
Vivian benar-benar tak berani menoleh. Vivian takut, kalau yang di belakang itu Ibas.
"Vivian" pangil seseorang, suara yang tak asing bagi Vivian.
Perlahan, Vivian menoleh, ternyata yang di belakangnya itu, Arya dan Soni.
"Arya" ucap Vivian langsung memeluk Arya sambil menangis. Vivian benar-benar ketakutan tadi kalau yang menepuk pundaknya itu, Ibas.
Arya bingung dengan sikap Vivian. Vivian melepaskan pelukannya.
"Arya, bawa aku pergi, aku takut di sini takut dengan Ibas" guman Vivian sambil menangis.
Arya dan Soni tertawa melihat reaksi Vivian.
"Kalian kenapa?" tanya Vivian jadi bingung.
"Kamu tenang saja, Ibas sudah masuk Hotel Prodeo" guman Arya sambil tersenyum.
"Benarkah" guman Vivian lagi, sumeringah.
"Kamu tenang saja, sekarang kamu aman"
Namun Vivian masih terlihat sedih. Vivian teringat dengan putrinya. Vivian tak tau, Ibas membawa putrinya kemana?
"Kamu kenapa, Vi?" tanya Arya lagi.
"Aku kangen Luna. Sudah beberapa hari ini, Aku tak bertemu Luna" guman Vivian terlihat sedih.
Arya tersenyum.
"Ayo" ajak Arya mengajak Vivian untuk pergi dari rumah Ibas.
Vivian masih melamun. Menggenggam erat dokumen-dokumen itu dari tangannya. Soni begitu penasaran, tentang apa yang di genggaman Vivian.
"Vi, di tanganmu itu apa?" tanya Soni penasaran.
"Ini, milik Darania. Aku ingin memberikan ini secara langsung" ucap Vivian.
Vivian masih saja, melamun Vivian teringat dengan Luna. Sedangkan Arya hanya tersenyum saja.
__ADS_1
Arya membawa, Vivian ke rumah sakit. Vivian semakin bingung. Dengan datang ke rumah sakit.
"Siapa yang sakit Ya?" tanya Vivian bingung.
"Kamu ingin bertemu Daraniakan!" seru Arya.
"Aku ingin bertemu Darania. Tapi ga usah dech, Aku malu. Aku nitip ini aja sama kamu" ucap Vivian memberikan dokumen-dokumen itu, pada Arya.
Vivian mulai turun duluan. Namun Arya segera menghentikan Vivian.
"Kamu mau kemana?" tanya Arya memegang tangan Vivian.
"Aku malu jika harus ketemu Darania!" seru Vivian menunduk.
"Bukan Darania yang ingin ketemu kamu!" seru Arya sambil tersenyum.
"Siapa?" tanya Vivian bingung, dengan ucapan Arya.
"Makanya ikut aku dulu" guman Arya.
Arya berjalan di depan dan Vivian mengikuti Arya di depan. Vivian masih bertanya-tanya siapa yang ingin bertemu dengan Vivian. Semakin Vivian berpikir semakin Vivian bingung.
Namun jantung Vivian terus saja berdebar. Vivian semakin deg deg deg kan. Siapa yang ingin bertemu dengannya?.
Arya masuk ke ruang bayi. Di sana semua yang masuk harus cuci tangan dan harus memakai pakaian yang khusus. Vivian mengikuti Arya tanpa bertanya. Arya memakai masker penutup kepala dan pakaian khusus. Vivian mengikuti Arya.
Clek
Arya membuka pintu, ruangan khusus bayi. Di dalam ada seseorang yang sedang mengendong Bayi. Sambil menimang-nimang bayi perempuan.
Vivian terkejut, dan mulai meneteskan air matanya. "Luna" pangil Vivian pada Bayi yang sedang digendong seseorang itu.
Vivian mengambil bayi perempuan itu, dari laki-laki yang sedang mengendong Luna.
"Luna sayang, Ibu kangen kamu nak" tangis Vivian pecah, saat bisa melihat kembali putrinya."Maafkan Ibu Nak" guman Vivian lagi. Sambil terus menciumi Bayi perempuan yang baru berusia satu bulan itu.
"Tiga hari yang lalu, Luna terlantar di dekat Bandara. Seseorang yang membawa bayi itu, kabur setelah tak bisa memberikan identitas yang jelas pada pihak Beacukai. Tiga hari yang lalu, kondisi Luna begitu parah. Terkena, dehidrasi akut. Untung apa Pak Polisi Ken dengan sigap membawanya ke rumah sakit" tutur Arya menjelaskan.
