
"Cincin amethyst yang ku berikan padamu, jagalah itu baik baik,aku adalah leluhurmu.Sedikit imbalan untuk cincin itu telah terpenuhi,maka sekarang cincin itu milikmu,"
"Astagfirulloh'haladzim,apa maksud nya?" Mirah terbangun karena mimpinya barusan,wanita itu pun berjalan keruang tengah bermaksud ingin melihat jam,dan ternyata sudah pukul setengah dua dini hari
"Lebih baik aku mengambil wudhu,lalu sholat tahjjud," gumamnya kemudian ia pun segera melaksanakan niat itu
Dengan khusyuk Mirah melaksanakan ibadahnya,setelah selesai sholat kemudian ia beristighfar memohon ampun kepada Allah lalu berdzikir dan memanjatkan untaian do'a,berharap sang maha kuasa akan mengabulkan nya.Setelah itu ia mengambil Al-Qur'an dan membacanya dengan merdu.
Namun ada satu hal yang tidak Mirah sadari,di dalam laci meja riasnya terpancar lah cahaya keunguan yang begitu indah dan menyilaukan
Mirah belum menyadari hal itu dan masih terus melantunkan ayat ayat suci al-qur'an dengan begitu merdu,semakin lama ia membacanya maka semakin indah terpancar cahaya itu,dan si wanita cantik sekarang mulai menyadari hal itu
"Ah,cahaya apa itu?" gumam mirah,ia melihat ke arah Dinding di depannya,dimana pantulan cahaya itu merebak hampir memenuhi kamar yang ditempati
Sesungguhnya hati wanita itu begitu was was,mengingat cahaya berwarna ungu tersebut baru pertama kali dia lihat
Kemudian netra nya memindai setiap sudut kamar,berharap menemukan titik asal cahaya indah itu.Dan kini ia mendapatkan nya,yaitu berasal dari dalam laci meja rias
"Dari sana rupanya," dengan perlahan Mirah bangkit dan menuju meja rias tersebut,namun ketakutan menyergap hatinya.Bagaimana tidak? bayangkan saja jika tiba tiba ada sebuah cahaya aneh yang terpancar dari dalam meja rias...
Walaupun rasa takut kini mendominasi nya,Mirah tetap memberanikan diri untuk melihat ke dalam laci.Perlahan lahan Mirah menarik laci itu,berharap tidak ada hal buruk yang akan terjadi
"Bismillahirrahmaaniirrahiim,Ya Allah,hanya kepadamu hamba memohon pertolongan dan hanya kepadamu lah hamba memohon perlindungan,semoga tidak ada hal yang mengerikan," sebelum membuka laci itu ia berdo'a kepada sang pencipta.
"Oh!" pekik Mirah,ia menutup mulutnya tak percaya.Setelah apa yang dia lihat begitu mengejutkan sekaligus menakjubkan
Cincin perak berukir yang bertahtakan batu berwarna ungu itu kini terlihat jelas oleh mata kepala Mirah sendiri tengah memancarkan cahaya indah nya,cahaya yang baru pertama kali ia lihat setelah sekian lama cincin itu ada bersama nya baru kali ini ia melihat benda itu memancarkan cahaya
"Rupanya dari batu cincin ini cahaya itu," gumam Mirah,dengan rasa penasaran yang kini memenuhi hatinya ia kemudian memperhatikan batu cincin yang kini dipegang nya
Akan tetapi lagi lagi Mirah terkejut,kala melihat batu cincin itu tak hanya memancarkan cahaya,namun juga membentuk sebuah lingkaran yang terlihat seperti sebuah galaksi
"Masya Allah,indah sekali kuasa Mu," tak dipungkiri hatinya kini benar benar merasa amat sangat takjub ketika melihat hal itu
Semakin lama Mirah semakin terhanyut ketika melihat keindahan itu,hingga di tengah tengah lingkaran yang berwarna jingga ia seperti melihat deretan angka angka romawi yang sama sekali tak ia mengerti berfungsi untuk apa,
"Angka angka,aku samasekali tidak mengerti maksudnya," gumam si wanita cantik
Hingga tiba tiba saja jarinya terulur untuk menyentuh bagian dalam lingkaran yang berwarna jingga yang tengah menampilkan deretan angka romawi
"Aku coba saja," angka pertama yang disentuh nya adalah sembilan,setelah menyentuh nya Mirah merasa was was dengan apa yang akan terjadi,namun tidak ada apapun,kemudian ia menyentuh angka lainnya yang terus terusan muncul seperti bergantian,kali ini ia memilih angka delapan,dan sama saja,tiada apapun yang terjadi
__ADS_1
"Tidak terjadi apapun," gumamnya merasa agak heran,disentuhnya lagi angka itu dan ia memilih angka delapan lagi ,karena tetap tidak terjadi apa apa,ia pun memilih angka satu
"Seribu delapan ratus delapan puluh sembilan," ucapnya
Setelah mengucapkan itu tiba tiba sesuatu hal terjadi...
