
Pagi menjelang,lepas sholat subuh mirah sudah sibuk di dapur menyiapkan aneka macam masakan untuk dijualnya di kantin.
Sedangkan ratna manggala,anak itu masih tertidur pulas bergelung selimut
Sekitar pukul enam pagi telfon dikantin sudah berdering ramai,dari kantor pos,dari showroom dan lapas banceuy,belum lagi orang orang yang sudah antri penuh di kantin.
"Iya,tunggu sebentar,saya siapkan," kemudian mirah menyiapkan pesanan dari seseorang yang baru saja menelfonnya.
Beberapa porsi roti bakar dengan lelehan coklat yang menggiurkan sudah siap diantarkan nya ke lapas dan kantor pos.
Belum lagi aneka minuman hangat yang dipesan untuk menemani pagi yang sangat dingin itu,ada teh tawar panas,ada teh manis,ada susu panas ada juga kopi.
Tangan mirah sudah penuh kanan kiri,dengan semua pesanan.
"Ah,aku minta bantuan sama nana saja," gumamnya.
Mirah melangkahkan kakinya ke kamar,untuk membangunkan nana
"Nana sayang,bangun 'nak,ibu mau minta tolong," mirah mengguncang perlahan bahu nana
Tidak terlalu sulit membangunkan anak itu,terbukti dari cepat nya ia tersadar seketika dari tidur lelap nya,atau mungkinkah ia sudah terlalu kenyang tidur? entahlah...
"Ibu mau minta tolong apa sama nana?" tanya bocah itu dengan suara serak khas bangun tidur.
"Ibu mau mengantarkan pesanan sarapan pagi,ke kantor pos dan lapas,namun ibu kerepotan membawa semuanya,maka dari itu ibu minta tolong sama nana," ucap sang ibu.
"Baiklah,nana mau bantu ibu," dengan sigap anak itu bangun.
"Terima kasih ya sayang,sekarang kamu cuci muka dulu gih," titah mirah
"Siap,"
Setelah nana menyelesaikan urusan cuci mukanya,kemudian anak itu pun segera membantu ibunya,membawa roti bakar.Sedangkan mirah membawa minuman minuman hangat itu di kanan kiri tangannya,
Mereka pergi ke kantor pos terlebih dahulu.
"Permisi 'pak,ini tadi pesanan roti bakar sama kopinya," mirah menyodorkan pesanan pegawai di sana.
"Terimakasih teh mirah,kemarin kemarin kemana saja,saya lihat kantin tututp terus?" tanya orang itu,yang diketahui bernama didi.
"Saya pulang kampung pak didi,jemput anak.Mumpung lagi liburan sekolah,jadi dia may menghabiskannya disini," mirah tersenyum dan menjelaskan
"Owh,begitu? pantas saja," pak didi tersenyum
"Ini anaknya 'ya?" kini matanya teralih kepada sosok kecil nan imut di depannya
"Iya,ini anak saya," ucapnya ramah
"Siapa namanya anak manis?" pak didi mensejajarkan tubuhnya dengan nana,kemudian ia bertanya.
"Nama saya ratna manggala,pak didi bisa memanggil saya nana," bocah itu memperkenalkan diri nya
__ADS_1
"Waah,nama yang bagus.Ayah mu pintar memberi kamu nama," petugas kantor pos itu memuji nama nana,namun ia tak sadar bahwa kalimat terakhirnya membuat mirah dalam masalah,pasalnya nana pasti akan terus bertanya perihal pemberian nama untuknya dari sang ayah ataukah bukan.
"Hmm,nana juga suka nama ini,ayah hebat kan 'bu?"
"Hah! ehmm,e...itu,iya," mirah gelagapan dan memalingkan wajah nya.
"Kenapa teh?" pak didi menangkap gelagat mirah
"Tidak,tidak apa apa 'pak," mirah berusaha menetralkan kegugupannya lagi
Akhirnya setelah beberapa saat di kantor pos,karena menunggu pembayaran nya sambil ngobrol ngobrol,mirah dan nana pun pergi untuk mengantarkan pesanan lainnya ke lapas banceuy.