"Terima kasih sudah menyelamatkan putriku" ucap Vivian sambil terus menangis.
__ADS_1
Ken melihat Vivian. ternyata Ibu dari bayi yang di tolong Ken tiga hari yang lalu. Ternyata setelah menolong Vivian. Ken juga, menolong putrinya. Dalam satu hari Ken sudah menolong Ibu dan anak itu.
Ken terus memperhatikan Vivian. Rasa iba ingin menolong Vivian dan Bayinya begitu kuat dan besar. Mungkin benar, Ken sudah terlanjur jatuh cinta pada Ibu dan anaknya ini.
Ken berpikir, ingin terus bersama dengan Vivian dan bayi itu. Lagi pula Ken sudah lama menduda. Istri dan anaknya meninggal lima tahun yang lalu karna, sebuah kecelakaan. Ken sudah tak punya siapapun begitu juga Vivian dan Bayinya.
Suami Vivian begitu bejat. Tak bisa menjaga istri dan anaknya. Tak pantas dipertahankan. Ken menjadi marah dan emosi dengan suami Vivian dan ayah dari anaknya Vivian.
Vivian masih menciumi Luna. Vivian berjanji akan menjaga Luna dan tak akan meninggalkan Luna lagi.
Arya meninggalkan Vivian dan Ken di ruangan bayi itu. Arya ingin melihat keadaan Papahnya Darania. Arya sendiri penasaran ingin melihat Papahnya Darania.
Darania masih menangis, saat kondisi Papahnya semakin parah. Darania dan Mamah Yesa baru saja, bertemu Papahnya setelah lima bulan berpisah. Darania tak ingin kehilanganmu Papahnya.
Darania terus-terusan menangis. Membuat Azka ikut menangis. Papah Aldi sudah tak bisa menerima nutrisi dari makanan yang masuk tubuhnya. Setiap ada yang masuk pasti akan langsung keluar lagi. Di tambah lagi, dari kemarin kondisinya semakin parah.
Soni terdiam sambil memegang dokumen-dokumen yang di bawa Vivian tadi. Soni tak berani membuka itu. Namun Soni yakin dokumen-dokumen ini penting.
Soni bingung, bagaimana memberikan dokumen-dokumen ini pada Darania?. Arya dan Nadia sudah pulang duluan. Mereka merindukan Alinea. Tinggal Azka, Ibu Arisa, Darania, Mamah Yesa dan Soni.
Elis sudah menelpon Soni, mau pulang atau tidak. Tapi Soni bingung. Soni tak bisa membawa pulang dokumen-dokumen itu. Soni tak mau jadi pertanyaan. Soni harus memberikan pada Darania.
Mamah Yesa memperhatikan Soni yang terlihat bingung. Mamah Yesa mendekati Soni.
"Nak Soni kenapa?" tanya Mamah Yesa.
Soni tersenyum, Soni berpikir "Kenapa tak memberikan dokumen-dokumen ini, pada Mamahnya Darania?"
"Tante, tadinya aku bingung dengan ini!" seru Soni masih memegang dokumen-dokumen itu, di tanganya.
"Memang itu, apa?" tanya Mamah Yesa penasaran.
"Aku juga tidak tau Tante, tadi Vivian menyuruh Arya yang memberikan ini pada Darania. Tapi Arya malah pulang duluan" ucap Soni memberikan dokumen-dokumen itu, pada Mamah Yesa.
Mamah Yesa, menerima dokumen-dokumen itu, yang di berikan Soni. Mamah Yesa membuka dokumen-dokumen itu, begitu terkejutnya, Mamah Yesa. Setelah melihat dokumen-dokumen itu. Semua dokumen-dokumen itu, surat-surat dari kepemilikan Perusahaan, tanah dan rumah dan beberapa properti milik suaminya yang di rampas Ibas dulu.
Mamah Yesa, meneteskan air matanya. Merasa terharu karna, kini semua yang di ambil Ibas. Sudah kembali lagi padanya. Sekarang baik Darania dan Mamah Yesa bisa kembali ke rumahnya dan Darania bisa memimpin kembali Perusahaan yang sudah Ibas rampas.
Bersambung...
__ADS_1
Like nya jangan lupa yah dan Mampir juga ke karya Author yang lain. "Irani Gadis Indigo" dan "Kisah Kita. Terima Kasih.