
Setelah melihat Vivian dan bayi perempuan nya selamat. Ibas langsung bergegas mencari Darania dan Azka. Bagaimana pun juga, Ibas tak akan berhenti mengusik hidup Darania selama, Darania masih bersama Azka.
Sampai rumah, Azka terus memikirkan Ibas. Dari caranya menguntit, Darania. Membuat Azka jadi tak tenang. Azka mulai takut, dengan keselamatan Darania.
Bu Arisa, mendekati Azka yang sedari melamun setelah pulang jalan jalan bersama Darania tadi.
"Kamu kenapa Sayang?" Tanya Bu Arisa yang memperhatikan Azka yang sedari tadi melamun.
Azka masih terdiam, Tak mendengar pertanyaan sang ibu. Karna terlalu fokus untuk memikirkan Darania.
"AZKA" Panggil Bu Arisa dengan nada yang lebih tinggi dari pertanyaan tadi.
"Eh, Ibu" Guman Azka terkejut, Karna Bu Arisa sudah ada di sampingnya.
Bu Arisa mengelengkan kepalanya. Azka Tersenyum malu.
"Kamu kenapa sih??" Tanya Bu Arisa lagi.
Azka terdiam, Bingung harus memceritan di mulai dari mana. Pasti Ibunya tak percaya kalo suami dari Vivian, Mantan Tunangannya Darania. Dan sekarang malah menggangu Darania.
"Azka, kamu dengerin ini kan??" Tanya Bu Arisa lagi.
Azka Tersenyum,
"Bu, gimana kalo Darania dan Mamah Yesa tinggal bareng kita. Aku tak mau jika mereka harus mengontrak Rumah. Kan Sekarang Darania sudah jadi Calon istri Azka" Tutur Azka memberi alasan yang pas. Untuk ibunya. Karna Azka tak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Ibu Arisa.
"Ehm"
"Boleh, Darania dan Yesa bisa tinggal di rumah belakang yang kemarin baru kosong setelah yang kontraknya pindah". Saran Bu Arisa.
"Makasih yah Bu, udah ngizinin. Darania dan mamah Yesa to tinggal sini" Ucap Azka lagi merasa bahagia. Dengan begitu, Darania dan Mamah Yesa bisa aman. Membuat Azka tenang. Setidaknya, Ibas tak akan bisa mengangu Darania lagi.
__ADS_1
Bu Arisa Tersenyum.
Azka melihat Darania sedang mengobrol dengan Mamah Yesa. Dari jauh, Azka begitu tenang melihat Darania. Gadis itu, telah membuat Azka jatuh cinta berkali kali. Andai saja, Azka lebih dulu bertemu dengan Darania, mungkin sekarang sudah menikah. Akh Azka malu memikirkan itu. Wajahnya memerah seketika.
Darania melihat Azka. Darania tak menyangka, kalo sekarang, Darania bisa bertemu lagi dengan cinta pertamanya. Sekarang Azka calon suaminya. Sungguh seperti mimpi saja.
Azka Tersenyum, melihat Darania. Begitu juga, Darania. Yang membalas senyuman manis Azka. Azka pun, berjalan ke arah Darania dan Mamah Yesa.
Azka langsung duduk disamping Darania. Darania dan Mamah Yesa Tersenyum melihat Azka.
"Aku udah bilang Ibu!."
"Mulai besok, Darania dan Mamah Yesa bisa tinggal di rumah belakang"
Darania dan Mamah Yesa saling melihat satu sama lain. Maksud Azka itu apa?. Membuat mereka tak mengerti.
"Apa ini, tak terlalu cepat Nak. Mamah sama Dara bisa tinggal di kontrakan kok!" seru Mamah Yesa.
"Tapi.." potong Darania.
"Ga ada tapi tapian. Lagian ibu udah setuju. Jadi kapan kalian akan pindah kesini??"
Darania terdiam dan Mamah Yesa. Ibu dan anak ini, terlihat bingung.
"Gini aja, kalian kasih aku kunci rumah kalian, biar aku yang urus barang yang akan di bawa pindah kesini" tangkas Azka lagi.
Mamah Yesa yang masih bingung. Memberikan kunci kontrakannya pada Azka. Azka yang menerima kunci kontrakan itu. Langsung mengambilnya. Secepat kilat, Azka pergi. Azka tak mau mendengar penolakan Darania dan Mamah Yesa.
