Ketabahan Seorang Ibu

Ketabahan Seorang Ibu
Makhluk sialan!


__ADS_3

"Sedang apa 'ya,nana sekarang?"


"Hahhh...aku rindu sekali dengan anak itu,"


Disah bergumam sendiri,kini ia sedang beristirahat di saung sawah,karena baru saja selesai memberikan pupuk pada padi padinya.


"Aku lapar 'mak,kau bawa makanan apa dari rumah?" musa yang baru saja selesai dengan pekerjaannya merasa sangat lapar,dan tentu saja ucapan musa yang tiba tiba mengagetkan disah,yang tengah memikirkan nana.


"Isshh,kau ini mengagetkan aku saja 'pak," disah mendelik,tangannya juga reflek menggeplak bahu musa.


"Aku gak merasa begitu,aku 'kan,lapar,mau makan.Lagian,kamu itu senengnya ngelamuun teruus," musa memprotes istrinya,yang memang akhir akhir ini sering sekali melamun dan bergumam sendiri,tepatnya setelah kepergian ratna manggala.


"Aku sangat merindukan gadis kecil kita 'pak,biasanya kalau dia sedang libur sekolah,pasti ikut kita ke sawah," ujar nya lagi.


"Yaah,yang sabar 'mak,dia disana kan bukan untuk waktu yang lama,hanya sampai selesai liburan saja.Sekarang saja dia hampir dua minggu di sana,tinggal tunggu seminggu lagi untuk dia kembali kesini," musa berusaha menghibur istrinya yang memang sangat merindukan nana.


"Eh iya 'pak,si hamim dan istri dia,katanya mau pulang hari ini," ucap disah kepada sang suami.


"Kata siapa 'mak?"


"Mang jojo yang bilang,dia kan satu pekerjaan dengan hamim," terangnya


"Ya,baguslah kalau dia ingat pulang,sudah lama dia pergi.Kalau tidak salah,dia pulang waktu amir meninggal 'kan?" ujar nya kepada sang istri


"Iya," ucap disah pendek


"Katanya bapak lapar,niih...aku sudah bawakan makanan spesial dari rumah," disah mengeluarkan bungkusan daun,yang ternyata adalah nasi timbel,yang lengkap dengan lauk pauknya.



"Waah,enak sekali ini.Mari makan 'mak,aku sudah lapar," musa terlihat berbinar melihat nasi timbel beserta lauk nya sudah tersaji


Akhirnya siang itu mereka makan nasi timbel di saung sawah dengan lahap dan nikmat.


......................

__ADS_1


Malam hari nya di kota bandung...,udara semakin terasa dingin menusuk sampai ke tulang,nana mengeratkan pelukannya kepada sang ibu.Namun tiba tiba saja kandung kemih nana terasa memberat tak bisa kompromi


"Bu,nana mau pipis," anak itu menggoyang goyangkan tangan sang ibu yang melingkar di perut nya.


"Emmm,kenapa sayang?" mirah menggeliat dan membuka mata ketika merasakan tangannya diguncang


"Nana kebelet ibu,anterin ke toilet,cepetann," ucapnya lagi,namun suaranya kini menjadi rengekan,ia benar benar sudah tak tahan.


Seketika mata mirah terbuka lebar,mendengar kata yang berhubungan dengan toilet ia selalu merinding,apa lagi tengah malam begini.


"Ah,bagaimana ini.Aku takut sekali jika harus ke belakang sana," mirah bergumam,hingga tak sadar ia pun sampai menggigit bibir nya,karena sangat bingung.Jika tidak ke toilet belakang kemana lagi fikirnya.


"Nana sayang,pipis di depan aja ya pinggir jalan.Ini kan sudah tengah malam,gak akan ada orang kok,nana mau 'ya?" bujuk mirah,ia berharap anak itu mau menurutinya


"Iiihh,ibuuu,masa iya nana pipis di depan.Gak mau 'ah,nanti malu kalau pas ada orang lewat," tak terbayangkan apabila sedang sibuk sibuk nya jongkok,tiba tiba saja ada orang melintas,betapa akan sangat memalukan! fikir nana.


Mendengarkan penolakan dari putrinya mirah semakin bingung,ia malah menggigit kuku jempolnya.


"Duuh,gimana ini?"


