Ketika Cinta Datang Season 2

Ketika Cinta Datang Season 2
Chapter 45 Sandal untuk Darania


__ADS_3

Darania tak suka dengan sandal yang dipakainya. Karna, sandal milik Azka begitu besar untuknya. Laki-laki memakai no 43 sedangkan gadis itu, 37. Perbedaan begitu jauh. Baru saja, ia melangkah keluar.


Bruk.


Gadis itu terjatuh tersungkur, sandalnya terinjak kakinya sendiri karna, kebesaran. Celana panjangnya, robek dan lututnya berdarah tercium jalanan yang kasar.


"Aww," rintihnya kesakitan, memegang lututnya. Gadis pun segera bangkit, sebelum ada yang melihatnya. Gadis itu, begitu kesal dan melempar sandal itu. Ia tak ingin memakai sandal itu, yang sudah membuatnya terjatuh seperti ini.


"Menyebalkan," gumannya berjalan pincang menuju ruangannya, tanpa alas kaki. Gadis itu, sudah tak peduli lagi dengan pandangan orang. Hari ini, hari tersialnya. Ia begitu kesal dengan Azka. Laki-laki itu harus bertanggung jawab atas yang terjadi kepadanya hari ini. Gadis itu, ingin menangis, namun moodnya hari ini, benar-benar buruk karna, seorang Azka.


Di ruangannya, laki-laki itu tertawa terbahak-bahak melihat tingkah gadis itu, yang sudah menghiburnya hari ini. Sudah lama sekali, laki-laki tesebut tak tertawa selepas itu. Hanya gadis itu, yang membuatnya kembali merasa bahagia sudah mengerjai anak orang. Sedari tadi Azka terus menahan tawa, setelah gadis itu pergi, ia bisa bebas tertawa. Hari ini, sungguh luar biasa. Tadinya, laki-laki itu ingin menolong Darania saat ia terjatuh. Namun diurungkan niatnya karna, ia sudah tak kuat ingin tertawa, menertawai kesialan yang menimpa gadis itu. Lagi pula kalau, ia menolong gadis itu, Darania akan tambah malu. Perutnya sampai sakit. Karna, terus tertawa. Gadis itu, benar-benar luar biasa, konyol.


Setelah puas menertawakan Darania, ia melihat sepatu yang gadis itu pakai. Laki-laki tersebut, memegang sepatu mungil itu. Tangannya masih besar jika dibandingkan dengan sepatu milik gadis itu. Gadis itu, benar-benar sudah memberikan warna baru untuknya. Laki-laki itu, teringat gadis itu berjalan tanpa alas kaki. Ia begitu khawatir ia tak memakai alas kaki sampai pulang. Laki-laki itu, melihat no sepatu milik gadis itu. Azka menelpon seseorang untuk membelikan sepatu bernomor 37 model flatshoes agar gadis itu, tak memakai sepatunya hak tinggi lagi. Ia menyuruh orang itu, untuk sekalian membeli antiseptik untuk gadis itu.


Tak begitu lama, seseorang datang ke ruangnya. Membelikan pesanan bosnya. Laki-laki itu pun beranjak keluar, untuk mengambil sandal yang di lempar gadis itu. Azka membungkus sandal itu, bersama sepatu gadis itu. Ia tak mengizinkan gadis itu, memakai sepatu hak tinggi lagi.


Azka pun terdiam, bingung bagaimana memberikan sepatu beserta obat antiseptik kepada gadis itu. Laki-laki itu, tak mungkin menyuruh gadis itu, kembali ke ruangannya. Sudah jelas, gadis itu, begitu kesal kepadanya, karna, kejahilan kali ini. Laki-laki itu berpikir sejenak sampai ia mendengar suara pintu di ketuk dari luar.


Tok Tok Tok.


Suara pintu diketuk dari luar.


"Masuk," ucapnya pura-pura sibuk memeriksa berkasnya, Laki-laki itu, sengaja membuat meja berantakan untuk mengerjai Darania.


Clek.

__ADS_1


Lilian membuka pintu dari luar, "Mas, laporan satu minggu yang lalu sudah saya susun di email yang yang kirim ke mas Azka tadi pagi.


