
"Kereta nya sudah datang,saya pamit pergi 'ya,dan...terimakasih sudah di antar,sehingga saya tidak tersesat," mirah mengucapkan terimakasih kepada cu'eng,dan di akhir kalimatnya ia mengatakan sebuah sindiran yang mana membuat dirinya terkekeh,bila mengingat perkataan pria itu.
Setelah berpamitan mirah pun mulai membawa semua tasnya,melihat wanita itu kesusahan cu'eng pun merebut paksa tas yang di tenteng mirah dan membawanya masuk kedalam kereta,mirah sampai terkaget kaget oleh kelakuan pria itu,setelah semua tersimpan rapih dan mirah duduk dengan nyaman,tak lama kemudian keretapun mulai bergerak secara perlahan.
Cu'eng mematung memandangi kereta yang mulai melaju,membawa serta wanita cantik yang sudah tidak ada lagi dihadapannya,ia pun merasakan ada ketidakrela'an dan kekosongan disudut hatinya,sebuah rasa yang...entahlah,dia sendiri pun tak mengerti dengan perasaannya kepada ibu satu anak itu.
Ketika pria dingin ini bisa melihat mirah dalam setiap harinya meskipun tidak bersama,akan tetapi,ada sebuah rasa ketenangan, kepuasan,kebahagiaan dan semua itu bercampur aduk,sejak pertama kali ia bertemu dan bertubrukan dengan mirah waktu itu lah yang menumbuhkan sebuah rasa dihatinya,rasa yang berbeda dan sangat istimewa.
Namun,ketika wanita cantik itu pergi ia sungguh merasakan sangat kehilangan,tanpa menghiraukan kakinya yang sedikit pegal,cu'eng terus saja memperhatikan kereta yang sudah mulai menjauh,bahkan sampai menghilang dari pandangan nya.
Si pria salju menghela nafas berat,dadanya terasa sangat sesak,kemudian ia pun berlalu meninggalkan tempat itu.
......................
Teng! teng! teng! teng!
Lonceng sekolah berbunyi nyaring,pertanda sekolah telah usai untuk hari ini.
Dua orang gadis kecil sebaya berlarian riang keluar kelas.
"Nana kita langsung pulang,apa ngebakso lagi sama kak soni?" tanya neneng,
Ya,neneng memang sahabat baik nana.Anak itu selalu ada untuk ratna manggala,bahkan jika di rumah,neneng sering mengunjungi kediaman disah mengajak nana untuk bermain bersama.
"Ih,neneng.Ngebakso mulu deh fikirannya," nana terkekeh
"Siapa tahu kan 'na,abisnya kan biasa begitu.Kak soni kalau pulang sekolah pasti jajanin kita,seneng deh nana punya kakak yang baik begitu," neneng berbinar binar,ketika membayangkan semangkuk bakso urat besar yang banyak isian dagingnya.Kuah hangat nan segar di seruput nikmat.Begitulah kira kira bayangan neneng sekarang.
"Ish,dasar neneng! ntar deh,nana coba tanya,yuk kita samperin kak soni dulu," ajak nana riang,kemudian ia segera menghampiri soni yang sedang melambaikan tangan kepadanya di gerbang sekolah.
"Kak,ngebakso lagi?" tanya nana
"Maaf de'k,sekarang kakak sedang buru buru.Kakak harus ke kota xxx bersama pak bambang," ujar soni sedikit menyesal,karena telah mematahkan harapan adiknya.
"Yah...,ya udah deh.Kalau gak bisa," nana terlihat lesu,begitupula neneng.Disini ia yang paling berharap untuk segera menikmati bakso,namun,kini harapan nya pupus sudah.
Melihat tampang lesu kedua bocah ini,soni tidak tega.
"Heii,jangan pada lesu begitu dong.Janji deh,besok kita makan bakso sepuasnya," bujuk soni "Sekarang lebih baik nana beli limun dingin saja dulu 'ya?" bujuknya lagi.
__ADS_1
"Iya deh,limun dingin juga gak apa apa," ucap nana kemudian,rautnya seketika berbinar kembali
Melihat tingkah kedua bocah itu soni hanya tertawa saja,ia tak menyangka bahwa semangkuk bakso bisa ditukar dengan segelas limun dingin.
***
Setelah puas menikmati limun dingin yang menyegarkan tenggorokan di tengah cuaca yang panas itu,akhirnya nana dan neneng pun segera pulang.Menyusuri jalanan panjang dan berkelok melintasi pesawahan luas menuju rumah mereka.
