Ketabahan Seorang Ibu

Ketabahan Seorang Ibu
Sebuah kejujuran


__ADS_3

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat,mirah dan dori berbicara ngalor ngidul hingga lupa waktu,sedangkan nana dan soni? jangan tanya,kedua bocah itu sudah semenjak tadi menjelajahi halaman luas rumah itu,mereka juga melihat lihat pabrik karet dan pabrik sabun milik dori.


"Kak,nana mau kesana.Ada pohon besar dan rindang,dekat pabrik sabun itu," nana menunjuk ke arah pohon tersebut.


"Ingat! nana gak boleh lari lari," soni memperingatkan adiknya.


"Beres," jawab nana.Namun,bukan ratna namanya jika tidak berlari,dengan riang ia berlari dan melompat lompat menuju pohon besar itu.


Soni menggelengkan kepala melihat tingkah nana,yang malah melompat lompat.


"Nana,tunggu kakak!" soni mengejar adiknya


Namun tiba tiba...


Tukkk...brukk!


"Aakkkhhh!!


"Nana!!" teriak soni panik,ia segera menghampiri adiknya.


Nana menangis keras,anak itu tersandung akar pohon besar yang timbul dan terjatuh,nahas nya di tempat nana jatuh itu ada banyak batu batu kerikil,yang apabila jatuh dengan keras tentunya akan membuat luka,ia terlalu semangat berlari dan melompat melompat riang,hingga tak menyadari akar besar di depannya.


"Kakak,lutut nana berdarah," rengek anak itu disela tangisan nya


"Coba kakak lihat sini," soni melihat lutut adiknya,dan luka itu terlihat cukup parah.


"Nana tunggu sebentar 'ya,kakak mau mencari sesuatu dulu.


"Mau kemana? ini lutut nana sakit banget," rengeknya


"Mau cari obat,untuk menghentikan pendarahan nya," jawab soni,kemudian ia pun menuju pohon pisang di dekat pabrik sabun,dengan cekatan ia mengambil batu runcing lalu memotong pelepah daun pisang menggunakan batu itu,setelah berhasil ia kembali ke tempat nana


"Nana,sini lututmu,"


"Mau di apain kak?" bocah itu terlihat was was


"Pendarahan nya harus di hentikan," ujar soni,dengan sabar ia menjelaskan kepada adiknya.


Dengan perlahan nana memperlihatkan lukanya yang lumayan besar,itu dilihat dari darah yang keluar juga cukup banyak,lalu dengan telaten soni mengusapkan getah dari pelepah pisang ke luka di lutut nana.

__ADS_1


"Aughh,aughh! periiihhh kakak,nana gak mau diolesin getah pisang lagi!" nana meringis kesakitan,tangisan nya pun semakin kencang


Melihat dan mendengar tangisan adiknya yang semakin kencang,dengan telaten soni pun meniup niup lutut sang adik.Berharap bisa mengurangi rasa sakitnya.


"Sabar ya 'dek,tahan sebentar lagi,pasti sakitnya akan berkurang.Lukanya juga akan cepat kering dan tidak mudah infeksi," ucap nya sembari mengelus rambut panjang nana


Di dalam rumah,mirah yang tengah asyik berbincang dengan dori.Sayup sayup ia mendengar tangisan nana,yang memang super duper kencang.


"Suara tangisan nana,kenapa dengan anak itu?" mirah bertanya tanya,kemudian ia dan dori bergegas mendatangi asal suara nana,yang makin terdengar jelas.Dan ternyata itu berasal dari bawah pohon besar rindang di dekat pabrik sabun.


"Ya Allah...! nana kenapa sayang?" mirah panik,melihat nana sedang menangis kejer.


"Luttut nana sakiiiitt ibuuu," ujarnya mengadu,dengan tangisan yang masih kencang


"Kenapa bisa sakit 'hem?" mirah dan dori berjongkok melihat lutut bocah itu.


"Nana tersandung akar pohon itu,lalu terjatuh keras diatas batu batu kerikil," soni memberikan penjelasan kepada ibu dan uwaknya


"Pasti nana lari lari 'ya?" mirah tersenyum lembut kemudian ia meniup niup lembut luka nana,berharap dengan cara itu tangisan anaknya berhenti


"Ibu tenang saja,soni sudah mengoleskan getah pelepah daun pisang di lukanya,tinggal di balut saja 'bu,supaya tidak kena debu," jelas nya


"Tentu dong! anaknya miraah,"


"Iya,iya, anaknya ibu mirah memang luar biasa," dori terkekeh,begitupun dengan soni


Mirah melangkah kebawah naungan pohon rindang itu,hatinya terkesiap tatkala ia mengingat kenangan manis pertamanya di bawah pohon itu bersama herman.


