
Pagi pagi mirah dan disah sudah sibuk di dapur,untuk membuat sarapan.
"Mir,itu tamu kita mau dikasih sarapan apa? kakak gak tahu so'alnya,yang biasa dimakan orang kaya,"
"Ah,tidak susah kak,sama saja seperti kita.Tapi biasanya kalau di bandung dia suka roti bakar dan teh tawar," ujar mirah.
"Ya sudah,cepat buatkan," titah disah
"Sebentar mirah tanyakan dulu sama orangnya,bisa saja 'kan,dia ingin sarapan yang sama dengan kita,"
Ya,pagi ini mirah dan disah membuat nasi goreng kol dengan taburan ayam suir,ditambah telor ceplok dan dilengkapi dengan sambel korek juga kerupuk.
Aroma harum yang menguar,membuat perut cu'eng keroncongan,sebenarnya dia ingin sekali menghampiri mirah di dapur lalu mencicipi masakan yang bau harumnya begitu mengganggu indra penciuman,namun rasa malu menahannya.
Ketika sedang menikmati aroma sedap masakan mirah,ibu satu anak itu pun sudah berada di hadapan cu'eng
"Khm,mau sarapan apa.Roti bakar,atau nasi goreng?" tanya mirah
Cu'eng agak terkejut sebenarnya
"Ah! em...nasi goreng saja," akhirnya laki laki itu pun mengutarakan keinginannya untuk bisa menikmati nasi goreng yang sejak tadi membuat perut nya keroncongan
"Baiklah,mari ke ruang makan.Kita akan sarapan bersama," wanita cantik itu mengajak cu'eng
Cu'eng mengangguk,kemudian mengikuti mirah ke ruang makan.Tak lama setelah semuanya duduk,mirah dan disah pun segera menyiapkan nasi goreng dan menuangkan air putih ke masing masing gelas.
"Enak bu,nasi gorengnya.Nana suka," itu bukan pujian palsu,tapi benar benar pujian yang tulus dari seorang anak untuk sang ibu,dan nasi goreng itu memang betul betul enak.
"Alhamdulilah kalau nana suka," mirah tersenyum dan mengusap rambut panjang nana
Hal tersebut pun tak luput dari tatapan dalam seseorang,cu'eng...laki laki itu merasakan hatinya menghangat ketika melihat interaksi ibu dan anak di hadapannya
"Bisakah aku jadi bagian dari kalian?" bathin cu'eng.
Sarapan pagi pun berlangsung hangat dan khidmat,cu'eng benar benar menyukai masakan mirah,sebelumnya dia pernah makan di kantin wanita cantik itu dan rasa nya memang begitu lezat.
__ADS_1
***
Siang hari waktunya untuk musa membuat gula aren,cu'eng begitu penasaran dengan cara pembuatan nya.
"Dalam sehari bisa berapa kali menyadap?" mulut dia berbicara,namun netranya fokus memperhatikan musa yang tengah merebus air nira
"Yaah,paling sehari dua kali.Yaitu pagi dan sore hari," musa menjelaskan kepada cu'eng
Laki laki itu manggut manggut,mendengarkan penjelasan musa
"Biasanya berapa liter yang di dapat dalam sekali sadap?" tanyanya penasaran
"Kira kira lima sampai sepuluh liter,dari satu pohon aren," ucap musa lagi
"Saya suka sekali dengan gula aren,pertama kali mencoba adalah ketika mirah membawanya sebagai oleh oleh waktu itu.Wanginya khas sekali," ketika itu cu'eng di beri kolak oleh bu rima,dan ia merasakan kolak yang rasanya begitu manis,legit juga harum,ia belum pernah mencoba sebelumnya rasa seperti itu kemudian bertanyalah kepada sang kakak ipar,di situlah ia tahu bahwa gula yang di gunakan adalah gula aren murni oleh oleh dari mirah.
