Ketabahan Seorang Ibu

Ketabahan Seorang Ibu
Akhir yang bahagia


__ADS_3

Setelah bercerai dari Mirah,Herman merasakan hidup nya seperti tidak bergairah samasekali,hari hari yang dilaluinya terasa begitu hampa,ketika masih bersama Mirah,hari yang dijalani penuh dengan semangat,karena ia mempunyai tujuan yang jelas,yaitu untuk meluluhkan kembali hati wanita itu,akan tetapi sekarang begitu berbeda,hingga suatu hari ia memutuskan untuk berangkat ke Saudi Arabia sebagai TKI,tak disangka ternyata Rohanah pun ikut bersamanya.Seperti tak ingin dipisahkan.


Lain Herman lain pula dengan Mirah,hari harinya sekarang dipenuhi dengan kebahagiaan,apalagi Ratna, gadis kecil itu samasekali tidak kekurangan kasih sayang,dori Musa disah Mirah ditambah sekarang cu'eng yang begitu memanjakan Ratna,seperti hari ini,berhubung hari minggu mereka sekeluarga memutuskan untuk pergi ke pantai,disah dan Mirah sudah menyiapkan bekal yang sangat cukup untuk semuanya.


Setelah semuanya siap akhirnya mereka pun berangkat,Mirah duduk di depan dengan cu'eng,sedangkan Ratna dibelakang bersama disah,Musa dan dori.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang,mereka tak ingin melewatkan pemandangan indah disepanjang jalan yang dilalui.Sesekali cu'eng yang tengah mengemudi mencuri pandang ke arah Mirah,dirinya terlihat begitu cantik memakai dress simple warna hijau mint dengan motif bunga bunga kecil,sangat cocok dikenakan ibunya Ratna manggala itu,menambah kesan manis yang memikat,membuat hati si pria kota kembang selalu berdesir hebat apabila berdekatan dengan sang wanita pujaan.


"Waahhh,Nana seneng baget deh,bisa piknik ke pantai sama bapak!" ucap riang Ratna


"Begitukah? jadi,apabila sama ibuk serta emak bapak,Nana gak seneng?" tanya Mirah,ketika mendengar celotehan sang anak


"Bukan seperti itu,maksudnya.Sekarang 'kan,ada pak cu'eng,yang sudah menyelamatkan nyawa Nana,jadi rasanya seneng aja gitu,jalan jalan bersama kaya gini"


Cu'eng,yang mendengar ucapan Nana seketika hatinya terenyuh,ia tak menyangka bahwa gadis seusia Ratna akan terus mengingat semua yang telah dilakukan nya dimasa lalu.


"Bapak juga seneng,kalo Nana seneng," ucap cu'eng kemudian


Tak terasa perjalanan yang ditempuh sekitar tiga jam itu kini telah sampai ke tempat tujuan,deburan ombak menyambut kedatangan mereka semuanya.


Mirah menghirup nafas dalam dalam merasakan aroma lautan lepas yang begitu menenangkan,dori Musa dan disah sudah mencari tempat ternyaman dibawah pohon,dan menggelar tikar sedangkan Ratna sudah asyik bermain pasir di dekat emak bapaknya.


Lain halnya dengan Mirah dan cu'eng,kedua sejoli itu kini tengah asyik berjalan jalan menyusuri pesisir pantai,tangan mulus nan halus milik Mirah berayun seirama dengan langkah kakinya.Dan ternyata hal itu mengundang naluri cu'eng sebagai laki laki laki sejati,dengan cepat ia meraih tangan halus itu kemudian digenggamnya erat,sontak hal itu membuat Mirah tersentak kaget,akan tetapi kemudian ia membiarkan nya begitu saja.


"Mir,jujur...,aku datang kemari karena memang sangat merindukanmu.Namun sungguh! niatku hanya ingin melihatmu saja,karena kufikir kamu masih istri Herman," cu'eng memulai pembicaraan


"Begitukah?" Mirah seolah memastikan apa yang baru saja didengarnya,padahal sesungguhnya ia juga begitu merindukan pria yang kini tengah menggenggam tangan nya itu.


"Hmm,begitulah kenyataan nya,aku begitu merindukanmu,sanagt sangat merindukanmu," cu'eng sejenak menhentikan langkahnya kala mengucapkan itu,netranya menatap lembut penuh cinta wanita di sampingnya.


Mirah yang ditatap seprti itu kemudian salah tingkah dan refleks memalingkan wajahnya.


