Ketabahan Seorang Ibu

Ketabahan Seorang Ibu
Seramm


__ADS_3

Udara malam dikota bandung terasa dingin menusuk,mirah mngeratkan pelukannya ke guling disebelahnya.Selimut tebal saja tak cukup menghalau hawa dingin kota kembang itu.Disaat seperti itu kandung kemih nya terasa memberat,ia tak bisa menahan dan langsung terbangun.


"Duh,gimana ini? aku takut jika harus ke toilet yang ada di belakang," mirah menggigiti kukunya,berusaha menahan namun tidak bisa.


Jam sudah menunjukan pukul 21:30,kaki mirah terasa berat untuk melangkah menuju toilet.Ia merasa enggan jika harus melewati bengkel yang menurutnya seram,apalagi meja bundar diujung sana yang letaknya persis dekat toilet.


Setengah berlari mirah berjalan,ia merinding ketika melewati bengkel yang sangat sepi dan juga gelap,bengkel luas dengan jejeran mobil yang bermacam macam bentuk kerusakannya,mirah merasa dirinya sedang ditatap oleh banyak pasang mata dari mobil mobil yang berjejer dalam kegelapan itu.


Ketika ia melewati meja bundar yang dirasakan adalah semua bulu di tubuhnya ikut berdiri,lututnya mendadak lemas.Dengan susah payah ia segera meraih pintu toilet dan segera masuk untuk menuntaskan yang ia rasakan.Mirah segera mengambil langkah seribu begitu selesai,dirinya berusaha untuk tak menengok kebelakang.


Namun entah mengapa,tarikan untuk menengok ke belakang itu sangat kuat.


Dan seketika "Aaaaa...AllahuAkbar!" teriaknya panik ia berlari sekuat tenaga,namun akhirnya, "Brukk!" mirah terjatuh dan tak sadarkan diri.


***


Mirah menggeliat bangun,matanya mengerjap.Ia melihat sekelilingnya,dan ternyata sudah berada dikamar tercinta.Serta sudah dikelilingi dua orang yang dikenalnya satunya sang kakak satunya lagi,oh! orang orangan salju ada disana juga! matanya membulat tatkala melihat pria itu.


"Kamu kenapa 'mir? cerita sama kakak," omi mengelus pucuk kepala mirah.Raut kekhawatiran jelas terlihat diwajahnya.


"Memangnya saya kenapa 'kak? ia merasa limbung


"Kamu gak inget? tadi kamu pingsan di lorong belakang sana.Dekat bengkel, untung ada pak cu'eng nolongin,dia yang menggendong kamu kesini,sebenarnya kamu kenapa bisa pingsan disitu 'hem? tanya omi lembut.


Netra mirah mengikuti arah tangan sang kakak ketika menyebut pak cu'eng.


Deg!


"Dia? orang orangan salju menggendongku? mustahil!" bathin mirah ribut sendiri,pasalnya ia sangat tak percaya jika pria salju itu menolongnya bahkan mengendongnya!


Otak mirah masih mencerna kejadian yang dialaminya tadi,dan akhirnya ia mengingat sesuatu.Sesuatu yang mengerikan.


"Iya,saya ingat! tadi itu..." ucapnya terjeda.


"Tadi itu kenapa 'mir? desak omi.

__ADS_1


*Flashback*


Saat keluar dari toilet mirah langsung ambil langkah seribu dan bertekad tidak akan menengok ke belakang.Namun entah mengapa seperti ada magnet kuat yang menarik lehernya untuk menengok kebelakang.Dan akhirnya mirah melihat sesuatu yang mengerikan.


Sosok tinggi besar berdiri.diatas meja bundar yang selalu membuat mirah merinding,namun mirah tak melihat rupanya.Ia hanya melihat bagian jari tangan dan kaki makhluk itu yang terlihat sangat besar besar,setiap jarinya ada sebesar buah pisang tanduk.


Mirah tak sanggup melihatnya,dan akhirnya.


"Aaaaa.AllahuAkbar!" teriaknya panik.Dan ia pun tak sadarkan diri,selanjutnya ia tak ingat apa apa samasekali.


"Off*


Semua yang mendengar cerita mirah,saling tatap.Tak dipungkiri bengkel dan meja bundar itu memang angker,makanya tidak ada pegawai bengkel yang bekerja sampai malam.Pukul empat sore mereka sudah berhenti,paling lambat pukul setengah lima.


