
"Kau kenapa kang? setiap hari kerjamu hanya melamun saja," tegur Rohanah ketika melihat Herman hanya duduk termenung.
Tidak ada jawaban dari Herman,yang terdengar hanya helaan nafas nya saja yang begitu berat.
"Kang! aku bertanya padamu," ucapnya kesal merasa di abaikan
"Ini semua gara gara kau! mengapa harus menculik dan menyiksa Ratna? karena akibat ulah emakmu dan semua ide gila mu itu,aku yang kena imbasnya," dengus Herman yang merasa sangat kesal.
"Enak sekali kau terus menyalahkan aku,apakah kau tidak berkaca? bahwa semua yang menimpa anakmu itu gara gara siapa?" tanya Rohanah sinis
Herman hanya mendelik tajam
"Gara gara kau! yang telah mengabaikan dan menyiksa aku," ucapnya sengit
"Alah,sudahlah diam!" dirinya merasa bosan terus terusan dipojokkan atas penyiksaan yang dilakukan waktu itu
"Memang apa imbasnya kepadamu,jika dibandingkan dengan ibuku yang selama sisa hidupnya harus mengabdi kepada tuan dori?" tanya rohanah penasaran
"Kak disah dan dori mengharuskan aku untuk menceraikan Mirah," jawab Herman lesu
"Hahahahaha,"
Rohanah yang mendengar itu tertawa sangat kencang,hatinya merasa begitu bahagia mengetahui hal tersebut.
"Mengapa kau tertawa?" tanya herman keheranan
"Kau tahu? tidak pernah aku sebahagia ini,ketika mendengar seseorang akan bercerai," jawabnya
"Cihh! dasar wanita tidak waras!" hardiknya,kini laki laki itu merasa sangat kesal,niat hati ingin memperbaiki akan tetapi semua berakhir merugi,
***
Dirumah dori kini Mak nenah tengah melakukan semua pekerjaan nya,wanita tua itu terlihat sangat kelelahan,bagaimana tidak? rumah dori sangat besar dan luas,dan hanya dia sendiri yang membersihkan seisi rumah tersebut.
Mirah yang melihat setiap hari pekerjaan Mak nenah ia sungguh merasa tidak tega,bahkan diam diam dirinya selalu membantu wanita tua itu melakukan semua pekerjaan rumah,tentu saja tanpa sepengetahuan dori,karena jika ketahuan ,laki laki itu akan marah,dan pelampiasan nya adalah Mak nenah.Dengan cara mempekerjakannya tanpa istirahat,ada saja perintahnya.
Seperti kali ini,Mirah telah mencuci semua pakaian dori dan membersihkan ruangan dapur.
"Sudahlah Mirah,kau tidak perlu membantuku,karena jika ketahuan maka hukumanku akan bertambah" tegur Mak nenah
"Siapa yang membantumu? aku hanya merasa bosan jika tidak menggerakkan otot otot ku," Mirah berkilah,karena bagaimanapun ia tidak menampik,dirinya masihlah merasa kesal kepada wanita tua tersebut.
Kemudian setelah area dapur kinclong Mirah pun segera membuat roti bakar,kopi hitam untuk dori,segelas susu hangat untuk Ratna dan teh tawar hangat untuk dirinya,setelah semua siap ia menaruhnya dalam nampan lalu membawanya kedepan.
"Mir,mengapa lama sekali? aku sudah lapar," tanya dori yang merasa Mirah sangat lama membuat sarapan untuk mereka.
"Ah,masa sih kak? perasaan sebentar deh,mungkin membuat roti bakar nya yang agak lama," kilahnya
Kemudian Mirah menaruh nampan berisi sarapan untuk mereka di meja.
"Ini untukmu sayang,segelas susu hangat dan roti bakar coklat,kalau ini untuk kakak,kopi hitam dan roti bakar mentega," ucap nya sambil menaruh satu persatu semua makanan tersebut.
"Hmmmm,harum sekali Bu roti bakar nya," Ratna begitu senang dengan roti bakar buatan sang ibu
"Kalau begitu,mari kita makan," Mirah tersenyum hangat
Kemudian mereka pun sarapan dengan tenang serta penuh rasa syukur.
