
Hatinya seketika menciut,ketika melihat tampang cu'eng yang selalu serius dimanapun dan kapan pun.Pemuda itu melihat takut takut kearah bos nya yang tengah sangat serius menikmati suapan demi suapan roti bakar di hadapannya,padahal ia ingin mencari keadilan disini,tapi sudah bisa di duga,hal itu tak akan ia dapatkan,hati pemuda itu bertanya tanya,apa gerangan kesalahan nya sehingga pak bos itu melempar dirinya dengan sendok.
Namun melihat tampang macam begitu ia urung melaku kan nya,jadi diterima saja dengan ikhlas jidat malang yang menjadi korban pelemparan sendok itu.
"Hahh,bukan lawan," keluhnya lesu,kemudian ia memesan paru goreng dan sambel bawang yang sempat tertunda,akibat insiden sendok.
Melihat hal itu mirah hanya geleng geleng kepala saja,ia juga tak mau tahu dengan apa yang terjadi.
"Bu,nana nya ada 'gak?" suara imut seseorang menggelitik pendengaran mirah,
"Eh,neng trisa.Nana nya sedang main di taman belakang," mirah menengok ke arah suara imut itu lalu tersenyum hangat,kemudian ia memberitahukan keberadaan nana kepada si bocah cantik.
Tiba tiba saja netra gadis kecil itu tertuju kepada seseorang yang dikenalnya,
"Om cu'eng,om lagi makan 'ya?" tanyanya dengan imut
"Hmm,iya," ucapnya pendek
Melihat sikap cu'eng yang seperti itu terhadap trisa mirah merasa jengkel
"Ampuun ini manusia,terhadap anak kecil saja tidak ada manis manisnya sama sekali," gerutu mirah sebal
"Bu,trisa mau nyamperin nana dulu ke belakang 'ya," bocah itu pamit dan langsung menuju taman belakang tempat nana sedang bermain.
***
Sore haripun datang,mirah menutup kantin nya sementara karena ia akan mandi,badan nya terasa sangat gerah dan lengket.
"Nana,ayao mandi dulu sayang," ajaknya lembut kepada nana,yang terlihat masih asyik bermain boneka bersama dengan trisa di kamar yang biasa mereka tempati.
__ADS_1
"Tapi,trisa bagaimana 'bu?" nana merasa tidak enak hati jika harus meninggalkan teman barunya
"Neng trisa,mau ikut mandi sama ibu dan nana,atau mau pulang dahulu?" tanya mirah hati hati
"Saya mau pamit pulang saja dulu,besok saya main lagi kesini 'boleh?" tanyanya dengan wajah penuh harap
"Tentu saja sayang,neng trisa boleh main kemari kapanpun neng mau," mirah mengusap ngusap lembut rambut gadis kecil itu.
Setelah itu mirah dan nana melanjutkan niat mereka,sedangkan trisa kembali pulang ke rumahnya.
......................
Sedangkan disuatu tempat di pulau sebrang,se'orang pria dan wanita tengah ber'adu mulut,pasalnya si wanita belum juga mengandung setelah sekian lama menikah.Padahal sejak awal pria yang adalah herman ini tidak pernah mempermasalahkan soal keturunan dengan istrinya rohanah,namun baru baru ini setelah kejadian dua burung beo kesayangannya yang hilang dan kedatangan tetangga kampungnya yang membawa sebuah foto seorang putri cantik yang di sia sia kan,entah mengapa hatinya merasa amat sangat kesepian dan merindukan untuk menjadi seorang ayah seutuhnya.
Sungguh! ia merindukan canda tawa dan suara anak kecil di rumahnya
"Sejak kita memutuskan untuk menikah dan meninggalkan kampung halaman,bahkan kau rela meninggalkan istri yang tengah mengandung anakmu! bukankah kita sudah sepakat untuk tidak terburu buru so'al anak?!" nada suara rohanah meninggi,ia begitu emosi dengan herman yang selalu membahas soal anak.