"Makanya,hari itu aku memperingatimu.Supaya jangan berdiri di depan meja bundar itu" pak cu'eng buka suara.


"Anda,bisa bicara? lagian kapan anda memberikan peringatan pada saya? kalau mengagetkan si 'iya," tunjuk mirah kepada pak cu'eng,


Sedangkan yang ditunjuk hanya menatap mirah datar.


"Mirah,jangan tidak sopan begitu,pak cu'eng ini adiknya bapak.beliau tangan kanan bapak," musa menegur adiknya.


"Ya sudah,hari sudah larut.Kamu harus segera beristirahat," omi menyelimuti sang adik.


"Mari 'pak," omi mengajak pak cu'eng keluar kamar mirah,namun pria itu hanya diam mematung seperti enggan meninggalkan kamar itu,mirah pun merasa heran dibuatnya.


"Orang orangan salju ini gak jelas banget si," mirah menatap pak cu'eng yang masih diam di tempatnya.


Dan sedetik kemudian...


Tep!


Netra mereka bersitatap,mirah menjadi gugup dan langsung membalikan badannya,begitupun dengan pak cu'eng pria itu langsung berdehem dan berbalik keluar dari kamar mirah,entah apa yang dirasakan nya.


***

__ADS_1


Setelah kejadian pada malam itu mirah jadi sangat kapok untuk ketoilet belakang malam malam,bahkan jika siang haripun kalau pegawai bengkel sedang libur ia tak mau kesana,dan lebih memilih toilet umum di sebrang jalan.


Sore ini mirah berencana pergi ke rumah anisah,kakaknya yang nomor empat.Mirah adalah enam bersaudara,dan ia sendiri adalah anak bungsu.Semua kakaknya telah berumah tangga,dan tinggal berjauhan mengikuti suami masing masing.Dan untuk yang laki laki ada yang menetap di panjalu kota kelahirannya,hanya omi kakak laki laki yang tinggal di bandung,dikarenakan istrinya sudah tiada.


Rumah anisah tidak terlalu jauh dari pd rahardjo,hanya menyebrang jalan ,ada perempatan lalu belok kanan masuk gang kecil,rumah pertama di gang itulah milik anisah.Rumah disana banyak yang berdempetan saking banyaknya penduduk,pekerjaan anisah adalah menjual aneka gorengan.Seperti pisang goreng,bala bala,gehu,cireng,mendoan.Bahkan dalam sehari anisah bisa menghabiskan pisang sekitar limapuluh kilo gram.Laris banget kan? ia juga dudah memiliki dua pegawai yang membantunya.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam,miraah.Kakak kangen sekali sama kamu," anisah menyambut kedatangan sang adik dan segera memeluk nya,terakhir bertemu mirah adalah ketika dirinya melayat almarhum amir.


"Sama,mirah juga kangen," ia menepuk nepuk punggung sang kakak.


"Gimana mir? betah kerja di kantin?" anisah membawa adiknya duduk di kursi.


"Alhamdulillah,betah sekali.Walau hati selalu teringat akan gadis kecil kesayanganku,tapi 'ya,mau bagaimana lagi? sudah jalanku harus seperti ini." ucapnya sendu.


"Iya...kamu yang sabar 'ya,jalani semuanya dengan ikhlas.InsyaAllah akan ada buah manis yang akan kamu petik setelahnya," anisah menguatkan sang adik dengan kata mutiara nya.


Mirah mengangguk,dan berterimakasih kepada sang kakak.


"Kakak hebat sekarang,jualannya selalu laris manis," mirah merasa ikut bahagia,melihat usaha kakak nya yang bisa dibilang sangat berhasil.


"Alhamdulillah,terus usahamu bagaimana? laris 'mir?" tanya anisah


"Alhamdulillah 'kak,bahkan aku sampai keteteran kalau sedang banyak pesanan," jawabnya.


Anisah mengangguk dan menyunggingkan senyuman tulus,


"Malam ini kamu nginap saja di sini 'mir,kakak rindu sekali sama kamu." bujuk anisah.


"Kalau saya menginap disini,besok kantin tutup dong.Kesian para pegawai bengkel mereka hanya makan dinkantin saya kalau ke warteg atau warung nasi lainnya terlalu jauh,em...begini saja kak,nanti kalau pegawai bengkel libur.Mirah kemari lagi,janji akan menginap," ucapnya sambil mengacungkan dua jari.


"Baiklah,terserah kamu." ucap anisah.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2