
Lilian masih menangis membuat kedua laki-laki itu bingung. Sampai seseorang datang mengetuk pintu ruangan staff dari luar.
Tok Tok Tok.
Soni dan Azka menoleh, mendengar suara pintu di ketuk dari luar. Lilian langsung diam seketika, Soni pun melangkah, membuka pintu itu.
Clek.
"Cari siapa?" tanya Soni, bingung tak mengenal laki-laki yang ada di hadapannya itu.
"Bos Azka ada?" tanyanya kembali.
Soni menoleh ke arah Azka, "Ka ada yang nyari lu!" serunya, membuka pintu ruangan semakin lebar. Memperlihatkan seorang pria yang mencarinya.
Azka mengerutkan keningnya, tak mengenali pria tersebut, "Siapa?" tanyanya balik.ki
Pria itu pun masuk melewati Soni, berjalan mendekati Azka, "Maaf anda bos Azka?" tanyanya sambil tersenyum.
Azka menganguk.
"Aku di kirim Mba Dara untuk menggantinya bekerja di sini?" ucapnya sopan.
"Sebentar, aku telpon dulu Dara?" ucap laki-laki itu masih bingung Karna kekasihnya itu, tak berkata apa pun saat bertemu tadi, tentang laki-laki ini.
Laki-laki tesebut menelpon kekasihnya itu, lama gadis itu tak menjawab telponnya sampai beberapa kali ia menelponnya.
"Sayang maafkan aku, baru mengangkat telponmu tadi ada miting mendadak, aku lupa membawa ponselku, ada apa?" tanyanya saat laki-laki itu mengangkat telponnya.
__ADS_1
"Yah, bos besar aku mengerti. Sekarang pacarku ini sibuk banget, sampai tak ada waktu buat laki-laki lajang ini," godanya di balik telpon.
Gadis itu, tertawa terbahak-bahak sampai terdengar di balik telpon, "Maafkan aku sayang."
"Oh iya, aku mau menanyakan tentang seseorang yang kamu kirim ke sini sayang?"
"Ya ampun aku lupa sayang, orangnya sudah ada di resto."
"Yapp."
"Iya, dia Mas Angga, yang aku kirim untuk mengganti aku di sana? Kemarin Mba Lilian menangis sama aku, minta aku kembali ke sana? Aku tak bisa kembali ke Resto, makanya aku kirim Mas Angga. Kasih tau, Mba Lili dia Duren loh."
Laki-laki itu tesenyum, "Kamu kenal dia di mana?"
"Dia pemilik rumah kontrakan aku yang dulu, dia butuh pekerjaan, aku rekomendasikan resto kamu sayang, tidak apa apa kan? Di tempat aku tak ada lowongan."
"Yah tidak apa-apa? Aku menang membutuhkan pegawai baru untuk menggantikanmu, Shitia dan Elis, namun tetap saja, kamu tak akan terganti sayang."
Lilian, memperhatikan pria itu entah kenapa hatinya bergetar karnanya? Padahal baru saja, ia bertemu dengannya. Apalagi saat melihat senyumnya, membuat wanita itu merasa sesak nafas, karna pesona pria itu. Pria tersebut, tak muda lagi! Namun tak masalah untuknya.
Pria tadi tesenyum melihat Azka di telpon bersama kekasihnya itu. Ia takut kalau Azka kekasih dari Darania.
Azka masih menelpon Darania dengan waktu yang lama, sampai ia mengingat tentang pekerjaannya saat ini, "Sayang aku lupa tentang pekerjaan aku? Nanti kita sambung lagi yah di rumah!" serunya menutup telponnya.
Laki-laki itu, memperhatikan pria yang dikirim kekasihnya untuk bekerja di restonya. Dia sudah tak muda lagi, umurnya mungkin hampir sama dengan Lilian. Laki-laki tesebut tak memilah-milah orang yang ingin bekerja tak melihat tua atau muda, yang ia ingin kan orang yang ingin bersungguh-sungguh mau bekerja dengannya.
Pria itu pun bersenyum kepada Azka, dibalas kembali oleh laki-laki itu, "Maaf, Mas namanya siapa?" tanyanya lupa, padahal tadi sudah diberitahu oleh Darania.
