Ketabahan Seorang Ibu

Ketabahan Seorang Ibu
Tawa cu'eng yang pertama kali


__ADS_3


Senja di barat sudah berganti dengan gelapnya malam,waktu Maghrib telah terlewati,dan kini berganti dengan waktu isya yang telah tiba suara bedug pun bertalu talu dengan indahnya,tak lama disusul dengan kumandang suara adzan yang begitu merdu,mengalun memanggil jiwa setiap insan untuk melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang hamba.


Seorang laki laki bermata sipit kini tengah terduduk sendirian di kursi tengah,memandangi tiga orang insan berjenis kelamin perempuan yang tak lain adalah disah,Mirah,dan ratna tengah khusyuk menunaikan ibadah sholat berjamaah,sedangkan Musa belum kembali dikarenakan ia masih di mesjid.


"Humm...,gak enak juga duduk sendirian.Sedangkan orang lain beribadah," gumam cu'eng.


"Bu,Nana mau ngaji,dengerin 'ya,pasti deh ibu bangga," kata si gadis kecil dengan riangnya,kemudian ia pun melantunkan ayat suci Al-Qur'an yang dipelajarinya selama ini dengan disah.


"BISMILLAHIRRAHMAANIRROHIIM.


WAL'ASR(I){DEMI MASA}


INNAL INSAANA LAFII KHUSR(IN){SESUNGGUHNYA MANUSIA ITU BENAR BENAR DALAM KERUGIAN}


ILLAL LADZIINA AAMANUU WA'AMILUSH SHOOLIHAATI WA TAWAASHOU BIL HAQQI WA TAWASHOUBISH AHOBR(I){KECUALI ORANG ORANG YANG BERIMAN DAN BERAMAL SHOLEH SERTA SALING MENASEHATI DENGAN KEBENARAN DAN KESABARAN.}


SHADAQALLAHUL- 'ADZIM'."


Nana menyudahi pembacaan ayat suci Alquran nya.


"MasyaAllah, Alhamdulillah,ternyata anak ibu pintar mengaji,ibu betul betul bangga sama kamu sayang,apalagi kamu mengaji tau dan dibaca dengan artinya," Mirah merasa sangat bersyukur,karena Nana fasih membaca Alquran,dirinya sadar selama ia bekerja dibandung,tidak pernah lagi mengajari Nana mengaji.


"Iya dong,kan diajarin sama emak,setiap habis sholat isya," terang Nana bangga.


"Terimakasih 'ya,kak.Sudah mengajari dan memberikan Nana yang terbaik,aku benar benar bersyukur kak disah selalu ada untuk kami berdua," Mirah begitu tersentuh hatinya,sehingga ia berterimakasih kepada disah dengan mata yang berkaca kaca.Lalu wanita cantik itupun segera menghambur kepelukan disah.


"Sudahlah,ini adalah janjiku dahulu kepadamu yang sedang aku laksanakan,kakak pernah bilang 'kan,bahwa akan selalu ada untuk kalian dan akan berusaha untuk bertanggung jawab merawat,membesarkan,serta membahagiakan nana,aku benar benar tulus menyayangimu dan anakmu,jangan ragukan itu 'ya" pungkas disah,kemudian ia mengusap ngusap punggung Mirah yang tengah memeluknya.


"Terimakasih,sekali lagi ku ucapkan," Mirah mengecup pipi disah kanan kiri,kemudian ia pun mencium punggung tangan sang Kaka takzim,sebagai bentuk kasih sayang dan rasa terimakasih.

__ADS_1


"Ibu sama emak,kok malah sedih sedihan sii...," tegur Ratna


"Bukan begitu sayang,tapi ibu sedang berterimakasih kepada emak yang telah mengajarimu segala kebaikan,sehingga bisa tercipta Ratna Manggala yang baik,Sholehah,cerdas dan menggemaskan seperti ini," dengan gemasnya Mirah mencubit pipi Nana.


Ratna yang diperlakukan seperti itu tertawa tawa manja.Disah pun hanya tersenyum sambil mengusap ngusap sayang kepala Nana.


Sedangkan cu'eng yang semenjak tadi memperhatikan semua rangkaian ibadah serta interaksi ketiga insan itu,merasakan hatinya begitu menghangat,dan ketika ia mendengar Nana melantunkan Aya suci Al-Qur'an beserta artinya,ada desiran desiran aneh yang menghinggapi hatinya,namun dia tidak mengerti.Desiran apakah itu?karena hal itu sangat berbeda dengan desiran hatinya kepada Mirah.