"A-apa ini,jangan bilang...?" lingkaran itu kemudian berputar dan membentuk pusaran,cahayanya kian berpendar terang setelah Mirah mengucapkan hal tersebut
Kemudian, "Arrggghhh...!" Mirah berteriak kencang kala dirinya kembali tersedot kedalam pusaran cincin tersebut.Dan tentu saja ia sadar,karena hal itu bukanlah untuk pertama kali baginya
Dalam pusaran itu Mirah melihat gambaran tempat dan wktu yang berubah ubah,siang berganti malam dan malam berganti Siang,begitu terus menerus entah berapa ratus purnama yang dia lewati,pusaran itu begitu cepat membawa nya,melewati berbagai waktu
Hingga tak lama setelah itu pusaran yang membawanya pun berhenti,dan Mirah seperti turun dengan menggunakan seluncuran panjang.
"Arrggghhh...!" teriaknya lalu memejamkan mata saking takut,karena ia meluncur dengan sangat cepat,kini Mirah hanya berharap dibawahnya ada sekumpulan busa atau apapun sesuatu yang empuk untuk dirinya mendarat
Namun yang terjadi adalah tidak ada apapun yang terjadi,kemudian ia membuka matanya perlahan
"Lho,kenapa ini? kok tidak sakit? apa yang tadi hanya mimpi?"
Mirah memegang semua badannya,namun tidak sedikitpun merasakan sakit.Kemudian netranya melihat sekeliling,dan ia benar benar terkejut dengan penampakan yang dilihatnya.
Mirah kini sedang terbaring disebuah dipan tanpa alas apapun,dan diperkirakan itu adalah tempat tidur,disekelilingnya adalah dinding bambu dan atap rumah terbuat dari daun rumbia
"Dimana ini?" gumamnya,
Tiba tiba saja Indra penciuman nya mencium bau sesuatu yang tidak asing baginya,bau harum jagung bakar lumayan membuat perutnya keroncongan.Kemudian kaki Mirah melangkah mengikuti arah bau jagung bakar itu
Dan kini ia sudah berada di tempat yang diperkirakan adalah dapur,dan melihat dua orang laki laki serta perempuan yng tengah mengipasi jagung bakar di atas bara api,Mirah kebingungan mau menyapa pun dirinya tidak mengenal siapa kedua orang itu
Tanpa Mirah duga kedua orang itu pun menoleh ke arah nya
"Eh,Awit sudah bangun? bagaimana kepalanya? masih sakit?" tanya seorang wanita yang sedang mengipasi jagung bakar.