"Hm,ya...gula aren murni memang sedap,wanginya khas.Saya sarankan,cobalah cicipi gula aren yang diseduh dengan air panas kemudian diminum hangat hangat,saya jamin rasanya pasti enak sekali," bukan sekedar omong kosong,yang dikatakan musa adalah benar adanya.Gula aren yang diseduh memang rasanya nikmat sekali,diminum hangat hangat ketika sore atau malam hari ditemani cemilan singkong rebus atau umbi umbian lainnya benar benar perpaduan yang sangat cocok.
"Nanti akan saya coba,"
***
"Mak,sudah membuat camilan untuk malam ini?" tanya musa kepada sang istri,pasalnya malam ini para tetangga akan berdatangan dan berkumpul di halaman rumah disah untuk mendengarkan siaran wayang golek.
"Tentu saja sudah 'pak,malam ini kan waktunya siaran wayang golek,emak sudah menyiapkan kacang rebus,singkong goreng,ubi rebus dan kolak pisang," jelasnya kepada sang suami
Tak lama para tetangga pun berdatangan ke rumah disah,di tahun sembilan belas tujuhpuluhan,radio lah satu satunya media hiburan warga,dan itupun hanya orang orang tertentu yang memiliki nya,kebetulan,dicurug taneuh ini hanya musa seorang yang mempunyai radio,apabila ada hajatan, radio itu pun akan disewa oleh yang punya hajat.
Kini di halaman rumah disah yang luas telah ramai dengan tetangga tetangga sekitar,memang sudah biasa,apabila hari cerah dan bulan bersinar terang mereka akan berkumpul dan bersenda gurau bersama,hal itu bisa semakin mengeratkan ikatan persaudaraan diantara mereka.Begitulah jika hidup dikampung.
"Pak,nana mau nyalain petromaks nya," pintanya pada musa
"Sinar bulan begitu terang,mengapa harus pakai petromaks,sayang?"musa mengusap pucuk kepala nana lembut
"Kan biar seru pak,semakin terang maka akan semakin ramai,"
__ADS_1
"Kalau lampu petromaks dinyalakan,nanti kasihan sinar bulannya," ujar musa
"Mengapa begitu 'pak?" bocah kecil itu berkerut kening,ia tidak faham maksud bapaknya.
"Nanti,bulannya akan sedih,melihat anak cantik yang bersinar bak rembulan ini,lebih memilih cahaya petromaks,daripada menikmati keindahan cahaya yang di suguhkan sang rembulan," musa tersenyum dan menoel hidung nana
"Memangnya bulan bisa bersedih 'pak?"
Musa tersenyum dan menggeleng.
"Begini anak manis,disaat rembulan sedang bersinar terang seperti ini,lebih baik kita menikmati dan mensyukurinya,dengan cara kita tidak perlu menyalakan cahaya lain.Mari kita mentadabburi ciptaanNYA yang begitu indah ini,tadabbur alam." terang musa panjang lebar
"Begitu ya 'pak,iya deh," kemudian gadis kecil itu melonpat lompat riang,menghampiri sahabat baiknya neneng.
Dan musa pun melanjutkan pekerjaannya ya'itu membuat anyaman dari bambu untuk dijadikan dinding rumah,biasanya yang membutuhkan adalah orang orang yang akan membangun rumah,dinding dari anyaman bambu awet untuk beberapa tahun,selain harganya murah.Dikampung seperti itu memang rata rata semuanya memakai bilik bambu.
"Mus,coba dinyalakan radio nya,kalau tidak salah malam ini siaran wayang golek,dalangnya abah sunarya." ucap mang karja.
"Wah,betul 'mus,aku mendengar iklannya tadi," timpal mang darman.
"Ah,iya...aku hampir saja lupa," musa terkekeh dan menepuk jidatnya
"Mak,ayo cepat.Dinyalakan radionya sana" titah musa
Disah mengangguk,kemudian mengeluarkan radio yang ukurannya cukup besar lalu menyalakan nya.
Dalam diam cu'eng,menikmati kebersamaan yang disuguhkan warga kampung curug taneuh.
Begitu terasa kehangatan dan kekeluargaan,yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
.
.
.
__ADS_1