Ketabahan Seorang Ibu

Ketabahan Seorang Ibu
Kenyataan yang Mirah sampaikan kepada cu'eng


__ADS_3

"Miraahhh!" tiba tiba saja Herman berteriak ditengah tidur lelap nya,semalam setelah drama rumah tangga yang membuat hatinya kepanasan,ternyata berefek besar, dia jadi susah untuk tidur,dikamar dirinya hanya mondar mandir gak karuan,rasa dihati ingin menghampiri Mirah,namun wanita itu menutup diri di kamarnya sedangkan pria yang dirasa menjadi saingan nya sama sekali tak menghiraukan Herman ,cu'eng mengacuhkan pria yang berstatus sebagai suami Mirah,sedangkan Herman sendiri masih merasa segan dan tidak ingin mengganggu nya sementara ini.


"Bangun! ada apa kau panggil panggil dia?" Rohanah yang terbangun karena kaget mendengar teriakan suami nya yang ternyata memanggil manggil Mirah dalam mimpinya,,istri siri Herman itu merasa sangat dongkol


Dengan kencang Rohanah mengguncang guncang tubuh Herman yang tertidur disampingnya


"Hei,bangun kau!" sekali lagi Rohanah membangunkan suaminya dengan kencang


"Hmmm,ada apa sih? mengganggu saja," ketus Herman yang merasa kesal karena di ganggu tidurnya


"Ada apa kau tanya? seharusnya pertanyaan itu kau lontarkan kepada dirimu sendiri,ada apa kau teriak teriak memanggil manggil si mirah,kau tidur denganku tapi yang dipanggil bukan namaku!" teriak Rohanah kesal sedikit merajuk


Mendengar penuturan Rohanah membuat Herman teringat dengan kejadian semalam,tiba tiba hatinya menjadi kesal dan kembali dipenuhi amarah,dengan tergesa kemudian Herman bangkit dari tempat tidurnya.


"Kau mau kemana? orang lagi bicara malah pergi!" amarah Rohanah menjadi jadi,ia kemudian bangkit dan mengikuti Herman


Ternyata di ruangan keluarga sudah ada cu'eng yang sedang menyeruput kopi panas dan roti bakar yang menguarkan aroma harum


"Kau! sedang apa kau dirumahku?! enak 'ya,minum kopi dan...apa itu? roti ?" tanya Herman dengan kesal,sedangkan Rohanah yang mengekor dibelakang Herman sangat kaget dengan kehadiran cu'eng.


"Hm,seperti yang kau lihat,ini memang roti.Tepatnya roti bakar," cu'eng berkata dengan cuek dan santai


"Roti bakar? siapa yang membuatknmu?" tanya Herman begitu ingin tahu


"Tentu saja mirah'ku," ucap cu'eng dengan tenangnya


"Apa? Mirah'ku kau bilang?!" Herman melotot tajam mendwngar perkataan cu'eng yang menyebut istrinya mirah'ku


"Aku saja belum pernah dibuatkan roti bakar seperti itu,kau orang asing yang entah siapa,dengan sukarela dia membuatkanmu?!" Herman benar benar tak terima,ia merasa sakit hati karena laki laki di depannya begitu diistimewakan sang istri .


Dengan dongkol Herman pergi kedapur,dan ternyata disana kedua kakak nya serta istri dan sang putri tengah bercengkarama sambil mengerjakan tugas masing masing,Mirah dengan memasaknya sedangkan disah tengah menanak nasi kalau Ratna dan Musa hanya sedang menikmati hangatnya api ditungku,ya,pagi itu terasa sangat dingin.


"Miraahh! mengapa kau tak pernah buatkan aku roti bakar seperti yang dimakan laki laki sialan itu?" Herman berteriak kepada Mirah karena masalah roti bakar,sedangkan yang diteriaki hanya mendengus kesal


"Kau ini kenapa Herman? pagi pagi sudah ribut,belum lagi tadi kakak dengar kau sudah ribut sama si Rohanah dikamar,apa tidak malu sama tamu di depan? subuh subuh sudah ribut,bukannya sholat!" disah berkata setengah membentak,pasalnya ia merasa sangat malu dengan keributan disubuh hari,apalagi ada tamu dirumahnya.