"Nana boleh main main kesini 'ya,kalau sedang bosan di kantin," pak didi mengusap lembut rambut panjang nana,dengan sesungging senyum di bibirnya
"Terimakasih 'pak,nana pasti main main kesini nanti," ucapnya mantap
"Siap boss!" pak didi tersenyum lagi,ia merasa senang dengan nana,yang mudah akrab.
Sesampainya di lapas mirah dan nana pun segera memberikan pesanan para petugas itu.
"Wah wah,teh mirah kemana saja? beberapa hari ini tutup kantinnya,saya rindu sama kopi dan roti bakar buatan teteh," seorang petugas tersenyum lebar,menyambut kedatangan mirah.
"Saya pulang kampung beberapa hari ini 'pak,menjemput putri saya untuk berlibur disini," mirah tersenyum ramah
"Owh,begitu 'ya,pasti ini putri yang dimaksud,so'alnya cantik sekali seperti ibunya," petugas kepolisian itu memuji nana,atau mungkin menggombali ibunya...? entahlah.
Mendengar pujian dari laki laki berseragam itu,mirah hanya tersenyum dan langsung pamit.
"Nama saya ratna manggala,om polisi bisa panggil nana saja," ujarnya
"Hmmm,nama yang sangat bagus," pujinya,semoga besar nanti kau jadi pemimpin yang hebat dan bersahaja,ujar nya menambahkan
"Aamiin..." mirah dan nana mengaminkan.
"Mariii," mirah dan melangkahkan kaki pergi meninggalkan tempat itu
"Tunggu! nana kalau bosan dikantin,boleh main main kemari 'ya,nanti main sama om" teriak polisi itu,sebelum nana dan mirah benar benar menghilang dibalik gedung besar milik pak rahardjo.
"Siap om!" teriak nana kembali sambil mengacungkan ibu jari nya.
Sesampainya di kantin nana langsung bermain masak masakan dengan riang,sedangkan mirah terus sibuk melayani pembeli yang datang langsung ke kantin nya.
"Bu,nana main di taman belakang 'ya," taman belakang adalah taman yang jalan nya menuju ke bengkel mobil,masih satu gedung dengan kantin dan kamar mirah,namun di bagian taman itu atapnya sengaja dibuat terbuka supaya ada cahaya matahari masuk,untuk kelangsungan hidup tanaman disana.
"Iya,nana boleh main disana.Tapi,jangan main terlalu ke belakang ya," tentu saja yang dimaksud mirah adalah bengkel mobil yang besar itu,bagian bengkel memang paling belakang tepat berada dekat toilet,sebenarnya ia masih trauma dengan kejadian beberapa waktu ke belakang,dimana dirinya melihat makhluk mengerikan di meja bundar itu,walaupun pada pagi hari begini disana tentu saja banyak orang yang sedang bekerja,namun tetap saja,ia selalu merasa merinding jika mengingat hal itu.
"Siap bu,nana cuma main di taman itu saja kok,oh iya bu,minta sayuran ya sedikit.Mau masak masakan," nana adalah anak yang sangat menuruti perkataan sanag ibu,gadis kecil yang manis.
Nana melompat lompat riang,menuju taman belakang.Ditangan nya ia membawa sayuran sawi serta bunga kol,dan tangan sebelahnya ia membawa pisau yang tidak terlalu tajam dengan baskom plastik kecil.
Sampai di taman belakang anak itupun dengana syiknya bermain masaka masakan sendiri,mengiris ngiris kecil sayuran yang tadi di bawanya kemudian ditaruhnya di dalam baskom kecil itu,ia berlakon seolah olah dirinya sedang memasak,ia juga berbicara sendiri sseakan ada temannya disana,dan itu memang hal biasa yang di lakukan anak kecil ketika bermain sendirian.
Sebuah senyuman terbit dari bibir seorang laki laki tampan,yang semenjak tadi ternyata memperhatikan nana yang sedang sibuk berceloteh sendiri dengan riangnya,namun sekarang ia tak sanggup kalau hanya memperhatikan dari jauh saja,cu'eng yang baru saja mengecek para pekerja bengkel itu, sekarang ia tak sabar ingin menghampiri si gadis kecil.
