
Herman merenung,memikirkan semuanya.Tentang mimpi nya,tentang kehidupannya,juga tentang asep dan eneng,dua burung beo kesayangan nya yang raib dicuri orang.Herman ingat betul,perjuangan nya demi untuk mendapat kan dua burung beo itu.Namun,herman sama sekali tidak pernah mengingat anak yang dulu ia tinggalkan,sewaktu masih di kandungan mirah.
"Ngelamun terus pak? lagi mikir apa?" rohanah muncul dari dalam rumah,dengan segelas kopi dan sepiring ubi rebus di tangan nya.
"Khm,gak mikir apa apa bu,cuma lagi sedih aja.Ingat sama eneng dan asep" ucap herman pendek,jejak kesedihan pun tak bisa ia tutupi.
*FLASHBACK*
Matahari sudah meninggi,udara pun terasa semakin panas.Herman yang tengah menanam bibit kopi pun merasa kepanasan,lalu ia memutuskan untuk istirahat sejenak di saung ranggon yang ia buat di tempat itu.Saat ia sedang mengistirahatkan tubuhnya,terdengarlah siulan burung yang begitu indah ditelinga herman.Herman pun mengendap ngendap dan terus mengintainya.
"Ah,bagus sekali burung itu.Suaranya juga indah" gumam herman.Herman masih asik memperhatikan burung itu,dan terlihatlah burung itu masuk kedalam celah pohon besar yang sudah tumbang.
"Disana rupanya sarangmu," gumamnya lagi.Namun untuk saat ini ia tidak akan mengusiknya,ia hanya memperhatikan saja dari kejauhan.
Beberapa saat herman terus memperhatikan burung itu, hingga tak lama kemudian burung tadi terbang keluar dari pohon besar tersebut.Dengan rasa penasaran yang tinggi herman melangkah mendekati bangkai pohon besar dihadapannya,ia menunduk dan melihat ke dalam lubang pohon,dan alangkah terkejutnya herman,bahkan dirinya sampai terjengkang saking kagetnya,ternyata dalam lubang pohon itu terdapat dua ekor anak burung,yang diapit oleh banyak hewan berbisa.
"Aku harus memiliki dua anak burung itu,aku akan berusaha mengambilnya.Walau harus bersusah payah" gumamnya.
Dengan sigap herman kembali ke saung ranggon dan menyiapkan bahan bahan untuk mengusir hewan hewan berbisa itu,dia segera menyiapkan daun pandan,tumbukan merica dan irisan cabai rawit.Setelah semuanya siap herman membawanya ke bangkai pohon itu,lalu dengan cekatan ia menggali lubang sedikit agak dalam,tepat di depan celah pohon itu.Lalu dia menumpukan ranting ranting kering dan basah dan segera membakarnya,asap tebal menyeruak masuk kedalam pohon itu,melihat itu herman bergegas menaburkan irisan cabe rawit daun pandan dan merica bubuk yang sudah ia haluskan,ke arah hewan hewan berbisa yang mengapit dua anak burung itu.Kemudian ia segera menjauh,sambil memperhatikan.Dan benar saja,tak lama kemudian hewan hewan berbisa itu keluar dari celah pohon,seakan terganggu dengan semua tindakan herman.
Herman tersenyum senang,diapun menghampiri pohon itu dan segera mengambil dua anak burung itu.
"Akhirnya kalian jadi milikku,aku akan merawat dan menyayangi kalian dengan sepenuh hatiku" herman mengelus elus dua burung itu.
*FLASHBACK OFF*
"Haahhh..." herman menarik nafas berat.
"Assalamu'alaikum" terdengar seseorang mengucap salam.
"Wa'alaikumussalam," rohanah bergegas membuka pintu.Seorang pria seusia herman berdiri dihadapan rohanah.
"Herman ada 'nah?" tanya pria itu
Rohanah mengangguk dan langsung mempersilakan nya masuk. "Siapa?" tanya herman.
"Tetangga kampung kita dulu" jawab rohanah,herman pun langsung menemuinya.
"Sardi...,apa kabarmu?"
__ADS_1
"Aku baik man,dan aku baru saja kembali dari kampung halaman,dan ada sesuatu hal penting yang ingin kusampaikan" wajah sardi berubah serius.
"Ada apa rupanya sar?" tanya herman,sardi pun merogoh sesuatu di kantong bajunya lalu menyerahkannya kepada herman.
"Ini..." herman tertegun,tangannya menggenggam erat potret hitam putih yang sardi berikan.
"Ya,itu adalah anakmu dan mirah.Anak yang kau buang sejak dalam kandungan,anak malang yang tak pernah tau rupa ayahnya,anak yang tak pernah tau kasih sayang ayahnya.Ketika aku pulang kampung,aku sengaja menemui disah dan musa,berharap bertemu dengan mirah,aku ingin mengetahui ke'adaan nya setelah kau campakkan mereka bertahun tahun lalu,tapi sayangnya aku tidak menemukan mirah dirumah musa,tahukah kau herman? mirah sudah menikah lagi setelah perceraian nya denganmu,dan ratna manggala tumbuh menjadi putri yang cantik dan menggemaskan,walaupun dia tidak pernah disayangi ayah kandungnya,tapi dia mendapatkan kasih sayang besar dan tulus dari ayah sambungnya" ucap sardi panjang lebar
"Ratna manggala...? gumam herman,dengan tatapan mata menerawang jauh.
"Iya,itu nama anak perempuanmu herman.Sekarang dia sudah masuk sekolah dasar,setidaknya itulah informasi yang kudapatkan dari disah dan musa.Biar begini begini,aku masih kerabat kalian.Dan aku sangat peduli dengan keluargamu,aku sengaja mencari informasi tentang anak mu dan mirah,aku ingin tau keadaan mereka setelah kau campakkan dahulu.
