Ketabahan Seorang Ibu

Ketabahan Seorang Ibu
Mirah sibuk


__ADS_3

Setelah kepergian mirah ke bandung,nana terlihat sangat lesu.Setiap harinya bocah itu hanya berdiam diri,tidak ceria seperti biasanya yang lincah bergerak kesana kemari.Tak dipungkiri memang,hatinya begitu sedih dengan kepergian sang ibu,disah dan musa yang melihat itu tentu saja merasa iba.


"Sayang,nana jangan sedih sedih 'ya,nanti ibu disana juga merasa tak tenang.Sebab,ikatan ibu dan anak itu kuat sekali," dengan lembut disah memberikan pengertian kepada nana.


"Nana gak mau 'kan,ibu gak tenang disana.Gara gara kepikiran nana terus? jadi...emak mohon,nana harus selalu kuat 'hem?" pintanya dengan tangan terulur mengusap rambut panjang nana lembut.


Nana mendongak dengan mata berkaca kaca,menatap disah yang tengah mendekapnya sambil mengusap ngusap lembut rambut panjang nana,tak lama air mata gadis kecil itu pun turun tak tertahan lagi,dan tangisnya pecah.


"Huaaaa,emaaaakkkk,nana rindu sama ibu,biasanya-ibu mengelus punggung nana kalau mau bobo,terus-membacakan cerita juga," ujarnya disela tangisan yang sangat kencang.


Disah menghela nafas,sebenarnya ia begitu prihatin kepada bocah itu.


"Nak,kamu sayang 'kan,sama emak dan bapak?" lantas bocah itu pun mengangguk. "Sekarang dengarkan emak 'ya,ibumu sekarang itu sedang berjuang,demi masa depan kamu yang lebih baik,nana kan harus sekolah,dan sekolah itu perlu banyak biaya.Apalagi nanti kalau nana lulus sd dan lanjut ke smp,jadi lebih baik sekarang do'akan saja ibu disana supaya sehat selalu,emak bobo sini 'ya,nemenin kamu.Sini...mak usap juga punggungmu," dengan sigap disah membantu nana berbaring lalu menyelimuti nya,setelah itu ia pun ikut berbaring disamping nana dan mengusap punggung anak itu lembut,mulutnya pun tak berhenti mendongeng untuk si gadis kecil yang tengah bersedih.


Akhirnya setelah di berikan banyak pengertian,dan disah melakukan apa yang biasa mirah lakukan ketika nana akan tidur,gadis kecil itu pun tertidur lelap.Walau kadang suara isakan kecil masih terdengar.


......................


Pagi buta sebelum adzan subuh mirah sudah kembali dari pasar baru dan mulai sibuk di dapur untuk memasak,karena jika kesiangan ia akan sangat kerepotan.


Tak lama adzan subuh berkumandang, kebetulan juga ia sudah menyelesaikan masakannya,mirah pun bergegas untuk mengambil wudhu dan melaksanakan kewajibannya.


Selesai sholat subuh mirah bergegas menata dagangannya,aneka macam masakan tersedia,tak lama telepon pun berdering.


"krriiiingggg!!"


"Hallo! sapa mirah.

__ADS_1


"Hallo,teh...saya dari lapaz banceuy,pesan roti bakar untuk sepuluh orang,lima dengan selai nanas,dua selai coklat,dan tiga dengan mentega.Tambahkan juga,kopi hitam 6 dan susu 4,tolong di antar 'ya," suara disebrang sana,yang ternyata memesan roti bakar.


"Siap 'pak,sebentar saya siapkan," ujar mirah semangat.


Tak lama pesanan dari lapaz banceuy sudah siap,dan mirahpun segera mengantarkannya.Karena jarak pd.rahardjo dengan lapas berdekatan,jadi mirahpun tidak lama mengantar nya,sebentar juga sudah kembali.


"Terima kasih 'teh,nanti sore uangnya 'ya,sebab nanti siang dan sore saya dan teman teman pesan lagi,biar sekalian maksudnya," ujar laki laki bertubuh tinggi tegap,dan diketahui itu adalah sipir disana.


"Baiklah..." mirah mengangguk dan tersenyum manis.Kemudian ia pun berlalu meninggalkan lapaz itu.


