Ketabahan Seorang Ibu

Ketabahan Seorang Ibu
Kedatangan cu'eng


__ADS_3

"Untuk apa lagi kau menemuiku? aku benar benar tidak suka melihat keberadaan mu,dasar penghianat!" ucap Mirah sinis,ya' siang ini Herman kembali menemui Mirah,dan meminta maaf kepada wanita yang masih berstatus istri tersebut,namun bukan maaf yang diterima laki laki itu,akan tetapi hanya kebencian Mirah.


Setelah melintasi waktu beberapa hari lalu,dengan kejadian luar biasa yang dialaminya,kini Mirah lebih banyak merenung dengan semua keajaiban itu,ia jadi kepikiran tentang semua pengalaman nya di masa lalu,apakah itu hanya mimpi ataukah benar benar terjadi? tepat ia tengah merenungkan semua,tiba tiba Herman datang untuk meminta maaf,sontak saja hal itu membuat Mirah kesal bukan main.


"Jangan berkata seperti itu,biar bagaimanapun aku adalah suamimu dan kau adalah istri sah'ku sekarang," Herman berkata dengan raut wajah kesal,harapannya untuk berbaikan dengan Mirah musnah sudah.Terlihat sekali dari cara ibu satu anak itu berbicara padanya,sangatlah tidak ramah.


"Ya,status kita memang suami istri,tapi karena sebuah keterpaksaan bagiku menerima itu,dan asal kau tau,aku tidak pernah ikhlas menikah kembali denganmu," tegas Mirah dengan begitu sinis


"Ayolah,mir...,hilangkan dendam dihatimu,maafkan masa lalu ku yang menyakitimu dan so'al perbuatanku dengan Rohanah,Itu...,karena khilaf saja,karena kamu tidak memberikan aku hak sebagai suami mu," entah sadar atau tidak Herman bicara seperti itu


"Benar benar tidak tahu diri,asal kau tahu.Ketika kita dinikahkan paksa,sebetulnya aku berniat menerima mu lagi dengan lapang dada,walaupun belum ikhlas tapi aku bertekad akan memaafkan semua khilafmu,namun aku butuh waktu,dan butuh membangun kepercayaan lagi kepadamu yang sudah hancur berantakan dulu,tapi tidak disangka,kau sangat tak sabaran dan malah semakin menghancurkan semuanya bagai debu,dengan semua pengkhianatan yang kau dan Rohanah lakukan,serta perbuatanmu pada putriku Ratna,itu sudah cukup bagiku untuk tak memberikanmu kesempatan kedua,!" pungkas Mirah panjang lebar,yang kemudian ia langsung pergi dari hadapan Herman,sungguh wanita itu sudah benar benar muak melihat laki laki durjana dihadapan dirinya.


Setelah mendengarkan semua penuturan Mirah,Herman tercenung,semua kejadian serta kesalahan yang dilakukan dirinya dan Rohanah ternyata telah benar benar membuat Mirah Menutup rapat rapat pintu hatinya.


"Hhhh...,"


Herman menghela nafas berat,semuanya sudah menjadi bubur,tak ada yang bisa diperbaiki fikirnya.


***


Dikota bandung hari hari yang dilewati seorang pria tampan bermata sipit benar benar terasa selalu mendung,tak ada kecerahan dan keceriaan seperti dahulu.Meskipun setiap hari selalu ia habiskan dengan bekerja dan bekerja,namun bayangan Mirah dan Ratna senantiasa memenuhi pikirannya.


"Tolonglah,antarkan aku ke panjalu," ucapnya suatu hari kepada omi,dikarenakan ia sudah tak bisa membendung lagi rasa rindu di hati,maka dengan setumpuk keberanian ia berterus terang tentang semua rasa rindunya kepada omi.


Sejenak omi menghela nafas dan menatap dalam mata cu'eng dengan tatapan tak tergambarkan,tentu saja omi seperti itu,karena sebulan lalu ia mendapatkan kabar bahwa Mirah telah menikah lagi dengan Herman,dan ia sungguh tak kuasa memberitahukan semuanya kepada pria atasan dihadapannya ini.


"Sebenarnya Mirah dan ratna sudah kembali ke kota B dua bulan lalu," saat ini hanya kata kata itu yang bisa di ucapkan,omi tak bisa membayangkan reaksi cu'eng ketika mengetahui jika Mirah telah menikah lagi.


"Begitukah? bagus! kalau begitu aku akan berangkat ke sana sore ini,jika kesana kau tak perlu mengantarku,aku masih ingat jalan nya." ucapnya antusias,kemudian tanpa menunggu persetujuan omi cu'eng langsung bersiap siap berangkat,


"Semoga kau baik baik saja setelah mengetahui semuanya," omi menghela nafas berat,ia sangat khawatir dengan keadaan cu'eng setelah mengetahui yang sebenarnya.


