Ketabahan Seorang Ibu

Ketabahan Seorang Ibu
penyergapan


__ADS_3

"Jaga baik baik cincin di jarimu,benda itu warisan turun temurun keluarga kita.Kelak pasti akan sangat berguna untukmu," pesan pak Kanta ayah dari seorang gadis yang bernama Awit,dan sekarang tubuh nya dipinjam Mirah,entah kemana ruh Awit yang sebenarnya


Pesan dari pak Kanta terus terngiang ngiang ditelinga Mirah,saat ini ia hanya memandangi cincin itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan


"Mengapa kau datang padaku?" wanita cantik itu menatap lekat kepada cincin tersebut.Namun lagi lagi suara misterius di kepalanya yang menjawab pertanyaan mirah


"Sudah aku katakan,bahwa cincin itu adalah milikmu.Kau ditakdirkan untuk memiliki nya,"


"Hahhh...,kau lagi.Tunjukkan wujudmu padaku,jangan hanya berbicara di dalam kepalaku saja." pinta Mirah,seolah menantang


"Hal yang sangat mustahil,jika kau meminta itu,"


"Hmm,begitu 'ya,"


Hari semakin beranjak siang,dan Mirah sangat bingung apa yang harus dilakukannya di zaman yang sama sekali tak ia kenal ini,ditambah lagi kedua orang tuanya (orang tua Awit) entah dimana keberadaan nya,sejak pagi Mirah belum melihat mereka.


Dirinya kini hanya memandangi orang orang yang berlalu lalang,dan ada juga beberapa orang yang memanggul sesuatu seperti keranda.


"Tunggu! keranda? siapa yang meninggal?" gumamnya,ia sangat kaget


"Pak,siapa yang meninggal?" dengan rasa penasaran yang begitu tinggi Mirah memberanikan diri bertanya kepada orang orang tersebut



"Bapak sunhawi,beliau adalah salah satu pejuang yang sangat kami hormati" jawab seseorang yang memakai sorban


"Oh,begitu? memangnya beliau meninggal karena apa 'ya?" Mirah semakin penasaran dibuatnya


"Ditembak tentara Belanda,ketika sedang melakukan penyergapan,"


Mirah menutup mulutnya karena kaget dan tak percaya,ia benar benar merasa tak menyangka kini sedang menjalani hidup di zaman yang penuh dengan perjuangan


"Mari neng Awit,bapak permisi dulu.Mau menguburkan jenazah,kasihan jika terlalu lama di biarkan," kemudian orang orang itu berlalu dari hadapan Mirah


Mirah kemudian merasakan kekhawatiran di hatinya,mengingat kedua orang tua Awit tak ia jumpai sejak pagi hingga kini.Kemudian dirinya memutuskan untuk pergi mencari mereka,dan sebelum pergi tak lupa ia mengunci pintu lalu menyimpannya di bawah batu dekat kandang ayam milik pak kanta.


Mirah menyusuri jalanan yang begitu lengang,karena kebetulan rumah pak Kanta sangat tersembunyi,jauh dari pemukiman warga yang lain nya,jadi sebelum bertemu jalan setapak yang biasa dilalui para warga,terlebih dahulu ia harus melewati kebun kebun pisang yang begitu rimbun dan luas


Hingga beberapa lama ia berjalan,sampailah ia di sebuah rumah warga dan terlihat dua orang,wanita


tengah menumbuk padi menggunakan lisung,hingga terdengar lah kasak kusuk ditelinga Mirah.


"Kasihan sekali 'ya,pak Kanta.Beliau padahal sudah berkorban untuk pak sunhawi,namun takdir berkata lain.Pak sunhawi tetap meninggal dan pak Kanta pun akhirnya ditangkap oleh para tentara Belanda itu, ucap seorang wanita yang mengenakan kain sarung



Mendengar percakapan kedua wanita itu,Mirah merasakan jantungnya berdegup kencang,kemudian dengan perlahan ia menghampiri kedua wanita tersebut


"Khmm...,permisi," ucapnya agak sedikit ragu


Kedua wanita tersebut kemudian menoleh ke arah suara yang menyapa nya

__ADS_1


"Neng Awit!!" ucap keduanya bersamaan,tentu saja mereka sangat kaget melihat Awit ada di sana


"Maafkan kami neng,kami tidak bermaksud bergunjing atau apa.Kami hanya merasa sedih dengan ditangkapnya pak Kanta,bapak nya Eneng," ucap salah satu wanita merasa tidak enak


"Iya,emm...tapi,apa yang ibu ibu katakan tadi itu,apakah benar?" Mirah tak tahan lagi untuk tidak bertanya,hatinya benar benar merasa tak tenang


"Maksud neng Awit,atas tertangkapnya pak Kanta?" wanita itu memastikan


"Iya," ucapnya tak sabar


"Betul neng,kami menyaksikan sendiri pak Kanta digelandang para tentara Belanda ,setelah mereka menembak pak sunhawi.Mereka mengira ayahmu ikut terlibat dengan penyergapan itu."


