
"Maksudmu bagaimana?" nada suara Mirah mulai meninggi.
Menyadari sang ibu yang tak seperti biasanya Ratna ketakutan, sehingga ia berlindung di balik punggung Musa.
"Mirah, tenangkan dirimu," Musa berusaha menenangkan adiknya, ia takut apabila Mirah lepas kendali
"Jawab bapak, maksudmu apa 'nak?" Musa berusaha tenang dan bertanya dengan lembut, agar suasana tetap kondusif
"Ayah yang mengambil semua perhiasan nana. Katanya ayah dia membutuhkan modal untuk membuka usaha mebel, dan ayah samasekali tidak punya uang. Nana sudah tanyakan, mengapa tidak meminta sama ibu, akan tetapi kata nya ibu tidak memberi," ucap gadis itu takut takut
"ASTAGFIRULLAH!"
Seru semuanya mengusap dada, mereka benar benar tidak habis fikir dengan kelakuan Herman yang dirasa tidak ada sadar sadar nya.
"Beraninya!" umpat Mirah, tak dikira emosi Mirah sekarang sedang meluap. Itu karena ia begitu rapi menyembunyikan amarahnya di hadapan Ratna, namun Disah dan Musa menyadari emosi Mirah yang tinggi, bisa dilihat dari caranya mengepalkan tangan.
"Kemana ayahmu pergi?" tanya Mirah kemudian
"Katanya kepasar, untuk menjual semua perhiasan itu," gadis itu mengatakan hal yang jujur kepada ibunya
"Ratna, tunggu disini sama emak dan bapak. Ada sesuatu hal yang harus ibu selesaikan," setelah mengatakan itu Mirah kemudian pergi dengan membawa semua rasa dihatinya, sedih,kecewa, marah, jengkel semuanya bercampur. Dan sekarang tujuanya adalah Herman, ia harus menemukan laki laki itu dimanapun, dan merebut kembali hak Ratna.
"Dasar laki laki kurang ajar, sialan!" makinya geram
***
Sepanjang perjalanan Mirah terus saja mengumpati Herman, ia betul betul marah sekarang.
"Neng Mirah mau kemana?" tanya seseorang warga
"Mau mencari kang Herman, apa bapak melihatnya?" tanya Mirah dengan sangat ramah, ia menyembunyikan emosinya rapat rapat
"Owh, tadi sih bapak lihat dia ke rumah madu 'mu, mau bergilir mungkin," ujar si bapak tersebut sambil tertawa cengengesan.
"Apa maksud bapak?" Mirah benar benar tak mengerti, pasalnya setahu dia Herman dan Rohanah sudah bercerai.
__ADS_1
"Bergilir neng, masa begitu saja tidak tahu," ucap si bapak itu menggoda.
"Owh iya, terimakasih pak," tanpa banyak bertanya lagi Mirah langsung pergi, dan tujuannya adalah rumah Rohanah.
Rasa penasaran begitu mengusik hati, ia ingin tahu kebenaran nya.
Tibalah kini Mirah di rumah sederhana milik ibunya Rohanah, rumah yang hanya beralaskan tanah dengan bolongan sana sini di dindingnya, tanpa mengetuk ia mendorong pintu rumah itu perlahan, bukan maksud tidak sopan. Namun hanya ingin memastikan.
Pintu terbuka secara perlahan, karena tidak terkunci samasekali, setelah masuk kedalam ia menyusuri satu persatu ruangan di dalam rumah itu, dari mulai dapur, ruang makan, ruang tengah hingga sampai lah ia dekat dua buah kamar.
Dan tiba tiba saja telinganya mendengar suara suara makhluk astral yang dirasa begitu menjijikan.
Terdengar racauan kenikmatan seorang wanita, yang terdengar tidak asing di telinga Mirah.
Dug dug dug...!
Jantung Mirah berdebar kencang, ia begitu trauma dengan hal seperti ini, bayangan bayangan beberapa tahun silam ketika peristiwa memalukan karwan dan Rohanah begitu terlintas jelas di fikiran nya.
Dengan segera ia menyibak tirai yang menjadi penghalang nya.
Kedua insan tersebut langsung menghentikan kegiatan mereka, dengan spontan. Ketika dipergoki Mirah.
Dua manusia yang tengah berbuat dosa itu begitu syok karena telah kepergok, apalagi Herman, ia amat sangat terkejoddd lebih dari Rohanah.
"Kau dan kau, bukan kah kalian sudah berpisah? mengapa kalian berbuat dosa? mengapa kalian senang sekali berkhianat kepadaku?!" ucapnya, dengan susah payah ia menahan laju air matanya, benar benar tak habis fikir dengan kelakuan dua manusia bejat di hadapan nya
"Mi...Mirah, sayang, maafkan akang. Akang khilaf," ucapnya terbata bata
"Alahhh!, jangan pura pura. Aku tahu kau sering datang kemari, buktinya adalah orang orang disekitar rumah mu, mereka berkata padaku bahwa kau sering mendatangi dia!" Mirah menunjuk Rohanah dengan dagunya, tangannya bersedekap dada tanda tak suka.
