
Dikereta cu'eng tak sedetikpun melepaskan dekapannya kepada Mirah, namun rasa penasaran yang belum terjawab itu terasa begitu mengganjal dihati.
Perjalanan cu'eng dan Mirah sudah setengah jalan, kini di dalam gerbong VIP hanya ada keheningan,mereka tak saling berbicara. Netra sang wanita hanya melihat pemandangan di luar dari jendela kereta, pepohonan, jalanan, sungai, rumah rumah penduduk bahkan hutan pun telah terlewati si roda besi itu.
"Tolong jawab aku, siapa ayah Herman yang Nana sebut semalam itu?" tiba tiba saja cu'eng melontarkan pertanyaan yang berbahaya di tengah keheningan yang sedang tercipta, karena memang, hati dia sangat tidak tenang sebelum mengetahui kebenarannya.
Dengan cepat Mirah segera melepaskan diri dari dekapan cu'eng, namun tenaga wanita itu kalah kuat dari sang pria
"Jangan coba coba melepaskan diri, jawab saja pertanyaan ku," ucap sang pria lembut namun tajam, tepat di telinga mirah. Sehingga hembusan nafas nya begitu terasa
"Lantas, kalau kau sudah tahu. Apa yang ingin kau lakukan?" tanya mirah sinis
Cu'eng mengeratkan dekapannya, kemudian meletakan kepalanya di pundak Mirah.
"Aku hanya ingin tau," ucapnya datar namun menuntut
"Kau tau? kalau kau bertanya hal itu,adalah sama saja dengan mengorek luka lama di hatiku.Tapi,lebih baik begitu.Biarkan saja lukaku terbuka kembali,asal yang mulia cu'eng merasa puas," ucapnya sarkas
"Dengarkan ini baik baik, kuharap kau tidak akan bertanya lagi. Ayah Herman yang Nana maksud ialah benar ayah biologisnya, bertahun silam aku menikah dengan seorang laki laki bernama Herman, kehidupan kami bahagia, dia laki laki yang baik, sebelum akhirnya dia memutuskan pergi bekerja di luar kota, dan kembali bertemu dengan mantan kekasihnya. Padahal laki laki itu tahu saat akan meninggalkan ku, bahwa aku tengah hamil anak kami, dan kau tahu? itu adalah anak yang begitu dia harapkan, setelah beberapa bulan ia bekerja, lalu kembali pulang, namun dengan membawa wanita itu, dan mengatakan padaku bahwa dia ingin menikahinya untuk itu aku harus menerima dia sebagai madu! bisa kau bayangkan betapa sakit dan hancurnya hatiku?! tentu saja kak disah dan kak Musa menolak mentah mentah, apalagi aku yang waktu itu tengah mengandung tujuh bulan. Aku benar benar hancur, hatiku sakit sekali rasanya. Karena penolakan kami untuk menerima Rohanah menjadi maduku akhirnya ia pergi bertransmigrasi ke Sumatra dengan membawa kekasih hatinya dan meninggalkan aku serta buah cintanya di dalam perutku," Mirah begitu emosional menceritakan kisah hidupnya yang begitu pilu, hingga tak terhitung lagi jumlah air mata yang berjatuhan di pipinya.
Mendengar semua penuturan Mirah cu'eng hanya terdiam membisu, kini rasa bersalah memenuhi hatinya.
"Maafkan aku, aku benar benar telah membuka luka lama mu kembali, tolong, tolong maafkan aku," ucapnya terbata bata, ia betul betul merasa tidak enak hati. Kini cueng mengerti penyebab Mirah susah untuk jujur tentang Herman, laki laki itu telah menorehkan luka yang begitu dalam di hati sang pujaan hati.
"Sekarang kau sudah tahu, kau puas?" Mirah melepaskan dekapan cu'eng dan ia pun berbalik badan, kini wanita itu berhadapan dengan sang pria menatap lekat wajah cu'eng dengan mata yang sembab penuh air mata.
__ADS_1
Melihat mata indah milik sang wanita anggun, penuh air mata. Rasa bersalah cu'eng kian mendera, sehingga dengan reflek ia mengusap air mata itu dengan ibu jarinya lembut namun sialnya, mata indah nan sembab itu berpadu serasi dengan bibir merekah sempurna, sehingga jiwa kelelakian nya segera terpanggil
Semakin dalam cu'eng menatap manik itu, semakin ingin ia merasakan nikmatnya bibir indah nan merekah milik Mirah hingga ia pun tak kuasa menahan segala godaan..