"Diam kau!! aku rela meninggalkan istri ku hanya demi kamu,sekarang,apa aku salah jika menginginkan anak darimu?"
"Kau,membentak aku herman? tidakkah kau ingat,sejak dulu kau tidak pernah membentak ku,dan sampai detik ini kau berani begitu padaku? kau kenapa hahhh??!" tanyanya melotot tajam
"Dan,ingat! sekarang istrimu adalah aku,jangan kau sebut si mirah itu sebagai istri,dia hanya mantan istri herman MANTAN!!" teriaknya lagi sengit.
"Ya,dan yang membuat mirah menjadi mantan istriku sekarang adalah kau! rohanah!" tunjuk herman tak kalah sengit
"Padahal,mirah adalah wanita yang sangat cantik dan mempesona,ia juga begitu pandai melayani aku,dia juga wanita terhormat yang sangat baik dan setia,tapi aku dengan bodohnya malah meninggalkan wanita sempurna seperti dia hanya demi dirimu,rohanah!! wanita yang sangat aku cintai sejak dulu hingga sekarang,wanita yang tega mengkhianati aku dan menyerahkan kehormatanmu kepada lelaki lain,kau menggoda si karwan dan bercinta dengannya! entah mengapa aku begitu mencintaimu!!" nafas herman memburu dadanya naik turun.
"Diamm!!! diaaaamm!! aku tidak ingin dengar kau membandingkan aku dengan si mirah,aku juga tidak ingin dengar tentang si karwan,tahukah kau herman? usahaku untuk meluluhkan hati si karwan itu begitu banyak,apa kau tidak tahu betapa menderitanya aku ketika laki laki brengsekk itu tak memandangku sedikit saja,bahkan dia tidak pernah menyentuhku sedikitpun,sejak pernikahan kami,dia juga tidak pernah bicara apapun padaku! dan,sorot matanya ketika melihatku adalah sorot kebencian!! aku sampai gila herman!!! kau tahu itu kan?? lantas mengapa sekarang kau menyakiti aku dengan semua ucapanmu 'hah?! aku sakit hati herman!! sakiitt!! arrghhhhhhh!!!" rohanah menggila,ia berteriak dan melemparkan segala macam barang yang ada di hadapan nya,herman sampai kewalahan dan ia terkena sabetan pisau di tangan kanan nya yang dilemparkan rohanah.
__ADS_1
Melihat keadaan rohanah yang kembali tidak stabil,herman segera mengalah dan berusaha meredakan emosi,ia sungguh tidak ingin istrinya kembali menjadi kehilangan akal seperti pertama kali ia melihatnya,setelah pernikahan rohanah dengan karwan kandas.
"Sudahlah,tenang 'ya,hentikan aksimu,bahaya! yang kau lemparkan adalah benda tajam," herman berusaha meredam amukan rohanah
"Arrrrggghhhh!!
Branggg...
Namun bukannya berhenti,wanita itu sekarang malah semakin menjadi jadi ia kini melemparkan cangkul ke arah herman,untungnya laki laki itu berkelit,sehingga cangkul itu tidak mengenainya dan malah mengenai batu pijakan
Herman sudah faham,kini istrinya memang sudah kehilangan akal,dan ia berusaha sekuat mungkin untuk menyadarkannya kembali.
Greppp...
Herman memeluk erat rohanah,ia menciumi seluruh wajah istrinya kemudian ia membisikkan do'a do'a penenang jiwa untuk sang istri,ia berharap usahanya berhasil.
"Tenang ya sayang,tenang," bisik nya
"Aku janji tidak akan membahas masalah anak lagi denganmu,aku mencitai kamu,sangat mencintai kamu," ucapnya lirih di telinga rohanah.
Herman merasakan sang istri yang sudah tidak memberontak lagi di dalam dekapan nya,ia hanya merasakan nafas yang perlahan lahan mulai stabil dan tidak seperti sebelumnya.
"Maafkan aku," herman mencium kening rohanah sambil membisikkan kata maaf
.
.
.
__ADS_1