Namun Mas Azka belum memeriksa," ucap Lilian memastikan.


Azka membuka laptop-nya kerjaan hari ini, belum diperiksa, sedari tadi ia sibuk ngerjain Darania. Laki-laki ini pun berpikir untuk menyuruh Lilian untuk memberikan kantong ini, pada Darania.


"Kalau begitu saya permisi," pamitnya hendak pergi.


"Tunggu." Tahan laki-laki itu.


Lilian menoleh, " Ada apa lagi Mas?" tanyanya lagi, takut ada yang salah dengan pekerjaannya.


"Tolong berikan ini pada Darania, " ucap Azka memberika sebuah kantong pada Lilian.


Sampai ruangan Staf. Lilian masih bingung dengan isi kantong itu. Ia memberikan kantong itu pada Darania.


"Nihh, ucap Lilian memberikan kantong itu, di atas meja Darania.


Darania mengerutkan keningnya. "Ini apa Mba?" tanyanya bingung.


"Aku juga tidak tau, lihat saja sendiri," ucapnya kembali ke meja kerjanya.


Darania pun membuka kantong itu. Sepasang sepatu Flatshoes dan obat anti septik. Darania mengerutkan keningnya. "Darimana mba Lili tau, kalau aku membutuhkan ini," pikirnya sendiri.


"Bukan dari aku, tapi dari Mas Azka," ucapnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Darania langsung senyum sendiri. begitu nama Azka disebut. Walau pada akhirnya ia tau, Azka melihat ia terjatuh. Membuat gadis itu malu sendiri.


"Cie, dapat perhatian ekstra nih," goda Soni.


"Uhh, sejauh mana hubungan kalian? Tanpa sepengetahuan kita!" seru Lilian mulai penasaran dengan hubungan Azka dan Darania.


"Apa sih kalian ini?" gumannya malu.


"Terus maksudnya apa? Mas Azka berikan sepatu sama obat itu," tanya Lilian makin penasaran.


"Ikh kalian salah paham. Aku tak ada hubungan apa- apa? Mungkin Mas Azka kasihan saja, kepadaku karna, kakiku lecet tadi, " jawab Darania gugup.


"Wah, tak menyangka Azka, sudah selangkah lebih maju," guman Soni sambil senyum.


Semua tersenyum dengan ucapan Soni. Begitu juga Elis, yang sedari tadi tersenyum tanpa berkomentar tentang Darania. Hanya Lilian dan Soni yang sering mengoda Darania. Elis dan Shintia hanya jadi pendengar setia.


Tanpa sengaja, sepasang mata Soni dan Elis bertemu. Untuk pertama kalinya, Laki-laki itu tersenyum kepada Elis. Membuat gadis itu, bingung. Gadis itu, mulai bertanya-tanya dalam hatinya, "Kenapa saat ia ingin melupakannya, laki-laki itu memberikam harapan untuknya."


Saat ini, Elis benar-benar berdebar, laki-laki yang ia sukai sejak dulu. Mulai memberikan respon kepadanya. Hatinya berbunga-bunga, saat Soni tersenyum untuknya. Gadis itu masih tak mengerti. Apa yang terjadi kepada laki-laki itu?


Azka mulai sibuk dengan rutinitasnya. Namun sesekali ia tersenyum mengingat kejadian tadi. Saat gadis itu terjatuh sampai seperti itu. Laki-laki tesebut, semakin bersemangat untuk bekerja. Darania sendiri, mulai merasa malu. Mengingat bosnya, tau kalau ia terjatuh tadi. Ia bingung mau ditaruh dimana mukanya ini. Sakitnya tak seberapa, namun malunya itu. Gadis itu, masih memlihat sepasang sepatu Flatshoes yang Azka berikan untuknya. Walau gadis itu, tak terlalu suka sepatu Flatshoes Karna, akan membuat tubuh mungilnya semakin pendek. Namun gadis itu, begitu berterima kasih kepada Azka. Laki-laki itu, membuatnya semakin penasaran karna, sikapnya yang selalu memberikan kejutan-kejutan untuknya.


Bersambung...


Mampir juga yah, ke novel Author yang lain, "Irani Gadis Indigo" dan "Kisah Kita" terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2