
"Soni yakin? dengan keputusan yang soni buat?" tanya mirah.
"Hem,iya bu.Soni ingin tetap tinggal disini,menjaga peninggalan almarhum,lagipula saya ingin melanjutkan pekerjaan bapak,dan pak bambang pun sudah menyetujui kerja sama yang dulu dilakukan bapak diteruskan sama saya," bocah itu mengangguk mantap,ia pun memberikan alasannya kepada sang ibu.
Status pak bambang memang pemilik toko material,tapi dia sangat faham dengan pekerjaan almarhum amir sebagai pemborong ia bersedia membimbing soni,makanya dia menawarkan kepada anak itu untuk melanjutkan kerja sama yang dulu dijalankan amir,lagipula soni sudah sangat mengerti dengan pekerjaan bapaknya,dan itu tidak akan sulit.
"Kamu ini kan masih sekolah,ibu masih sanggup menghidupi kamu dan nana,gak perlu bekerja.Belum waktunya," ujar sang ibu,hati kecil mirah menginginkan soni ikut dengannya tinggal di curug taneuh,tapi rupanya soni sudah membulatkan tekad untuk tetap bertahan dirumah peninggalan sang ayah.
"Tenang saja 'bu,saya bisa bekerja sepulang sekolah.Lagipula,soni ingin belajar mandiri,saya gak punya siapa siapa lagi sekarang.Bapak itu anak tunggal,kakek nenek juga sudah tiada semuanya," ucap soni sendu.
"Masih ada ibu dan nana soni,kamu tidak boleh bicara seperti itu," mata mirah berkaca kaca,mendengar perkataan soni ia jadi sedih.
"Maaf..." lirih soni.
Mirah memeluk soni,mengusap punggungnya dengan penuh kasih.Disertai tetesan air mata yang membasahi pipinya.
"Kapan rencananya ibu pindah ke rumah emak?" tanya soni.
"Paling minggu depan," jawab sang ibu pendek.
......................
Waktu berlalu,hari ini tiba saatnya untuk mirah dan nana pindahan lagi ke curug taneuh,berat sebenarnya yang ia rasakan untuk meninggalkan rumah yang penuh kenangan itu,namun apa daya? bertahan dirumah itupun tak membuat hati mirah membaik.Kenangan demi kenangan menghantuinya,kalau sudah begitu,hanyalah air mata yang jadi pelampiasan nya.Mirah tidak mau terus dilingkupi kesedihan,ia ingin bangkit,setidaknya kalau di rumah disah ia tidak terlalu brsedih dan kesepian.
Musa disah dan dori menjemput mirah,bahkan dori memaksa supaya mirah dan nana tinggal dirumahnya seperti dulu,namun ibu satu anak itu menolak.Lagipula musa dan disah tidak mengizinkan,mereka benar benar tidak ingin dipisahkan dari ibu dan anak itu
Siang hari mereka sudah sampai di rumah disah,tidak banyak barang yang mirah bawa,hanya lemari dan pakaian.Karena memang rumah amir isinya sudah lengkap,jadi pas mirah pindahan ke rumah amir dulu,ia tidak direpotkan dengan urusan barang ini dan itu.
"Sebaiknya kita makan dulu,hari sudah siang.Tadi aku dan mirah sudah masak," disah segera menyiapkan hidangan makan siang,ia membuka rantang enam susun yang berisi lauk pauk.
Nasi putih,tumis pedas bunga pepaya,sayur lodeh,peyek kacang,balado telur,pepes ikan dan terakhir sambal terasi lengkap beserta lalapan nya.Membuat perut mereka yang lapar menjadi semakin keroncongan,melihat dan mencium aroma makanan yang menggugah selera itu.
__ADS_1
"Kak soni,mingkem.Nanti iler nya jatuh," nana cekikikan menggoda sang kakak,yang kedapatan menelan ludah beberapa kali saat melihat hidangan yang tersaji.
Soni hanya cengengesan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ratna,sudah.Jangan kau ganggu kakakmu itu,biarkan dia makan," tegur sang ibu.
Akhirnya siang itu mereka nikmati dengan makan bersama,yang dipenuhi kehangatan sebagai satu keluarga.
Semua orang makan dengan lahap,apalagi soni.Anak itu sampe nambah beberapa kali. "Kedepannya soni gak bisa merasakan masakan ibu lagi,jadi sekarang mau puas puasin dulu," ucap nya dengan mata yang berkaca kaca.
Satu tetes air mata jatuh di pipi mirah, "Jangan bicara begitu,ibu pasti akan sering nengokin kamu,dan membawa mkanan untukmu," bibir mirah bergetar kala mengucapkan itu,ia berusaha menahan tangisnya.
