Ketabahan Seorang Ibu

Ketabahan Seorang Ibu
Dori mengajak Mirah untuk kembali.


__ADS_3

Setelah mendapatkan pertolongan,Ratna dan Mirah segera dilarikan ke rumahsakit karena memang kondisinya yang sangat mengkhawatirkan,luka luka di punggung mirah dan Ratna harus segera ditangani oleh tenaga ahli,karena jika tidak,luka tersebut akan infeksi,seperti luka gigitan tikus di kakinya.


Sedangkan untuk rohanah dan Mak nenah,Musa dan disah sudah sepakat akan mengurus kedua orang itu tanpa melibatkan kepolisian,sebetulnya apa yang dilakukan wanita tua tersebut adalah kejahatan besar,karena sudah menculik dan menyiksa,belum lagi usut punya usut,ternyata yang dilakukan Mak nenah adalah rencana Rohanah juga.


"Herman lepaskan aku,apa yang akan kalian lakukan kepadaku?" tanya Mak nenah,kala mengetahui dirinya kini terkurung disebuah kamar.


"Aku tidak tahu,aku hanya menuruti perintah kak disah saja," sahut Herman


"Dasar menantu kurang ajar! cepat,lepaskan aku," hardiknya.


Namun Herman hanya diam membisu,tak menggubris samasekali permintaan mertuanya.


"Aku tidak bisa melepaskan emak,karena jika aku melepaskan mu pasti langsung ku kirim ke penjara," Herman mengancam wanita tua itu


"Jangan kurang ajar kamu,aku ini mertuamu!" Mak nenah sedikit gentar dengan ancaman herman.


"Dengar ya,kau ini kan suaminya rohanah,mengapa kau tega memperlakukan aku seperti ini,nanti Rohanah pasti akan marah kepadamu,jika tahu ibu kesayangan nya dikurung begini,kau tidak mau kehilangan dia 'kan?" Mak nenah sedikit membujuk Herman


"Urusan Rohanah adalah urusanku,Mak tidak perlu khawatir.Karena anakmu sangat mencintaiku dan tidak ingin kehilanganku,"


"Harrgghhhh! dasar menantu sialan! kurang ajar!," makinya mengumpati Herman.


***


Seminggu berlalu sejak Ratna di temukan,kini keadaan ibu dan anak itu pun sudah membaik,dan mereka berdua pun sudah kembali kerumah.Dori yang mengetahui anak asuh serta cucunya disekap Mak nenah dan mendapatkan penyiksaan,ia begitu geram,sebuah ide pun terlintas dikepalanya sekarang.


"Bagaimana dengan ideku?" tanya dori ketika mereka berbicara enam mata,yaitu disah,Musa,dan dori.Herman sengaja tidak dilibatkan karena laki laki itu masih suami Rohanah dan menantu dari Mak nenah,belum lagi dori yang sangat tidak menyukai Herman.


"Dan satu lagi perminta'anku,aku ingin Mirah berpisah dari Herman,aku tidak Sudi anaku bersuamikan lelaki macam adikmu itu Isah,rasanya tak henti hentinya penderitaan yang dia alami akibat berhubungan dengan adik bodohmu itu," tekan dori,disah hanya menghela nafas berat mendengar permintaan dori,akan tetapi kali ini dirinya setuju,berpisah dari Herman adalah hal paling baik untuk Mirah,untuk keselamatan diri dan juga ketenangan bathin wanita itu.


"Hmm,ya...kali ini aku setuju,berhubungan dengan Herman dan Rohanah adalah hal yang buruk bagi Mirah," Musa dan disah mengangguk membenarkan


"Aku juga juga akan memboyong anak dan cucu ku pulang,dan kembali tinggal bersamaku," dori menatap disah tajam


"Deg!"


Disah sangat terkejut mendengar perkataan dori,sungguh! dirinya tidak ingin berpisah jauh dari Ratna dan Mirah,karena terlanjur menyayangi mereka.


"Kau jangan begitu dong,biarkanlah mereka tinggal disini bersamaku." pinta disah memelas


"Sebenarnya aku kecewa padamu,ketika kau menikahkan dia kembali dengan Herman,"

__ADS_1


"Maafkan keegoisanku," disah menunduk sedih,ia merasa begitu bersalah.


"Relakan mereka tinggal bersamaku,aku sanggup membahagiakan anak cucuku," dori tetap bersikukuh akan membawa kembali Mirah dan Ratna


"Khmm,begini..sebaiknya hal ini kita bicarakan dengan yang bersangkutan,berhubung Mirah bukan anak kecil lagi,dan juga Nana adalah gadis kecil yang cerdas,mari kita serahkan semuanya,biar mereka yang membuat keputusan," Musa menengahi,pasalnya di lubuk hati yang terdalam ia sendiri juga tidak mau kehilangan Mirah dan Nana yang sudah dianggapnya keluarga sendiri,apalagi Ratna,yang sudah seperti anaknya sendiri.


"Baik," ucap dori pendek.


