Ketika Cinta Datang Season 2

Ketika Cinta Datang Season 2
Chapter 39 Perpisahan


__ADS_3

Soni dan Stella masih mengabiskan waktu bersama. Keduanya saling memadu kasih, bertempur demi kepuasan keduanya. Cinta satu malam, terus berlanjut sampai keduanya merasa lelah.


"Aku pasti kangen kamu," ucap gadis itu, kepada laki-laki tersebut. Karna, sudah mengabiskan malam panjang bersama. Pertempuran itu berlangsung lama, sampai tujuh ronde, membuat keduanya merasakan puncak dari rasa bahagia itu.


Keringat masih mengucur deras ditubuh keduanya. Pertempuran itu, mengukir kisah untuk gadis itu, merasa bahagia merasakan cinta tanpa rasa cinta.


Hari mulai larut, siang berganti malam. Di luar, turun hujan begitu deras. Namun keduanya masih merasakan panas di tubuh mereka. Keringat yang bercucuran di tubuh mereka melebihi hujan yang turun hari ini. Pertempuran diantara mereka berdua terus berlanjut. Laki-laki itu, terus merasa candu dengan tubuh indah, gadis cantik itu.


"Kalau kamu menikah, jangan lupa undang aku yah," goda laki-laki tersebut sambil tersenyum. Laki-laki itu, benar -benar tak bisa menolak pesona dari gadis itu, sudah beberapa kali pun, laki-laki ini masih menginginkan lagi dan lagi. Rasa lelah, yang laki-laki itu rasa, tak membuatnya menyudahi pertemuan itu, dengannya.


Stella mencubit pinggang Soni.


"Aww, apa yang salah?" tanyanya karna, gadis itu, sering sekali mencubit pinggangnya.


"Kamu, mau merusak pernikahanku?" ucapnya cemberut.


"Tidak lah."


"Terus kenapa, minta di undang?"


"Yah aku ingin tau saja, siapa calon suamimu? Kamu begitu ingin menikahinya, sampai meninggalkan aku," godanya lagi.


"Kamu kenal dia."


"Siapa?" Laki-laki itu, mengerut keningnya. Penasaran dengan laki-laki yang dimaksud Stella.

__ADS_1


"Dia, Alvaro Smith."


"Bule Kampret!" serunya mengejek. Laki-laki tersebut benar-benar mengenali calon suami gadis yang telah bersamanya. Dia teman kuliahnya dulu, sering menjadi rivalnya. Namun nasifnya, dan laki-laki itu, berbeda. Dia menjadi Eksekutif muda yang sedang naik daun sekarang.


Stella terdiam.


"Kok kamu mau sama dia?" gerutunya, entah kenapa? Setiap mendengar nama Alvaro Smith, laki-laki itu, merasa kesal. Karna, mengingat kelakuannya yang begitu bejat.


"Kita saling membutuhkan. Itulah alasan kita bersama. Selain itu, Papah membutuhkan modal yang besar untuk kantor cabangnya di Prancis!" seru gadis itu, menjelaskan.


"Waw, Pernikahan Bisnis."


"Yah bisa dikatakan begitu."


"Apakah kamu pernah tidur dengannya?"


"What's" Soni begitu terkejut mendengar ucapan Stella barusan.


"Kamu gila, aku pulang sekarang," ucapnya beranjak dari ranjang memakai pakaiannya lengkap. Laki-laki itu pun beranjak pergi.


"Ku mohon jangan pergi, ini yang terakhir, aku tidak akan menggangumu lagi, setelah ini kita tak akan pernah bertemu lagi," ucapnya memeluk tubuh laki-laki itu, dari belakang dalam keadaan masih polos tanpa, sehelai kain menempel dari tubuhnya.


"Kamu, tau apa yang kamu lakukan sekarang? Kalau Alva tau, dia bisa benar-benar membunuhku, sekarang," ucap laki-laki itu, kesal setelah mendengar pengakuan dari gadis tersebut. Kalau gadis itu, sedang mengandung anaknya, Alvaro Smith.


"Alva tau, tentang hubungan kita!" seru gadis itu, masih memeluk tubuh laki-laki itu, tak ingin gadis itu, lepaskan.

__ADS_1


"Maksudnya." Laki-laki tersebut tak mengerti dengan ucapan gadis itu. Laki-laki itu, berbalik badan keduanya saling berhadapan.