Setelah selesai sarapan Ratna pun berangkat kesekolah,jarak sekolah dari rumah dori memang lebih dekat dibandingkan dari rumah disah.
"Mir,aku mau memastikan,apakah kau rela apabila berpisah dari Herman? karena jika kau tetap bertahan dengannya,maka kau tau sendiri bagaimana jika aku bertemu dengan dia,rasanya ingin selalu kuhajar wajahnya itu" ujar dori
__ADS_1
"Ya,dari awal aku memang tak mau menikah lagi dengannya.Namun Karena insiden waktu itu,jadilah aku terpaksa menikah,"
"Hmm,dan satu lagi.Apakah sudah ada seseorang dihatimu? aku mendengar banyak laporan dari disah," selidik dori
"Memangnya apa yang kak disah katakan kepada kakak?" Mirah balik bertanya
"Ishh,jawab saja pertanyaanku,"
"Hmmm,ya memang ada."
"Orang bandung,namanya cu'eng,dan dia tidak seiman denganmu?" ceroscos dori
"Itu kakak tau? untuk apa repot repot bertanya," wajah Mirah menekuk,ia merasa sebal kepada ayah asuhnya ini
"Apa salahnya memastikan,aku hanya ingin mendengarnya sendiri dari mulutmu," dori membela diri
"Yaa benar,aku memang mencintainya,begitupun dengan dia kepadaku," jawabnya pasti.
"Hmmm,begitu rupanya."
"Kalau begitu,kapan terakhir kau bertemu dengan nya?" tanya dori lagi
"Mungkin beberapa bulan yang lalu,"jawab Mirah
Setelah mengajukan beberapa pertanyaan kepada anak angkatnya dori pun segera berlalu untuk mengecek pabrik sabun dan pabrik pengolahan karetnya.
Kini tinggallah Mirah seorang diri sambil mengawasi Mak nenah yang tengah membersihkan taman di halaman depan rumah dori yang luas.
"Cu'eng,aku begitu merindukanmu," ucapnya sambil memandangi gelang pemberian laki laki itu.
Sedangkan dikota kembang...
Cu'eng yang kini sedang mengecek laporan keuangan showroom tiba tiba saja merasakan hatinya yang begitu merindukan Mirah.
"Kalau begitu segeralah lamar dia,bukankah kau sudah mengambil keputusan besar?
Tak disangka ternyata pak Rahardjo mendengar gumaman adiknya,dia sengaja mengunjungi cu'eng untuk membicarakan sesuatu hal penting
"Memang benar,akan tetapi dia masih istri orang," cu'eng tersenyum kecut
Mendengar itu pak rahadjo hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
kemudian mereka pun melanjutkan dengan pembicaraan penting.
***
Hari berlalu kini Herman sudah mengambil keputusan untuk menceraikan Mirah,meskipun terpaksa karena disah Musa dan dori terus mendesaknya,belum lagi Mirah yang memang sudah menutup rapat rapat hatinya untuk Herman
Surat pengajuan cerai sudah dilayangkan,sidang perceraian pun di jalankan,tidak ada kesulitan,tidak ada mediasi, hari ini adalah sidang terakhir,dan sudah ketuk palu,kedua manusia itu kini telah resmi bercerai
Herman keluar dari ruang persidangan dengan lesu.Kemudian disambut senyuman sumringah dari Rohanah.Hak asuh Ratna jatuh ketangan Mirah,namun ia tak melarang apabila Herman ingin menghabiskan waktu bersama putrinya.
Enam bulan berlalu...
Kehidupan mirah kini begitu tenang,dan ia pun memutuskan untuk membagi waktu,dua Minggu di rumah dori dan dua Minggu dirumah disah,karena bagaimanapun kedua orang itu sangatlah berjasa dalam hidup Mirah,ia tak bisa memutuskan untuk tinggal dirumah seseorang,karena baik disah maupun dori adalah kesayangan Mirah dan Ratna.
Seperti hari ini,kini adalah jadwal Mirah untuk tinggal dirumah disah dan Ratna sangat antusias untuk menginap dirumah emaknya.