Kemudian netra hitam mirah menatap lekat ratna manggala,putri semata wayang,buah cinta nya dengan herman.Tiba tiba hatinya kembali berdenyut sakit,mengingat nana tumbuh kembang tanpa kehadiran serta kasih sayang sang ayah.


Tanpa terasa air matanya meleleh,tak terbendung.Ia terisak ditemani semilir angin di bawah pohon itu.


"Hikss,kang herman..." ucapnya lirih,nyaris berbisik.


Namun tak disangka,ketika mirah sedang membisikan nama herman,pas bertepatan dengan nana yang menghampirinya,otomatis kata itu terdengar oleh si gadis periang tersebut.


"Bu,sebenarnya siapa herman itu,kenapa ibu menyebut namanya?" tanya nana dengan penuh rasa ingin tahu


Degg...

__ADS_1


Jantung mirah berdegup kencang,kala mendengar pertanyaan itu kembali.Ia merasa di skak mat.


"Jawab dong bu,siapa herman itu.Apa benar itu ayahnya nana?"


Dori yang mendengar itu pun merasa ikut bingung,apa yang harus dikatakan nya sekarang kepada nana.


Akhirnya,mirah mengalah.Ia tak bisa lagi berpura pura acuh dengan pertanyaan nana,dengan nafas berat dan sangat terpaksa ia pun memutuskan untuk mengungkapkan yang sebenarnya.


Mirah mengangguk lemah,. "Iya,dia ayahmu," suaranya tercekat di tenggorokan.


Mendengar jawaban ibunya,reaksi nana pun tak terduga.


Bocah itu hanya diam termenung,tanpa kata sedikitpun.


Setelah sekian lama terdiam,akhirnya sebuah pertanyaan pun keluar dari mulut kecilnya.


"Seperti apa rupanya bu? ayah nana?" pertanyaan sederhana,namun mampu memporak porandakan pertahanan hati mirah.


"Sayang,dia mirriip sekali denganmu.Kalau nana bercermin,cobalah perhaatikan wajahmu sendiri," dengan perasaan yang seperti disayat serta air mata yang terus mengalir,ia berusaha tetap tegar ketika mengatakan itu walaupun ucapannya sedikit terbata bata.


"Begitukah? apakah nana mirip sekali dengan ayah," tanya nya lagi,saat ini rasa ingin tahu tentang sang ayah yang baru diketahuinya begitu besar melesak di dalam dada gadis itu.


Lagi lagi hati mirah terasa sangat pedih,namun begitu ia pun tetap mengangguk.


Masih dibawah pohon itu,kini hanya ada mirah dan ratna saja,dori sudah sedari tadi pergi meninggalkan ibu dan anak itu membawa serta soni,ia tak sanggup mendengarkan pertanyaan demi pertanyaan yang nana ajukan terhadap ibunya,hatinya merasa ikut sakit kala mendengar nana terus bertanya.


"Apakah ayah nana masih hidup sekarang?


Mirah mengangguk lagi,ia tak mampu berkata kata.


"Kalau masih hidup,dia dimana sekarang? mengapa tak pernah menemui nana? apa ayah tak sayang kepada nana?"


Mendengar kata demi kata dari mulut kecil nana yang begitu terasa menyayat nyayat hatinya,tqngisan mirah pun pecah.Ia tak mampu menahan nahan nya lagi,ia sesenggukan sambil memeluk nana.


"Sayang,dengarkan ibu 'ya,ayah nana masih hidup dan ia orangnya sangat baik,ia menyayangi mu.Namun sekarang,ayahmu sedang bekerja di luar pulau yang sangat jauh,dan untuk pulang kesini menemui nana,ayah harus mengumpulkan uang yang sangat banyak.Nana sabar 'ya,suatu hari nanti ayah pasti pulang," hanya itu yang bisa mirah katakan kepada nana saat ini,ia berharap nana tidak lagi membicarakan tentang herman.Sejujurnya ia tak sanggup membicarakan pria itu lagi,apalagi jika mengingat pengkhianatan nya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2