
Semua menikmati makan malam ini kecuali pemiliknya yang harus pulang karna, kekacauan tadi. Namun, tidak dengan Januar yang kembali pada acara yang ia adakan. Mau tak mau ia harus kembali datang.
Januar pun menghampiri Azka dan Darania. "Maafkan putriku Tuan Azka dan Nyonya Dara," ucap Januar meminta maaf di saat semua sedang berkumpul di dekat pasangan suami-istri itu.
Azka tersenyum. "Sudah lah Pak, tak usah minta maaf. Aku tak apa-apa hanya syok saja. Padahal Bapak bilang dulu pada kita buat Bumi tak kesal seperti tadi," ucap Azka santai dan tak menganggap serius kejadian yang tadi.
"Oh, iya Pak Januar maafkan sikap Bumi yah. Anak kami yang tengah itu beda dengan Ben dan Bima. Bumi lebih keras. Bila Prita masih ingin mendekati Bumi harus ekstra sabar. Sebenarnya Bumi anak yang baik hanya saja anak itu tak suka di kekang!" seru Darania memberikan jalan pada putri Januar yang mengetahui perasaan Prita pada putra keduanya.
Darania dan Azka pun sama pernah muda. Januar pun tersenyum mendengar ucapan dari Darania dan Azka. Benar menurut kolega-koleganya pasangan ini begitu baik dan sopan sampai membuat pria ini benar-benar merasa malu.
Januar sempat berpikir bila mendapatkan Bumi sebagai calon suaminya akan membuat hatinya tenang mendapatkan suami dan calon mertua yang baik putrinya tak akan kehilangan kasih sayang.
🍀🍀🍀🍀
Gibran menarik tangan Dewi saat ia berada di dekat toilet yang agak sepi dari orang-orang. "Gibran," gumannya terkejut.
Namun, suami dari Yasmine itu pun menutup mulut Dewi. Laki-laki itu mulai melakukan hal yang seharusnya ia tak lakukan. Tangannya mulai menjalar ke mana-mana ke bagian tubuh Dewi.
Laki-laki itu benar-benar tergoda dengan dress yang di pakai Dewi memperlihatkan bagian dada dan pahanya. Siapapun yang melihatnya membuatnya benar-benar tergoda.
Entah berapa lama keduanya mulai berselingkuh. Gibran menyukai wanita lebih tua darinya seperti Dewi. Gibran menikahi Yasmine pun demi menutupi kebusukannya. Tak ada yang atau apa yang dilakukan Gibran
Di saat suaminya sedang menjelajahi tubuh wanita lain. Yasmine pun duduk berbicara dengan Darania dan juga Ibunya Elis.
"Sayang, kandungan mu sudah besar. Apa sebaiknya kamu segera cuti," ucap Darania sembari mengelus-elus perut Yasmine.
"Iya, Tante minggu ini aku sudah cuti," ucap Yasmine mulai memperhatikan sekitar karna, tak melihat suaminya di mana-mana.
"Kamu mencari siapa Sayang?" tanya Elis memperhatikan putri sulungnya itu.
__ADS_1
"Mencari Mas Gibran, Bunda," ucapnya masih memperhatikan sekitar.
"Kamu telpon saja," saran Darania.
"Beberapa kali aku menelponnya tapi, tak diangkat!" serunya khawatir.
Elis pun menunjuk Gibran menantunya keluar dari toilet. Namun, beberapa saat setelah Gibran keluar. Dewi pun keluar sampai membuat Yasmine mulai curiga. Namun, segera wanita hamil itu tepis. Tak mau berburuk sangka pada siapapun.
Gibran pun merangkul istrinya dan meminta izin untuk pulang lebih awal. Keduanya pun pamit.
"Lis, bagaimana kabar Ayana?" tanya Darania mulai merindunkan gadis itu. Semenjak ia batal menikah membuat gadis itu melarikan diri ke Singapura dan sampai sekarang belum kembali.
Elis, mengembuskan napas panjang. "Ayana tak mau pulang. Namun, ia baik-baik saja," ucap Elis khawatir.
"Lis, kita bersahabat itu sudah lama. Kamu tak perlu menutupi semuanya dariku. Aku selalu menceritakan semuanya padamu," ucap Darania.
"Entahlah Dara, aku khawatir! Tapi, kamu tau kan Soni bagaimana?"