"Kakak tau siapa tamu di depan?" tanya Herman yang sangat penasaran dari semalam


"Ya jelas tahu lah,pria di depan adalah atasannya Mirah di bandung,belum lagi dia sangat berjasa dalam kehidupan anakmu Ratna," jawab disah

__ADS_1


"Berjasa? maksud Kaka?"


"Dia pak cu'eng ayah,ketika Nana hampir mati terbakar,pak cu'eng lah yang datang menyelamatkan ku,bisa dikatakan dia adalah dewa penyelamat bagi Nana," kali ini Ratna yang memberikan penjelasan,dan reaksi Herman ketika mendengar bahwa pria itu bernama cu'eng semakin besar saja rasa cemburu dan amarah nya,kini dia tahu siapa pria yang singgah dihati sang istri dan selalu dibanggakan oleh putri nya.


Kilat terasa mencambuk hatinya,petir serasa menyambarnya,kini Herman merasa semakin tak karuan,apalagi jika mengingat perlakuan cu'eng semalam yang sedang mencumbu Mirah dengan begitu hangat serta penuh gairah.


"Arrgghhh! sialan!" makinya tiba tiba,dan tanpa di duga Herman menyeret kasar Mirah yang tengah sibuk memasukan sayuran kedalam panci,hal itu pula tak luput dari perhatian semua orang yang berada di dapur.


"Aghhh! sakiittt," teriak Mirah,karena ia diseret paksa hingga pergelangan tangannya memerah


"Heii sipit! lihatlah,wanita yang kau cumbu semalam itu adalah istriku,istri sah'ku,kau tahu?!" teriak Herman sengit,yang ternyata menyeret Mirah ke hadapan cu'eng.


Sontak saja hal itu membuat cu'eng yang tengah menikmati kopinya tersedak karena kaget mendengar pengakuan pria dihadapannya


"Apa maksudmu,memang nya siapa kau,berani mengakui wanitaku sebagai istrimu?" pria asal kota kembang itu tak begitu saja mempercayai ucapan Herman


"Wanitaku?! dia WA NI TA KU,ISTRIKU!" teriak Herman dengan menekan kan kata kata nya


Sekejap cu'eng seperti kehilangan jiwanya,ia hanya menatap Mirah dalam dan diam.


Hingga...


Deg...


Tiba tiba saja mirah merasakan ketakutan dihatinya,entah karena apa,namun yang jelas ketika melihat tatapan cu'eng yang biasa hangat kini terlihat sangat dingin,sepertinya ia takut kehilangan pria itu.


"Aku menunggu penjelasan mu di saung lisung," cu'eng beranjak dari duduknya kemudian pergi kebelakang rumah disah dengan tujuan saung lisung,saung lisung milik disah memang sangat asri dan nyaman,hawa sejuk dengan pemandangan kabut di pagi hari serta kicauan burung membuat nyaman dan tenang.


Disah dan Musa yang sejak tadi mendengarkan keributan antara cu'eng Mirah dan Herman hanya bisa diam tanpa bisa berbuat apa apa,sedangkan Ratna yang juga hanya bisa terdiam karena terpaksa mendengarkan keributan orang tuanya,beda lagi dengan rohanah,wanita itu sekarang malah merasakan iri dengki dihatinya karena merasa Mirah sangat beruntung,bisa dicintai oleh pria setampan dan sekaya cu'eng,dilihat dari penampilannya, Rohanah sudah bisa menebak bahwa cu'eng bukan orang jelata.


"Herman,Mirah,selesaikan masalah kalian berdua dengan baik,kakak percaya kalian bisa menyelesaikan tanpa harus ada keributan,bijaksana dan dewasa lah," hanya itu yang bisa disah sampaikan,pertengkaran mereka bertiga bukan ranah nya lagi,ia merasa tidak berhak ikut campur,karena permasalahan mereka melibatkan perasaan tiga orang,disah sudah bisa menangkap,bahwa yang sedang dialami adik adiknya adalah cinta segitiga,dan itu rumit.