***


Cu'eng dengan perasaan berbunga bunga,kemudian memilih pakaian yang akan dikenakan,dan pilihannya jatuh kepada t shirt putih serta celana jeans biru Dongker model bell bottom,kemudian dipadankan dengan sepatu hitam mengkilap berujung lancip,rambut di sisir rapi parfume dismprotkan,setelah semuanya dirasa rapi cu'eng bergegas meraih kunci mobil dan bersiap tancap gas,namun ada sesuatu yang kurang menurutnya,kemudian ia kembali ke dalam rumah meraih jaket jeans warna senada dengan celananya tak lupa kaca mata hitam Aviator.


"Perfect," gumam cu'eng dengan senyum mengembang ketika ia bercermin di kaca spion mobil nya.


Mobil melaju tanpa hambatan membelah jalanan kota bandung,diperjalanan cu'eng berhenti sejenak ditoko bunga dan toko perhiasan langganan pak Rahardjo,ia dengan hati riang gembira membeli sebuket mawar merah dan sepasang anting emas bertahtakan mutiara langka dengan harga yang lumayan fantastis,kemudian sejenak ia memikirkan sesuatu.


Setelah urusan bunga dan perhiasan selesai kini tujuannya adalah butik langganan Kaka iparnya yang tak lain adalah Bu Rima,cu'eng memilih gaun yang cantik untuk Ratna senada dengan tas selempang nya,kemudian ia juga membelikan dress cantik untuk Mirah serta disah dan Musa,belum lagi oleh oleh lainnya.


"Semuanya sempurna,kuharap Mirah mau menerima semuanya," gumam cu'eng penuh harapan


Kemudian ia kembali melanjutkan perjalanan nya


***


Dirumah entah mengapa Mirah merasakan jantung nya berdebar tak karuan,seperti ada sesuatu yang membahagiakan namun entah apa,hatinya tiba tiba saja merasa baik,setelah seharian ini penuh dengan kekesalan kepada Herman,bagaimana tidak? laki laki itu sekarang malah menginap disana,dan Rohanah menyusulnya.Karena wanita pelakor itu terus terusan mencemburui mirah maka Herman segera membawa istri sirinya itu ke kamar untuk membujuk dan menenangkan nya,dan entah apalagi yang akan mereka lakukan,Mirah benar benar tak peduli.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam,tiba tiba saja telinga Mirah,disah,Musa dan Ratna yang tengah bersantai di teras rumah mendengar suara deru mobil di jalanan bawah sana,karena rumah disah berada di atas bukit jadi kendaraan seperti mobil tidak bisa sampai ke depan rumahnya,dan ditengah suasana kampung yang sepi serta tidak pernah ada kendaraan sampai kesana,tentu saja hal itu membuat mereka saling pandang.

__ADS_1


"Denger gak Bu,suara mobil?" ucap Ratna memecah suasana


"Iya ibu denger,"


"Emak juga denger 'sayang,"


"Bapak juga," timpal Musa


"Siapa 'ya,kira kira?" rasa penasaran kian memuncak di hati Mirah dan semuanya


"Ah sudahlah,palingan pak Mentri kehutanan itu,lagi patroli," ucap Musa


"Masa sih 'pak? pak kardan 'kan,tidak biasa bawa mobil,biasanya dia bersepeda kalo keliling,lagipula ini sudah malam,mana mungkin lah dia mau keliling," disah berdebat kecil dengan sang suami


"Sudahlah,ayo kita lanjutkan makan pisang gorengnya," Mirah mencomot satu buah pisang goreng panas kemudian memakannya dengan lahap,setelah itu disusul menyeruput teh panas yang menyegarkan.


"Kau...," tiba tiba saja disah berkata namun terjeda


"Kau apa kak?" Mirah berkerut kening,namun tetap melanjutkan aktifitasnya


"Enak 'ya,pisang goreng dan teh nya?" tiba tiba saja sebuah suara dan bau parfume memabukkan yang begitu tak asing terdengar ditelinga Mirah,seketika tengkuknya merasa merinding,karena tidak mungkin menurutnya ada pria itu disini.


"Kakak mendengar dan mencium sesuatu?" seketika ia merapatkan duduknya ke samping disah.


Mirah yang membelakangi jalan masuk ke rumahnya tidak menyadari kedatangan cu'eng,tetapi disah Musa serta Ratna menyadari kedatangan pria tampan tersebut,namun cu'eng buru buru menempelkan telunjuk ke bibirnya,dan semuanya hanya bisa melongo menuruti permintaan cu'eng


"Iya,kakak dengar dan mencium baunya juga," ucap disah,seperti orang bodoh


"Mir...,tenang dulu.Coba lihat kebelakangmu," pinta disah dan Musa


"Mirah takut ah kak,"


"Jangan takut 'bu,kan ada Nana.Ibu berbalik deh,tengok ke belekang ibu," pinta Ratna lagi.