"Nana sayang,emak sangat merindukanmu," disah memeluk dan menciumi Ratna
"Nana juga," balas gadis kecil itu tersenyum senang
__ADS_1
"Ayo masuk,emak sudah menyiapkan makanan ksukaan Nana,pepes ikan mas pedas yang ada telurnya," ucap disah
Kemudian mereka masuk dan langsung menuju ruang makan.
Di kota kembang,cu'eng yang sudah sangat merindukan Mirah setelah hampir satu tahun tak bertemu kini ia nekad akan pergi ke kampung halaman wanita pujaan nya,untuk sekedar melihat dan melepas rindu,ia sama sekali tidak tahu jika mirah sudah bercerai.
setelah melaksnakan sholat Dzuhur cu'eng pun langsung berangkat tancap gas menuju kota b,kampung halaman Mirah.Ya,kini laki laki itu telah mengambil langkah besar dalam hidupnya,ia memutuskan untuk menjadi mualaf hampir setahun ini.Salah satunya karena mencintai Mirah alasan utamanya adalah sudah hampir empat tahun ia mempelajari Islam,karena seringnya bersama dengan omi,cu'eng selalu memperhatikan ketika omi sedang beribadah,dan yang paling dia sukai adalah ketika adzan berkumandang,entah mengapa hatinya selalu merasa damai dan bergetar,ketika mendengar nya.
"Mir,meskipun kamu sekarang berstatus istri Herman,akan teapi aku akan selalu mencintaimu,aku akan berkunjung kerumah disah untuk sekedar bersilaturahmi sekaligus melihatmu dari dekat,itu udah cukup untuk ku," gumamnya
Tak terasa perjalanan yang lumayan memakan waktu itupun telah berlalu,ia kini telah sampai di kampung halaman Mirah,seprti bisa mobil cu'eng simpan di pinggir jln,meskipun begitu mobil tersebut dijamin amn,karena dekat dengan rumah warga.
Untuk menuju rumah disah ia harus naik ke atas,karena posisi rumah tersebut berada diatas bukit.
Sesampainya di depan rumah tersebut cu'eng melihat pemandangan yang menyenangkan yaitu disah dan Musa yang tengah membuat anyaman bambu untuk membuat bilik rumah,sedangkan Mirah dan Ratna yang tengah menikmati teh sore dan sepiring pisang goreng sembari bercengkrama.
"Assalamu'alaikum," ucapnya
"Wa'alaikumussal..lam," jawab Mirah tersendat
'Kau?" hanya itu yang Mirah ucapkan
"Pak cu'eng...,yeayyy,Nana Kangen sama bapak," Ratna menghambur kepelukan dewa penyelamat nya
"Sama,bapak juga kanget sama kamu,wahhh sudah tinggi ya sekarang,"
Kedatangan cu'eng yang tiba tiba pun disambut hangat oleh disah sekeluarga,
Dan setelah menyimpan semua barang barangnya ia pun ikut bergabung di teras depan untuk menikmati hari yang mulai senja.
Tak lama berselang adzan Maghrib pun berkumandang,semua orang bergegas masuk kedalam rumah dan mengambil wudhu untuk sholat.
"Pak Musa,saya ikut kemesjid," Musa yang hendak melangkahkan kakiny seketika tertahan,mendengar ucapan cu'eng
"Tapi...?"
Belum sempat ia melanjutkan ucapannya cu'eng pun menyela
"Saya sudah mualaf sudah hampir setahun ini," jawab cu'eng tersenyum
Mendengar itu Musa tersenyum dan mengangguk,kemudian "Ayo kita berangkat," ajaknya
Mirah yang mengetahui itu tersenyum,hatinya begitu bahagia
Kemudian semua orang menunaikan kewajibannya kepada Allah
Waktu semakin malam..
Lepas sholat isya mereka berkumpul diruang tengah dan terlibat percakapan menyenangkan,cu'eng yang penasaran karena tidak melihat herman ia segera bertanya.
"Khm,maaf...,suami kamu kemana mir kok saya tidak melihatnya sejak tadi?" tanya nya
Disah Mirah Musa berpandangan,
"Aku sudah tidak bersamanya,kami telah bercerai enam bulan lalu," jawab Mirah
"Ohhh,maaf ya," ucap cu'eng merasa telah salah bertanya
"Ah,tidak apa apa,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...----------------...