Ketabahan Seorang Ibu

Ketabahan Seorang Ibu
Jerit kesakitan rohanah


__ADS_3

Jerit kesakitan Rohanah ternyata membangunkan seluruh penghuni rumah,disah,Musa,Mirah serta Ratna yang tengah tertidur lelap mengarungi alam mimpi seketika terbangun tatkala mendengar jerit dan tangis seseorang.


"Astagfirullah! maaann!!,istighfar kamu," teriak disah yang tergopoh gopoh keluar dari kamar,ia sangat kaget,kala melihat Herman tengah kalap menyeret rohanah menggunakan rambut panjang wanita itu.


"Ah.....!!" lain halnya dengan Mirah,ibu satu anak itu hanya menutup mulut tak percaya dengan apa yang dilihat,ia sampai tak bisa berkata kata.


"Mirah,ini bukan hal yang baik untuk dilihat anakmu.Bawa Nana masuk ke kamar," melihat suasana menegangkan akibat kekerasan yang dilakukan Herman,Musa langsung menyuruh Mirah untuk membawa Ratna masuk ke kamar,pria itu merasa bahwa Nana yang masih kecil tidak pantas menyaksikan hal seperti itu,ia takut berakibat fatal untuk kesehatan mental Ratna.


"Ayo sayang,mari kedalam.Ini tidak pantas dilihat," ajak Mirah lembut kepada Ratna yang terlihat begitu syok dan ketakutan melihat kebrutalan ayahnya yang menyiksa rohanah.


Ratna mengangguk dan masuk kedalam kamar bersama sang ibu,kemudian kedua ibu dan anak itupun berbaring sambil berpelukan,Ratna memeluk sang ibu erat,gadis belia tersebut gemetar.


"Bu...,Nana takut sama ayah," ujarnya


"Nana bobo 'ya,tutup telinganya pakai ini," Mirah berusaha menenangkan sang putri,kemudian ia menyelimuti tubuh gadis itu sampai menutupi telinga nya.


"Arrgghhh! sakiit,sialannn!" maki Rohanah di tengah jerit tangis nya


Duhhh..dughh..dughh


Bukannya berhenti Herman malah semakin brutal,dihantamkan nya kepala Rohanah ke dinding,untungnya dinding diruang tengah terbuat dari kayu,namun tetap saja itu terasa menyakitkan.


"Kau rasakan ini!"


"Itulah akibat mengganggu istirahatku!"


"Sudah kusuruh kau untuk diam,tapi seolah tak mendengarkan,malah kau terus saja berbicara ngawurr,hah..hah..hah..,!!" ucap Herman meledak ledak,amarahnya begitu luar biasa sehingga ia bicarapun sampai ngos ngosan.


"Argghhh,ampuuunn!!"


"Hu~hu~hu~hu...,"


"Sakiittt!!!"


Rohanah menjerit meminta ampun,sambil menangis. Namun Herman seolah kesetanan,dan terus saja menghantamkan kepala Rohanah ke dinding


"HERMAAAANN!!"


"HENTIKAN!!" Teriak disah menggelegar.


"Arrgghhhh,persetan!" ujar pria itu sambil terus menghantamkan kepala Rohanah


"Ckk! cari mati rupanya," gumam disah


Tiba tiba saja..


"Brughh!!"


"Duaghh!!"

__ADS_1


"Duaghh!!"


"Brakkk!!"


"Rasakan itu adik sialan!,kau mau buat mati anak orang Hahhhh?!" ternyata disah dan Musa menyerang Herman dengan membabi buta,sepasang suami istri itu merasa geram dengan kelakuan adiknya


"Hentikan...,ampuun kaakk!!" teriak Herman,yang kini terkapar tak berdaya,tubuhnya menghantam meja ruang tengah, akibat dilemparkan oleh Musa dengan kencang,kini meja malang tersebut telah hancur berantakan.


"Rasakan!!,itulah akibat jika kau tak mau mendengarku,!" ejek disah


"Kau lihat itu! istri sirimu sampai tak sadarkan diri akibat perbuatanmu,bagaimana jika dia mati?! gunakan otakmu!!" maki musA


"Kalian juga menyiksaku,bagaimana kalau aku yang mati?" balas Herman sambil meringis kesakitan


"Buktinya kau masih hidup,bahkan masih bisa bicara,!" ejek disah lagi sambil menyeringai


"Dasar kakak gila,adiknya sendiri di aniaya!" cibir Herman


"Sudahlah,jangan banyak bicara,urus istri sirimu itu.Jangan sampai dia mati disini," ketus disah


"Ayo pak,kita lanjut tidur lagi," ajak disah kepada sang suami


"Kak,tolong aku.Badanku babak belur,sakit semua rasanya,bantu aku memindahkan Rohanah ke kamar," pinta Herman memelas


"Urus saja sendiri,kami malas berurusan sama wanita itu.Toh dia istri tercintamu 'kan,?" disah tertawa mengejek


"Arrggh! sialan!"


