Ketabahan Seorang Ibu

Ketabahan Seorang Ibu
permohonan herman


__ADS_3

Takdir tetaplah takdir,tidak ada yang bisa menghindarinya.Bagaimanapun takdir itu,baik ataupun buruk tetap harus dijalani


Semilir angin mengibarkan rambut panjang Mirah yang menguarkan aroma lembut menenangkan,wanita cantik itu kini tengah merenung dibelakang rumah tepatnya di saung lisung.


Kata kata disah semalam begitu terngiang ngiang ditelinga nya


Semalam...


"Mir...,ada yang mau kakak bicarakan sama kamu," ujar disah,kebetulan saat ini Mirah tengah menikmati kolak pisang yang dicampur nangka(kebayang gak sih legitnya🤤😋)


"Iya,bicara saja 'kak,Mirah dengarkan kok,"


"Begini,katanya Herman dia betul betul memohon maaf sama kamu 'mir.Dia juga memohon sama kamu,untuk membujuk Nana supaya mau dekat dengan nya,dia ingin menebus semua kesalahan dulu,dan berjanji akan menjadi ayah yang bertanggung jawab," tutur disah,sebetulnya disah merasa enggan menyampaikan hal tersebut kepada Mirah.Namun Herman begitu memaksa dan memohon mohon pada sang kakak untuk menyampaikan nya kepada Mirah


"Bagaimana mir? apa kamu mau memaafkan Herman?" disah memastikan lagi


Mirah begitu bimbang,ia sebetulnya benar benar malas menanggapi itu.


"Sebetulnya sulit sekali untuk memberi nya maaf 'kak.Namun,Allah saja Maha pemaaf,aku hanya yang seorang hamba tentu saja harus berlapang dada untuk memaafkan dia.Memaafkan tapi tidak berarti melupakan semua perbuatannya kepadaku," Mirah menatap lekat disah seolah meminta pengertian sang kakak


"Yah,kakak mengerti perasaan mu 'mir,dengan kamu memaafkan nya saja itu sudah lebih dari cukup," disah mengangguk,ia sangat faham betapa sulitnya Mirah ,untuk bisa memberi maaf.Mengingat kelakuan Herman yang begitu menyakiti bathin ibunya ratna itu


***


Matahari semakin meninggi,Mirah yang masih betah berlama lama di saung lisung tidak mendengar suara ketukan pintu di depan rumah,sedangkan disah dan Musa mereka masih belum pulang dari sawah


"Assalamualaikum,kak disah...!"


Namun beberapa kali memanggil tidak ada seorangpun yang membukakan pintu,sampai akhirnya ia berinisiatif memutar ke belakang rumah


"Semoga saja pintu belakang tidak dikunci," gumam Herman,


Namun saat ia berjalan ke belakang rumah netra nya tak sengaja melihat seseorang yang begitu dia kenal,wanita yang beberapa hari ini kembali mengganggu fikiran nya

__ADS_1


"Mirah..."


Tak dikira begitu bahagianya hati Herman,sekarang ia jadi berfikir semua jalannya akan mudah,dengan perlahan laki laki itu mendekati kecantikan yang tengah asyik dengan lamunannya itu.


"Khmm,neng Mirah...," panggilnya


Mirah yang masih tenggelam dalam lamunan nya tidak mendengar panggilan sang mantan suami


"Neng...," panggil Herman lagi,tapi kali ini sambil menepuk bahu nya


"Ah...! iya," jawabnya reflek sambil menoleh,namun betapa terkejutnya wanita itu tatkala yang dia lihat adalah orang yang benar benar tak ingin di lihat,laki laki yang telah menorehkan luka begitu dalam di hatinya


"Oh,kau rupanya," kini raut wajah wanita cantik itu benar benar tidak bisa di artikan


"Iya,ini akang," laki laki itu berusaha tersenyum semanis mungkin,namun di mata Mirah senyuman itu bagaikan kutukan yang mengerikan


Tidak ada percakapan selanjutnya diantara kedua anak manusia itu.Herman sendiri bingung untuk memulai percakapan mengingat sikap sang mantan istri yang begitu acuh,sedangkan Mirah? jangan tanyakan,ia begitu enggan berhadapan dengan Herman apalagi untuk memulai sebuah pembicaraan,ditambah saat ini mereka hanya berdua saja.Ini benar benar tidak nyaman dirasakan