"Terima kasih bu..." ucap soni tersenyum tulus.Mirah pun mengangguk dan mengusap pucuk kepala soni lembut.
Tak lama acara makan siang pun selesai,lalu mereka semua pindah keruang tengah untuk berbincang bincang hangat.
"Soni,kamu menginap saja disini 'ya," bujuk mirah.
"Iya,kak soni nginep saja disini.Nana masih mau main main sama kakak," ucap nana dengan mode imutnya.
"Yeaayyy,tapi yang lebih baik lagi kakak tinggal saja disini sama kita.Daripada dirumah bapak sendirian," nana masih keukeuh membujuk kakak nya.
"Maaf 'dek,kakak gak bisa.Coba deh nana bayangkan,disana bapak pasti sangat sedih,jikalau semua peninggalannya kita abaikan.Kakak bukannya gak mau tinggal bersama sama kalian disini,tapi hanya ingin merawat semua peninggalan bapak saja.Lagipula,bagaimana dengan taman bunga milik ibu dan nana dibelakang rumah,kalau tidak dirawat pasti semuanya mati," soni berusaha memberikan pengertian kepada sang adik.
"Yaahh,nana sedih nih.Pasti gak bisa main main sama kakak lagi," nana merajuk.
Soni merasa gemas dengan tingkah adiknya,ditoelnya hidung sang adik dengan gemas.
"Kan setiap hari bertemu di sekolah,lagipula...nana bisa datang kerumah kapan saja bersama ibu,kak soni juga bisa main kesini sewaktu waktu,"ujar soni dengan senyuman hangat terukir di bibirnya.
Semua orang yang melihat interaksi kedua anak itu merasa terharu,bagaimana tidak? mereka adalah adik kakak tidak sedarah,tapi ikatan persaudaraan diantara keduanya begitu kuat layaknya saudara kandung.
__ADS_1
Melihat sang adik yang tengah merajuk ia pun merasa tidak tega,akhirnya soni memutuskan untuk menginap selama dua malam di sana.
......................
Waktu terasa cepat berlalu,kini mirah menjalankan perannya sebagai seorang singgle parents,ibu dua anak ini setiap harinya bekerja keras.Untuk kelangsungan hidup anak anaknya,ia kembali berjualan jajanan pasar ditempatnya dulu.Walaupun sebenarnya tabungan peninggalan amir lebih dari cukup,ia tak ingin menggunakannya sembarangan,ia menggunakan uang itu hanya untuk keperluan soni,walaupun soni selalu menolaknya tapi mirah tetap memaksa.
Ya,kini soni sudah punya penghasilan sendiri.Pekerjaan amir kini semua dirinyalah yang memegang kendali,soni bisa mengandalkan dirinya sendiri.Tentu saja dengan bimbingan dari pak bambang.
Hari ini mirah kedatangan tamu,yaitu kakak nya omi yang dari luar kota.Omi bekerja di dealer dan bengkel mobil terbesar di bandung.Namanya PD.RAHARDJO,tepatnya di jln banceuy depan lapaz banceuy.
"kakak,apa kabar?" mirah menyalami sang kakak.
"Alhamdulilah baik mir,kamu dan anakmu bagaimana?" tanya nya.
"Alhamdulilah..." jawab mirah tersenyum.
"Kamu tinggal disini lagi 'mir?" tanya omi.
"Iya,habis bagaimana lagi.Kak disah dan musa melarang mirah tinggal di rumah kak dori,mereka gak mau dipisahkan dari ku dan nana," mirah terkekeh pelan.
Omi mengangguk faham, "ya sudah tidak apa apa mir,kalau kalian memang kerasan disini,tapi sebenarnya tujuanku kemari mau menawari pekerjaan sama kamu,semoga kamu mau," ucap omi penuh harapan.
"Pekerjaan apa kak?"
"Di kantin,pekerjaan nya mudah saja.Kamu hanya perlu menyiapkan makanan,kopi,teh,dan lainnya untuk para pekerja di PD Rahardjo," omi menatap lekat sang adik.
"Tidak perlu khawatir,kamu disana tidak sendirian,mengingat kakak juga bekerja disana," lanjutnya.
"Aku tidak khawatir soal bekerja di sana,aku hanya tak tega jika harus meninggalkan nana," ujar mirah,matanya menerawang membayangkan reaksi nana,jika mengetahui dirinya akan pergi jauh meninggalkan nya.Walaupun alasannya demi masa depan bocah itu.
.
__ADS_1
.
.