Setelah rangkaian ibadah selesai Nana,disah dan Mirah segera melipat sajadah dan mukena yang dipakai nya,kemudian mereka bertiga pergi keruang tengah untuk bergabung dengan cu'eng,yang semenjak tadi hanya berdiam diri.


"Kang Musa belum pulang?" disah celingukan mencari sang suami


"Belum kak,dari tadi saya seorang diri sambil menunggu kang Musa yang tak kunjung pulang," ujar cu'eng


"Tumben sekali si bapak lama,biasanya dia segera pulang kalau sudah selesai," disah mengerutkan kening nya.


"Semoga saja tidak terjadi apa apa," disah menjadi khawatir


Tok... tok...tok


"Assalamualaikum..."


"Waalikumussalam..."


Jawab semua orang serempak,kecuali cu'eng.


"Nah,itu kak Musa 'kak," ucap Mirah


"Iya,sepertinya." kemudian disah segera membukakan pintu,dan ternyata memang benar itu suami tercintanya


"Kok lama 'pak?" disah tak kuasa membendung pertanyaan yang memenuhi hatinya

__ADS_1


"Nanti mak,bapak masuk dulu 'ya," Musa tersenyum jahil sambil menjawil dagu istrinya,ia tahu betul bahwa sang istri sedang menunggu jawaban


Musa kemudian masuk diikuti sang istri lalu duduk di kursi bergabung dengan yang lainnya.


"Tadi itu,bapak habis dari rumah Ceu esih...,"


"Astagfirullah,bapak ngapain bertamu ke rumah janda malam malam begini?" belum usai Musa berbicara tiba tiba saja nada bicara disah sudah naik dua oktaf,


"Jawab! untuk apa bapak kesana?!" tanyanya lagi dengan kesal,kali ini nada nya bertambah tinggi


"Sebentar,kamu itu jangan suka menyela pembicaraan orang.Dengarkan dulu bapak bicara sampai selesai," Musa segera menenangkan sang istri yang sudah mulai mengeluarkan uap panas,dan itu benar benar meresahkan.


"Coba jelaskan,emak mau dengar," pinta disah ketus


Melihat hal seperti itu adalah sangat langka,sehingga Mirah dan Nana tertawa cekikikan sambil menutup mulutnya,mereka tak ingin kena imbas,namun tak kuasa juga untuk menahan tawa.


Melihat adik serta anak asuhnya cekikikan disah hanya mendelik tajam.


"Dengerin ya 'mak,dengar baik baik.Begini,tadi di masjid mang Sukarya adiknya Ceu esih bilang,bahwa anak gadis Ceu esih satu satunya itu sudah dilamar laki laki dari luar kampung kita,dan mereka akan segera menikah.Emak tau 'kan,si Juwariyah(anak satu satunya Ceu esih) itu sudah yatim piatu? nah,mang Sukarya itu minta tolong sama bapak,katanya mau menyewa radio kita untuk hiburan,jadi istilahnya dia mau nyumbang untuk kakak nya,tapi bapak juga punya hati dan tau bahwa Ceu esih adalah janda miskin dan si Juwariyah yatim piatu,makanya itu bapak tadi datang sekalian ke rumah mereka,dan bilang bahwa mereka tidak perlu menyewa radio,bapak bisa meminjamkan radio itu gratis," Musa menjelaskan secara rinci dan detail kepada disah,ia betul betul tak ingin sang istri salah faham.


"Owh begitu...,ya sudah pak,kalau begitu emak setuju.Pinjamkan saja radio itu kepada mereka,memang kasihan hidup Ceu esih itu,nanti emak mau sekalian nyumbang beras dan yang lainnya," akhirnya uap panas itupun kembali menghilang,digantikan dengan kepedulian yang sangat tinggi.


Namun tiba tiba saja...


"Bwuahahahaha...," suara tawa menggelegar terdengar.


Musa disah Ratna dan Mirah sampai terbengong bengong melihatnya,pasal nya yang mengeluarkan tawa menggelegar itu Adah seorang cu'eng,yang begitu dingin dan pendiam.Apakah gerangan yang membuatnya tertawa hingga seperti itu?


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2