
Beberapa purnama telah terlewati,dan Mirah merasakan kehidupannya penuh dengan tekanan bathin,bagimana tidak? pernikahan yang dijalaninya sekarang bersama Herman samasekali tidak membuatnya bahagia,apalagi Herman sering menuntut haknya sebagai seorang suami dan Mirah betul betul enggan disentuh pria yang kini telah menjadi suami sah nya,ditambah pria itu sama sekali tidak punya penghasilan,keseharian nya hanya di habiskan dirumah ataupun ikut dengan disah serta Musa ke sawah dan tentu saja mengunjungi Rohanah secara diam diam,ataupun kegunung .Mirah sebagai istri merasa jengkel sebetulnya,sangat bertolak belakang dengan janji pria itu sewaktu dulu ingin kembali padanya,kata kata akan menjadi suami yang bertanggung jawab sama sekali belum pernah di jalankan,tidak ada nafkah secuilpun,untuk kebutuhan sehari hari Ratna saja Mirah mengandalkan penghasilan sendiri dari berjualan bajigur dan aneka gorengan,yang ia jajakan dari sore sampai malam hari,sedangkan untuk makan disah yang menanggung semuanya,kadang Mirah juga yang membeli lauk pauk.
"Berbulan bulan kita menikah,satu haripun kau tak pernah mau ku sentuh.Apakah sebegitu sulitnya hatimu terbuka lagi untukku?" tanya herman,pria itu masih berusaha keras meluluhkan Mirah
"Kau sudah tahu jawaban nya 'ya,memang hal yang sangat sulit untuk kembali menerimamu," ujar Mirah blak blak kan,dengan tatapan lurus ke depan tanpa sedikitpun ingin memandang wajah Herman
"Tolong beritahu aku,bagaimana caranya agar bisa kembali mendapatkan hatimu?" ucap Herman
"Aku tidak tahu,tapi rasanya memang sangat sulit untuk menerimamu sekarang ini.Namun satu hal yang aku inginkan,kembalilah bekerja di pabrik sabun nya kak dori,dia pasti akan menerimamu kembali.Kau sudah berjanji padaku untuk menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab,tapi sampai detik ini kau samasekali belum menunjukan nya,kuberitahu padamu,kebutuhan Ratna itu banyak,belum lagi untuk kita makan sehari hari,apa kau tidak malu? terus terusan bergantung kepada kak disah?" ucapan Mirah begitu menohok,
"Kau memang benar,aku masih pengangguran sampai detik ini.Tapi 'kan,aku juga sedang berusaha mencari pekerjaan,dan aku tidak ingin bekerja dengan tuan dori lagi," Herman mendengus ketika sang istri memintanya untuk bekerja di pabrik sabun milik dori,pasalnya ia merasa takut dan sakit hati, bagaimana tidak? ketika dori mengetahui dirinya kembali menikahi anak asuhnya,pria yang menjadi ayah asuh Mirah itu begitu murka dan tak terima ia takut adiknya akan disakiti lagi,jaln satu satunya adlah melampiaskan amarah yang tertahan sejak dulu ketika Herman meninggalkan Mirah dalam kadaan hamil besar,dori menghajar ayahnya ratna habis habisan sampai babak belur,nahasnya lagi,tidak ada seorangpun yang melerai aksi tersebut,termasuk disah dan Musa.Karena mereka berfikir itu memang pantas adik nya dapatkan.
"Memangnya kau berencana mencari pekerjaan apa lagi?" ucap nya sinis,sebetulnya bisa saja Mirah menyuruh soni mempekerjakan herman,untuk membantu pekerjaan anak itu'ya,kini Soni sukses menjadi pemborong melanjutkan jejak Amir sang ayah,atau bisa saja Mirah meminta bantuan pak Bambang Namun ia enggan,dan lebih menyuruh nya bekerja di pabrik sabun milik dori atau membiarkan laki laki itu berusaha sendiri mencari
"Aku tidak tahu,tapi ada satu hal yang ingin ku lakukan dan itu membutuhkan biaya yang sangat besar,aku...membutuhkan bantuan mu," ucap Herman ragu ragu
Tentu saja Mirah berkerut kening, "Apa memangnya?" wanita ini begitu penasaran
"Aku membutuhkan modal,untuk membuka usaha mebel,kulihat kau punya banyak simpanan perhiasan," ucap nya tak tahu malu
"Ha ha ha ha...kau,membutuhkan modal dengan cara meminta perhiasanku,betul betul tak tahu malu.Perhiasan itu ku beli dengan hasil jerih payahku sendiri ketika di bandung,memeras keringat siang dan malam,kau tahu? semua itu adalah tabungan untuk masa depan Ratna," mendengarkan permintaan Herman Mirah merasa lucu,betul betul tak tahu malu fikirnya.
Herman tersinggung karen Mirah menertawakan nya,kemudian ia pun berlalu pergi dengan hati yang dongkol
***
Melampiaskan kedongkolan nya Herman berbagi cerita dengan Rohanah,tentu saja setelah melakukan pergulatan panas.
