Ketika Cinta Datang Season 2

Ketika Cinta Datang Season 2
Chapter 48 Aqikah Baby Alinea.


__ADS_3

Baby Alinea sudah berumur 19 hari. Saatnya acara syukuran dan Aqikah untuk baby Alenia. akan di selenggarakan malam ini, di rumah Arisa.


Pagi- pagi sekali Arya membawa lima domba untuk acara Aqikah putri pertamanya. Untuk disembelih pak Ustadz yang disaksikan oleh seluruh keluarga.


Selesai disembelih, domba itu, diurus pak Ustadz untuk segera dimasak oleh para warga yang ikut membantu acara Aqikah putri pertama Arya.


Sebenarnya, untuk Aqiqah anak perempuan hanya membutuhkan satu ekor domba saja. Dan bagi anak laki-laki dua ekor domba. Aqikah bukan hal wajib bagi setiap muslim. Namun bila mampu dan mengerti soal agama, setiap orang tua akan mengaqikahkan anaknya untuk bekal mereka, menjadi kendaraan mereka di akhirat kelak.


Arya sengaja membeli lima ekor domba, untuk disumbangkan pada warga dan anak-anak yatim agar mereka bisa merasakan daging domba. Yang jarang sekali, mereka makan kecuali saat qurban. Arya ingin setiap warga merasakan kebahagiannya, untuk kelahiran putri pertamanya. Arya menginginkan semua warga, satu RW bisa merasakan daging Aqikah putrinya. Makanya ia membeli lima domba untuk di makan bersama setelah acara Aqikah selesai.


Azka masih sibuk dengan laptop-nya, walaupun berada di rumah. Laki-laki itu, masih mengurus kerjaan.


"Mas, sudah dong istirahat dulu. Kerjaan melulu yang diurus," ucap Arta merasa bosan karna, tak ada yang bisa diajak ngobrol sama sekali.


"Iya sebentar De, tanggung!" serunya masih fokus kepada pekerjaan tanpa memperhatikan Arta.


"Ihh Mas Azka," panggil Arta cemberut.


Azka pun menyelesaikan pekerjaannya dan menutup laptop-nya, tak ingin membuat adiknya kecewa, "Ada apa de?" tanya laki-laki tesebut melirik adik bungsunya itu, yang masih cemberut.


Hmmm, Arta memalingkan wajahnya.


"De, kamu kenapa?" tanya Azka lagi.


"Aku BT."


"BT Kenapa?"


"Semua orang sibuk, tidak ada yang meperhatikan aku."


Azka tersenyum, "De, kamu bukan anak kecil lagi," ucapnya sembari mengacak-acak rambut Arta.


"Aku juga ingin di sambut Mas!" serunya masih cemberut.


"Ikh, kamu cemburu sama keponakamu de."


"Iya, aku cemburu sama bayi Mas Arya."


"Tidak boleh begitu."


"Habis mereka sibuk semua, tak ada yang menemani aku."


"Kamu mau curhat de?" tanya laki-laki itu, menyadari ada sesuatu yang terjadi pada adik bungsunya.


Arta tersenyum, " Ikh Mas Azka paling mengerti aku."


"Kamu kenapa?"


"Aku putus Mas."

__ADS_1


"Terus."


"Kok terus sih mas." Arta cemberut lagi.


"Yah, nanti juga kamu dapet cewe baru lag," ucap Azka santai.


Arta tersenyum lagi.


"Mas Azka sendiri, bagaimana perkembangannya?"


Azka mengerutkan keningnya, "Kamu tau dari mana de?"


"Ikh, aku juga tau, Mas Azka suka kakak cantik itu, aku bisa melihat dari pertama bertemu dengan kakak cantik itu."


Hmm


"Bagaimana Mas?"


"Bagaimana apanya?"


"Sudah sampai mana, Mas menjalin hubungan dengan kakak cantik itu?"


"Hubungan apa maksudmu de?"


"Jadi mas Azka masih diam ditempat."


"Aduch" Arta menepuk jidatnya sendiri. Kakak sulungnya benar-benar payah dalam urusan cinta, "Mas, berniat tidak sih?"


"Niat gimana?"


"Ikh, aku sebel sama Mas Azka."


"Emang aku harus gimana de?"


"Yah kejar dong, Mas Azka suka kan sama kakak cantik itu, apa jangan-jangan mas tak serius sama kakak cantik."


"Aku serius sama dia de, malahan aku ingin dia jadi Ibu dari anakku."