Beberapa lama mereka hanya terdiam,merasakan lembutnya belaian angin yang sesekali membelai


"Masih di sekolah,"


"Kak disah dan Musa kemana?" tak ingin memutus rantai ,ia terus saja bertanya


"Masih di sawah," Mirah hanya menjawab seperlunya.Ia benar benar merasa enggan berbicara dengan ayahnya Ratna Manggala,walaupun dirinya telah berusaha memaafkan namun tetap saja jika mengingat semua rasa sakit itu hati nya akan bergemuruh kembali


"Hmm,ya..." tiba tiba saja Herman merasa kehilangan rasa percaya dirinya,ternyata tidak semudah itu mendekati Mirah.Apakah wanita itu akan memaafkan dirinya? fikir laki laki itu


"Apa kau sudah memaafkan aku?" tanya herman


Mirah menoleh dan menatap Herman sebentar,kemudian ia memalingkan wajahnya lagi


"Untuk?"

__ADS_1


"Semua kesalahanku," menjawab itu mata Herman menerawang jauh,ke masa dimana ia dengan begitu tega membawa wanita lain kerumah dan meminta wanita yang tengah hamil itu menerima rohanah sebagai madunya


"Aku sudah melupakan semuanya,kau tidak perlu membahasnya lagi.Aku benar benar tidak ingin terperangkap di masa lalu yang menyakitkan,"


Jawaban Mirah begitu menohok,menghantam tepat sasaran di jantung Herman


"Kalau seperti itu terima kasih,dan aku mohon kepadamu untuk membujuk Ratna supaya mau menerimaku," pinta Herman


"Kau tahu? anak itu sering membicarakanmu,suatu hari dia berkata bahwa kau akan pulang dengan membawa uang yang banyak,dan kita akan berkumpul lagi sebagai keluarga.Dan kau tahu? aku hanya membiarkan saja ia berfikiran seperti itu,tanpa berniat mengecewakan nya.Aku fikir ia akan tahu sendiri seperti apa ayahnya,dan ternyata dugaanku benar,ketika pertama kali kau bertemu dengannya,lalu ia menanyakan siapa wanita yang bersamamu hari itu,lalu aku mengenalkannya sebagai istrimu,maka hal itu langsung menciptakan rasa marah dan kecewa di hatinya ,wajar saja jika Ratna menghindarimu,"


Mendengarkan penuturan Mirah yang panjang lebar,Herman hanya membisu,penolakan Ratna kepadanya memang terasa mencubit hati,dan kini ia mengerti dengan sikap Ratna


"Bantu aku untuk mendapatkan hati Ratna,aku juga ayahnya.Ingin juga merasakan kebersamaan dengan dia," kini ia memelas kepada Mirah


"Aku tidak bisa membantumu,berusahalah sendiri!" ucap Mirah dengan ketus,kemudian ia berdiri dan berlalu pergi meninggalkan Herman


Tak tinggal diam,Herman kemudian ikut berdiri dan mengejar Mirah


"Tunggu! kau mau kemana? mengapa meninggalkan aku? kita 'kan belum selesai bicara,"


"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan,semua yang ingin kau bicarakan sekarang,bagiku sudah selesai di masa lalu sejak kau memutuskan memilih rohanah dan pergi dengan nya meninggalkan aku yang tengah mengandung anakmu."


Semua perkataan Mirah memang benar,andai saja dulu ia tak pergi mungkin saat ini Herman, Mirah,dan Ratna menjadi keluarga yang bahagia,Ratna akan senang karena ayah dan ibunya bersama,begitupula Herman,ia tidak akan susah payah untuk menarik perhatian Ratna.


"Iya,semua memang salahku.Tapi aku ingin memperbaiki semuanya,tolonglah...,"


Ketika Herman dan Mirah sedang berada mulut,tiba tiba saja seseorang datang menghampiri mereka


"Kang Herman,Mirah.Apa yang kalian lakukan berdua?" pertanyaan rohanah di bumbui rasa curiga dan cemburu


"Apa Ceuceu tidak lihat,kami sedang apa?" Mirah balik bertanya dengan sinis,kemudian ia berlalu meninggalkan pasangan yang sepertinya akan berperang itu


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2