"Tatap mataku," pinta cu'eng lembut,ia meraih dagu lancip milik Mirah,sejurus kemudian laki laki itu tak tahan melihat godaan bibir ranum nan lembut di depan nya.


Cupp...


Dengan cepat cu'eng mencium bibir berwarna pink lembut itu,yang begitu menggodanya.


Mirah sangat kaget dengan pergerakan tiba tiba itu.Tangannya memukul lembut dada cu'eng.


"Dasar kau ini,ditempat seperti ini pun mencuri kesempatan," ucapnya,


"Jadi,kalau misalkan di tempat sepi,kau mau?" ucap pria itu menggoda wanita nya dengan Menaik turunkan alisnya yang tebal


"Ish,kau ini," Mirah merasa malu karena terus terusan di goda.


Kita tinggalkan dulu dua sejoli yang tengah melepaskan kerinduan...


Jegurrr...jegurrr...jegurrr


Deburan ombak yang menabrak baru karang tak membuatnya hancur,ia tetap kokoh berdiri ditempatnya.


"Nana...,jangan jauh jauh 'ya,tetap disitu saja!" teriak disah


"Iya maak," ucap gadis itu manut


"Mak,aku sudah lapar.Kau bawa bekal apa?" tanya Musa yang merasa perutnya sudah keroncongan


"Ada banyak,nantilah tunggu Mirah sama cu'eng dulu."


"Memangnya kau tak membawa cemilan lain nya?" tanya Musa lagi

__ADS_1


"Ah,iya..nih keripik ubi manis sama gethuk," kemudian disah mengeluarkan nya dari kotak perbekalan


"Kau membawa gethuk Isah?" dori yang tengah rebahan memejamkan mata pun segera bangkit,ketika mendengar kata gethuk


"Iya,cepatlah kau makan," disah menyodorkan sebagian gethuk itu kepada dori,yang langsung dicomot nya


"Sebelumnya aku minta maaf padamu,apa kau tidak ada keinginan untuk menikah?" disah merasa penasaran kepada ayah angkat Mirah teesebut,karena di usianya yang tak lagi muda laki laki itu tetap betah melajang.


"Hahhh,aku sudah tidak berkeinginan untuk menikah,fousku sekarang ini adalah kebahagiaan anak cucuku,dan nantinya pun semua harta dan pabrik yang kumiliki akan jadi milik mereka,biarlah aku tidak mempunyai pasangan hidup,memiliki Mirah dan Ratna sudah lebih dari cukup.Aku yakin mereka sangat menyayangiku," dori menghela nafas,ia memang sudah tak ada niatan untuk menikah,apalagi saat ini usianya sudah kepala lima.


Mendengar penuturan dori disah dan Musa hanya mengangguk saja


"Kau begitu tulus menyayangi Mirah dan Ratna," ucap disah kemudian


"Bukankah kau juga sama?" tanya balik dori,yang kemudian dijawab anggukan oleh disah


"Anak itu memang pantas disayangi,hatinya begitu lembut.Perilakunya sangat baik,tak pernah sekalipun mengecewakan aku sejak hari pertama dia ikut bersamaku,,ketika adikku meninggal dunia otomatis mirah sebatang kara,yatim piatu,sedangkan aku juga butuh teman dirumah,kesibukan ku mengurus semua usaha membuatku melupakan yang namanya berumah tangga," dori berucap dengan matanya yang menerawang jauh


"Dan ketika dia menikah dengan Herman adikmu,aku merasa bahagia karena akhirnya anak itu menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya,namun ketika mengetahui yang terjadi selanjutnya,aku merasa benar benar kecewa dan telah salah menilai laki laki brengsek itu," ucapnya kemudian dengan geram


Disah menunduk sedih,ia merasa sangat bersalah karena telah gagal mendidik Herman.


"Maafkan aku,maafkan Herman," ucapnya sendu


"Ah,sudahlah.Lagipula itu bukan salahmu,bahkan kau sudah berusaha menebus kesalahan Herman dengan cara merawat dan memberikan kasih sayang yang tulus untuk anak dan cucuku,aku berterimakasih untuk itu," dori tersenyum hangat


Perbincangan terhenti ketika melihat Mirah dan cu'eng sedang berjalan kearah mereka.


"Lihatlah,sepertinya kau akan segera mempunyai menantu dari kota," ucap disah terkesan meledek


"Sepertinya begitu," dori menanggapi nya dengan senyuman


Setelah Mirah dan cu'eng bergabung,kemudian mereka pun membuka bekal dan makan siang bersama.


