Ketika Cinta Datang Season 2

Ketika Cinta Datang Season 2
Chapter 56 Masih Tentang Cinta.


__ADS_3

Soni masih berdiri di luar pintu ruangan Azka. Laki-laki itu tak ingin menggangu Azka. Laki-laki tersebut sudah melihat semuanya.


"Son, ko kamu masih di luar. Benarkan ini ruangan Mas Azka," tanya Lilian menengok Azka bersama Shintia dan Elis.


Hmmm, "Ada Darania didalam, Aku tak mau menggangu mereka," ucapnya masih bingung.


Lilian tersenyum.


"Yah, sudah nanti saja kita masuknya," ucap Lilian duduk di bangku depan ruangan Azka.


Laki-laki itu melirik Elis, namun seketika gadis itu berpaling. Gadis tersebut tak ingin merasakan sakit hatinya lagi, dengan membiarkan hatinya luluh kembali.


🍀🍀🍀🍀


Sementara itu, Arisa berjalan jauh dari ruang Azka. Disusul oleh Dokter Farhan yang sejak tadi mengejarnya. Dokter Farhan, menarik tangan Arisa untuk berhenti, "Stop Arisa, Kamu kenapa?" tanya Dokter Farhan tak mengerti dengan sikap Arisa yang berubah menjadi jutex dan sinis.


"Kenapa kamu, langsung melamar aku di depan Azka. Harusnya kamu tanya dulu sama aku!" seru Arisa. Merasa bingung, kesal dan semua rasa menjadi satu.


"Apakah aku salah, Arisa?" tanya Dokter Farhan kecewa dengan ucapan Arisa. matanya mulai berkaca-kaca, pria itu sudah salah paham dengan Arisa.


"Kamu, tak salah? Harusnya kamu memberitahuku terlebih dahulu. Jangan membuat aku malu di depan anak dan calon menantuku Han," ungkap Arisa wajahnya memerah karna, malu.


Dokter Farhan sedari tadi terlihat sedih. Kini terlihat bahagia. Arisa bukan menolaknya, wanita itu hanya malu dengan pengakuannya yang tiba-tiba melamarnya.


"Kenapa harus malu. Kita sudah tua. Bukan anak baru gede yang masih main-main. Kira sudah cukup tua untuk itu!" seruDokter Farhan mengoda wanita itu.


"Ucapanmu tadi membuatku malu, Farhan."


"Maafkan aku yang langsung to the poin pada putra sulungmu, Aku hanya ingin mengungkapkan isi hatiku yang selalu untukmu."

__ADS_1


"Kamu sudah tua, jangan ngegombal seperti itu. Tak pantas dengan umurmu." giliran Arisa yang menggodanya.


"Bukanya sikapmu yang kaya ABG tadi."


Arisa tersenyum malu. Mungkin ini puber kedua Arisa. Karna, sudah terlalu lama wanita itu, sendir. Wanita itu, mulai memikirkan tentang dirinya.


"Kalau kamu setuju. Aku akan memberitahukan putriku tentang kabar baik ini."


"Putri, Kok aku baru tau, kamu pernah menikah dan mempunyai seorang putri. Di mana mantan istrimu sekarang," tanya Arisa penasaran.


"Tolong tanyakan satu-satu. Aku pernah menikah. Saat kamu pindah ke bandung bersama tiga putramu. Namun pernikahanku tak berlangsung lama. Kita hanya merasakan indahnya rumah tangga hanya lima tahun saja. Setelah itu Kita berpisah, aku mempunyai seorang putri dari pernikahanku terdahulu," tutur Dokter Farhan menjelaskan.


"Baikah, beritahu putrimu, aku punakan beritahu Arya dan Arta tentang rencana kita."


"Jadi kamu setuju dengan lamaran aku."


Dokter Farhan Tersenyum.


"Sekian lama, aku menunggumu. Akhirnya aku aku memilikimu walau terlambat."


"Kamu tidak terlambat, kalau terlambat aku sudah mati."


Dokter Farhan Tersenyum lagi.