Dengan ragu dan takut Mirah berbalik ke belakang,


"Surprise," cu'eng menyodorkan sebuket bunga tak lupa tersenyum manis,dan sialnya itu menambah kadar ketampanan pria tersebut,berkali kali lipat,senyum manis itu hanya diberikan kepada mirah dan Ratna saja,dan tidak kepada orang lain


Sedetik kemudian Mirah seperti berada di dunia lain ia begitu terpana,terpesona dengan apa yang dilihatnya,ingin rasanya melompat memeluk mencium dan melepaskan semua kerinduan yang terpendam selama ini di hatinya


"Ka-kau?" ucapnya menunjuk cu'eng dengan gugup.


"Iya,ini aku.Apakah tidak ada pelukan,cantik?" cu'eng terang terangan merentangkan tangannya berharap Mirah melompat ke pelukannya


"Ish,kau ini datang datang langsung menyebalkan," Mirah memalingkan wajah yang memerah karena malu,sedangkan Ratna tanpa ba BI Bu langsung melompat kegendongan dewa penyelamat nya


"Pa cu'eeenggg! Nana rindu sekali sama bapak," gadis itu bergelayut manja,dan langsung mendapatkan ciuman kasih sayang di pucuk kepalanya.


"Nana apa kabar,sayang? bagaimana kaki kamu 'nak?" mata cu'eng berkaca kaca,ketika refleks memriksa kaki gadis itu


"Nana sehat dong 'paak,ibu emak sama bapak merawat Nana dengan baik." jawabnya riang

__ADS_1


"Baguslah," cu'eng berucap lega


"Nana,biarkan pak cu'eng nya duduk dan istirahat,pasti sangat lelah berada di perjalanan lama," disah dan Musa menegur Ratna


"Biarkan saja 'kak," potong cu'eng


"Bagaimana kabar kalian?" tanyanya kemudian


"Alhamdulillah kami baik baik saja,seperti yang kamu lihat," jawab mereka serempak


"Kau bagaiman?" tanyanya berbalik kepada Mirah,sedangkan yang ditanya kini fikiran nya tengah berkecamuk dengan kemungkinan yang terjadi jika Herman melihat kedatangan cu'eng


"Ah,em...,aku seperti yang kau lihat,baik baik saja," jawab Mirah gugup


"Hmm,iya...,kau masih sama seperti dulu,bahkan terlihat lebih cantik sekarang," cu'eng tak lagi menyembunyikan perasaan nya,sudah cukup menahan semuanya beberapa tahun,sekarang waktunya mengungkap semua,fikir laki laki itu.


Wajah Mirah memerah,ia merasa bahagia sekaligus malu mendengar pujian cu'eng,sedangkan Ratna tertawa cekikikan menyaksikan itu,lain halnya dengan disah dan Musa,mereka hanya saling lirik dan saling pandang seperti tengah berkomunikasi.


kemudian...


"Maaf pak cu'eng,bapak ada perlu apa kemari malam malam?" tanya Musa to the point


"Saya sengaja datang kemari,karena merindukan Ratna dan...,ibunya," ucapnya dengan refleks menatap kedalaman netra Mirah.


Yang di tatap langsung terperanjat dan salah tingkah,sedangkan Musa dan disah tak kalah terkejutnya,dan tak bisa berkata apa apa.


"Kak,saya ingin berbicara empat mata sama Mirah," pinta cu'eng


Disah dan Musa mengangguk faham,kemudian mengajak Ratna masuk kedalam rumah.


"Sayang,ayok kita bobok,sama emak dan bapak aja 'ya,bobok nya," bujuk disah,dan hal itu tidaklah sulit karena memang Ratna sudah kelihatan mengantuk,terlihat sudah beberapa kali gadis itu menguap.


"Ayo 'mak! pak,Bu,Nana bobo duluan 'ya,ucapnya pamitan," cu'eng dan Mirah bergantian mengecup kening Ratna,kemudian bocah itu pun digendong oleh disah menuju kamar nya.


Keadaan menjadi sangat hening,sepeninggal Musa,disah dan Ratna,kini dua orang itu menjadi canggung,setelah sekian lama tak bertemu,sebetulnya hati mereka melompat lompat bahagia,bisa berdekatan dan berduaan seperti itu,namun mereka berusaha menahan segala lonjakan itu mati Matian.


"Mirah...," panggil cu'eng lembut.


"Hmmm...," jawab Mirah gugup


Cu'eng merapatkan duduknya,kemudian ia meraih tangan Mirah dan memeggenggam nya erat.


"I miss you so much,Mirah," cu'eng menciumi tangan wanita itu lembut,seolah menyalurkan semua kerinduannya


Seerrrr...


Darah Mirah berdesir hebat,seiring dengan desiran angin yang berhembus...


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2