Ketika Cinta Datang Season 2

Ketika Cinta Datang Season 2
Chapter 38 Stella & Soni


__ADS_3

Setelah selesai mengerjakan pekerjaannya laki-laki tersebut beranjak dari tempat kerjanya.


"Mau kemana Mas?" tanya Lilian, mengerutkan keningnya, melihat laki- laki itu, bergegas membawa tasnya beranjak pergi.


"Aku izin Mba?" jawabnya singkat.


"Kemana?" tanya Lilian penasaran.


Tanpa menjawab, ia tersenyum pergi meninggalkan ruangan itu.


Darania melihat Lilian menggelengkan kepalanya. Mereka berdua penasaran dengan sikap laki-laki itu, setelah kehadiran gadis cantik itu, Stella.


Elis, benar-benar terbakar api cemburu. Ia teringat dengan Stella. Pikiranya terus-menerus berpikir tentang gadis itu, bersama laki-laki yang dicintainya. Perasaannya campur aduk, antara kesal, marah dan tentunya cemburu. Namun mau gimana lagi? Gadis itu, tak bisa berbuat apa-apa? Karna, laki-laki tersebut bukan siapa-siapa baginya.


Stella duduk menikmati jus jeruknya saat laki-laki itu, menghampirinya.


"Lama nunggu!" seru laki-laki tersebut duduk disebelah Stella.


Stella menganguk pelan, hampir dua jam gadis itu menunggunya.


"Ayo," ajaknya sembari menari tangan gadis tersebut. Gadis itu pun beranjak dari tempat duduknya. laki-laki itu, beranjak diikuti Stella. Sebelumnya, laki-laki tersebut meminta kasir memasukan tagihan Stella kedalam tagihannya. Keduanya pun berjalan keluar menuju tempat parkir, untuk mengambil motornya.


Sepasang mata melihat mereka dengan begitu kesal. Hatinya benar-benar cemburu menguras hatinya yang sakit. Elis menangis dalam diam tak bisa berbuat apapun, untuk mencegah mereka untuk tak pergi.


🍀🍀🍀🍀


"Kita mau kemana, La?" tanyanya sembari mengendari motornya.


"Terserah kamu aja, aku ikut saja," jawabnya sambil memeluk erat tubuh laki-laki tesebut diatas motor yang ia kendarai.


Stella memikirkan Azka, hanya laki-laki tersebut yang ada dalam hatinya, walaupun sikapnya cuek dan tak peduli kepadanya.


"Kalau aku ajak kamu ke hotel, Mau?" godanya sambil tersenyum.


"Nakal yah kamu!" seru gadis itu, sambil mencubit pinggang laki-laki tesebut.

__ADS_1


"Aww, kita, mau ke mana?" tanya lagi.


"Aku bilang terserah."


"Ke hotel gimana?"


"Soni."


"Katanya terserah aku!"


"Tapi tidak ke hotel juga kali."


"Aku bingung, kalau kamu jawab terserah terus."


"Ya udah, ke apartemen aku saja."


"Tunjukan jalannya, di mana?"


Beberapa saat kemudian, Soni bersama Stella sampai di apartemen miliknya yang tepat berada di tengah kota.


"Waw, keren banget," pujinya melihat pemandangan di atas lantai tiga puluh. Seluruh kota terlihat jelas.


"Aku suka banget, rasanya rasa lelahku hilang sudah, betah aku tinggal di sini."


Stella terdiam, gadis itu, tak sebahagia Soni. hatinya masih memikirkan Azka, ia berpikir bukan Soni yang menemaninya sekarang.


"Hey," ucap laki-laki itu, membuyarkan lamunan gadis itu.


Stella tersenyum melihat Soni.


"Kan ada aku di sini, jangan memikirkan yang lain dong," ucap laki-laki tersebut sembari memeluk tubuh cantik gadis itu, laki-laki itu, tau gadis yang ada dihadapannya itu, sedang memikirkan laki-laki lain.


Gadis tersebut memcoba mepaskan pelukan laki laki itu, namun laki-laki itu semakin erat memeluknya.


" jangan seperti ini," ucapnya mulai pasrah tak ingin laki-laki tesebut melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Terus aku harus bagaimana?" ucapnya sembari menarik wajah gadis itu, dengan lembut membuat keduanya saling berpandangan secara intens.