__ADS_1
"Hai,seru sekali mainnya," sapa cu'eng kepada nana,kemudian ia ikut duduk duduk disamping nana direrumputan taman yang hijau itu.
"Iya dong,om mau ikutan 'gak,main masak masakan sama nana?" dengan polosnya dan tanpa rasa curiga nana berbicara.
"Boleh" jawab laki laki itu pendek.
Akhirnya dengan ajaib laki laki salju itu bermain dengan nana,tentu saja hal itu menjadi hal yang baru baginya,meskipun ada trisa sang keponakan tapi ia tidak pernah bermain seperti itu,ada rasa yang berbeda di hatinya.
"Nama kamu nana?" tanyanya memastikan
"Ratna manggala sebenarnya,tapi om boleh kok,memanggil nama pendek saja," jawab bocah itu sambil terus saja tangan nya sibuk memainkan sayuran yang tadi di potong potong.
"Pasti nana 'kan? nama pendek nya,"
"Lho,'kok,om tau sih nama pendek nana?" sejenak bocah itu menghentikan aktifitasnya dengan sayuran yang tadi di mainkan,ia merasa heran dan mengerutkan keningnya
"Kamu ini,tidak sadar sejak tadi menyebut nama sendiri," cu'eng tersenyum geli,ia meras lucu dengan anak kecil cantik di hadapan nya.
"Owh,iya 'ya,nana lupa om.Kebiasaan nyebut nama sendiri," nana tertawa tawa dan itu sangat meggemaskan di mata cu'eng.
"Duh,menggemaskan sekali kamu ini.Sebenarnya anak siapa sih? baru kali ini aku melihat mu," tumben sekali si pria salju berkata kata banyak,biasa dia berbicara hanya seperlunya saja.
"Anak nya ibu mirah dong," jujur sekali bocah itu
Deg...
"Anak,mirah?" gumamnya,namun masih di dengar nana
"Iya,nana ini anak semata wayang nya ibu mirah," ucap nya mengulang jawaban
"Mirah ternyata sudah punya anak," jantung cu'eng berdegup kencang,ia sama sekali tak menyangka bahwa wanita anggun nan cantik itu sudah mempunyai seorang anak,tidak bisa di pungkiri bahwa sedikit rasa kecewa kini ada di hatinya.
"Owh,kalau begitu ayahnya nana kemana? mengapa ayah nana membiarkan ibu bekerja keras sendiri di sini," tanya cu'eng semakin menyelidik,ia sangat ingin mengetahui kebenaran itu
"Ayah nana sudah meninggal,kecelakaan mobil.Baru beberapa bulan yang lalu," ucapannya sangat jujur,tapi itu bukan tentang ayah kandung nya.
Serrr...
Hati cu'eng berdesir tenang setelah mendengar penuturan nana,rasa kecewa yang tadi ada kini sepertinya hilang entah kemana,seiring angin kesejukan datang.
"Owh,begitu...om ikut berbela sungkawa 'ya,atas kepergian ayahnya nana," ucap nya tulus dari lubuk hati yang paling dalam,kini ia merasa prihatin dengan nana,karena menurutnya sekarang dia adalah anak yatim yang harus diperhatikan,setidaknya itu lah yang diajarkan agama yang di anut cu'eng,walaupun ia bukan seorang manusia sempurna dan taat ber'ibadah,akan tetapi ia mengetahui hal seperti itu.
Rasa simpati untuk nana tumbuh begitu saja di hati laki laki itu,rasa ingin melindungi dan menyayangi setulus hati kini sudah terpatri dalam dirinya,
apalagi untuk ibunya nana 'ya? ciee...pak cu'eng๐
"Ya sudah,om pergi dulu,belum sarapan," hari memang sudah pukul sembilan,dan ia belum sarapan sama sekali.Dan sekarang tujuannya adalah kantin mirah.
.
.
.
__ADS_1