"Tolong panggilkan Mirah dan Ratna isah,biarkan mereka memutuskn," titah dori lagi


Disah segera bangkit dari duduknya,kemudian bergegas memanggil Nana dan Mirah yang kini masih beristirahat dikamar pasca pulang dari rumah sakit.


"Mir,dori mau bicara denganmu.Ayo lekas temui dia," ucap disah ketika sampai dikamar Mirah,Mirah yang sedang berbaring itu pun segera bangun.


"Ada apa,memangnya 'kak?" tanyanya


"Ada sesuatu yang ingin dibicarakan,ajak Nana sekalian 'ya," setelah mengatakan itu disah pun berbalik dan keluar kamar,dalam hati ia berdo'a semoga Nana dan Mirah menolak untuk ikut dan kembali tinggal dirumah dori.


Tak lama kemudian Nana serta Mirah menyusul disah,dan menemui dori yang sudah menunggunya.


"Wak oiii!" teriak Nana,gadis itupun langsung menghampiri dori lalu mencium punggung tangan dan mencium pipi orang tua itu.


"Ah..,gadis kecilku,cucu kesayanganku,bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya dori


"Oh,bagus kalau begitu.Dan 'kau,bagaimana keadaanmu sekarang,?" kini pertanyaan nya ia tujukan kepada Mirah.


"Alhamdulillah,sekarang baik baik saja,"


"Baguslah kalau begitu,dan ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan kepadamu," dori menatap wajah Mirah dan Nana bergantian.


"Oh iya,apa itu kak?" tanya Mirah penasaran.


"Begini,sehubungan dengan kejadian membahayakan yang kau dan Nana alami beberapa waktu lalu,maka aku memutuskan akan membawa kalian untuk tinggal bersamaku,disana hidup kalian akan terjamin,dan pasti nya aman," dori segera menjelaskan maksudnya memanggil dua orang kesayangan nya itu.


Mirah mendengarkan semua parkataan dori,akan tetapi hatinya merasa tidak ingin meninggalkan disah dan Musa,dua orang yang selalu mendukungnya dan sangat berjasa besar dalam hidupnya,terutama dalam memberikan kasih sayang kepada sang putri Ratna Manggala.


Namun untuk menolak Mirah merasa tidak enak,karena ia pernah melakukan hal yang sama ketika dulu ditinggalkan Herman.


"Bagaimana,apa kau mau ikut bersamaku?" tanya dori lagi,menunggu jawaban.


"Aku menyerah kan nya kepada Nana,dia yang akan memutuskan.Takutnya dia tidak menyetujui dan malah berakibat buruk," ujar nya,kini sepenuhnya Mirah menyerahkan kepada Ratna untuk mengambil keputusan.

__ADS_1


"Hmm,bagaimana menurutmu nak? mau 'ya,tinggal sama kakek oii,"


Ratna kini dilema,dirinya sungguh tak ingin tinggal di rumah dori,karena terlanjur betah tinggal bersama emak dan bapknya dirumah itu,akan tetapi menolak permintaan sang kakek juga ia merasa tidak enak hati.


"Emmm,sebenernya bukan Nana menolak atau apa,tapi Nana terlanjur betah tinggal disini," ucapnya menunduk,


Dalam hati disah disah berkata "Yess!" akhirnya Nana menolak,ia tersenyum samar.


"Haaahhh,sudah kuduga kau pasti akan menolaknya.Tapi setidaknya untuk dua Minggu saja,mau ya menginap dirumahku?"dori hanya bisa menghela nafas pasrah,


Ratna menatap Mirah dan disah bergantian


Kemudian yang ditatap hanya tersenyum dan mengangguk saja.


***


Ditempat lain,kini Herman tengah merenung dengan semua kejadian yang menimpa istri dan anaknya.


"Apakah aku harus melepaskan Mirah kembali?" gumamnya.


Ketika laki laki itu terhanyut dengan fikirkan nya,tiba tiba seseorang menutup mata nya dari belakang.


"Lepaskan tanganmu nah," ucapnya dingin


"Ckk!" Rohanah berdecak kesal


"Kau semakin dingin kepadaku," dengusnya


"Salah kau sendiri,kau telah berbuat jahat kepada anak dan istriku," herman menatap tajam Rohanah


"Cih! Apa bedanya aku denganmu ,jangan merasa suci!" ucap sinis wanita itu


"Lepaskan ibuku,jangan kau kurung dia seperti itu," pinta Rohanah


"Aku tidak bisa! karena ini perintah kak disah dan dori,apabila ibumu ku lepaskan,maka penjara akan menantinya."


"Memangnya apa yang mereka rencanakan?" Rohanah menyelidik


Herman hanya mengendikkan bahunya, "Entahlah,tapi jika melihat dori yang cukup berpengaruh,maka apapun bisa dilakukan nya,"


"Deg! deg! deg!"

__ADS_1


Jantung Rohanah berdetak kencang,ia merasa ketakutan sekarang.


__ADS_2