"Apa?! dia betul betul tidak ingin membantumu?" Rohanah merasa kesal,ketika mendengar pengaduan Herman
"Sombong sekali dia,sampai tidak ingin membantumu," ucapnya masih bernada kesal
Dan tiba tiba terlintas sesuatu di otak jahatnya,bibirnya menyeringai ketika mendapatkan ide yang dirasanya brilian itu,kemudian ia membisikkan sesuatu di telinga herman
"Kau gila?!" pekik Herman
"Dicoba saja ideku," ucap rohanah kesal
"Apakah itu akan berhasil?" Herman merasa ragu dengan ide wanita itu
"Ya mana ku tahu,kau saja belum mencobanya," dengus si wanita sundal
__ADS_1
***
Lonceng sekolah berbunyi,tanda jam sekolah telah usai.Herman tengah menunggu Ratna di gerbang sekolah,
"Ayah...!" panggil gadis itu Riang,kini hubungan ayah dan anak itu kian membaik,karena Herman betul betul menunjukan cinta kasihnya kepada sang anak
"Nana,mari. kita pulang," senyuman hangat terukir di bibir pria yang bergelar ayah
"Let's go...,"
"Apa itu?" tanya Herman
"Apanya yang apa,si yah?"
"Itu yang tadi Nana bilang,"
"Owh,let's go?"
"Nah,iya itu,"
"Itu artinya ayo,ayah.." nana cekikikan
"Weh...Nana pinter bahasa Inggris,siapa yang ngajarin?" Herman antusias
"Pak cu'eng..." ucap Nana,namun tatapan riangnya kini berubah menjadi sendu
Dug...
Mendengar nama cu',eng disebut ratna,Herman merasa tidak nyaman.Karena dulu Mirah pernah menyebut nyebut nama itu,ia begitu ingin tahu tentang siapa cu'eng yang sebenarnya dan bermaksud untuk mengorek infosmasi dari sang anak
"Ehmmm,ayah boleh tanya?"
"Boleh,tanya saja,"
"Sebenarnya pak cu'eng itu siapa?" tanya nya penasaran
"Owh,kata ibu pak cu'eng itu orang paling berjasa dalam menyelamatkan nyawa Nana,"
"Maksudnya bagaimana?" Herman sama sekali belum tahu tentang cu'eng,serta peran pria sipit itu dalam kehidupan anak istrinya
"Begini ayah..." kemudian Ratna pun menceritakan tentang semua kebaikan pak cu'eng,serta aksi heroiknya dalam menyelamatkan nyawa Nana ketika peristiwa kebakaran itu terjadi,tak lupa juga tentang cu'eng yang pernah datang kerumah disan dan menginap selama dua minggu
__ADS_1
Herman begitu kaget ketika mendengar semua itu
"Owh,jadi pak cu'eng itu pernah menginap dirumah kita?" selidiknya lagi
"Hm,iya," Ratna mengangguk mantap
"Terus,apa yang dilakukan pria itu selama tinggal disini?"
"Banyak,pak cu'eng juga sangat sangat baik sama Nana,emak dan bapak,apalagi sama kalau sama ibu,pak cu'eng selalu menatap ibu,menolong ibu,dan juga memberikan hadiah hadiah yang banyak,buat Nana dan ibu juga," ucapannya sngat jujur dan polos
Mendengar itu seketika hati Herman bak di sengat listrik,ia bergetar menahan kecemburuan di hatinya.Jika mendengarkan cerita Nana sudah bisa dipastikan jika pria yang bernama cu'eng itu menaruh hati kepada istrinya.
"Terus apa lagi?"
"Owh iya,pernah suatu hari Nana melihat pak cu'eng memberikan sebuah gelang yang indah,tapi ibu tidak pernah memakainya.Hanya disimpan saja dalam kotak perhiasan,tapi sesekali ibu suka memperhatikan dan mencium gelang itu,"
Deg deg deg...!
Jantung Herman berdebar kencang mendengar penuturan Nana,kini otaknya dipenuhi tanda tanya,apakah Mirah menyukai atau bahkan mencintai pria itu?
Hatinya tak karuan,ia berjalan dengan fikiran kemana mana
Arghhh..!
"Ayah...!" pekik Nana kaget sambil menghampiri sang ayah
Herman kesakitan,akibat berjalan tidak fokus kakinya menginjak kerikil yang berserakan,sampai terjatuh.
Kini ia merasakan bokong nya linu dan sakit tentu saja
"Ayah,mana yang sakit?" terlihat sekali jika Ratna menghawatirkan Herman
"Tidak,hanya sedikit saja sakitnya," padahal bukan sedikit,tapi sakit sekali.Tapi rasa sakit itu terkalahkan oleh rasa cemburu nya
"Ayo kita duduk dulu yah,di saung sawah nya emak," ajak Ratna,kebetulan mereka memang tengah lewat di jalanan dekat sawah milik disah
.
.
.
__ADS_1