"Neng,nanti kita main masak masakan 'yuk,di saung lisung nya emak," ajak nana
"Oke,neneng bawa apa nanti dari rumah?"
"Neneng gak perlu bawa apa apa,mainan punya nana 'kan,banyak," ujar nana sedikit bangga,karena memang.Di kampung curug taneuh itu ratna manggala seorang lah yang paling menonjol di antara anak anak yang lain nya,dari segi apapun.Disah,musa,hamim,dori,mirah,soni dan almarhum amir dulu,selalu berusaha membahagiakan dan memberikan yang terbaik untuk nana,walaupun tidak di urus ayahnya,tapi nana tidak terlihat seperti anak yang tak di anggap.Kasih sayang sangat melimpah untuknya.
Neneng hanya mengangguk saja.
Setengah jam berlalu,akhirnya kedua gadis kecil itu pun sudah sampai di rumah masing masing.
"Assalamu'alaikuumm,emaaaakkk nana pulang nih!" teriaknya mengucap salam sambil melepaskan sepatu putihnya.
"Wa'alaikumussalam,anak manis" jawab seseorang dari dalam rumah.
"Eh..." nana kaget,karena ia sangat mengenali suara ini.
"Ayo masuk,mengapa terus berteriak disana," ucap mirah lembut,ia segera menyambut dan memeluk putrinya erat yang baru pulang sekolah.Rasa rindu membuncah tak tertahankan.
"Ibuuu,hiks...ibu sudah pulang?" nana membenamkan wajahnya di dada sang ibu,kedua ibu dan anak itu menangis sesenggukan melepas rindu.
"Nana rinduu sekali sama ibu," ucapnya serak,karena menangis
"Ibu juga sama,sangat rinduuu sekali kapada nana," mirah tersenyum,dan menciumi seluruh wajah nana.Melampiaskan semua kasih sayangnya yang selama dua bulan ini tak tercurahkan.
"Kapan ibu sampai di rumah?"
"Belum lama," jawab mirah pendek,ia menggendong nana seperti dulu.
"Anak ibu sekarang berat sekali 'ya,pasti makannya hebat," mirah menciumi pipi gembil nana,walaupun anak itu sudah kelas satu sekolah dasar,tapi ia tetap menggemaskan.
"Iya dong bu,emak selalu bikinkan makanan kesukaan nana,jadi nana makan nya banyak," nanan cekikikan,sedangkan tangannya masih asyik melingkari leher sang ibu.
__ADS_1
"Nana,ayok turun dari gendongan ibumu.Ganti baju lalu makan siang dulu," tegur disah,sebenarnya ia merasa agak sedih dan terabaikan.
"Iya mak,sebentar.Nana masih kangen sama ibu," ucap nya manja
Mirah mendudukan dirinya di kursi,ia membawa nana ke pangkuannya.
"Dengar kata emak 'ya,sekarang nana ganti baju dulu kemudian cuci tangan,habis itu langsung makan," mirah menoel hidung nana gemas
Akhirnya nana menuruti perkataan ibunya.
Tak lama kemudian ia pun sudah selesai berganti pakaian dan langsung menuju meja makan,untuk makan siang.
"Ibu bawa oleh oleh apa buat nana," tanya bicah itu disela sela makannya.
"Ada banyak,nana pasti suka,tapi sekarang...habiskan dulu makannya 'ya," ujar mirah.
"Siap," anak itu pun kembali melanjutkan makannya dengan sangat lahap.
"Bu,nana pas kenaikan kelas nanti mau menari,ibu datang 'ya,sama emak dan bapak," pintanya dengan mata berbinar
"Pasti,dong" jawab mirah dan disah kompak.
"Eh iya bu,tadi disekolah bu guru memberikan tugas kepada semua murid termasuk nana,nana harus menuliskan nama nama anggota keluarga,dari ayah ibu dan kakak,terus nana menulis nama ibu,nama kak soni,dan nama almarhum bapak,tapi kemudian ibu guru bilang sama nana,katanya bapak kandung nana itu herman bukan amir,nana kan jadi bingung." ucapnya polos.
Deg...
Deg...
Deg...
Jantung mirah berdebar kencang,qpa yang ia khawatirkan terjadi juga.Nana menanyakan siapa ayah kandungnya.
"Herman siapa sih bu?"
Deg...
Kembali jantungnya dikejutkan dengan pertanyaan nana.
.
__ADS_1
.
.