"Alva tau, tentang kita, ia tau semuanya. Dia memberikan waktu dua hari, untuk bersenang-senang denganmu. Alva juga, sedang bersenang-senang dengan gadis lain."


"Kalian gila, kenapa kalian melibatkan aku?"


"Aku harus apa? Aku harus terpuruk melihat dia, bersenang-senang dengan gadis lain. Meratapi, nasif? Hallo ini zaman now, laki-laki dan perempuan sejajar sekarang. Tak ada masalah, asalkan kita bahagia kenapa tidak."


Laki-laki itu, menerawang memikirkan Alva yang sudah kelewatan. Mempermainkan gadis, yang hanya mainan untuknya. Laki-laki itu semakin kesal. Karna, sekarang ia terlibat dengan permainan sepasang kekasih gila ini.


"Maaf Son, aku tak jujur padamu, kalau aku berkata jujur pasti kamu tak mau."


"Jelaslah, aku tak mau! Kamu benar-benar tak waras," serunya emosi.


Gadis itu, duduk diranjang itu, masih dalam keadaan polos. Air matanya mengalir deras, hatinya terasa begitu sakit, papahnya sendiri telah menjualnya pada laki-laki brengsek seperti itu.


Laki-laki itu, melihat wanita gadis itu, merasa kasihan. Hidupnya sudah diatur dari dulu, sampai pernikahanya pun sudah di atur. Gadis itu, tak bisa memilih pasangan yang gadis itu, inginkan. Laki-laki itu, duduk disamping gadis itu.


"Maafkan aku La." Laki-laki itu, berusaha meminta maaf. Ia benar-benar merasa bersalah.


"Aku lelah," ucapnya menyandarkan kepalanya ke pundak laki-laki itu, dengan lembut ia mengelus-elus rambutnya.


Hanya Soni yang mengerti semua penderitaannya.Di luar Stella bak bidadari yang sempurna. Namun dibalik itu, gadis itu hanya sebuah boneka. Yang dikendalikan orang tuanya. Dari kecil Stella tak pernah diberi kebebasan untuk memilih. Ia harus menuruti semua ucapan orangtuanya. Menjadi, model, artis dan menjadi apapun yang orang tuanya mau. Sekarang pernikahannya pun diatur. Stella dijodohkan dengan pria yang sudah terkenal dengan sikap playboynya. Sering mempermainkan para gadis dengan rayuan mautnya.


Stella memang kasihan sedari dulu. Stella tak bisa memilih apa ia inginkan? Apa yang di suka tak pernah bisa jadi miliknya. Semuanya orang tuanya yang atur. Makanya Stella jadi gadis yang nakal. Mabuk-mabuk, sex bebas itu, semata-mata untuk menyenangkan hatinya, sebagai bentuk pemberontakannya kepada orang tuanya yang sama sekali tak peduli. Bagi mereka, gadis itu hanya sebagai ATM bagi mereka. Mereka tak pernah mau peduli. Gadis itu harus bisa menjadi apa yang mereka mau.

__ADS_1


Laki-laki itu, tentang gadis itu. Soni menjadi pendengar yang baik bagi gadis itu. Semua keluh kesah yang selalu ia rasakan. Laki-laki itu, selalu mendengarkan. Namun tetap saja, diantara keduanya. Tak ada rasa cinta dalam hati mereka. Keduanya lebih nyaman menjadi sahabat. Walau kelakuan melebihi dari sepasang suami istri. Gadis itu, seperti hidup di luar negri. Ketika semuanya bebas untuk melakukan apapun. Norma-norma tak dipakai sama sekali. Karna, dari gadis itu lahir. Tak ada agama untuk mereka berpegang teguh. Mereka hanya mengejar dunia. Tak peduli dengan akhiran. Mereka tak memikirkan akhirat sama sekali. Hanya dunia saja, yang ingin mereka raih. Untuk menjadi lebih unggul dari siapapun. Segala cara telah mereka lakukan. Demi kepuasan dunia yang ingin mereka dapat dan raih. Semua harus didapatkan dengan cara apapun. Yang penting bahagia yang perlihatkan dari luar sebagai topeng dari kebusukan orang tuanya. Penampilan luar menjadi no satu, selalu lebih unggul dari yang lain.


Bersambung...


__ADS_2