Entah kapan dimulainya, kini bibir kedua insan itu telah berpaut dan menyatu dalam kenikmatan, awalnya Mirah melakukan penolakan, namun cu'eng lihai melakukannya dengan penuh kelembutan, sehingga si wanita cantik kini malah menikmatinya (cieee...pak cu'eng udah dapat pelatihan niye, dari si ratu ular tentang percipokan yang baik dan benar)
Decapan demi decapan menggema dengan indahnya di dalam gerbong VIP itu, berpadu dengan deru si kereta
"Hmmm, emmm," kedua insan itu menikmati permainan lidah yang mereka ciptakan
Namun yang namanya laki laki tetap saja laki laki. Jiwa mereka akan begitu saja terpanggil apabila merasakan sentuhan dengan lawan jenis, begitupun dengan cu'eng kini naluri kelelakiannya sudah terpancing, hasratnya kian menggebu,ciuman yang lembut kini berubah menuntut. Sesuatu itu sudah mengeras disana.
"Ahh...hmmm, mirrr," Cueng merasa tak karuan
Kini tangan cu'eng sudah bertengger tepat di atas dua buah bukit kembar milik Mirah, begitu kenyal begitu lembut dan tentu saja ukurannya begitu pas dan menggoda untuk dinikmati, entah sadar atau tidak kancing kemeja Mirah kini sudah tidak pada tempatnya, dua gunung indah pun menyembul keluar menantang cu,'eng untuk segera menikmati nya, dengan gerakan lembut namun intens.
"Ahh...sayang, Mirah. Apakah engkau menikmatinya?" racau cu'eng ditengah aktifitas nya.
Namun tiba tiba saja suara klakson kereta yang berbunyi membuat kedua insan yang tengah dimabuk kenikmatan itu terkejut. Sehingga kegiatan mereka terhenti begitu saja
Hal itu pula lah yang kemudian membuat Mirah segera tersadar, untuk tidak melanjutkan apa yang diinginkan tubuhnya.
Ia segera beringsut dan berpindah ke kursi depan cu'eng, kalau terlalu dekat sangat 'berbahaya' fikirnya.
Cu'eng yang sudah berselimut gairah memandang Mirah dengan tatapan sayu dan intens, seolah mempertanyakan (mengapa kamu berpindah tempat? mengapa kita berhenti? aku menginginkanmu) begitulah kira kira.
__ADS_1
"Sudahlah, aku tak ingin berbuat lebih. Aku tak ingin menambah dosaku," seolah faham dengan tatapan cu'eng, wanita cantik itu segera berbicara
"Tapi aku heran, awal kita melakukan, ehmmm..., ciuman. Kamu terasa sangat kaku dan perlu bimbingan dariku, namun sekarang kamu sangat jago dan lihai sekali bermain," tiba tiba saja Mirah merasa curiga, ia memicingkan matanya.
Mendengar penuturan Mirah cu'eng merasa tertohok, pria itu jadi gelagapan.
"A--ah, masa begitu?" tanya nya gugup
"Jangan jangan kau memang ada apa apa ya dengan wanita ular itu?" Tuduh Mirah tepat sasaran
"Tidak! tidak ada apa apa, sungguh!" sergah cu'eng cepat
Melihat reaksi nya yang seperti itu Mirah menjadi semakin curiga.
"Sudah lah, kalau kau tidak ingin jujur. Terserah saja," Mirah memalingkan wajah kemudian memejamkan matanya sedangkan cu'eng merasa bimbang antara jujur atau tidak, namun kini ada hal yang lebih mendesak. Ia harus menuntaskan hasratnya di kamar mandi.
***
Kini cu'eng dan Mirah sudah tiba di kota kembang, Mirah sudah sampai di kamarnya dan sedang berbenah barang barang yang ia bawa
Sedangkan si pria sipit kini tengah berguling guling tak karuan di tempat tidur karena sekarang kepala dia dipenuhi oleh ciuman panas dirinya dan sang pujaan hati, belum lagi gerakan sensual Mirah yang menggoda kala merasakan kenikmatan atas permainan yang dia berikan serta keindahan dua benda kenyal yang menantang itu terus terusan membayangi
"Aku pastikan kau akan menjadi milikku, seutuhnya. Aku akan menikahimu segera," gumam cueng, sepertinya dia lupa, bahwa perbedaan keyakinan diantara mereka akan menjadi penghalang terbesar, kecuali salah satu dari mereka mengalah.
.
__ADS_1
.
.