
Jam makan siang pun tiba orang orang sudah berdatangan ke kantin,mirah mulai sibuk melayani pelanggan yang makan disana,serta pelanggan yang minta diantarkan ke tempatnya masing masing.Seperti dari lapaz dan kantor pos,telpon berdering tanpa henti.
"Ya hallo...!"
"Miir,ini bapak.Saya pesan nasi,lauknya sup iga sama tumis brokoli saja dan jangan lupa tambahkan sambal,tolong di antar ke ruangan saya 'ya,lalu jika nanti karyawan showroom pesan makan siang juga,kamu hitung saja semua,biar nanti saya yang bayar sekalian," ucap si penelpon disebrang sana,yang ternyata adalah pak rahardjo sang bos besar pemilik pd rahardjo.
"Baik 'pak,nanti saya antarkan makan siangnya," ucap mirah.
Tak lama setelah itu datang seorang karyawan showroom yang memesan makan siang juga.
"Teh saya pesan nasi sama lauknya,"
"Makan disini apa dibungkus 'kang?" tanya mirah.
"Di bungkus saja teh,nanti makannya di showroom saja bersama karyawan lain," ujarnya
"Lauknya apa saja? berapa bungkus?"
"Pesan sepuluh bungkus saja,lauknya ayam goreng sama balado terong tiga,oseng kikil pedas dan perkedel kentang empat,sambel goreng ati ampela sama tumis buncis tiga," ucap pria itu memberitahu apa saja pesanan nya.
"Baik,silahkan tunggu saja di showroom,nanti saya antarkan makanan nya,sekalian sama punya bapak juga,"
"Iya,terima kasih ya teh," ucap pria itu dan berbalik kembali ke tempatnya.
Dengan cekatan mirah menyiapkan makanan pesanan dari karyawan pak rahardjo dan untuk pak rahardjo sendiri,tak lama semuanya siap dan mirah segera mengantarkannya.
Penampilan mirah hari ini sangat sederhana namun tetap anggun mempesona,ia menggelung rambut panjangnya dan memakai dress floral selutut yang menambah kesan manis.
Mirah menatap takjub,melihat mobil mobil mewah berjejer rapi di showroom pak rahardjo,pada saat itu memanglah pd rahardjo showroom mobil terbesar di bandung.
"Waahh,banyak sekali mobilnya.Bagus bagus lagi," gumamnya.Matanya benar benar sedang dimanjakan.
"Ehm,teh...," seseorang berdehem menyapa mirah yang sedang takjub dengan apa yang dilihatnya.Walaupun mirah bekerja di kantin pd rahardjo,tapi ia belum pernah masuk ke showroom itu,biasanya para karyawan makan langsung dikantin.
,"Eh,iya 'kang,maaf.Ini saya mau mengantar pesanan nya,"mirah menyodorkan makanan pesanan para karyawan.
"Oh...terimaksih teh,berapa semuanya?" tanya pria itu.
"Tidak usah 'kang,so'alnya tadi bapak bilang.Kalau karyawan saya pesan makan siang,biar sekalian saya yang bayar. Begitu katanya 'kang," ucap mirah
"Alhamdulillah,ya sudah kalau begitu.Terimakasih teh," pria itu terlihat senang karena mendapatkan makan siang gratis.
"Oh iya 'kang,saya mau mengantar makanan untuk bapak,ruangan nya sebelah mana 'ya?"
__ADS_1
"Itu,teteh naik ke lantai dua,lurus aja terus belok sedikit ke kanan.Nah,disitu ruangan bapak."
"Terimakasih 'kang," mirah tersenyum manis.
Pria itu mengangguk dan membalas senyuman mirah.
Tanpa mirah sadari dibelakangnya pria itu terus memandang mirah,sampai menghilang di balik tangga.
"Yo,aryo..." seseorang menepuk pundak pria itu keras,diketahui namanya aryo.
"Apa sih,ngagetin saja kamu," aryo mendengus,buyar sudah lamunanya.
"Abis bengong aja sih,ngeliatin apa sih? tanya jaka teman aryo.
"Liatin settann," jawabnya sebal sambil mlengos pergi.
