
Azka dan Arya masih mengikuti Darania yang berlari melihat orang yang pingsan di jalan. Darania begitu terkejut dengan apa yang di lihatnya itu.
"Papah" pangil Darania lirih.
Azka dan Arya saling melihat dan keduanya mengejar Darania yang sedang menangis melihat kondisi Aldi tak sadarkan diri.
Darania menangis, tak tega dan tak kuat melihat kondisi Aldi-Ayah Darania. Mamah Yesa penasaran dengan orang yang pisan itu, segera turun dari mobil di susul Ibu Arisa.
Begitu terkejutnya mereka berdua saat ambulance datang, membawa orang itu. Dan Darania ikut masuk Ambulance itu bersama Azka.
Deg,
Hati Mamah Yesa, bergetar. Pikiranya melayang. Hanya bisa menebak-nebak siapa orang yang pisan itu. Arya berlari menuju mobilnya, menyuruh Mamah Yesa dan Bu Arisa untuk segera naik mobil.
Arya belum bisa menjelaskan saat, Mamah Yesa bertanya "Siapa orang yang pingsan di tengah jalan itu?". Arya tak menjawab Ia hanya menyetir menuju rumah sakit.
Arya tau mau so tau. Arya hanya ingin Mamah Yesa yang melihat sendiri. Siapa orang yang pingsan itu?. Melihat reaksi Darania tadi, sepertinya benar!. Kalau laki laki yang pindah itu Papahnya Darania.
Arya tak bisa menjawab pertanyaan Mamah Yesa, karna, selama berteman dengan Darania dan Nadia. Arya belum pernah bertemu dengan Aldi-Ayah Darania.
Soni memperhatikan Arya yang begitu serius mengejar ambulance di depannya. Mamah Yesa, masih terus menangis. Sedangkan Bu Arisa terus menenangkan Mamah Yesa. Malahan Mamah Yesa, menyenderkan kepalanya di pundak Ibu Arisa.
Nadia hanya diam tak ikut beraksi. Tanpa suara. Nadia bingung, harus berbicara apa?. Nadia tak ingin salah berbicara. Dari pada salah berbicara lebih baik diam saja.
Sampai di rumah sakit, Mamah Yesa dan Ibu Arisa buru-buru turun. Mereka berjalan menuju ruang UGD. Di luar ruang UGD, Darania sedang menangis sambil memeluk Azka. Begitu Mamah Yesa sampai, Darania langsung memeluk Mamah Yesa.
"Mamah., Papah, Mah", guman Darania terus menangis memeluk erat Ibunya.
__ADS_1
Mamah Yesa, memeluk putrinya. Ternyata tebakannya benar, orang yang pingsan di pinggir jalan lain, suaminya. Mamah Yesa ikut menangis.
Ibu Arisa, Azka, Arya, Nadia dan Soni hanya terdiam melihat Ibu dan anak ini. Menangis bersama Karna, melihat kondisi orang yang dicintai mereka dengan kondisi seperti itu.
Azka mengepal tanganya, begitu kuat Ibas sudah benar-benar membuat Azka murka. Namun saat ini, Azka ingin mendengar langsung dari Papahnya Darania. Siapa yang menyekapnya selama lima bulan ini.
Aldi-Ayah Darania masih di ruang UGD. Papah Aldi belum siuman sama sekali. Kondisinya semakin melemah.
Di sisi lain, Ibas begitu murka. Aldi kabur dari tempat ia di sekap. Ibas tak tau, kalau Darania sudah menemukan Aldi-Ayahnya. Ibas kesana- kemari mencari Vivian. Tapi Vivian tak ada di mana-mana.
Ibas tak tau, Vivian bersembunyi di ruang ganti, yang jarang sekali Ibas datangi. Vivian tadi pulang untuk mengambil baju dan putri mereka. Tapi Ibas sudah membawa pergi anak mereka. Entah di bawa kemana bayi mereka.
Vivian dulu begitu membenci bayi yang ia lahirkan itu. Namun setelah dipikir lagi. Vivian jadi merindukan putrinya. Vivian tak tau, di mana putrinya berada hanya Ibas yang tau.
Yang jelas, Vivian harus segera keluar dari rumah Ibas. Vivian tak ingin Ibas menemukanya. Karna, Vivian tau!, bila Ibas menemukan Vivian. Habis sudah hidup Vivian.