Setelah mendengar penjelasan para wanita itu,lutut Mirah seketika merasa lemas,hatinya merasa sangat sedih dengan kemalangan yang menimpa ayahnya,karena entah mengapa walaupun pak Kanta hanyalah ayah yang baru saja ditemuinya,tapi ia betul betul merasakan ikatan yang begitu kuat


"Ayah..." ucapnya sendu


Melihat keadaan Mirah yang menyedihkan seperti itu kedua wanita itupun berusaha menghibur dan menyemangati nya


"Neng Awit yang sabar 'ya,"


"Kalau boleh saya mau bertanya,apakah ibu ibu ini tahu,kemana Apara tentara Belanda itu membawa ayah saya?"


Kedua wanita itu saling tatap,mereka sepertinya ragu untuk mengatakan yang sesungguhnya


"Jawab saya Bu," Mirah memohon


"Emm...,sepertinya ke pelabuhan 'neng" ucap wanita itu tampak ragu


"Iya,kami tahu,"


"Ceritakan," pinta Mirah


Kejadian sebelum ayahnya Awit ditangkap para serdadu Belanda...


Malam ini udara terasa sangat lembab,angin pun berembus sangat kencang,di atas langit terlihat kilat yang menyala nyala seperti cambuk raksasa.


Dikegelapan malam yang begitu mencekam terlihat sekelompok laki laki laki menggunakan sarung yang di lilitkan di pinggang dengan bambu runcing di tangan mereka masing masing,mereka mengendap ngendap turun ke bawah menuruni batuan yang terjal menuju tepian sungai,tujuan mereka adalah menyergap para serdadu belanda yang akan melewati sungai itu dengan menggunakan rakit,karena menurut informasi seorang mata mata yang mereka selundupkan diantara para Belanda itu,mengatakan bahwa malam ini para serdadu akan mengambil persenjataan di sebuah gudang mesiu yang letaknya dekat hulu sungai,sekelompok laki laki ini bermaksud akan merampas persenjataan milik mereka.


"Sutttt,hati hati kalian melangkah.Turunan nya ini begitu curam,salah salah kalian akan tergelincir dan terjatuh kesungai dibawah sana," seseorang yang disinyalir ketua dari kelompok tersebut memperingatkan


"Baik,kami akan berhati hati,"


Hembusan angin semakin kencang dan udara pun bertambah dingin,sekelompok orang tersebut kemudian mengecilkan badan berharap bisa mengurangi rasa dingin yang terasa kian menusuk.


Tak lama hujan pun turun dengan lebatnya,kilat menyambar nyambar disusul petir menggelegar yang bersahutan,suasana terasa begitu mencekam.Namun hal tersebut memudahkan sekelompok pejuang itu untuk menjalankan aksinya.


Karena jikalau hujan turun sangat lebat,aliran sungai pun akan bertambah deras,bahkan sampai meluap.Dan itu sangatlah berbahaya,apabila memaksakan diri melalui jalur sungai apalagi hanya menggunakan rakit,salah salah rakit itu akan terbalik dan para serdadu itu akan tenggelam terbawa arus yang begitu deras.


Sekelompok orang itu yang ternyata adalah para pejuang negeri tercinta ini,sangat yakin para serdadu Belanda tidak akan mengambil resiko yang membahayakan dan tentunya merugikan.