"Ibuu,ayooo anterin sekarang," nana sudah meloncat loncat menahan agar tidak pipis di celana.


"Nana,tetap di dekat ibu 'ya,jangan berlari," mirah memperingatkan anaknya,kemudian dia pun memegang tangan anak itu erat.


Suasana mencekam begitu terasa,kala dirinya melewati bengkel itu kemudian netranya melirik ke arah meja bundar yang kokoh dekat pintu toilet.


"Nana,ayo cepat masuk sana,ibu tunggu di luar,ingat! pintunya jangan ditutup 'ya,supaya ibu bisa melihatmu," mirah memperingatkan anaknya.


Nana hanya mengangguk,kemudian dengan cepat ia masuk ke toilet dan menyelesaikan urusannya.


"Sudah bu," ujarnya


"Ayo cepat,kita pergi dari sini," perasaan mirah sangat tidak enak berada disana,apalagi ketika mengingat makhluk tinggi besar yang pernah menampakkan diri padanya di meja bundar itu.


Dengan tergesa mirah segera meninggalkan tempat yang baginya sangat menyeramkan itu,tanpa menoleh kesana kemari ia pun menarik tangan nana.

__ADS_1


"Cuaca memang sangat dingin,sampai tangan kamu pun dingin sekali," ujar mirah sambil berjalan dan menggenggam erat tangan nana.


Tiba tiba lilin yang di bawa mirah di tangannya padam,jalan menuju ke belakang memang gelap gulita karena tidak ada penerangan sama sekali,hanya di bagian depan serta bagian bengkel saja yang memakai lampu.


"Ah,lilin nya padam 'nak," ujarnya kepada sang anak.


"Ayo sebentar lagi sampai ke kamar," mirah sudah bisa melihat sedikit cahaya dari dekat kamar nya yang temaram.


"Nana sayang,kenapa kamu diam saja? dari tadi ibu berbicara sama kamu," ucapnya sambil menengok ke arah sang anak.


Tiba tiba...


"Arrrggghhh!!!


Mirah menjerit,keras tatkala yang dia lihat bukanlah sang putri tercinta.Melainkan sesosok makhluk mengerikan yang sedang menyeringai ke arahnya,sosok wanita berambut panjang berantakan dengan mata melotot dan seringaian yang mengerikan memperlihatkan gigi nya yang runcing,tangannya yang sangat pucat dengan kuku panjang hitam serta runcing menghiasi pemandangan yang dilihat mirah,bukan daster putih yang dipakai makhluk itu tetapi pakaian seperti pada umumnya manusia,yaitu baju panjang dengan motif bunga bunga yang di penuhi bercak darah.


"Dasar makhluk sialan!! mengapa kau mengikuti aku,hahhhh?! mana putriku mana nana ku?! enyah kau dari hadapanku sekarang!!" ketakutan yang tadi melanda hatinya kini berganti dengan keberanian,justru sekarang ia panik sebab nana tidak ada bersamanya,karena memang sejak tadi yang mirah genggam dan tuntun tangannya adalah makhluk sialan dihadapan nya sekarang.


Dengan keberanian tingkat tinggi mirah segera berlari kembali kebelakang meninggalkan makhluk itu yang sepertinya sedang bingung,karena di hardik mirah,walupun keadaan gelap gulita,tetapi entah mengapa mirah sama sekali tidak merasa takut sekarang.


"Nana! sayaang! nana,kamu dimana nak?!" mirah berteriak memanggil anaknya.


"Ibuu,mengapa ibu meninggalkan nana?" nana menangis ketakutan,pasalnya ia merasa ditinggalkan sang ibu,nana hanya bisa menangis karena keadaan yang gelap gulita ia jadi tidak bisa kemana mana.


Mirah segera memeluk anaknya,


"Nana,ini beneran kamu kan sayang?" tanya nya memastikan


"Ini beneran nana bu,ibu kenapa tadi pergi begitu saja,nana memanggil ibu tapi ibu malah mempercepat langkah,syukurlah ibu kembali.Nana takut sekali,karena di sini sangat gelap," ujarnya terisak.


"Maafkan ibu sayang ayo kita segera pergi," mirah mengecup kening putrinya, kemudian melangkah pergi meninggalkan area bengkel.


Ketika sampai di depan kamarnya mirah celingukan,sepertinya ia memastikan makhluk tadi sudah pergi dari sana.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2