Gadis itu, memalingkan wajahnya, namun laki-laki tersebut menarik kembali wajahnya. Sepasang mata mereka bertemu memandang satu sama lain. Saling mengangumi wajah masing-masing.


Pikiran laki-laki itu, mulai liar kemana-mana. Laki-laki tersebut mulai mencium bibir gadis itu dengan lembut. Awalnya gadis itu menolak. Laki-laki terus memaksanya ia sudah tak bisa menahan hasratnya sendiri untuk bercinta dengan gadis itu. laki-laki itu, benar-benar sudah berpikir kotor tentang gadis yang ada dihadapannya. Ia terus memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada gadis itu, membuat gadis itu tak bisa berkata-kata lagi. Laki-laki tersebut mulai nakal memasuki setiap bagian tubuh gadis itu. Gadis itu, hanya bisa pasrah dengan sentuhan itu, gadis itu pun tak bisa menolak semua rasa dalam hatinya untuk tak tergoda dengan laki-laki.


Kini keduanya, sudah bertempur dengan pikiran liar keduanya, melakukan hubungan terlarang yang tak bisa ditolak oleh keduanya. Memadu kasih satu sama lain. Bersatu tanpa ikatan cinta. Hanya hasrat yang menggebu dalam pikiran mereka untuk lagi dan lagi. Merasakan cinta, tanpa rasa cinta yang tulus dalam hati mereka.


Laki-laki tersebut memejamkan matanya setelah lelah memadu kasih dengan gadis itu. Keduanya sudah polos hanya berbalut selimut yang menempel di tubuh keduanya.


Hasrat laki-laki itu, sudah tersalurkan dengan gadis cantik itu, laki-laki itu benar-benar puas merasakan indahnya pertempuran di atas ranjang. Ruangan itu menjadi saksi kisah mereka, tanpa ikatan rasa cinta dalam hati keduanya. Soni mau pun Stella hanya membutuhkan satu sama lain.


"Harusnya kita, tak seperti ini," gumamnya membuka matanya perlahan setelah lelah dengan pertempuran dahsyat di atas ranjang apartemen milik Stella.


"Kamu menyesal," tanya laki-laki melirik wajah gadis itu.


Stella terdiam, ia berpikir, "Tak seharusnya ia mengajak Soni untuk datang ke apartemennta."


"Mending kamu pilih aku saja," goda laki-laki itu, sembari mencium kening gadis itu dengan lembut, saat keduanya masih polos hanya berbalut selimut, yang menutupi tubuh keduanya.


Gadis itu tersenyum, sembari memeluk tubuh laki-laki tersebut, "Tetap saja, kita tak bisa bersama," ucapnya kecewa.


"Kenapa?" tanyanya penasaran.


"Aku kesini ingin bertemu Azka untuk terakhir kalinya. Karna bulan depan, Aku harus tunangan dengan laki-laki pilihan Papah untuk Pernikahan Bisnis. Aku ingin menghabiskan waktu bersama Azka? Namun kenyataan aku malah menghabiskan waktu bersamamu," ucap gadis itu, panjang lebar sambil menangis.


Soni semakin erat memeluk Stella. Laki-laki itu tak bisa berbuat apa-apa? Laki-laki tesebut merasa kasihan kepada gadis itu. Ia tak mencintai gadis itu, laki-laki itu, membutuhkan tubuhnya saja, untuk memenuhi hasratnya sebagai laki-laki tak lebih dari itu.


"Jadi ini, terakhir."


"Yah, Aku sudah meminta izin, kepada papah untuk datang ke sini. Setelah ini, Aku harus balik lagi ke rumah."


"Yah sangat disayangkan," ucapnya, mencium bibir Stella.


Keduanya, melakukan itu lagi. Perpisahan untuk yang terakhir kalinya. Laki-laki itu, menyentuh kembali, tubuh gadis itu. Laki-laki benar-benar ingin merasakan keindahan tubuh gadis itu, untuk yang terakhir kalinya. Doni tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang tak datang dua kali. Laki-laki itu, tak peduli dengan apa yang terjadi pada gadis itu. Laki-laki itu, hanya ingin merasakan tubuhnya saja.

__ADS_1


Hanya itu, yang ada di pikirannya. Merasakan tubuh milik gadis secantik Stella. Soni tak ingin memikirkan yang lain. Tak ada yang bisa ia perjuangkan. Karna, laki-laki itu, tak memcintainya.


Bersambung...


__ADS_2