Ben pun menghampiri Elis dan Darania. "Tante, melihat Alexsa?" tanya Ben serius dan khawatir.
"Tadi kan Arsa pamitan untuk mengantar Alexsa pulang," ucap Elis serius.
Ben menepuk keningnya segera berlari keluar. Entah apa yang terjadi sampai membuat Elis dan Darania bingung namun, pada akhirnya keduanya tertawa bersama.
Ben berlari ke arah parkiran terlihat Arsa sudah membawa Alexsa yang sudah mulai pingsan. Ben pun menghampiri Arsa dan memukul Arsa sebelum membawa Alexsa pergi.
Arsa tak bisa berbuat apa-apa saat Ben membawa Alexsa dari hadapannya. Arsa kesal tak bisa membawa kembali Alexsa. Karna, bila Arsa memaksa Ben akan tau kalau Alexsa sudah ia beri obat tidur.
Ben pun menelpon supir di rumahnya untuk menjemput kedua orang tuanya pada Bumi. Ia akan segera pulang membawa Alexsa yang pingsan.
__ADS_1
Dari atas hotel Kanaya dan Bumi memperhatikan keduanya. "Bumi, bukanya itu Alexsa dan Ben!" seru Kanaya memperhatikan keduanya dari ketinggian.
Bumi mengangguk tak tau apa yang terjadi pada Alexsa. Untunglah tadi, Bumi segera menelpon Ben, kalau Arsa membawa Alexsa ketempat parkir paling ujung untunglah Ben segera menemukan Alexsa.
Bumi merasa khawatir saat Arsa membawa Alexsa. Karna, perasaan Bumi pun sama merasa tak suka dengan Arsa.
Sebelum menjalankan mobilnya, Ben pun mengirimkan pesan pada Elis dan Soni kalau Alexsa bersamanya.
Elis tersenyum saat mendapatkan pesan dari Ben. "Lihat Dara, anakmu mulai nakal" ucap Elis memperlihatkan chat yang dikirimkan Ben padanya membuat Darania senyum-senyum sendiri.
Tak hanya Elis yang tertawa. Soni pun tertawa memperlihatkan chat yang dikirimkan Ben pada Ayahnya Azka. Pria itu hanya geleng-geleng kelapa dengan kelakuan dari putranya itu.
"Za, aku melihat Ben itu copy-an dirimu. Ben itu lebih mirip denganmu, diam-diam menghanyutkan," goda Soni.
Azka hanya tertawa saja mendengar ucapan Sahabatnya itu.
🍀🍀🍀🍀
Ben bingung bagaimana membawa Alexsa. Laki-laki itu yakin kalau Arsa melakukan hal buruk pada Alexsa. Sambil menyetir Ben memikirkan cara untuk membawa Alexsa ke mana.
Pada akhirnya Ben pun membawa Alexsa ke apartemen milik Azka yang di kelola olehnya. Laki-laki itu pun memeriksanya apartemen itu. Ada beberapa apartemen yang kosong yang bisa dipakainya sekarang.
Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke sana. Susah payah Ben pun mengendongnya tubuh Alexsa yang benar-benar sampai ke kamar Apartemen yang kosong untuk bisa dipakai malam ini bersama Alexsa.
Ben benar-benar mengutuk Arsa sampai membuat Alexsa seperti ini. Ben tak tau apa yang diberikan Arsa sampai membuat Alexsa tak sadar.
Ben bener-benar takut terjadi apa-apa pada Alexsa. Laki-laki itu benar-benar khawatir harus bagaimana untuk membuat Alexsa sadar. Ben memikirkan saat Arsa mulai berbuat sesuatu pada Alexsa.
Sampai tempat tidur, Ben pun membaringkan Alexsa di tempat tidurnya. Ben pun memperhatikan Alexsa yang semakin hari semakin cantik. Tak hanya itu Ben benar-benar mengagumi kecantikan Alexsa yang baru ia sadari. Ben pun bingung pada dirinya sendiri yang tak pernah menyadari kalau Alexsa benar-benar menggodanya saat berpakaiannya seperti ini. Namun, Ben pun berusaha untuk menahannya agar tak berbuat macam-macam pada sahabatnya itu.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like dan komen yah untuk meninggalkan jejak kalian dan mampir juga ke karya Author yang lain terima kasih.