
Cu'eng yang tengah tertawa sampai terpingkal itu kemudian berhenti seketika,tatkala melihat yang lain sedang terbengong bengong memperhatikan dirinya.
"Pak cu'eng kenapa?" Nana yang pertama kali bertanya dengan polos nya
"Huum,kenapa kamu?" disusul Mirah yang bertanya,ia juga merasa terkejut sekaligus heran dan penasaran tentang pria salju yang tiba tiba saja mengeluarkan tawanya,dikarenakan hal itu adalah langka sangat langka!
"Yah,yah,kenapa kamu sampai tertawa begitu?" Musa juga ingin tahu
Ditanya dan diperhatikan sampai seperti itu cu'eng menjadi salah tingkah sekaligus malu,bahkan bicaranyapun sampai tergagap
"A--ah, ti--tidak,khmm," ujarnya sambil memalingkan wajah dan menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.
"Kalau tidak ada apa apa,mengapa kamu tertawa sampai seperti itu?" kini disah yang bertanya,namun tatapan mata wanita itu begitu menghunus tajam sampai ke hati,jantung,ginjal,dan semua organ dalam tubuhnya.Sehingga cu'eng merasakan rasa rasa mencurigakan yang begitu menakutkan.
"Tidak ada,hanya teringat hal yang lucu saja," ucapnya datar,ia sangat berusaha sekali mengembalikan ekspresinya ke bentuk semula.
Disah memicingkan matanya,penuh curiga.
"Sudah sudah,jangan mencurigai pak cu'eng,kasihan dia sampai seperti itu," Musa kemudian menengahi namun ia juga mesem mesem,sebenarnya ia tahu bahwa yang membuat laki laki sipit itu tertawa adalah tingkah istrinya yang cemburu kepada Ceu esih
"Mak ada cemilan apa?" segera Musa mengalihkan pembicaraan
"Owh,iya tadi Emak dan Mirah sudah buatkan kolak labu sama kicimpring panggang," ujar disah,kemudian ia bangkit untuk mengambil makanan itu ke dapur
"Biar saja kak,Mirah yang akan mengambilnya Kakak duduk saja'ya," Mirah segera mencegah sang kakak untuk kedapur,kemudian ia bangkit dan mengambil serta menyajikann nya di meja ruang tengah.
Para laki laki yang pertama kali mengambil,kemudian di susul oleh para wanita.
"Hmmm,enak sekali kolak ini kak.Rasanya manis dan legit,harum juga," cu'eng begitu menikmati setiap suapan kolak labu di mulutnya.
"Tentulah itu legit dan harum,aku menggunakan gula aren serta daun pandan," ucap Mirah sambil melihat cu'eng yang sedang menyuap
Sejenak cu'eng menghentikan suapan nya,sedetik kemudian ia memandang Mirah lekat dengan sedikit senyuman menggoda di bibirnya,kemudian ia mengedipkan mata sipit itu kepada sang pujaan hati.
Melihat hal itu tiba tiba saja Mirah merinding,lalu cepat cepat ia menundukkan wajah dan lebih memilih untuk memandangi genangan kolak di mangkuk miliknya.Namun tak bisa di pungkiri denyut jantungnya kini tengah berdebar debar,kala bersitatap dengan cu'eng.
Seulas senyum cu'eng tampilkan,kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil berbalik memandangi genangan kolak tercinta,untuk kemudian lanjut menyantapnya lagi.
Namun lagi lagi,interaksi kedua lajang itu tertangkap basah oleh mata jeli Musa dan disah,namun mereka tak berkomentar.Hanya berbicara lewat tatapan mata saja.
__ADS_1
"Khm, kamu besok jadi ke Bandung mir?" setelah selesai makan Musa bertanya kepada sang adik,sekaligus mencairkan suasana tak karuan yang dirasakan Mirah.
"Iya,jadi kok," ucapnya pendek
"Bu,Nana boleh kebandung lagi?" tiba tiba bocah itu meletakkan mangkuknya di meja kemudian bertanya kepada sang ibu,namun dengan tatapan sendu.
"Ya tentu saja boleh dong sayang,tapi nanti 'ya,kalau liburan sekolah lagi," menyadari Nana tengah bersedih Mirah kemudian merangkul sang putri lalu membawa ke pelukannya,dan yang benar adalah hati dia juga sesungguhnya merasa terhiris ketika harus berpisah kembali dengan Nana, Namun apalah daya keadaan yang memaksa mereka harus terpisah lagi.
Melihat Nana bersedih hati kecil cu'eng terenyuh
"Mir,bagaimana kalau Nana pindah sekolah saja ke Bandung?" satu solusi cu'eng tawarkan
"Nana tidak mau pindah sekolah kesana,kalau nana pindah.Nanti akan sangat sangat sangaaattt,rindu kepada emak,bapak,kak Hamim,dan Neneng," dengan cepat Nana menolak solusi dari cu'eng,ia benar benar tak mau berpisah dari orang orang tercintanya
"Kapan ayah Herman itu pulang 'bu?bukankah sudah lama dia bekerja.Pasti uangnya sudah banyak," ucap Nana yang tiba tiba saja teringat tentang Herman
Duggh...