"Jumlah kita sepuluh orang,mari kita bagi menjadi tiga kelompok dengan masing masing tiga orang," ucap ketua kelompok itu

__ADS_1


Kemudian ketua mereka segera membagi bagi kelompok,dan tentunya dengan tugasnya masing msing


"Interupsi," ucap seseorang mengangkat tangan


"Ya,apa ada yang belum kau fahami?" tanya sang ketua


"Bagaimana dengan saya,mereka sudah mendapatkan tugas masing masing.Tapi saya tidak diikut sertakan," ucap seseorang yang paling muda di antara mereka


"Oh,iya.Saya hampir lupa.Karena kamu yang paling muda diantara kami,jadi kami memerlukan ketangkasan mu untuk merampas senjata senjata itu.Sementara kami melumpuhkan para serdadu," ucap sang ketua,yang ternyata adalah pak sunhawi.Pak sunhawi adalah sahabat dekat pak Kanta,bahkan penyergapan ini adalah gagasan mereka berdua,namun malam ini pak Kanta tidak ikut dalam melaksanakan penyergapan itu,karena ia masih khawatir dengan sang putri tercinta yaitu Awit,yang tempo hari dikejar kejar Letnan Jan fokkens sampai ia terperosok ke jurang.


Awalnya letnan Jan fokkens melihat Awit di tepi sungai,kala itu ia sedang mencuci pakaian disana dan sang letnan merasa jatuh cinta pada pandangan pertama kemudian ia mengintip dan mengikuti Awit sampai kerumah,tak disangka fokkens pun langsung to the point kepada sang gadis bahwa dia menyukainya dan memaksa ingin menikahi gadis cantik itu,


namun Awit yang benci terhadap para serdadu kemudian menolak mentah mentah keinginan sang letnan,merasa mendapatkan penolakan akhirnya laki laki Belanda itu marah besar,pak Kanta dan istrinya dipukul popor senapan sampai jatuh tersungkur,


melihat kedua orang tuanya diperlakukan seperti itu Awit pun marah dan menampar fokkens,namun tak disangka amarah laki laki itu semakin meningkat,hingga ia akan memaksakan kehendaknya terhadap sang gadis,si letnan melucuti celana yang ia kenakan dihadapan gadis itu dan kedua orang tuanya,Awit yang menyadari hal tersebut kemudian berlari sekuat tenaga dan tentu saja langsung dikejar kejar Jan,namun nahas karena saking paniknya Awit sampai tidak menyadari langkahnya,hingga akhirnya ia terperosok ke jurang.


"Kamu mengerti?" tanya pak sunhawi memastikan


"Baik,saya mengerti!" ucap si pemuda mantap


"Kalau begitu,kalian semua sudah faham 'kan,dengan tugas masing masing?"


"Iya,kami mengerti." mereka mengangguk serempak,walau ditengah cuaca yang tidak bersahabat namun semangat mereka begitu membara


"Sekali lagi saya ingatkan tugas kalian,kelompok satu,kalian pergi dan bersembunyi dekat batu sebelah sana termasuk saya,tujuannya adalah untuk menghadang para musuh di garis depan,"


"Lalu kelompok dua tugasnya adalah melumpuhkan para musuh dengan keahlian yang kalian masing masing punya,"


"Sedangkan kelompok tiga,tugas kalian adalah berjaga jaga apabila kelompok satu dan dua kewalahan kalian harus sigap membantu,faham?" ucap pak sunhawi


Semua orang pun mengangguk tanda mengerti


"Dan kamu anak muda,sementara kami melumpuhkan musuh,gunakanlah ketangkasan mu untuk merampas senjata senjata yang mereka bawa,"


Begitupun si pemuda,ia mengangguk mantap


Hujan kian deras,dari kejauhan sudah terlihat cahaya samar yang sudah pasti digunakan para serdadu Belanda untuk penerangan,sesuai dugaan para tentara Belanda itu tidak menggunakan rakit dikarenakan arus sungai yang begitu deras dan meluap luap,mereka tidak bodoh untuk mengorbankan diri.


Segera saja pak sunhawi dan lainnya bersiap siap,untuk menjalankan rencana yang sudah mereka susun


Ketika para tentara Belanda melewati batu tempat kelompok satu bersembunyi tiba tiba saja mereka dikejutkan dengan orang orang yang menghadang,pak sunhawi kemudian menjulurkan sebelah kakinya,dan benar saja tentara pertama langsung jatuh tersungkur disusul tentara yang dibelakangnya,berhubung mereka berjalan beriringan,dan pinggang mereka diikat dengan tali dengan tujuan,jika salah satu dari mereka terjatuh maka yang lain bisa merasakan dan bisa menolong.Mengingat tepian sungai yang mereka lalui adalah batuan batuan yang licin


Brugh,brugh,brugh...


"Serahkan senjata kalian mister," pak sunhawi dan dua orang lainnya segera menodong para serdadu itu dengan bambu runcing


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2