"Dihh,ditanya malah marah.Gak jelas ni orang,woiii...mana makan siang kita,laper nii!" jaka berteriak sambil mengejar aryo yang sudah jauh berlalu dari hadapannya.
Di lantai atas mirah masih mencari ruangan pak rahardjo,ia celingukan.Setelah terlihat pintu ruangan yang dimaksud ia pun melangkah dengan cepat.
Tiba tiba...
Dughhh...
Deg...
Jantung mirah berdegup,kala netranya bersitatap dengan netra coklat milik seseorang dihadapannya
Seorang pria bertubuh tinggi tegap dan atletis dengan mata sipit namun tatapannya sangat tajam serta kulit putih bersih terawat,kini tengah berdiri dihadapan mirah dengan angkuhnya.
"M-maaf,saya sedang buru buru,saya mau ke ruangan nya pak rahardjo mengantarkan makan siangnya," mirah tergagap.
Pria itu sama sekali tak merespon ucapan mirah,ia hanya menatap mirah sekilas dan berlalu pergi dengan angkuhnya.
"Astagfirulloh,ada 'ya,orang seperti itu.Sombong sekali dia," mirah menggerutu ia mengelus dadanya.
"Ah,sepertinya ini ruangan bapak," gumamnya.
Tok...
Tok...
Tok...
__ADS_1
"Masukk! suara dari dalam.
klekk...
Mirah mendorong pintu dan terbuka.Seorang pria yang sangat berwibawa berusia sekitar empat puluh lima tahunan tengah berkutat dengan bolpoint dan kertas di hadapannya.
"Permisi 'pak,saya mau mengantar makan siang bapak," ucap mirah hati hati,ia tak ingin mengganggu pria itu yang aepertinya sangat serius dengan pekerjaannya.
Pria dihadapan mirah segera menghentikan kegiatannya,dan beralih menatap mirah.
"Oh,kamu 'mir,tolong simpan di meja sebelah sana ya makanan nya,dan...apakah karyawan saya sudah memesan juga?" tanya pak rahardjo.
Mirah mengangguk, "Sudah pak," jawabnya.
"Oh,ya sudah kalau begitu.Nanti kamu kirimkan catatannya,apa saja yang mereka pesan dan berapa total semuanya.Nanti sekertaris saya yang akan membayar semuanya 'ya," ujar pak rahardjo.
"Baik pak,terimakasih.Kalau begitu saya permisi pak," setelah berpamitan mirah pun keluar meninggalkan ruangan itu.
......................
Siang hari bekerja di sawah memanglah sangat melelahkan,keringat disah dan musa sudah bercucuran.Pekerjaan mereka mencangkul sawah belum lah selesai,ya,sawah mereka memang luas.Walaupun mereka mempekerjakan orang untuk membantunya,tetap saja musa dan disah tidak ingin berpangku tangan dan hanya mengandalkan mereka.
"Sekarang waktunya makan siang 'mak,lebih baik kita berhenti dulu.Untuk mengisi tenaga,aku sudah lapar sekali,kasian juga orang orang itu,mereka pasti capek dan juga lapar," musa menghentikan aktifitasnya,perutnya sudah sangat keroncongan.
"Iya pak,aku juga lapar sekali," ucap disah. "Semuanyaa! mari kita makan siang terlebih dahulu,hentikan sejenak pekerjaan kalian," disah berteriak,karena jarak dengan orang orang itu lumayan agak jauh.
"Iya mak! jawab mereka.
Akhirnya semua orang menghentikan pekerjaan nya sejenak,untuk mengisi tenaga.
Menu makan siang disah,adalah urap daun pepaya,ikan pindang sambal terasi dan lalapannya,terakhir bacem tempe tahu.Walupun menu seadanya,namun apabila disyukuri semuanya akan terasa luar biasa nikmat.Apalagi mereka makan di saung sawah,dengan angin sepoi sepoi membelai mereka.
"Ah,masakan istrimu memang selalu lezat," ucap mang karja kepada musa dan memuji masakan disah.
"Kamu jangan memujinya,terus terang.Nanti hidung dia terbang!" musa menghoda istrinya.
Disah hanya mendelik saja ketika suaminya menggoda dirinya.
.
.
.
__ADS_1