"Jadi, semua orang disini tidak tahu kalau sebenarnya kalian adalah pasangan haram. Mereka menganggap kau masih suami dari wanita itu, dan jika berkunjung kemari mereka beranggapan kau sedang bergilir, cihh!! sungguh memalukan,"
"Binattang kalian!!" tak henti hentinya Mirah melontarkan kata kata yang kasar dan pedas.
"Aku semakin membencimu sekarang, jangan harap aku akan luluh kepadamu. Kau tahu? AKU JIJIK DENGANMU!!" ujar Mirah kepada Herman, ia merasa sangat muak.
__ADS_1
Mendengar hal itu Herman merasa tak terima, kemudian dengan keadaan polos serta tiada rasa malu ia berdiri dan menghampiri Mirah.Tanpa aba aba Herman langsung menampar pipi mulus Mirah.
PLAKK!
Plakkk!
Pipi mulus itu kini memerah, dan sudut bibirnya pun berdarah. Melihat hal itu Rohanah tertawa terbahak bahak.
"Rasakan kau!" rohanah merasa puas dengan tindakan Herman, dari dahulu ia selalu ingin menyaingi Mirah dan merebut semua kebahagian nya, dan sekarang dengan melihat perlakuan kasar Herman kepada Mirah ia begitu bahagia, kemudian ia menghampiri Herman dan merangkul tubuh polos pria itu dengan gerakan sensual dan menggoda, kemudian tanpa rasa malu ia mencium bibir pria itu dengan sengaja dihadapan mirah tanpa rasa malu sedikitpun.
"Jaga mulutmu! kau jijik padaku, hahh? ayo kemari," setelah aksinya bersama Rohanah, Herman kemudian menarik pergelangan tangan Mirah dengan paksa kemudian menyeretnya dan menjatukan nya di tempat tidur, lalu dengan beringas serta penuh nafsu ia mencium paksa bibir ranum Mirah yang sangat seksoy dan menggoda.
Mirah meronta ronta, dengan sekuat tenaga ia berusaha melepaskan diri dari kurungan Herman, namun laki laki itu begitu kuat dan sudah dikuasai nafsu. Mirah tak mampu melepaskan diri, Mirah terus bungkam tanpa memberi celah untuk pria itu menikmati bibirnya, namun laki laki itu begitu memaksa menggigit bibir Mirah sampai berdarah, otomatis mulut si wanita terbuka akibat berteriak kesakitan. Disanalah kesempatan lidah si laknat menelusup masuk ke rongga mulut Mirah, namun tetap saja tidak ada perlawanan dari wanita itu untuk bergulat lidah.
Tangan Herman tak tinggal diam, dengan rakusnya ia menarik paksa kancing baju Mirah sehingga terlepas semuanya, kemudian ia menikmati dua bukit indah yang begitu menantang dihadapan nya, Mirah terus meronta tak terima namun tetap saja tak bisa melepaskan diri.
Setelah puas bermain di atas, tangannya kini pindah kebawah menelusup kebawah rok yang dikenakan wanita itu, Mirah hanya menangis sambil menggelengkan kepalanya.
Pria itu benar benar sangat sudah kehilangan akal, sehinga dengan cepat ia menarik CD Mirah, dan merabanya dengan penuh kelembutan.
Mirah memejamkan kan mata dan menggigit bibirnya sejenak menikmati sensasi yang lama tak dirasakan, sebagai wanita yang sudah lama tak disentuh tentu saja ia menginginkan hal itu, namun hatinya menolak herman mentah mentah, dan kemudian memberontak lagi.
Herman sepertinya lupa jika disana Rohanah juga sedang menyaksikan kebrutalannya yang ingin menguasai Mirah, bahkan Rohanah sampai mengepalkan tangan ketika merasakan kecemburuan dihatinya yang begitu menggelora, semakin ia melihat semakin ia cemburu dan sakit hati, apalagi ketika sepintas matanya menangkap Mirah yang sedang memejamkan mata dan menggigit bibirnya seperti menikmati, cukup sudah! Rohanah tak tahan lagi.
"CU'EEENGG,TOLONG AKU!!" nama itu dengan begitu saja meluncur dari mulut Mirah.
"HERMAAAN! STOP! STOP!!" kedua wanita itu berteriak bersamaan namun dengan panggilan yang berbeda.
Mendengar kedua wanita itu berteriak Herman segera menghentikan aksinya, hasratnya seketika menurun kala mendengar Mirah lagi lagi meneriakkan nama cu'eng, dan Rohanah menghampiri lalu menarik nya dengan paksa, bahkan saking kencang tarikan Rohanah Herman sampai terjerembab di lantai.
.
.
.
__ADS_1