"Mah, kok malah di kasih sih, kuncinya??" Tanya Darania.
"Abis kita bisa apa, Dara??".
__ADS_1
"Aku ga enak ma Ibu Arisa".
"Mamah juga, sama. Tapi mau gimana lagi?. Kita tak bisa menolaknya".
Darania terdiam. Sebenarnya bukannya ga mau tinggal bareng Azka. Tapi Darania lebih ke malu saja. Darania malu pada ibunya Azka. Takut di sangka matre. Darania takut dengan pandangan orang terhadap dirinya. Pasti orang orang akan berpikir macam macam tentang Darania dan Mamah Yesa.
"Udah, kamu jangan melamun. Kita manut sajalah". ucap Mamah Yesa menenangkan hati Darania yang masih terlihat bingung.
Sekarang Ibas sudah berada di sekitar rumah Azka. Ibas sudah melihat sebuah mobil yang keluar dari rumah itu. Ibas langsung mengikuti mobil itu. Karna Ibas yakin, Mobil itu ada Azka dan Darania.
Semenjak pertemuannya dengan Darania kemarin di rumah sakit. Ibas menjadi penguntit. Ibas selalu mengikuti Darania. Ibas tak ingin kehilangan Darania lagi. Ibas tau, Darania sudah di lamar Azka. Tapi tetap saja. Ibas akan terus menggangu hubungan Darania dan Azka. Sampai Darania kembali ke padanya.
Azka masih menyetir. Azka melihat di kaca spionnya ada mobil yang mengikuti nya. Azka Tersenyum sinis. Azka tau, mobil siapa itu?. Azka sengaja membawa mobilnya berputar putar. Untuk mengalihkan Ibas merusak rencana Azka. Azka tau, Ibas akan selalu mengangu Darania dan Azka.
Selagi Azka berputar putar. Mobil lain, menuju kontrakan rumah Darania. Dan orang suruhan Azka. Yang memindahkan semua barang barang Darania dan Mamah Yesa. Menuju mobil angkut yang di bawa oleh orang suruhan Azka.
Azka sengaja membuat Ibas kesal dengan terus berputar putar. Mengelilingi kota yang dengan waktu cukup lama.
Di mobil Ibas, Ibas benar benar kesal. Kali ini, Azka sudah benar benar mengerjai Ibas. Beberapa kali, Ibas memeluk setirnya karna Azka membuat Ibas terjebak macet yang begitu padat. Maklum Weekend. Setiap kota besar pasti di landa kemacetan yang padat merayap.
Azka melihat, mobil Ibas sudah jauh tertinggal dari Mobil Azka. Azka menelpon orang suruhan Azka. Untuk memastikan barang barang Darania dan Mamah Yesa sampai dengan aman ke rumahnya Azka.
Ternyata, orang suruhan Azka. Sudah sampai kerumah Azka. Dan segera membereskan seluruh barang barang Darania dan Mamah Yesa kerumah yang baru yang hanya di dekat kemari. Sekarang Darania dan Azka tinggal satu atap. Hanya beda pintu.
Bu Arisa juga, sudah meminta izin pada rt/rw setempat untuk kepindahan Darania dan Mamah Yesa. Dan menjadi warga yang sama dengan Azka.
Azka langsung pulang. Setelah tak di lihat lagi mobil Ibas. Ibas benar benar kali ini. Azka sudah membuatnya murka. Iba benar benar terjebak macet. Sudah tak ada jalan keluar lagi. Ibas terus terusan marah marah sendiri di dalam mobilnya. Azka benar benar sudah membuatnya kesal. Ibas berjanji pada dirinya sendiri. Akan segera membalas perbuatan Azka pada nya suatu hari nanti. Sekarang masalah nya sampai kapan Ibas terjebak dalam kemacetan ini. Ibas benar benar terjebak. Sama sekali tak bisa keluar. Ibas masih marah marah sendiri. Berkali kali juga memarahi pengendara lain karna Ibas benar benar tak bisa keluar dari jalan ini. Oh sungguh kasihan Ibas. Mungki kata itu yang cocok untuk Ibas sekarang.
Bersambung.
Jangan lupa like...
__ADS_1