
Tetangga mirah yang akan menggiling padi sudah berdatangan.
"Assalamualaikum!"
Serempak mereka mengucapkan salam.
"Waalaikumussalam,mari...kita ke belakang langsung" disah dan mirah tersenyum menyambut para ibu ibu.Dan langsung mengajaknya ke tempat biasa mereka menumbuk padi.
Benturan alu dan lesung yang digunakan untuk menumbuk padi menimbulkan bunyi yang indah canda dan tawa disela sela mereka menumbuk membuat lelah tiada terasa.
"Mir,ratna sudah tidur? kalau ratna sudah tidur tolong buatkan camilan ya,"
"Baik kak,ratna baru saja aku tidurkan.Mau dibikinkan apa memangnya kak? tanya mirah kepada kakaknya.
"Itu...tadi pagi kakak sudah pipil jagung dan mengukusnya,jadi kamu tinggal bikin parutan kelapa nya aja ya"
"Oh...mau bikin urap jagung 'ya?
"Iya,,sama itu mir...tadi kakak juga sudah membersihkan tutut,tolong dibikin kuah pedas ya,biar ibu ibu yang lagi numbuk makin semangat,kalo diberi yang pedas pedas!" sambung disah
"Siap kakk,tunggu ya!" mirah mengacungkan jempolnya.
Hari semakin siang,panas terik membuat siapa saja yang beraktifitas diluar merasakan kepanasan,tapi tidak bagi ibu ibu yang masih semangat menumbuk padi karena mereka terlindungi rindangnya pohon jambu air dan jambu kelutuk yang tumbuh subur di belakang rumah disah.Semilir angin menemani kegiatan mereka.
"Cemilan sudah siapp! mirah berseru dari arah dapur.
__ADS_1
Aroma harum urap jagung dan tutut kuah santan pedas sudah tercium,perut mereka seketika keroncongan mencium aroma makanan itu.
"Mari bu ibu kita istirahat dulu menumbuknya...,makanannya sudah siap" ajak disah kepada ibu ibu yang sedang asyik menumbuk itu.
"Waahh,aromanya harum banget mir,kami tidak sabar untuk memakannya" ujar mak uti.
"Terima kasih ya,bu disah memang terbaik,kita jadi betah kalo numbuk padi disini...suka disuguhin makanan so'alnya"
timpal ibu ibu lainnya.
"Ya sudah,mari silahkan dimakan" disah mempersilahkan.
Siang itu mereka menikmati makanan yang disuguhkan disah dan mirah,mereka sangat senang dengan keluarga disah yang memang terkenal sangat baik dan suka berbagi.
"Kak..."
"Kenapa mir?"
"Aku sudah memutuskan akan segera menggugat cerai kang herman"
"Kakak akan selalu mendukung,apapun keputusanmu" ucap disah lembut,dia sedang asyik menimang nimang ratna.
*****
Beberapa bulan berlalu...
__ADS_1
Hari ini genap sepuluh bulan mirah resmi berpisah dari suaminya,hari hari mirah jalankan dengan bahagia usahanya pun semakin berkembang ia pun sekarang menambahnya dengan berjualan bajigur disekitar rumahnya,bajigur yang mirah jual selalu laku apalagi posisi mereka yang berada di kaki gunung yang terkadang hawa dingin menyerang.
Pukul sembilan pagi mirah masih dipasar hari ini ia agak kesiangan karena ratna rewel dan memaksa ingin ikut ibunya mirah terpaksa mengajaknya.
Di pasar...
"Ratna...,jangan jauh dari ibu ya,ibu takut kamu nyasar soalnya" sebentar lagi dagangannya habis dan kita akan segera pulang." mirah memperingatkan anaknya.
Ratna hanya mengangguk dan ia pun patuh pada perintah ibunya,ia duduk manis bermain boneka di bawah meja tempat ibunya menyimpan dagangan,ratna sangat menyayangi boneka panda berwana hitam itu,boneka itu pemberian hamim ketika ia pulang dari kota dua bulan lalu.
Kasih sayang hamim memang tak diragukan lagi,ia selalu berusaha membahagiakan ratna.Terbukti memang,ratna sangat lengket kepada hamim ketika dia sedang dirumah.
"Nanti kalau kak hamim pulang ratna mau dibawain apa lagi sayang?
tanya hamim kala itu,ia yang akan berangkat lagi kekota bertanya tentang apa yang diinginkan bocah imut itu.
"Nana mau topi kak,soalnya bial gak kepanasan kalo ikut ibu kepasal" jawabnya riang,ratna yang sudah menginjak usia empat tahun memang sudah pandai berbicara walaupun masih cadel.
"Siap!! ucap hamim sambil menghormat dan tersenyum bahagia melihat keceriaan ratna.
.
.
.
__ADS_1