***


Disah,Musa,Ratna,dan dori sudah terlelap tidur,sedangkan Mirah belum bisa memejamkan mata.


Tok...tok...tok


"Mir,kau sudah tidur?" cu'eng mengetuk pintu kamar Mirah yang sekamar dengan disah


"Belum," terdengar sahutan dari dalam


Pintu terbuka,menampilkan Mirah yang memakai piyama tidur dan sweater rajut,rambutnya yang panjang ia biarkan tergerai.Terlihat begitu cantik meskipun dengan penampilan seadanya.


"Ada apa?" tanya Mirah kemudian


"Nana dan kak disah sudah tidur?" cu'eng memastikan


Mirah hanya mengangguk.


"Ayo,ikut denganku," dengan refleks cu'eng menggandeng tangan lembut Mirah,dan membawanya kesuatu tempat


"Mau kemana?"


"Sudahlah,ikut saja tutup matamu 'ya," pinta cu'eng


"Ada apa sih?"


"Sudahlah nurut saja,jangan banyak tanya,"

__ADS_1


Akhirnya Mirah pasrah mengikuti laki laki yang dicintai nya,meskipun mereka tidak meresmikam hubungan,akan tetapi semua gelagat keduanya sudah bisa dipastikan,saling mencintai.


Beberapa menit kemudian...


"Buka matamu,"perintah cu'eng


"Cu'eng,ini...," Mirah tak bisa berkata kata melihat hal menakjubkan di depan nya


Hamparan lilin membentuk love,dengan satu meja dan dua kursi ditengahnya untuk mereka dinner romantis malam ini,semuanya cu'eng persiapkan sendiri.



"Kau yang menyiapkan ini semua?" tanya Mirah merasa bahagia,dengan tindakan kecil cu'eng


"Ya,ayo kita makan dulu,aku sudah lapar."


Kemudian mereka berdua pun makan malam romantis di tepi pantai.


Selesai makan tiba tiba cu'eng berlutut dan menggenggam tangan Mirah,


"Maukah kau menikah denganku? menjadi pasangan hidupku untuk selamanya,bahkan sampai ke SYURGA NYA nanti?" tanya cu'eng dengan membuka sebuah kotak yang berisi cincin dengan permata indah ditengahnya


Sontak saja hal itu membuat Mirah menangis haru,tanpa berlama lama Mirah pun mengangguk,akan tetapi ia seperti kehilangan kata kata.


"Benarkah? kau mau menjadi pasangan hidupku?"


"Iyaa," jawab Mirah sambil mengusap air matanya


Akhirnya malam itu menjadi malam yang bahagia untuk kedua sejoli tersebut,dan mereka memutuskan memberikan kabar bahagia kepada keluarga masing masing.


***


Satu bulan kemudian,Mirah dan cu'eng kini telah resmi menjadi suami istri,


"Selamat ya 'mir,semoga kebahagiaan menyertai kalian selamanya," disah memeluk sang adik


"Nana tidak menyangka,pak cu'eng akan menjadi bapak nya Nana," gadis itu tertawa kecil


"Iya,Nana senang gak?" tanya cu'eng


"Seneng banget dong," jawabnya sumringah


"Alhamdulillah,ucap semuanya."


Pernikahan hanya dihadiri keluarga inti,dan dilakukan sesederhana mungkin.


***


Malam menjelang,Mirah dan cu'eng memutuskan untuk menghabiskan malam pengantin di rumah dori,sedangkan Ratna merengek ingin tetap di rumah emaknya untuk sementara waktu.


"Mir,aku bahagiaaa sekali Akhirnya kau jadi milikku seutuhnya," cu'eng yang tengah tidur menyamping dan menopang kepalanya kini menghadap Mirah dan menggenggam tangan halus nan lembut itu lalu mengecupnya.


"Aku juga sangat bahagia,akhirnya Gusti Allah mempersatukan kita dalam sebuah ikatan suci," Mirah tersenyum tulus.


Melihat itu cu'eng tak kuasa menahan lagi segala yang dirasa,perlahan namun pasti laki laki itu menyerang Mirah dengan serangan serangan yang membuat Mirah mabuk kepayang.


Malam yang syahdu nan indah itu mereka lewatkan dengan penuh keringat,mereka saling menyerang dalam kenikmatan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...

__ADS_1


\_TAMAT\_


__ADS_2