
"Apa maksudmu?" Mirah sangat gugup,dengan cepat ia menarik tangan nya dari genggaman cu'eng
"Maksudku sudah jelas,aku benar benar merindukan kalian berdua,ter'utama kau Mirah," cu'eng menatap dalam netra Mirah,seolah olah mencari sesuatu yang ingin dilihatnya.
"Asal kau tahu,setelah kepergian kalian beberapa bulan lalu,aku serasa berada dalam kehampaan yang tak berkesudahan,kehadiran mu dan Ratna ternyata sangat berpengaruh besar dalam kehidupanku," lanjut cu'eng,netra nya menelisik setiap inci wajah teduh Mirah yang jelas terlihat sangat terkejut dengan penuturan dirinya.
Mirah diam seribu bahasa,dirinya merasa tak bisa berkata apa apa,jiwanya seperti kosong setelah mendengar semua kejujuran pria dihadapan nya itu
"Mirah...,jadilah teman hidupku untuk selamanya,aku benar benar menginginkanmu,selama ini aku tidak sadar bahwa yang kurasakan kepadamu adalah rasa cinta,"
"Kuharap kau merasakan hal yang sama kepadaku," cu'eng benar benar berharap,kepada wanita cantik di depan nya
"Cu'eng,jujur saja,selama ini sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama kepadamu,dan sekarang aku merasa sangat bahagia,kau rela datang jauh jauh kemari demi untuk menemuiku dan menyatakan semua perasaanmu,aku berterimakasih.Akan
tetapi...,"
"Ahh,benarkah itu? kau juga mencintaiku?" sebelum Mirah menyelesaikan kalimatnya cu'eng sudah memotong terlebih dahulu,ia berjingkrak kegirangan,julukan manusia salju seperti tak berguna lagi melihat tingkahnya yang seperti itu.
Kemudian cu'eng mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah,dan membukanya.Nampaklah sebuah cincin bertahtakan batu permata warna biru dengan ukiran sangat cantik dan indah,ia membelinya dengan harga yang lumayan menguras kantong,namun demi yang tercinta laki laki itu rela memberikan benda berharga tersebut.
"Menikahlah denganku,wahai belahan jiwaku," cu'eng tiba tiba saja langsung menekuk satu lututnya dihadapan Mirah.
Jederr...
Mirah sangat syok mendengarnya,apakah cu'eng sedang melamar? fikirnya.
"Apakah aku tidak salah dengar? kau,mau menikah denganku?" Mirah terheran heran di buatnya
__ADS_1
Diperlakukan seperti itu benar benar membuat hati Mirah serasa meleleh,belum lagi ia sangat terpana dengan keindahan cincin dihadapan nya
"Kau tidak salah dengar,aku ingin kita menua bersama,melewati semua setiap harinya,mau kah 'kau, jadi teman hidupku? dalam suka maupun duka," tutur cu'eng dengan tatapan penuh cinta dan mendamba.
"Cu'eng...,aku...," seakan tercekat Mirah sampai tak bisa berkata kata,sungguh dia ingin mengakui semua kepada pria yang juga dicintai nya,namun entah mengapa itu terasa begitu sulit.
"Shuuuttt...," cu'eng menempelkan jari telunjuknya di bibir ranum Mirah,kemudian ia bangkit dan merapatkan duduknya dengan wanita cantik itu,Mirah terus terang saja sangat kaget,namun ketika dirinya akan bergeser tiba tiba saja cu'eng memeluk nya dengan erat.
"Jika kau belum mau menjawab nya,aku bisa memberikanmu waktu,tapi jangan terlalu lama sebab aku sudah tak bisa menunggu lagi," setelah melepas kan pelukannya dengan masih menggenggam tangan halus nan lembut milik sang wanita pujaan,cu'eng berucap demikian.
Mirah menatap cu'eng sendu,kini fikirkan ya benar benar kalut,bagaimana tidak? cu'eng datang melamar jauh jauh dengan begitu antusias,sedangkan dirinya sekarang sudah menjadi seorang istri walaupun terpaksa,namun tetap saja yang memberatkan itu adalah statusnya.