Bagaikan dihantam batu besar,tiba tiba saja jantung Mirah terasa berhenti.Begitupula dengan Musa dan disah yang saling berpandangan,belum lagi cu'eng yang melihat kesana kemari memperhatikan ekspresi setiap orang di ruangan itu yang tiba tiba saja berubah,setelah satu pertanyaan terlontar dari mulut kecil Nana.
***
Dini hari seperti biasa,sepasang suami istri yang tak lain adalah disah yang membawa obor dan Musa menggendong Nana,kemudian Hamim yang memikul semua barang bawaan Mirah dan juga oleh oleh untuk pak Rahardjo dan omi serta anisah,lalu cu'eng dan Mirah tengah berjalan beriringan menyusuri jalan setapak,melewati pemantang-pemantang sawah untuk menuju stasiun kereta api jurusan ke Bandung.
"Siapa ayah Herman yang dimaksud anakmu itu 'mir?" tanyanya penuh penekanan dan menginginkan jawaban
Duggh..
Kembali jantung Mirah dikejutkan dengan pertanyaan dari cu'eng
"Jawab aku," ucap laki laki itu dingin dan datar
"Apakah harus?" tanya mirah,dengan rasa sesak di dadanya.
"Harus,dan itu penting," ujar cu'eng tak ingin di bantah
"Untuk apa?" Mirah kemudian melepas paksa genggaman tangan cu'eng,kemudian berjalan dengan cepat dan kini sejajar dengan Musa.
"Kenapa kamu 'mir,mana cu'eng?" tanya Musa keheranan,pasalnya dari tadi Mirah dan cu'eng seperti tak terpisahkan selalu beriringan,namun kini Mirah mendahuluinya.Dengan tiba tiba
__ADS_1
"Tidak ada,hanya ingin menggendong Nana saja.Takutnya kak Musa sakit punggung,anak ini kan berat," ujarnya berkilah,sambil mengambil paksa Nana dari gendongan Musa.
"Ibu...Nana jalan saja.Kasihan nanti ibu kecapean," ucapnya
"Tidak apa sayang,ibu ingin menggendongmu sebelum pergi," akhirnya Nana pasrah saja di gendong sang ibu,yang kemudian pipi bocah itu jadi sasaran dan pelampiasan rasa rindu mirah.
Sedangkan cu'eng ia masih merasakan rasa ingin tahu dihatinya,dan itu sangat sangatlah mengganjal.
***
Perjalanan ke stasiun pun sudah sampai,kini cu'eng tengah membeli tiket VIP untuk berdua saja.
"Mengapa harus mengambil VIP?yang biasa saja," tolak Mirah,tatkala cu'eng menyodorkan tiket kepadanya
"Sudah,terima saja Jangan banyak bicara," ketusnya
Mirah hanya mendelik saja,kemudian duduk di kursi tunggu bersama yang lainnya.
Tak lama kereta yang di tunggu pun sudah tiba,Mirah dan cu'eng segera berpamitan kepada semua anggota keluarga.Tentu saja Mirah dan Nana lagi yang paling drama,bocah itu menangis kencang sampai sesenggukan.
"Anak manis jangan menangis,nanti ibu ikut sedih," Mirah mengusap air mata di pipi gadisnya.
"Hikss..ibuuu,cepat pulang kembali 'ya," ucapnya.
"Iya sayang," setelah mengucapkan itu Mirah kemudian bergegas naik kereta,ia berusaha menahan tegar dan menahan tangisnya di depan Nana,namun di dalam gerbong tangisnya pecah juga,sampai sesenggukan.
"Hapus air matamu," cu'eng menyodorkan saputangan miliknya,namun nahas Mirah malah memalingkan wajah
Merasa di tolak mentah mentah,dengan cepat namun lembut cu'eng menarik Mirah kedalam dekapannya,lalu ia mengusap pelan dan lembut air mata yang menetes di pipi mulus Mirah.
"Sudah kubilang hapus air matamu,tapi kau menolaknya,kalau begitu aku menyimpulkan,bahwa kau menginginkan aku untuk menghapusnya," ujar dia dengan percaya dirinya
"Lepas ih,lepaskan aku," Mirah meronta,berusaha melepaskan dekapan laki laki itu.Namun lebih nahas wanita ini,bukannya lepas tapi malah lebih erat dekapan yang dia rasakan.
"Diam saja,jangan meronta," titah cu'eng
"Mirah kemudian pasrah dalam dekapan hangat cu'eng.
.
__ADS_1
.
.