Setibanya di kantin mirah disibukkan lagi dengan pesanan pesanan lainnya,dan kali ini dari kantor pos yang letak nya ada di sebelah pd rahardjo.


Matahari baru muncul dan masih malu malu,tetapi mirah dengan semangatnya sudah memeras keringat mencari rezeki,setelah sibuk kesana kemari mengantarkan roti bakar dan lainnya,kini ia disibukkan dengan berdatangannya pegawai bengkel dan karyawan showroom pak rahardjo untuk sarapan pagi disana.


"Teh nasi satu, terus lauknya saya mau gule ayam plus tempe bacem 'ya,jangan lupa tambahkan sambal dan kerupuk," pesan seorang laki laki bertubuh gempal.


"iya ,sebentar saya siapkan" ucap mirah.


"Baiklah,silahkan duduk.Ditunggu 'ya," mirah menyunggingkan senyum ramahnaya.


Begitulah,setiap paginya mirah sangat sibuk melayani pembeli yang datang ke kantin ataupun yang memesan dari berbagai tempat,seperti dari lapaz dan kantor pos.Dirinya sangat bersyukur dengan segala kemudahan yang ia dapatkan,apalagi ia dikelilingi orang orang yang baik,orang orang yang bekerja di bengkel dan karyawan showroom pak rahardjo sangat baik kepadanya.Begitupun para petugas lapaz dan kantor pos,mereka orang orang yang sangat ramah,ia sangat berterimakasih kepada omi sang kakak.


"Seperti nya daganganmu laris ya mir,kakak lihat...kamu sibuk sekali," omi tersenyum,dirinya bahagia melihat mirah sibuk.Itu tandanya dagangan sang adik laris,setidaknya dengan adanya kesibukan disetiap hari,mirah bisa melupakan kesedihannya sedikit demi sedikit.


"Alhamdulillah kak,sepertinya aku akan kerasan kerja disini.Orang orang nya pun ramah ramah," mirah mengukir senyum tulus di bibirnya.


"Alhamdulillah kalau begitu...ya sudah,kakak bekerja dulu 'ya," omi berdiri dan akan beranjak pergi.

__ADS_1


"Tunggu! kakak tidak sarapan dulu? mau roti bakar atau nasi?" omi yang akan melangkah segera membalikkan badan,saat mirah menjedanya untuk sekedar menawarkan sarapan.


"Terimakasih tawarannya,tapi tadi kakak sudah sarapan lontong sayur di depan sana itu," ucapnya menunjuk tempat penjual lontong sayur di sebrang jalan.


"Begitu 'ya,iya tidak apa apa.Kalau kakak sudah sarapan,"


"ya.." ucap omi pendek,diapun melanjutkan langkah kakinya yang terjeda.


Mirahpun melanjutkan pekerjaan'nya,melayani pembeli yang sangat ramai,ia sampai keteteran sangking ramainya.


Setelah semua selesai mirah bernafas lega,ia bisa rehat sejenak sebelum jam makan siang tiba,sambil menunggu pembeli dari luar.


"Hahhhh,nana sedang apa ya sekarang? ah,pastinya ia masih disekolah kalau jam segini,aku rindu sekali dengan anak itu," mirah menghela nafas dan bermonolog.


......................


"Aku samasekali tidak mengerti,dengan jalan fikiran nya si herman 'mak,bagaimana bisa dia melupakan dan mengabaikan anaknya,apakah otaknya itu sudah benar benar tercuci dengan rohanah sialan itu?!" musa melampiaskan keksalannya kepada tanah sawah tak berdosa yang sedang ia cangkul.


"Tak tahu lah pak,aku itu sampai sekarang selalu merasa berdosa setiap melihat ibu dan anak itu.Begitu besarnya dosa herman kepada mereka,aku malu! jika saja dia bukan adikku,jelas aku tak akan merasa malu dan merasa berdosa,aku kesal sekali bila mengingat si herman!" disah melemparkan cangkul nya,ia benar benar sangat kesal sekarang.


"Kesian cangkulnya mak...jangan dilempar begitu," goda musa.


"Issshhh,bapak sendiri marah marah sama tanah sawah,gak kesian apa?" disah mencebikan bibirnya sambil memungut cangkul yang ia lempar tadi.


Melihat itu musa hanya terkekeh,geli.Dengan kelakuan istrinya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2