Para pembantu pun hanya diam saja di pojok dapur. Mereka takut untuk melihat Tuanya sang sedang marah seperti ini.
Ibas masih berpikir untuk mencari kemana, Aldi-Ayah dari Darania. Yang Ibas takutkan Darania sudah menemukan Ayahnya. Kalau sampai mereka menemukan Aldi-Ayahnya Darania. Sudah di pastikan, Ibas akan masuk penjara.
Apalagi tadi Doni bilang, rencananya tadi gagal. Kalau sampai Doni masuk penjara, berarti tinggal nunggu waktu saja, tinggal Ibas yang harus bersiap untuk masuk penjara.
Ibas mencari dokumen-dokumen kepemilikan surat. Perusahaan dan rumah yang ditempatinya sekarang itu. Rumah milik Darania. Namun dokumen-dokumen itu, tak ada sama sekali.
Ibas melempar barang yang di lihatnya lagi. Ibas kalah cepat dengan Vivian. Ibas kenal betul sifat Vivian. Wanita itu, tak ingin hidup susah. Apalagi, orangtuanya lagi dalam keadaan goncang.
Saham yang di miliki orang tua Vivian sedang anjlok. Cepat atau lambat. Mereka akan jatuh miskin. Ibas begitu kesal saat ini. Namun Ibas harus segera kabur. Sebelum polisi datang.
__ADS_1
Ibas segera bersiap-siap untuk kabur. Terdengar dari luar suara pintu di ketuk.
Tok Tok Tok
Para pembantu itu, berjalan untuk membuka pintu, rumah Ibas. Mereka sedikit ketakutan setelah mereka membuka pintu. Tenyata dua orang petugas Polisi.
Ibas terkejut, begitu melihat dua Polisi itu, Ibas mencoba berlari namun Polisi lebih cepat dari Ibas. Ibas pun di tangkap. Atas tuduhan penculikan dan penipuan. Polisi sudah membawa surat penangkapan untuk Ibas.
Vivian masih belum berani keluar dari persebunyianya. Vivian masih takut dengan Ibas. Vivian menangis sambil memegang dokumen-dokumen surat kepemilikan Perusahaan milik Darania dan Rumah yang di tempatnya sekarang. Dan juga surat kuasa, yang mengatakan semua aset milik Aldi-Ayahnya Darania jatuh ke tangan Ibas.
Padahal, Aldi-Ayah Darania tak pernah mewariskan semua aset miliknya pada Ibas. Semua milik Darania sebagai anak semata wayang Aldi dan Yesa. Sebagai orang tua syah dari Darania.
Dokumen-Dokumen penting, sudah di tangan Vivian. Vivian sudah berniat akan mengembalikan semuanya pada Darania. Vivian sudah tak ingin kekayaan lagi. Vivian sudah menyadari harta yang banyak tak membuat Vivian bahagia.
Vivian masih menangis, Vivian bingung harus kemana lagi?. Vivian takut Ibas menemukan. Vivian menghapus air matanya. Samar-samar Vivian tak mendengar suara ribut-ribut lagi dari ruangan depan. Vivian ingin segera keluar. Namun masih takut. Kalau Ibas masih ada di rumah ini.
Perlahan Vivian keluar dari ruang ganti itu, berjalan begitu pelan. Di tanganya masih mengenggam dokumen-dokumen penting milik Darania. Vivian berjalan begitu pelan ingin melihat situasi sudah aman apa belum. Karna, sudah tak mendengar suara berisik apapun.
Vivian benar-benar berjalan perlan, di lihatnya Ibas sudah tak ada di kamarnya. Vivian buru-buru keluar dari kamar Ibas. Vivian berjalan begitu pelan, melihat kesekeliling, kali ini, Vivian seperti seorang pencuri yang mengendap-endap keluar. Vivian tak ingin memeriksa di mana Ibas berada. Yang Vivian inginkan hanya segera keluar dari rumah ini dan menemui Darania.
Saat Vivian sedang berjalan ke arah luar. Seseorang menepuk punggung Vivian. Vivian begitu terkejut tak berani menoleh ke belakang. Vivian begitu takut. Vivian hanya berdiri mematung tanpa tau, siapa yang menepuk punggungnya?.
Bersambung...
Jangan lupa like nya...
Mampir juga ke novel Author yang lain, "Irani Gadis Indigo" dan "Kisah Kita" Terima kasih.
__ADS_1