,yang selalu ada untuk Nana,"ucapnya sendu,


Ucapan Nana barusan benar benar membuat hati Herman benar benar merasa sakit,bukan sakit hati.Akan tetapi disini ia benar benar merasa amat sangat bersalah kepada Ratna,dan juga Mirah tentunya.Tak terasa air matapun mengalir deras


"Ratna anak'ku,maafkan ayah.Bukan tidak ingin pulang dan segera memelukmu,akan tetapi keadaan lah yang memaksa agar tidak segera kembali,ayah menjalani masa masa sulit selama bertahun tahun disana.Jangankan uang untuk pulang ke pulau Jawa,untuk kehidupan sehari hari saja ayah sering kesulitan dan di bantu oleh sahabat ayah," tangisnya pecah,ia memeluk Ratna mengusap pucuk kepala gadis itu penuh kasih,seolah menumpahkan kerinduan serta rasa cinta nya yang tertahan.Dan ini betul betul tulus dari hatinya yang terdalam

__ADS_1


"Ayah...,maafkan Nana," gadis itu merasa bersalah karena sudah berburuk sangka kepada sang ayah,


"Sudahlah,tidak apa apa 'nak,dari sini sudah dekat kerumah.Nana pulang sendiri 'ya,ayah mau menjual perhiasan mu dulu.Agar bisa segera membuka usaha," ucap Herman begitu lembut,kemudian setelah berpamitan lantas ia pun bergegas melangkah,dan pasar sebagai tujuannya.


***


Dirumah Mirah sedang mengintrogasi Ratna,yang pulang pulang dengan badan pelontos.Maksudnya adalah semua perhiasan yang dikenakan anak itu hilang tak satupun tersisa.


"Ayo jawab ibu 'nak,kemana semua perhiasan itu?" Mirah sebetulnya sudah merasa jengkel disebabkan Nana yang tak kunjung bicara,namun ia berusaha sabar dan menahan emosinya yang hampir meledak


"Jujur lebih baik,sayang." Disah menyemangati Nana


"Ayo bilang sama kami,siapa yang merampas semua perhiasan mu?" Musa pun angkat bicara,pasalnya jika ada yang berani macam macam terhadap sang anak kesayangan dirinya tidak akan tinggal diam


Mendapatkan berondongan pertanyaan,akhirnya Ratna pun jujur.


"A...ayah,Bu." ucapnya sambil menunduk karena ketakutan ibunya akan marah


"APAAA?!"


Ucap semuanya serentak kaget


.


.


.

__ADS_1


Setelah kejadian yang mengharu biru


__ADS_2