"Mengapa kau baru datang sekarang?" ucap Mirah lirih,air matanya sudah menggenang dipelupuk mata
Angin malam berhembus semakin kencang,kedua insan yang tengah dimabuk asamara itu kini saling bertatapan
"Mirah...," dengan lembut cu'eng melahap habis bibir ranum Mirah,seakan mendapatkan kesegaran ditengah gurun yang gersang dan panas,ciumannya begitu lembut dan menuntut,entah setan apa yang merasuki keduanya,mereka berdua begitu menikmati ciuman penuh cinta dan kerinduan itu,Mirah benar benar tak peduli,ciuman kerinduan yang diberikan cu'eng disambutnya dengan sukacita.
Suara decapan Lidah serta lenguhan keduanya terdengar begitu syahdu ditengah angin malam yang berembus,namun tidak disangka suara kenikmatan dua orang yang tengah berpagut rindu itu mengganggu seseorang yang juga terbangun setelah dirinya menenangkan sang istri siri yang mearajuk akibat kecemburuan yang berlebih kepada mirah.
Herman bangkit dari tempat tidur,setelah memastikan rohanah tertidur pulas,kemudian dirinya melangkah keruang keluarga namun disana sudah tidak ada siapa siapa,sepi...,ditengoknya kamar disah ternyata Ratna dan kedua kakaknya sudah tertidur pulas,setelah itu langkah kakinya membawa dia ke kamar sang istri yaitu mirah,yang ternyata kosong melompong.
"Kemana dia?" gumam Herman,ia telah mencari kedapur dan kebelakan namun tidak ditemukan yang dicari,tepat ketika dia melintasi ruang tamu samar samar tedengar suara lenguhan serta decapan Lidah.
Deg!
Jantung Herman seperti dipacu dengan cepat,jelas saja ia mengetahui suara suara macam itu.
"Suara itu...," kemudian Herman bergegas melangkah menuju pintu,dan membukanya dengan perlahan
__ADS_1
"Mi-mirah," gumamnya,seperti ada sesuatu yang menahan tenggorokannya,Herman ternganga melihat pemandangan di depan matanya,melihat dua orang tengah berpagutan mesra dengan mata terpejam,sepertinya mereka sedang menuju nirwana sampai sampai tidak menyadari kehadiran dirinya yang hanya mematung tanpa berkata apa apa,mulutnya seakan terkunci rapat,saking syok nya,belum lagi ia melihat tangan pria itu yang tidak terkondisikan tengah meremas bongkahan indah milik Mirah walau hanya diluar nya saja,namun hal itu tetap membuat amarah Herman memuncak,perlahan ia mengumpulkan kesadaran
"MIRAAAHHH!" teriaknya,untung saja rumah mereka jauh dari tetangga,dan yang lainnya sudah tertidur sangat pulas.
Sontak saja yang diteriaki langsung menghentikan pagutan nya,ia begitu kaget karena kepergok,namun lain halnya dengan cu'eng laki laki itu malah santai dan biasa saja.
"Siapa dia sayang? beraninya mengganggu kita," cu'eng berkata sangat dingin,
Mirah yang masih tidak bisa berkata apa apa karena merasa malu sekaligus kaget,hanya diam dan menantikan apa yang akan terjadi
"Dasar wanita tak punya harga diri,dimana rasa malumu hahh?! beraninya kau berciuman mesra dengan laki laki lain!"
"Siapa dia? siapa laki laki itu?!" tunjuk Herman kepada cu'eng dengan sangat murka.
"Siapa aku bukanlah urusanmu,yang jelas aku adalah laki laki yang sangat mencintai wanita yang kau sebut tak punya harga diri ini," balas cu'eng tak kalah sengit
Mendengar jawaban cu'eng Herman semakin murka,namun dia sangat menginginkan jawaban Mirah.
"Jawab aku Mirah,siapa dia?!"
Dibentak bentak oleh Herman ternyata malah semakin memupuk kebencian dihati Mirah,ia tidak takut sama sekali telah kepergok bermesraan dengan pria lain.
"Kau tidak berhak mengetahui semua urusanku,urus saja wanita mu,aku bukan siapa siapamu," Mirah berkata dengan datar dan dingin,kemudian ia menarik tangan cu'eng masuk kedalam rumah.
Menyaksikan hal tersebut hatinya terasa diremas remas,ia sangat tidak terima,dan jujur saja herman merasa iri dikarenakan laki laki itu sungguh sangat tampan dan lebih muda darinya,perawakannya yang tinggi dan kekar sehingga membuatnya terlihat sangat gagah perkasa,kulit putih bersih dipadu outfit yang pas,semakin menambah nilai plus cu'eng.
.
.
__ADS_1