
Angin sore bertiup hangat membelai lembut setiap insan yang sedang menikmati suasana tenang sembari melepas lelah,begitupun dengan disah dan musa yang sedang beristirahat di saung sawah miliknya.
Sejak pagi keduanya belum pulang,namun para pekerja yang lain sudah pulang duluan,mereka baru saja menyelesaikan pekerjaa'annya memanen padi,disah sengaja membereskan semua hari ini,karena hari esok ia punya tujuan,yaitu mengunjungi mirah dan ratna,disah belum tahu bahwa sang adik dan ratna sudah ada di rumahnya sejak pagi.
"Alhamdulillah semuanya sudah beres pak,aku sudah tidak sabar ingin bertemu nana," gurat kebahagiaan nampak jelas di wajah disah,ia benar benar merindukan gadis kecilnya.
"Iya mak,alhamdulillah.Sekarang lebih baik,kita membersihkan diri dahulu,lalu dilanjutkan berjama'ah sholat ashar di saung ini,dan setelahnya langsung pulang," musa mengajak disah untuk menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah,dan disambut anggukan oleh sang istri.
Selesai melaksanakan sholat keduanya langsung bersiap pulang,tentu saja setelah membereskan padi yang tadi di panennya,hasil panen mereka benar benar melimpah.Rencananya padi padi itu akan diangkut keesokan harinya,mang karja dan beberapa orang yang lain sudah musa tugaskan untuk mengurus padi padi itu.
Musa dan disah sudah sampai di dekat pintu belakang rumah yang langsung terhubung ke dapur,mereka bingung karena dari dalam tercium aroma masakan yang menggugah selera.
"Pak,bau masakannya enak ini.Siapa kira kira yang ada dirumah?"disah berkerut kening.
"Entah mak,apa mungkin istrinya hamim? tapi kurasa tidak mungkin,soalnya mereka kan sedang diluar kota," musa tak kalah bingung.
"Ya sudah,daripada penasaran lebih baik masuk saja yuk," ajak musa pada istrinya.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumussalam..." terdengar jawaban salam dengan nada riang dari dalam rumah.
"klakk..." pintu terbuka,menampilkan wajah yang disah rindukan.
"Nana..."
"Yeayy,emak pulang!" nana menghambur kepelukan disah,diciuminya seluruh wajah perempuan yang ia sayangi itu.Begitu pula disah,hatinya begitu bahagia rasa lelah yang mendera hilang seketika.Pelukan erat penuh kerinduan serta ciuman bertubi tubi penuh kasih sayang,segera disah hadiahkan kepada ratna.Tak sampai disitu,ratna pun berhambur ke gendongan musa yang langsung dihadiahi ciuman gemas oleh musa.
Mirah yang sejak tadi melihat interaksi itu tersenyum,dengan rasa haru dihatinya.
"Ehm,kalian melupakan ku 'kak" mirah merajuk manja kepada kedua kakaknya ini,ia merasa diabaikan karena semenjak tadi hanya nana yang diperhatikan dua orang itu.
"Oh,ya ampun,maaf.Kamu jadi terabaikan,habisnya kakak rindu sekali dengan anakmu," musa dan disah hanya terkekeh.Karena sudah mengabaikan keberadaan mirah.
"Bagaimana kabarmu mir? jam berapa sampai kesini? dan...mana suamimu?" rentetan pertanyaan disah layangkan kepada sang adik.
__ADS_1
"Aduh,kakak ini.Satu satu dong kalau bertanya,aku sampai bingung mau jawab yang mana dulu." Mirah tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya,tinggal dijawab aja mir,he he he.Kamu kan tau kak disah mu itu bagaimana," musa terkekeh geli,ia faham betul sifat sang istri.
"Kabar aku sekarang alhamdulillah baik,yah...setidaknya dibanding hari kemarin" ucapnya sendu. "Dan aku sampai kemari pagi tadi,diantar sama kang amir" lanjutnya lagi.
"Tunggu,apa maksud perkataanmu mir?" tanya disah penasaran.
Lalu mirah pun menceritakan kejadian yang ia alami.Kesedihan kembali menyeruak dalam hatinya,kehilangan buah hati tercinta yang bahkan belum diketahui sama sekali.
"Oh,mirah sayang.Tabahkan hatimu,kau kuat nak,maafkan kakak mu ini,yang tidak mengetahui keadaanmu," disah berkaca kaca ia memeluk mirah erat,berusaha menyalurkan segala kasih sayang yang dirasakan nya.Ia tahu,saat ini mirah tengah bersedih dan butuh dukungan.
Mirah kembali sesenggukan,dipelukan disah disah mengusap usap punggung mirah,ia bisa merasakan kesedihan yang melanda sang adik.
"Sudah jangan lah kau bersedih lagi 'hem,disini ada kami," tambah musa.
"Sudah,ayo masuk kedalam.Kita makan bersama dulu,tadi kakak mencium aroma lezat dari dapur ini,kamu yang masak mir?" disah berusaha mengalihkan pembicaraan,supaya mirah tidak merasa sedih lagi.
