
"Coba kau lihat dengan teliti 'man,bukankah warna baju ini seperti yang Mirah pakai?" disah memperlihatkan serpihan pakaian yak tidak terkena noda darah kepada Herman.
Herman menelitinya dengan seksama,
"Hmm,kau betul 'kak,tadi Mirah memakai baju warna biru muda persis seperti ini,dan kain nya pun sama," ucap Herman setelah yakin itu adalah potongan baju Mirah.
Kini tatapan Herman disah dan Musa beralih kepada Mak nenah
"Jelaskan pada kami,apa ini?" pinta disah menatap tajam Mak nenah
"Aku tidak akan menjelaskan apapun," ucapnya sinis
"Mak...," kini giliran Herman yang menatap Mak nenah tajam.
"Kalian tidak akan mendapatkan apapun disini,jadi pergilah,kalian tidak diterima di tempat ini," bukan nya berkata jujur wanita itu malah mengusir ketiga orang tersebut.
Musa merasa sangat jengkel,mendengar semua kata demi kata,kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut wanita tua itu.
Hingga...
"HEEII! CEPAT JAWAB PERTANYAAN KAMI DENGAN BENAR,JIKA KAU MASIH MENYAYANGI ROHANAH!" ancam Musa menggelegar,Mak nenah benar benar kaget dan ketakutan.
"Cih! memangnya apa yang bisa kau lakukan kepada anak ku,tidak akan aku biarkan kalian menyakitinya," meskipun ketakutan wanita itu tetap menunjukan ketenangan.
"DENGAR! Akan aku pastikan,wanita perusak rumah tangga orang itu Masuk KE RUMAH SAKIT JIWA,dan MEMBUSUK DISANA!!' ucapan Musa begitu meyakinkan,sehingga membuat Mak nenah pucat pasi
"Ja-jangan, jangan lakukan itu," pintanya memelas
"Kalau begitu,tunjukan kepada kami,dimana Mirah dan Ratna," ucap disah pelan,namun begitu tajam.
"Disana," ucapnya pelan,dan menunjuk kebelakang nya.
__ADS_1
"Kau jangan mai main,maksud mu disana itu dimana?" tanya Musa yang sudah emosi semenjak tadi,pasalnya ia melihat arah yang di tunjuk Mak nenah,adalah hanya rak dengan toples yang berjejer.
"Iya dibelakang sana,aku menyembunyikan Ratna dan Mirah," jawabnya lagi,namun kali ini ia berkata dengan tatapan tajam "Akan tetapi,aku tidak yakin jika sekarang ini mereka masih hidup,hahahahaha," lanjut nya dengan tawa yang kencang.
Musa dan disah berpandangan
Tak memperdulikan Mak nenah yang sedang tertawa,Musa dan disah kini bergegas menuju rak dibelakang Mak nenah,tapi sebelum itu..
"Herman! kau urus mertua gilamu itu,gak anak gak ibu,sama saja.Menyusahkan!" disah mendengus "Aku heran,si Herman sampai tergila gila begitu sama si Rohanah,padahal sudah jelas jelas keluarga itu gila semua," lanjutnya lagi ngedumel.
"Ssttt,sudah kau diam 'mak,berisik! disaat seperti ini sempat sempatnya ngedumel," tegur Musa sang suami
"Biarin,suka suka aku pak,aku kesel sama adik bodohku itu,"
"Sudah sudah,mari kita segera tolong Mirah dan ratna.Tapi ngomong ngomong ini gimana cara masuknya 'ya,?' Musa kebingungan pasalnya rak itu menutup rapat,seperti tidak ada celah untuk masuk kedalam sana.
"Ckk! bapak minggir dulu sana,biarkan aku menggunakan otak cerdasku sekarang,sudah terlalu lama aku tidak menggunakan otak luar biasa ku ini," ucapnya bangga,kemudian wanita baik hati itu pun segera berfikir tentang kemungkinan cara membuka rak tersebut.
Kemudian ia pun mencoba menggesernya dan taddaaaa!
Setelah rak itu bergeser terlihatlah sebuah ruangan masih dilorong sempit yang sama,akan tetapi itu buntu,jadi mirip sebuah ruangan kecil.Tempat itu begitu pengap,begitu sempit dan gelap,akan tetapi cahaya yang dibawa disah memancar lumayan terang kedepan sana.
Namun bukan hal itu yang membuat disah dan Musa terkejut,akan tetapi keadaan kedua orang kesayangan nya yang begitu mengenaskan.