__ADS_1
"Rahardian Angga, namun Mas Azka, bisa memanggilku Angga," jawabnya
"Baik Mas Angga, besok saja anda ke sini lagi, sekarang sudah sore," ucap laki-laki tesebut sambil tersenyum.
"Maaf mas, tadi aku hanya mencari lokasi saja, sekalian ingin bertemu denganmu terlebih dahulu sebelum aku mulai melamar kerja besok," ucapnya sopan.
Laki-laki itu tesenyum, pria itu pun pamit meninggalkan semuanya. Hanya Lilian yang terlihat sedih saat ini.
Ehmm Soni berdehem, mengoda wanita itu, yang sejak tadi memperhatikan pria tersebut.
Wanita itu melirik Soni dan Azka, ia kembali cemberut.
"Emak-emak ini kenapa lagi?" tanya Soni bingung.
Laki-laki tersebut tersenyum, ia mendekati Lilian yang masih cemberut, "Cogan itu, duda loh," bisiknya kepada Lilian.
Wajah Lilian, sumeringah mendengar ucapan bosnya itu, "Sungguh?" tanyanya melirik laki-laki itu.
Laki-laki itu pun tesenyum dan melangkah meninggalkan ruangan itu.
Soni mengelengkan kepalanya, ia tak tau apa yang di ucapkan laki-laki itu, sampai membuat emak-emak itu moodnya berubah.
🍀🍀🍀🍀
Pria itu melangkah pergi dari Resto milik Azka. Ia menghembuskan nafas panjang memikirkan hidupnya yang seperti ini. Usianya sudah tak muda lagi, namun ia harus mencari kerja lagi. Ia menyesali semua yang terjadi kepadanya, andaikan ia tak melakukan kesalahan itu, ia tak mungkin kehilangan istri dan anaknya. Pria itu pun berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia akan berubah dan memulai hidupnya yang baru.
🍀🍀🍀🍀
__ADS_1
Wanita itu, mulai tak fokus dengan pekerjaannya hatinya bergetar kembali setelah melihat, pria itu untuk pertama kalinya. Ada sesuatu yang berbeda dari pria itu, yang membuatnya tak mengerti. Ia bingung mulai memikirkan pria yang baru ditemuinya tiga puluh menit yang lalu. Ia tersenyum mengingat, gadis bernama Darania iya berterima kasih karna, membawa pria itu datang kepadanya. Gadis itu, selalu membawa kebahagiaan untuknya. Kalau dipikir lagi, wanita itu mulai merindukan padahal baru kemarin ia menelpon gadis itu. Bagi wanita itu, gadis itu gadis yang luar biasa. Sedangkan ia hanya seorang janda beranak dua. Ia tak punya apa-apa selain dua putrinya. Rumah pun tak punya, ia masih mengontrak rumah. Selama tujuh tahun ia bekerja bersama Azka. Suaminya sudah membawa kabur hartanya bersama selingkuhnya, dari saat itu hatinya hancur sehancur-hancurnya ia tak percaya lagi kepada laki-laki pengkhianat itu. Selama tujuh tahun juga, ia mencoba membesarkan kedua putrinya sendiri. Tak ingin mengingat sakit hati itu karna, mantan suaminya. Yang sampai sekarang dia tak pernah menceraikanya. Dia meninggalkanya bersama wanita lain yang menurutnya lebih dari segalanya dari wanita itu. Ia berusaha menutup hatinya. Perasaannya saat itu sama dengan perasaan bosnya Azka. Namun masih lebih mending wanita itu dari pada bosnya. Setidaknya ia masih bisa melihatnya bahagia bersama orang lain. Dari pada tak bisa melihat lagi selamanya. Perlahan semua mendapatkan kebahagiaan mereka sendiri, sekarang tinggal ia yang tersisa. Wanita itu mulai memikirkan dirinya sendiri. Ia juga harus bahagia sama seperti yang lainnya. Ia tak bisa sendiri sekamanya. Wanita tersebut membutuhkan pendamping hidup yang cocok untuk bisa menjaganya, menemaninya di sisa-sisa waktunya yang mulai tinggal beberapa tahun lagi ia hidup. Ia menginginkan bahagia datang dalam hidupnya.
Bersambung...