"Waw, itu baru keren, tapi jangan diam saja dong."


"Aku lagi usaha de."


"Kok belum ada perkembangan."


"Sabar de, Dia baru ditinggalkan tunangannya."


"Itu malah lebih bagus dong, untuk masuk dalam hatinya."


"Itu dia yang sulit."

__ADS_1


"Pasti Mas Azka bisa."


"Ikh, ko aku yang curhat sih!"


Arta tersenyum langsung pergi meninggalkan Azka sendiri yang tersenyum. Karna, kali ini Arta ingin mengorek-ngorek hubungannya dengan Darania. Semua ingin tau, tentang perkembangan hubungannya dengan Darania.


Gadis yang bernama Darania, itu memang hebat. Belum lama mengenal Azka, sudah bisa menghancurkan dingding penghalang dihatinya yang beku, mencair begitu gadis itu, hadir dalam hidupnya. Membawa angin baru bagi kehidupannya menjadi kebahagian untuk Arisa yang menginginkan anak sulungnya bahagia.


"Gimana Ta?" tanya Nadia pada Arta. Nadia penasaran dengan hubungan Darania dan Azka. Nadia tak bisa bertanya langsung pada Azka, makanya ia menyuruh Arta. Darania terlalu sibuk, makanya Nadia susah menghubunginya.


"Masih diam di tempat, Mba?" ucapnya kesewa.


Nadia menghembuskan nafas panjang, ia mengharapkan Darania dan Azka ada kemajuan. Ia ingin Darania menjadi kakak iparnya. Nadia merasa Darania cocok dengan Azka kakak iparnya itu. Mereka berdua sama sama terluka, bisa saling mengobati. Namun keduanya masih diam ditempat. Mungkin Ini terlalu cepat untuk Darania dan Azka. Nadia benar-benar tak sabar dengan kelanjutannya hubungan mereka.


"Mba Nadia percaya sama Mas Azka, kalau mereka bisa bersama," ucap Arta lagi.


"Tidak tau juga, aku ingin melihat hubungan mereka secara langsung," ucapnya bersemangat.


"Hmm, Mba yakin gadis itu, cocok untuk Mas Azka," ucap Arta meragukan pilihan kakak iparnya.


"Kamu tak boleh meragukan pilihan aku yah,


Darania itu, teman baikku, Aku ingin dia bahagia, makanya aku menjodohkan ia dengan Mas Azka," tutur Nadia.


"Yah, aku setuju saja, bila itu yang terbaik buat mas Azka, kasihan dia, masih jomlo. Padahal dia paling tua."


Nadia tersenyum geli. Mendengar ucapan adik iparnya itu.


"Benarkan Mas Azka masih jomlo, kalah sama Aku."


"Ikh, seumur mas Azka sudah tak ada waktu untuk pacaran, sudah saatnya rumah tangga."


"Bener tuh yang diucapkan mba Nadia, aku setuju," ucap Kila menyambung dengan obrolan Nadia dan Arta.


"Ikh ini anak nyambung saja," ledek Arta.


"Ikh kamu mengajak ribut melulu!" seru Kila manyun.


"Kenalkan aku sama temen kamu dong," pinta Arta.


"Ikh males bange, Mas Arta kan playboy cap kurap! Nanti temen-temenku menjadi korban Mas Arta."


"Ikh kamu gitu."


"Biarin."


Nadia tersenyum mendengar percakapan dua ABG yang masih labil ini. Ia mengenang masa kuliahnya dulu. Begitu menyenangkan membayangkan masa-masa itu. Saat berkumpul bersama Darania dan teman-teman yang lain. Waktu begitu cepat berlalu, semuanya sudah berubah seiring berjalannya waktu. Nadia mengingat semua kenangan indah itu. Saat pertama mengenal Arya, mengingat masa-masa itu. Saat Arya mengejarnya, penuh perjuangan. Semua terasa begitu terasa indah saat mengingatnya sekarang. Sekarang, tinggal Azka yang sedang berusaha mengejar cintanya. Semua sudah berharap Azka bersama Darania bisa bersama. Kisah cinta mereka begitu ditunggu oleh semua orang. Mereka menginginkan Azka Bahagia. Sudah saatnya, laki-laki itu untuk memulai hidupnya yang baru. Membuang semua luka yang pernah tersimpan didalam hatinya. Mereka berharap, untuk kebahagiaan laki-laki itu, yang sudah lama sendiri.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2