
"Mengapa ibu mau meninggalkan nana?" tanya bocah itu.
Hari itu mirah langsung menanyakan pendapat nana,perihal jika dirinya bekerja di bandung.Namun bukannya menjawab,bocah itu malah bertanya mengapa sang ibu mau meninggalkan dirinya.
"Haahhh...bukannya mau meninggalkanmu begitu saja anak manis,tapi ibu ingin memperbaiki keadaan hidup kita," mirah menghela nafas dan memberikan pengertian kepada nana.Namun keadaan sebenarnya adalah,ia hanya ingin melupakan kesedihannya yang mendalam.
"Nana boleh ikut?" tanya nya lagi,dengan polosnya.
"Kalau nana ikut,nanti siapa yang menemani emak sama bapak disini?lagipula 'kan,nana harus sekolah, katanya mau pintar dan jadi orang sukses," kali ini disah yang menjawabnya dengan senyum hangat terukir di bibir.
"Tapi,kapan ibu pulang lagi? Nana gak bisa pisah lama lama dari ibu," dengan sendu anak itu bicara.
"Begini saja,jika sekolah libur panjang,nana bisa ke bandung menemui ibu,nanti disana kita akan jalan jalan,ke kebun binatang dan ke tempat tempat seru lainnya.Kebetulan juga ada anak bos besar yang seumuran sama nana,bagaimana?" kali ini omi yang angkat bicara.Ia berusaha membujuk anak itu.
Lama nana termenung,menimang nimang.Apakah dirinya harus memperbolehkan sang ibu pergi atau tidak.Namun dirinya juga merasa tergoda dengan iming iming jalan jalan,apalagi ke kebun binatang.Mengingat dirinya yang pernah jalan jalan ke bandung dan ke kebun binatang bersama almarhum sang bapak dulu,nana jadi goyah.
"Emak sama bapak boleh ikut ke bandung? kan nana gak bisa pergi sendirian" tanya nya polos
"Ya,tentu saja sayang! apakah itu artinya,nana mengijinkan ibu pergi?" mata omi berbinar,mendapat lampu hijau dari nana.
"Betulkah itu sayang?" mirah memastikan.
"Hem,boleh saja.Habisnya nana suka jalan jalan di bandung,nana mau kesana lagi." nana mengangguk mantap,kini fikiran bocah itu sudah berkelana ke bandung.
__ADS_1
"Terimakasih nak,kamu sudah mengijinkan ibu pergi," mirah mengukir senyum tulus untuk putrinya.
Akhirnya mirah memutuskan untuk pergi ke bandung minggu depan, dan omi pun setelah menginap semalam pulang lagi ke bandung.
.
.
.
"Nana harus selalu jadi anak baik 'ya,nurut apa kata emak sama bapak.Jangan lupa,nana juga harus rajin belajar usahakan juga sholatnya jangan bolong bolong,ibu sayang sama nana.Ibu janji akan sering nengokin kalian kesini," mirah menatap sang anak dengan sendu,sekelebat bayangan herman yang tak pernah sekalipun menengok atau bahkan bertanya kabar anaknya tak pernah dilakukan.
"Sungguh tega!" bathin mirah.
Ya,hari ini mirah berangkat kebandung.Rasa hati sangat berat untuk meninggalkan si kecil,namun inilah jalan yang dipilih mirah,ia harus ikhlas demi masa depan lebih baik,ratna bertumbuh besar dan tentu saja kebutuhan nya pun mulai banyak,hasil jualan kuenya pun tidak terlalu bisa diharapkan,hanya cukup untuk keperluan nana saja.Sedangkan untuk makan,selama ini mirah mengandalkan dari kakak nya,dan ia tak bisa terus terusan seperti itu.Walaupun disah tidak pernah kekurangan bahan pangan dan tidak pernah sekalipun keberatan dengan mirah dan nana.Karena sedari awal disah memang mengambil tanggung jawab yang seharusnya di emban sang adik herman,meskipun begitu mirah tetap saja merasa malu selalu merepotkan sang kakak.
"Kak,titip ratna 'ya,kedepannya kalau uangku sudah terkumpul,aku pasti akan mengirimkannya kesini," ia berkata dengan sendu dan mata yang berembun.
"Sudah,kamu fokus saja mir.Jangan risaukan nana,kakak akan menjaganya dengan baik,jaga diri kamu,jangan sedih sedih lagi 'ya," disah memeluk mirah dan mengelus punggungnya.
Kereta tujuan bandung yang akan di tumpangi mirah sudah datang,ia pun berpamitan dengan semua orang.Ratna memeluk ibunya erat dan menangis sesenggukan,begitupun dengan mirah,baru kali ini ia merasakan beratnya meninggalkan ratna.Namun sekali lagi,ini adalah jalan pilihannya,dia harus tegar dan kuat.
"Dadah ibuuuuu!!" ratna melambai lambaikan tangannya,ketika kereta itu mulai bergerak. "Dadahhh,ibuuuu...nana akan rindu sekali dengan ibu,hiks...emaaakkk," disah dan ratna saling berpelukan mereka sudah banjir air mata,bahkan musa dan soni pun ikut meneteskan air mata.
__ADS_1
"Dek,jangan sedih ya,kan ada kaka.Pulang nya kaka gendong 'mau?" tawar soni,nana hanya mengangguk lesu.
Kereta pun melaju kencang,di dalam kereta mirah masih menangis terisak.
.
.
.
Kereta yang mirah tumpangi sudah tiba di stacion bandung,omi sudah menunggunya disana.Ia menjemput mirah menggunakan mobil bos nya.
"Kak,sudah lama nunggu,?" mirah meraih tangan kakaknya dan mencium punggung tangan sang kakak takzim.
"Mungkin sekitar tigapuluh menit,kamu sudah makan 'mir?" tanya omi,netranya menelisik mata sang adik yang terlihat bengkak dan sembab.
"Alhamdulillah,sudah di kereta." jawabnya pendek.
"Kalau begitu,kita berangkat sekarang 'ya"
Mirah hanya mengangguk lemah,matanya menerawang jauh terbayang wajah sang putri tercinta.
.
__ADS_1
.
.