Mirah celingukan,kemudian menatp sekeliling untuk memastikan bahwa dirinya lah yang di panggil Awit oleh wanita tersebut
"Maksud ibu...saya?" tanya Mirah kebingungan,ia bingung juga kenapa di panggil Awit
"Aduuhh,kamu ini masih begitu muda.Mengapa sudah lupa dengan nama sendiri,yang memberimu nama Awit itu 'kan,bapak mu.Iya kan 'pak?" wanita itu menoleh ke arah laki laki yang tengah duduk di dekatnya
"Hm iya...,dan kamu itu putriku satu satunya," Jawab si bapak mantap
__ADS_1
"Masih sakit kepala nya?" tanya si ibu sekali lagi
"Eh...em,anu...tidak,sudah tidak sakit," jawabnya gelagapan sambil tersenyum
"Alhamdulillah kalau begitu,bapak senang kamu sudah sehat lagi.Sukur kemarin itu masih selamat dan bisa kabur,ya...walaupun dalam pelarian awit terperosok ke jurang.Masih untung jurang itu tidak terlalu dalam,dan kamu masih terselamatkan dengan adanya akar pohon yang merambat, namun dahimu tetap terbentur bebatuan,coba saja kalau kemarin kau tertangkap sama Belanda itu,pasti sudah di jadikan isterinya sekarang," ucapan bapak yang disinyalir ayah dari wanita bernama Awit tersebut menjelaskan apa yang sebenarnya ingin Mirah ketahui.
Dan sekarang dirinya faham bahwa dia sedang berada dalam tubuh seseorang wnita yang bernama Awit,namun yang membuat Mirah bingung adalah cara ia melintasi waktu berbeda dengan yng sebelumnya ketika bertemu dengan bung Karno.
Ketika dirinya sedang kebingungan tiba tiba saja sebuah suara terdengar di kepala nya
"Kamu tidak perlu bingung,nikmati saja waktu disini.Caramu melintasi waktu memang berbeda dengan yang waktu itu,kau penasaran ?dikarenakan cincin tersebut sebelumnya milikku jadilah ketika pertama kali kuberikan padamu benda itu,ia membawamu bertemu bung Karno dengan sedikit kasar,dia merajuk padaku.Makanya aku pernah bilang 'kan? bahwa suatu saat cincin amethyst itu akan meminta imbalan,karena memang sebagai tanda bergantinya kepemilikan.Dariku dan sekarang milikmu,"
"Tunggu! aku belum faham samasekali,yang kau maksud sebagai imbalan itu apa sebenarnya?" Mirah berkerut kening
"Kebakaran itu,apa kau ingat pertama kali ketika melintasi waktu.Bukankah kau melihat asap hitam dari batu cincin nya? dan itu adalah pertanda dari cincin itu untuk imbalan yang akan di mintanya?"
"Ya...,kau benar.Waktu itu aku melihat asap hitam menutupi warna asli batu cincin,kemudian ada angin kencang yang tiba tiba menggulung ku dan menghempaskan aku dengan tidak manusiawi di penjara Banceuy jaman bung Karno,"
"Perlu kau ketahui,waktu itu cincinnya kasar padamu karena belum terikat apapun,cincin itu masih milikku."
"Dasar cincin sialan! bagaimana jika waktu itu cu'eng tidak datang tepat waktu,mungkin aku akan kehilangan ratna'ku yang berharga," Mirah menitikkan air mata jika mengingat peristiwa kebakaran nahas yang dialaminya dulu,terlebih Ratna yang hampir saja kehilangan nyawa nya
Sejak tadi Mirah bicara hanya dalam fikiran nya saja,jadi tidak ada yang menyadarinya.Namun ternyata air mata yang dia keluarkan mengundang tanya kedua orang tua Awit,Mirah lupa,kini dirinya berada dalam tubuh yang seorang gadis lain
"Kau kenapa menagis 'nak? apakah kepalamu masih sakit?" tanya sang ibu terlihat sangat khawatir
Mirah terperanjat,. kemudian dengan gugup ia menggeleng dan segera menghapus air mata nya
"Ti-tidak Bu..,Awit baik baik saja.Ini hanya pedih karena asap pembakaran jagung," ucapnya berkilah
"Oh,iya.Ini makanlah jagung ini,jangan lupa berdo'a," ucap bapaknya Awit
Mirah menerima jagung bakar tersebut kemudian memakannya dengan lahap,karena emang perutnya sangat lapar,namun fikirannya masih berkelana kemana mana
Kemudian netranya melihat jari telunjuk lentik Awit,ternyata memakai cincin yang sama dengannya.Yaitu,cincin perak berukir dengan bertahtakan batu berwarna ungu
"Ah,kenapa bisa?" gumamnyasambil terus memperhatikan cincin tersebut.
.
.
.
__ADS_1