"Akkhh! mirahhh,ratnaa!" teriak disah histeris,tatkala melihat keadaan Mirah yang tergeletak tak sadarkan diri,dan juga Ratna yang terkulai lemas,akibat tidak diberi makanan layaknya manusia,sejak disekap,Mak nenah hanya memberi kan Nana binatang binatang menjijikan saja.Tentu saja gadis itu tak mau memakan nya.
"E-makk..," rintih Ratna nyaris seperti siulan angin,saking lemahnya.
Dengan segera disah dan Musa berlari mendekat kearah Ratna dan Mirah,dan setelah lebih dekat disah sangat amat histeris dan ketakutan kala melihat luka luka di badan Mirah,dan juga Ratna.Belum lagi luka bekas gigitan tikus yang membengkak akibat infeksi.Badan Mirah dan Ratna begitu panas belum lagi wanita cantik ibunya Ratna manggala tersebut tidak sadarkan diri.
"Sayaa-~ng,Nana! em-maakk,disini naakk,bertahanlah.Ya Allah,berikan lah mereka kekuatan dalam menjalani semua takdir darimu," disah menangis tersedu sedu,ia membawa Ratna kepelukan nya,hatinya merasa sakit,sungguh saat ini adalah saat terlemah diri nya,ia begitu merasa tak berdaya.
__ADS_1
"Naakk,mengapa nasib kalian seperti ini.Belum juga kebahagiaan seutuhnya membersamai,kini derita lainnya menghampiri,apakah ini semua ketetapan dari tuhan yang tak dapat di elakkan? pabila ini semua hanya suatu coba'an,kumohon kepadamu wahai sang pengusa alam,berikanlah mereka berdua kekuatan," disah begitu terpukul dan sedih dengan nasib kehidupan kedua orang yang disayangi nya.
"Paakk,ayo cepat kau cari pertolongan,kita tidak bisa membawa salah satu dari mereka,sedangkan yang lainnya di tinggalkan," air mata membanjiri pipi disah,ia berkata dengan tersendat sendat,dadanya terasa sesak melihat keadaan Mirah dan Ratna yang terkulai tak berdaya.
"I-iya Mak," begitupun dengan Musa,baru kali ini ia tak bisa menyembunyikan air matanya.
"Hiks~hiks~hiks~,kali ini...,Mak nenah dan Rohanah harus merasakan akaibat dari semua perbuatan nya," ucap dengan kilatan amarah dimatanya yang sembab.
"Iya pak,aku juga berfikiran sama denganmu.Sudah,kita bahas itu nanti.Sekarang cepat panggil yang lain kemari," titah disah
Akhirnya dengan segera Musa berlari untuk mencari pertolongan,sedangkan disah,dia berusaha semampunya untuk memberikan pertolongan pertama kepada Nana dan Mirah.
Mirah segera memberikan air minum yang dia bawa kepada gadis kecilnya,Nana begitu kehausan,terlihat dari tandasnya air yang diberikan disah.Sedangkan Mirah,disah berusaha menyadarkan adik iparnya tersebut dengan menciprat cipratkan air ke wajah nya yang terlihat begitu pucat.
"Mirah,sayang,ayo sadarlah.Mari kita pulang,Ratna kini sudah ditemukan," disah mengusap ngusap wajah sang adik lembut,ia memandangnya dengan tatapan sendu.
"Maafkan kakak mir,secara tidak langsung aku dan suamiku lah yang sudah membuatmu seperti ini,jika waktu itu kakak tidak menikahkan mu paksa dengan Herman,pasti tidak akan ada kejadian seperti ini,maafkan segala keegoisan kakak,waktu itu aku hanya menginginkan keluarga kita utuh kembali.Dan lagipula,tadinya kakak berharap si wanita gila itu akan mundur dengan hormat," gumam disah, menyesali keegoisan yang dibuat nya.
Ya,waktu Mirah dan Herman ketahuan tidur bersama,sebenarnya disah faham.Jika hal itu seratus persen diluar kesadaran Mirah,akan tetapi itu murni kesalahan Herman si adik bodohnya,namun disah terkena bisikan daripada ide bodohnya setan,untuk menyudutkan Mirah agar menikah dengan Herma kembali.
Setelah melakukan usaha semampunya akhirnya Mirah sadarkan diri,namun keadannya begitu lemah.
"Kakak...," gumamnya,dengan seulas senyum di bibir pucatnya.
"Alhamdulillah,ssstt,kau tidak boleh banyak bicara.Tunggu sebentar,kak Musa mu sedang membawa pertolongan kemari," ucap disah lembut,ia menempelkan jari telunjuk di bibirnya,dengan maksud supaya Mirah tidak banyak bicara.
Akhirnya setelah beberapa lama menunggu,pertolongan pun datang juga...
.
.
__ADS_1