Dengan tertatih tatih Herman mendekati Rohanah,namun ketika ia berusaha mengangkat tubuh istrinya ternyata tenaganya sangat lemah dan seketika...


"Brughhh!"


Tubuh Rohanah terjatuh dari pangkuan Herman,


"Aghhh!" rintih Rohanah yang seketika langsung tersadar,karena terjatuh cukup keras membentur lantai.


"Kau tega,menyiksaku!" ucap Rohanah yang tiba tiba menatap Herman dengan tatapan tajam dan menusuk


"Alah,sudah diamlah.Itu gara gara kau juga memancing emosiku," balas Herman tak mau kalah


"Kau lihat ini,kak disah dan Musa juga menyiksaku sampai babak belur begini!" tunjuk Herman kepada dirinya yang memang lebam lebam


"Hahahahahaha!"


"Rasakan itu! namun,aku masih belum puas,lihat apa yang bisa kulakukan untuk membalasmu 'kang,!" entah serius atau tidak ucapan wanita itu,Rohanah juga tertawa mengerikan seperti kesetanan .


"Cih! memangnya apa yang bisa kau lakukan?" Herman tersenyum mengejek,kemudian ia beranjak dan melangkahkan kakinya kedapur dengan maksud akan mengambil air hangat untuk membersihkan luka di wajah nya juga untuk luka dikepala Rohanah,karena ia membentur kan nya dengan keras.


Kebencian Rohanah kian menumpuk,ia mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Awas saja,lihat apa yang bisa kulakukan," gumamnya


"Aghhssstt,kepalaku sakit sekali," ringisnya,air matanya menetes,pasalnya baru kali ini Herman berbuat seperti itu


"Ini semua gara gara si Mirah dan Ratna,awas saja kalian," Rohanah menyeringai begitu menakutkan.


Tak lama Herman kembali dengan membawa baskom berisikan air hangat serta haduk kecil,kemudian terlebih dahulu ia membersihkan luka dikepala rohanah kemudian baru luka luka ditubuhnya.


kemudian ketika ia membersihkan bagian wajah entah mengapa begitu terasa perih,karena penasaran ia pun membersihkannya didepan cermin,dan ternyata...


Jeng...


Bibirnya Jontor tebal,kemudian matanya lebam sampai menyipit dan dibagian wajah juga sangat parah,ada luka sobek disudut bibirnya yang terasa sangat perih.


***


Keesokan paginya...


Ketika waktu sarapan tiba semua sudah berkumpul di meja makan,kecuali Rohanah dan Herman.


"Herman dan rohanah,bagaimana keadaan mereka?" musa memulai pembicaraan,mengingat kejadian semalam.


"Mereka belum baikan,apalagi Rohanah,wanita itu badannya demam.Kepala dia juga sakit waktu kitanya," jawab disah,ya selepas sholat subuh terlebih dahulu ia mengecek ke kamar adiknya,dan kondisi pasangan itu memang tidak baik baik saja,Herman dengan rasa sakit disekujur badan nya,kemudian Rohanah yang demam serta sakit dibagian kepala.


"Ratna,mengapa kamu terlihat tidak bersemangat begitu sayang?" tanya disah lembut,tatkala netranya menangkap raut gadis itu yang terlihat lesu.


"Enggak Mak...,nana hanya merasa takut,ketika melihat ayah semalam," ujar gadis itu dengan jujur


Semuanya saling berpandangan,


"Sayang,dengarkan ibu. Coba nana pejamkan mata,lalu tarik nafas dan...,buang." pinta Mirah lembut


"Hm...," kemudian Ratna melakukan seperti yang diperintahkan sang ibu


"Coba lakukan berulang ulang,lalu Nana beristighfar 'ya,"


"Astagfirullahhaladzim,astagfirullahhaladzim," gumam bocah itu berulang


"Sudah agak baikan?" tanya Mirah


"Hm,lumayan Bu...," jawab nya


"Sekarang,selesaikan dulu ma'em nya.Kemudian berangkat deh ke sekolah," Mirah tersenyum hangat sambil mengusap pucuk kepala Ratna dengan penuh kasih sayang,namun dilubuk hatinya ia menjerit penuh kesedihan,ia merasa sedih karena gadis kecil seusia Ratna sudah harus mengalami berbagai peristiwa menyakitkan dalam hidupnya.


"Semoga,kedepannya kebahagian selalu menyertai kita dan semuanya menjadi lebih baik lagi," Mirah memejamkan mata dan berucap dalam hati


.


.

__ADS_1


__ADS_2