
*Kepada neng mirah di tempat .
Assalamu'alaikum wr.wb
Pertama akang mau bertanya kabarmu dan anak kita,apakah kalian baik baik saja?
Akang tau,kamu pasti berfikir aku ini orang tak tau malu dan lancang,karena sudah berani mengirimkan surat dan menanyakan kabar kalian 'kan?
Akang juga tau,kamu pasti sangat membenci ku 'kan*?
"Udah tau nanya," ujar mirah ketus,seolah olah dia sedang berbicara langsung dengan herman
Tapi sungguh! dengan dikirimkan nya surat ini,akang benar benar memohon maaf kepada kalian berdua,terutama kamu 'neng,aku sadar kesalahanku tidak akan mudah dimaafkan.
Tapi,dengan segala kerendahan hati, akang mohon,kamu mau membuka hati untuk memaafkan semua kelakuanku yang sudah meninggalkan kalian beberapa tahun silam
Dan 'ya,akang sudah melihat foto putri kita,dia tumbuh besar dengan baik,dia juga sangat cantik dan menggemaskan,dan satu lagi,wajahnya juga sangat mirip denganku
Dan akang benar benar sangat ingin bertemu dengan dia,memeluk dan mencium anak itu,menjadi ayah yang selalu ada serta melindunginya.
Maafkan akang,karena baru sekarang akang mengirimkan surat,aku baru sadar,ternyata setelah melihat foto ratna,hati kecil ini sangat menginginkan seorang anak,yang tak bisa di berikan rohanah,karena dia tidak bisa mempunyai keturunan.
Akang berharap,jika suatu hari akang pulang,kamu mau ku ajak untuk rujuk,demi anak kita!
Akang harap kamu tidak egois,lupakan semua nya dan memulai hidup baru lagi bersamaku,kita akan menjadi keluarga bahagia yang utuh,aku,kamu,ratna,dan rohanah.
**Nafas mirah memburu dia benar benar emosi,ketika membaca kalimat terakhir di surat yang ia baca
"Dasar,laki laki egois! apa dia bilang,rujuk? hah,jangan harap! siapa juga yang mau hidup dimadu,aku benar benar tidak sudi! dia bilang aku tidak boleh egois,tapi dirinya sendiri benar benar manusia yang sangat egois! dia bilang aku harus melupakan semuanya? tidak mungkin!"
Mirah meluapkan emosi nya,**dan meremas surat tak bedosa itu**,bagi dia mudah untuk memafkan,namun tidak! untuk melupakan**.
Air matanya mengalir deras beserta emosinya yang meluap,ia benar benar tak menyangka herman akan berbicara seperti itu
***
__ADS_1
Setelah membaca surat dari herman mirah hanya berdiam diri dikamar,ia ingin melupakan semua isi surat itu,dan rasa penyesalan timbul dihatinya karena telah membaca surat yang sangat menyakitkan hati
"Dasar laki laki tak berperasaan! sudah bagus dia tak pernah menghubungi,cih! rupanya dia mengirimkan surat,karena menginginkan seorang anak,setelah delapan tahun tak memperdulikan bahkan tak sepeserpun menafkahi nana,kini dia menginginkan putri ku? sungguh luar biasa!" mirah memukul mukul bantal yang sejak tadi setia menemani dan mendengarkan tangisannya walau dalam diam.
Ternyata aksi mirah tak lepas dari pandangan seseorang,yang sejak tadi memperhatikannya dari pintu kamar,mirah terbawa emosi yang terlalu,sampai sampai dia tak menyadari kehadiran disah yang sedang menatapnya sendu
Ya,sejak tadi disah hanya berdiri mematung di depan pintu kamar mirah,sebenarnya ia sangat ingin tahu isi surat dari adik laki laki nya,dan ia bermaksud ingin membaca juga,namun ketika melihat reaksi ibu satu anak itu,disah mengurungkan niat di hati.
Disah begitu kaget ketika mirah meluapkan emosi setelah membaca surata dari herman,dari situ juga ia tahu herman ingin rujuk dengan ibu nya nana
"Dasar gak tau malu! gak tau diri! si herman itu,dia yang meninggalkan istri dan calon anaknya dulu,demi wanita sundal bernama rohanah ,sekarang dia juga yang minta rujuk,cihh!" entah mengapa,walaupun herman adik kandungnya,tapi ia benar benar sangat emosi dengan semua kelakuannya.