Disah juga tak bisa menyalahkan Mirah yang mempunyai perasaan kepada cu'eng,karena dia juga sadar peran pria sipit itu begitu besar dalam kehidupan Ratna dan sang adik,ia juga tahu bahwa cu'eng adalah pria baik yang sangat bertanggung jawab,masalah Mirah yang sudah menjadi istri Herman adalah karena keterpaksaan,disah sangat tahu bahwa sudah tidak ada cinta dihati Mirah untuk adik laki laki nya yang bisa dikatakan bejad itu,karena ia juga seorang wanita jadi sangat memaklumi perasaan sang adik ipar,mungkin kalau dirinya berada di posisi yang sama,entah akan sanggup atau tidak menjalani kehidupan macam itu.Sekarang ia hanya berusaha memahami saja.


"Terimakasih nasehatnya kak,akan Mirah ingat.Tapi tidak tahu dengan dia!" ucap Mirah dan mendelik tajam kearah Herman.


"Mirah kebelakang dulu,mau menjelaskan semuanya sama cu'eng," Mirah pamitan kepada disah sang kakak,kemudian Herman pun mengekor dibelakang Mirah.


***

__ADS_1


Sampai di saung lisung Mirah langsung menghampiri cu'eng yang tengah duduk memandang dengan tatapa kosong kedepan.


"Kau jangan duduk dekat dekat dengan dia Mirah," tiba tiba saja Herman menarik tangan Mirah yang hendak duduk dekat cu'eng,namun wanita itu mengibaskan nya dengan kasar dan mendelik tajam.


Sekilas dan samar,sangat samar,cu'eng menarik sudut bibirnya,ia merasa sedikit tenang karena Mirah memilih duduk dekat dengannya


"Cu'eng...," panggil Mirah lembut,selembut angin dan semerdu nyanyian burung dipagi hari.


"Jelaskan padaku," pinta cu'eng tanpa basa basi


"Baiklah,aku mengakui,bahwa laki laki itu statusnya memang suamiku,tapi aku sama sekali tak mencintainya,dan pernikahanku karena terpaksa," jelas Mirah tanpa ragu


"Bohong! dia bohong!,kami saling mencintai," tiba tiba saja Herman menyela


"Tolong diam!" bentak Mirah,entah mengapa Herman merasa ciut dengan tatapan tajam Mirah,seperti ada sesuatu tekanan ketika berhadapan dengannya sekarang,padahal dulu wanita itu sangat lemah dan tidak berani membantah,tapi sekarang istri nya itu seperti wanita yang berbeda.


Sejenak cu'eng menatap dalam netra Mirah,ia mencari,barangkali ada sebuah kebohongan disana,lalu kemudian...


"Detailnya," pinta cu'eng


Kemudian akhirnya Mirah menjelaskan semuanya dengan detail tanpa ada satupun yang ditutupi,dari awal kehidupannya bersama dori dan semuanya tanpa terlewat.


Mendengarkan penuturan Mirah dengan kehidupan menyedihkan yang dialaminya ternyata membuat hati cu'eng terenyuh ia menangis pilu,tak disangka laki laki itu mempunyai hati yang begitu rapuh.


Sedangkan Herman? jangan ditanya,dari awal Mirah bercerita Herman sudah diam seribu bahasa,semua yang Mirah tuturkan ternyata seperti pemutaran film dikepalanya,ia seperti terbang melintasi waktu ke masalalu Mirah yang ternyata sangat menyedihkan akibat perbuatan nya.


Entah sadar atau tidak iba tiba cu'eng merangkul dan memeluk Mirah,ia menghujani ciuman kasih sayang di pucuk kepala Mirah.


Melihat hal itu herman tak mau kalah,ia pun segera meraih tangan Mirah dan menciumnya.


"Maaf,maaf,maaf,maaf,seribu maaf mungkin tak bisa menyembuhkan luka hatimu yang diakibatkan perbuatanku,namun kali ini aku sungguh sungguh meminta maaf kepadamu dari hati yang terdalam," ucap Herman dengan tulus,namun tak disangka secara refleks cu'eng menepis kasar tangan Herman yang menggenggam tangan Mirah


"Kau tidak pantas, mendapatkan maaf darinya,dasar bajingan!"


Sepertinya cu'eng sangat murka terhadap Herman,setelah mendengarkan kisah Mirah yang disakiti berkali kali.


.


.

__ADS_1


__ADS_2