Herman menatap foto ditangannya,seorang putri cantik dan lucu sedang bergandengan tangan dengan seorang wanita anggun penuh pesona,sudut hati herman merasa tercubit,buliran air mata lolos begitu saja.Rasa bersalah menyeruak memenuhi rongga di dadanya,sehingga ia merasa sesak.Herman memukul mukul dadanya ia merasa begitu sesak begitu sakit.
"Apa kau menyesal herman?" sardi memicingkan matanya.
Herman hanya mengangguk,ia tak kuasa bersuara rasa sesak di dadanya terasa menekan,herman tak sanggup berbicara.
"Pulanglah man,temui anakmu.Tebus semua kesalahanmu" nasehat sardi.
Rohanah yang sejak tadi menguping pembicaraan sardi dan herman hanya diam saja,tangannya terkepal erat dadanya bergemuruh tatkala melihat herman begitu menyesali perbuatan nya,meninggalkan keluarganya dahulu.Rohanah ketakutan,takut herman meninggalkannya dan kembali dengan anak dan mantan istrinya.
~~~~~
Sementara di tanah jawa...
Setelah menunaikan shalat isya berjamaah mirah bergegas ke dapur,untuk menyiapkan makan malam.Keada'annya sekarang sudah sangat membaik dari sebelumnya,amir begitu telaten merawat dan memperhatikan mirah ketika sakit.Dengan cekatan mirah memotong bahan makanan dan memasaknya,ayam goreng dan sambel bawang menjadi pilihan menunya kali ini.
"Duh,perutku rasanya mulas.Belum lagi beres aku memasak,ya sudahlah aku tinggal sebentar" dengan tergesa gesa mirah menuju kamar mandi dibelakang rumah,tapi masih menyatu dengan bangunan rumah itu.Namun,sesuatu hal terjadi ketika mirah menuju kamar mandinya.
"BRUGHH...agghhhh!!"
Lantai yang dipijaknya licin,akibatnya mirah terpeleset dan terjatuh dengan kerasnya,mirah mengerang kesakitan.
"Kaaang,kang amiirr! tolong aku!" mirah berteriak,perutnya terasa sangat sakit,dia tidak bisa berdiri.
Amir yang sedang becengkrama di ruang tengah dengan anak anaknya begitu kaget mendengar mirah berteriak memanggilnya,dengan secepat kilat ia menghampiri istrinya.
"Astagfirullohhaladzim!! mirah,kamu kenapa sayang,ya Alloh,darah apa ini mengapa kamu berdarah sayang?" Amir sangat terkejut mendapati istrinya tengah bersusah payah menahan sakit diperutnya,darah mengalir disela sela pahanya.Tanpa fikir panjang amir langsung membopong istrinya untuk pergi ke puskemas.
__ADS_1
"Ibu kenapa pak?!" teriak soni dan nana bersamaan,mereka begitu panik melihat ibunya digendong dengan berlumuran darah.
"Ibu kalian jatuh,dekat kamar mandi.Bapak harus segera membawanya ke rumah sakit,soni...jaga rumah dan adikmu,bapak akan pergi mengobati ibumu"
Soni mengangguk,tanda mengerti.Ratna hanya menangis tersedu melihat keadaan ibunya,dengan penuh kasih sayang soni menenangkan adiknya itu.
"Kak soni,ibu pasti baik baik saja kan? disela tangisnya nana berbicara,ia sangat menghawatirkan ibunya.
"Ya,tentu saja.Ibu akan baik baik saja,kamu tenang ya na,mari kita berdo'a,supaya ibu cepat sembuh." soni kembali menenangkan nana.
Amir bergegas mencari becak,untungnya masih ada yang mangkal.
"Cepat,antarkan saya ke rumah sakit.Istri saya pendarahan"
"Baik,cepat naiklah pak amir!" seru kang becak.
Perjalanan terasa begitu lambat,rumah sakit masihlah jauh sedangkan kondisi mirah begitu menghawatirkan,ia terus saja mengaduh kesakitan dengan darah yang masih merembes,amir begitu panik.
Akhirnya setelah bersusah payah,mereka pun sampai di rumah sakit.Mirah pun segera mendapatkan pertolongan,dan satu hal yang amir kaget ialah ketika dokter memberitahukan kondisi mirah yang sebenarnya.
"Bagaimana kondisi istri saya dokter?" tanya amir cemas.
"Begini pak amir,kondisi ibu mirah sangat tidak baik.Kita harus segera mengambil tindakan,yaitu kuret.Sebab istri anda keguguran.
Bagaikan di hantam gelombang dahsyat,amir terpaku,kata kata keguguran seolah olah berputar putar dikepalanya.
"Ke-keguguran dokter?" seperti tak percaya,sebabnya ia tek mengetahui jika mirah tengah mengandung.
"Betul pak amir,usianya sudah beberapa minggu,memangnya pak amir tidak tahu,istri nya hamil?" tanya dokter.
Amir hanya menggeleng lemah,amir merasa bersalah.Ia merasa telah gagal menjadi seorang suami siaga untuk mirah,ia merasa kecolongan,tak sadar buliran air mata begitu saja meleleh di pipinya.
"Maafkan aku mirah,aku tak bisa menjagamu dengan baik." amir terisak di depan dokter,sedangkan sang dokter menepuk bahu amir menyalurkan ketenangan.
"Yang sabar 'ya,sekarang lebih baik kita ambil tindakan untuk istri bapak,semoga kedepannya pak amir bisa lebih memperhatikan kondisi istri nya.Agar hal serupa ini tidak terjadi."
Amir mengangguk pasarah, "lakukan yang terbaik untuk istri saya,dokter."
.
__ADS_1
.