"Aku benar benar tak habis fikir," gumamnya lagi,kemudian disah memutuskan untuk pergi dari tempat ia berdiri,dan membiarkan mirah sendirian menenangkan diri
Disah kemudian menghempaskan bokongnya di kursi,dengan raut wajah yang benar benar tidak sedap untuk di pandang,kerutan di wajahnya semakin jelas terlihat jika dia sedang menampakan wajah seperti ini,dan hal itu pun tak lepas dari pengamatan musa
"Kenapa mak? kenapa kau memasang tampang seram seperti itu?" tanya musa
"Kau bilang aku seram 'pak? yasudah,nanti malam kau tidurlah di ruang tengah ini,jangan masuk kamar!" disah melotot,suasana hatinya benar benar buruk sekarang
"Maaakk,jangan begitu dong.Ya sudah,bapak minta maaf.Tapi cerita dong,sebenarnya emak kenapa? sampai sampai berwajah seperti itu?"
Musa menggaruk tengkuknya,ia bingung karena seeba salah,bertanya begini sang istri melotot,bertanya begitu,sang istri melotot juga.
"Astagfirulloh,salah lagi aku," gumamnya
"Emak sayaaaang,ada apa sebenarnya.Coba berbagi cerita sama bapak," bujuk musa kembali
Disah celingukan,
"Cari apa mak?"
"Nana,dimana dia?"
"Sedang main di saung lisung,sama neneng," jawab musa
__ADS_1
"Owh baguslah,jadi dia tidak akan mendengar apa yang akan ku katakan,"
"Jadi begini pak..."
Disah memudian memberitahukan perihal yang diketahuinya,tentang isi surat yang dikirimkan herman untuk mirah,serta reaksi mirah yang terlihat begitu kecewa dan sakit hati,lagi...
"Dasar sialan,si herman itu! lagi lagi dia menyakiti adik kita," musa mengepalkan tangan dan meninju ninju pahanya,saking kesal
"Kan,aku bilang juga apa? sialan sekali dia itu,"disah menimpali
......................
Hari berganti,kerinduan di hati cu'eng semakin memuncak saja setiap waktunya,kini ia benar benar tak sanggup menunggu lagi,dan nekat menanyakan kampung halaman mirah kepada omi
"Mengapa bapak menanyakan kampung halaman adik saya?" omi memicingkan matanya,curiga
"Ah,hanya ingin tahu saja.Kebetulan aku sedang sangat bosan,dan ingin menyegarkan fikiran sejenak," kilahnya
"Saya juga laki laki 'pak,kalau untuk sekedar menyegarkan fikiran,di kota bandung ini banyak yang lebih sejuk.dan segar dari kampung halaman adik saya,tapi kalau bapak punya maksud lain,saya sangat faham," omi menaik turunkan alisnya,fikiran dia,untuk apalagi seorang laki laki rela menanyakan alamat seorang wanita dan ingin pergi menemuinya,walaupun perjalanan itu akan sangat jauh
"Tch,banyak omong," ketusnya
Omi hanya menggelengkan kepalanya sambil memberikan selembar kertas yang sudah di isi alamat tempat tinggal sang adik
"Silahkan di ambil pak" ucapnya sopan,namun senyuman mencurigakan dia tampilkan
"Mengapa senyuman kamu seperti itu?" tanya cu'eng,sambil menyambar selembar kertas di tangan omi,tanpa mengucapkan terimaksih,kemudian ia pun pergi
"Dasar orang kasmaran" gimam omi,ia benar benar mengerti sekarang,melihat tingkah cu'eng yng seperti itu.
"Hmm,jikalau mereka saling menyukai, bagaimana 'ya? mirah dan cu'eng itu berbeda keyakinan," ujarnya bicara sendiri
"Ah,masa bodoh lah," ia tak mau ambil pusing,kemudian melanjutkan pekerjaan nya.
.
__ADS_1
.
.