Makanan pun dihidangkan,dan mereka makan bersama dengan lahap dan khidmat serta penuh rasa syukur dalam tiap suapannya.
Selesai makan mereka beralih ke ruang tengah untuk berbincang hangat dan bercengkrama,mereka begitu bahagia bisa berkumpul seperti dulu.
"Kak,mirah izin ya,mau tinggal disini dulu untuk beberapa waktu,dan...kang amir titip salam untuk kalian,dia meminta maaf karena tak bisa menunggu kakak pulang,"
"Mir,kamu itu kayak sama siapa saja,pake izin segala.Ini kan rumah kalian,tinggalah selama kamu mau,asalkan dengan izin suamimu," ucap disah
Mirah mengangguk, "Iya,kang amir sudah mengizinkan," ucapnya.
Beberapa hari berlalu,sejak mirah tinggal di rumah disah amir sangat disibukkan dengan banyaknya pekerjaan,tapi ia masih terus memantau kondisi anak dan istrinya melalui soni,seperti yang diketahui ratna dan soni itu satu sekolah.Soni sudah kelas enam sd,sedangkan nana baru kelas satu.
Hari ini amir akan pergi meninjau pembangunan ruko dua lantai yang masih disekitaran kota b,kebetulan juga mereka kehabisan bahan baku bangunan,dan amir harus sesegera mungkin mengantarkannya,ia pergi menggunakan mobil truk pengantar barang barang itu,bersama dengan sopir dari toko material.
Namun hal tak di duga tiba tiba terjadi,langit yang cerah mendadak mendung dengan gulungan awan yang menghitam tebal,sesekali diselingi kilat dan petir angin pun berembus sangat kencang.Tak lama kemudian hujan pun turun dengan sangat deras,untungnya bagian belakang mobil sudah di tutup terpal.
__ADS_1
"Hati hati pak kardi,jalannya licin.Di tambah anginnya sangat kencang,apa lebih baik kita menepi dulu pak?" amir sangat cemas,cuaca hari ini sedang sangat buruk,ditambah jalan yang dilaluinya lumayan mengerikan dengan banyak kelokan tajam serta pepohonan besar di sisi kanan kiri jalan.
"Iya pak amir,sebaiknya memang harus menepi dulu.Tapi disini terlalu banyak pepohonan,bahaya.Kita berjalan perlahan sebentar lagi,semoga ada tempat yang agak jauh dari pepohonan" ujar pak kardi tak kalah cemas.
Amir mengangguk,dalam hatinya ia memanjatkan do'a kepada yang Maha Kuasa,memohon perlindungan dan keselamatan.
Angin semakin bergemuruh kencang kilat menari nari dengan ganasnya.Petir menggelegar,menciptakan kengerian setiap insan yang menyaksikannya.
Amir dan pak kardi sangat ketakutan,ditengah kepanikan yang melanda mereka tiba tiba...
"Brakkkk...!!!
"ciiiiittttt...!!!
"Aaaaaaakkkkhhhh...!!!
Truk itu oleng hilang keseimbangan,diterpa dahsyatnya angin,cuaca yang begitu buruk serta kabut yang sangat tebal ditambah jalanan juga licin,maka lengkap lah sudah kesulitan pak sopir dalam usaha mengendalikan mobil itu,akhirnya truk itu menabrak pembatas jalan tanpa ampun.
Truk bermuatan penuh besi beton dan bahan bangunan lainnya itu pun terguling dan terjun bebas,besi besi berhamburan.
Amir mengerjapkan mata,pandangan nya buram.Saat ini posisi mobil masih tersangkut diantara akar akar pepohonan,setengah badan amir masih di dalam mobil,namun,setengah bagiannya lagi diluar.
Rasa sakit yang teramat sangat disekujur tubuh membuat ia tak mampu bahkan untuk sekedar menajamkan pandangan,tubuhnya terasa remuk,darah segar mengucur di bagian kepala,perlahan tangannya meraba raba bagian dadanya yang terasa begitu sakit.Ternyata sebuah besi beton menancap dengan angkuhnya di dada amir.
"Ma-ma-afkan akang,sayang.akang tak bi-bi-sa men-jem-put-mu,pu-lang,a-as-hadu- alla ila-aha illalloh wa- ashadu anna muhammad darrosullulloh," amir menghembuskan nafas terakhir nya,setelah mengucap kalimah syahadat.
Sampai lah akhirnya,akar akar pohon itu tak lagi mampu menahan beban berat badan truk,perlahan lahan mobil besar itu merosot dan...
"srakkk..!
"srakkk...!
"srakkk...!
"Byyyuurrrr...!!
"Blup...blup...blup!!!
Truk itupun tenggelam ke dasar sungai,beserta jasad amir dan pak kardi.
"Deg!
"Deg!
"Akang...!
Mirah merasakan jantungnya berdebar kencang,ia merasakan firasat yang buruk akan suaminya.
.
__ADS_1
.