Seseorang melihat, Dokter Farhan tersenyum dengan seorang wanita yang hampir sama dengan umurnya, "Waw, sungguh kejutan yang tak di sangka," guman seorang wanita yang melihat mereka dari jauh.


Wanita itu pun, pergi meninggalkan mereka menuju tempat yang harus ia datangi. Untuk menebar racun yang mematikan.


🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


Gadis itu, tertunduk malu. Karna, Laki-laki tersebut terus melihatnya, "Kamu jangan melihatku terus, aku malu," gumannya.


"Emang kenapa? Aku sedang melihat kekasihku," ucap Laki-laki itu, yang sedari tadi menatap wajah gadis itu dengan serius.


"Aku malu."


Laki-laki itu pun mengangkat kepala gadis itu lagi. Yang sedari tadi terus menunduk. Wajahnya merah seperti buah tomat. Gadis itu, tak sanggup lagi melihat wajah laki-laki tersebut yang selalu membuatnya resah tak karuan.


Laki-laki itu, mencium bibir gadis itu dengan lembut. Membuatnya terkejut sekali lagi Laki-laki tersebut mencium bibirnya melumatnya sampai habis. Keduanya merasakan indahnya cinta yang baru saja dimulai.


Ciuman keduanya terhenti, sesaat seseorang gadis masuk ke dalam tanpa permisi, "Opp maafkan aku, aku tak tau kalau kalian sedang kissing," ucapnya terlihat kesal melihat gadis itu bersama laki-laki yang ia inginkan.


"Maaf ka, gadis itu maksa masuk. Aku sudah cegah tapi.." Soni tak melanjutkan ucapannya karna Azka mulai menganguk mengerti.


Laki-laki itu pun keluar. Tak ingin menggangu Azka, Darania dan wanita itu.


Laki-laki itu sengaja memeluk pinggang gadis itu, untuk menandakan kalau laki-laki itu, telah memilih gadis lain, yang bukan gadis itu.


"Maaf Azka, aku gangu kamu. Aku hanya khawatir saat mendengar kamu masuk rumah sakit," ucap Tasya terlihat kesal karna, Azka menekuk gadis itu, "Menurutnya tak ada istimewa dengan gadis itu. Masih lebih baik dari dirinya, toh ia seorang model cantik," pikiranya bangga pada dirinya sendiri.


Laki-laki itu, cuek tak peduli dengan Tasya. Ia malas melihatnya? Bagi laki-laki itu sekarang hanya Darania yang ia pilih bukan gadis lain. Bahkan Laki-laki tersebut tak peduli dengan perasaan gadis itu, yang menurutnya hanya kamuflase.


Gadis itu, memperhatikan gadis itu, begitu cantik dan sempurna. Ia merasa tak pantas bersanding dengan laki-laki yang memeluknya ini. Namun ia juga tak rela Laki-laki yang baru saja ia dapatkan kembali bersama gadis lain.


Laki-laki itu, merasa risih dengan kehadiran gadis itu yang tak mau pergi dari sini. Ia sengaja bermesraan dengan Darania, tanpa memperdulikan gadis itu. Namun gadis itu tetap bertahan dengan semua omongannya yang tak penting. Laki-laki tersebut terur-menerus bermesraan berkali-kali mencium bibir Darania.


Azka mengetahui Tasya kesal, namun gadis itu masih bertahan. Gadis itu tak tau malu dan terlalu memaksa. Laki-laki seperti Azka tak suka gadis dengan tive seperti itu. Ia melirik Tasya ia masih bertahan menahan marah dan juga kesal karna, ia tak pernah menggubris apa pun yang gadis itu katakan. Sampai pada akhirnya gadis itu menyerah dengan sendirinya. Membuat Laki-laki itu merasa puas. Darania hanya tersenyum, dengan tingkah kekasihnya ini. Darania semakin yakin kepada laki-laki itu, bahkan tak tergoda dengan gadis lain yang menurutnya lebih cantik darinya. Darania tak pernah tau, yang ia butuhkan tak hanya seorang pendamping cantik. Laki-laki itu menginginkan hal-hal yang tak bisa di mengerti Darania. Bagi Azka Darania sudah sempurna untuknya. Tak ada gadis lain yang lebih sempurna dari Darania.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2