Ketika Cinta Datang Season 2

Ketika Cinta Datang Season 2
Chapter 74 Masih Berharap.


__ADS_3

Setelah berhari hari mencari di mana keberadaan Darania. Akhirnya, Ibas menemukan Darania. Beberapa hari ini, Darania sudah tinggal bersama Azka. Itu yang baru di ketahui Ibas.


Ibas begitu kesal, saat tau, Darania tinggal bareng Azka. Azka jauh lebih pintar dari Ibas. Sudah memikirkan jauh ke depan. Ibas tak bisa mengangu Darania. Jika Darania bersama Azka.


Ibas harus memikirkan cara, bagaimana mengambil Darania lagi. Untuk bisa kembali kepada nya lagi.


Ibas berpikir sejenak. Masih ada satu cara. Dan mungkin ini cara terakhir. Bagaimana pun juga, Darania harus menjadi miliknya kembali.


Ibas terus terusan mencari cara untuk mengambil Darania kembali. Sampai Ibas melupakan. Kalo Ibas sudah menjadi seorang Ayah.


Suara tangis Bayi begitu terdengar dari segala sudut. Karna tangis bayi itu. Ibas jadi tak bisa berpikir. Ibas berteriak. Dan segera mencari asal muasal suara bayi itu.


Terlihat, Bayi kecil itu menangis sendiri. Tak ada Vivian di sampingnya. Ibas mencoba mengendong Bayinya. Ini untuk yang pertama kalinya Ibas mengendong bayinya sendiri.


Begitu, cantiknya bayi perempuan ini. Ibas benar benar terkesima dengan wajah bayi kecil ini. Amarahnya hilang sudah. Saat melihat wajah polos bidadari kecil ini.


Ibas jadi membayangkan kalo ini. Bayi nya dan Darania. Bukan Vivian yang menjadi ibu bayi ini.


Perlahan Ibas mengendong dan mengayunkan bayi kecil ini. Bayi kecil yang belum bernama ini. Ibas berpikir untuk menerima Luna. Nama itu, yang terlintas dari pikiran Ibas saat ini.


Kali ini, Baby Luna benar benar tertidur saat Ibas mengendong putri kecilnya. Di ayunkanya baby Luna perlahan. Kali ini, hati Ibas benar benar merasa tenang.


Andai saja, Ibas tak meninggalkan Darania. Mungkin sekarang baby Luna sudah menjadi bayi Ibas dan Darania.


Penyesalan itu, datang terlambat. Ibas benar benar masih berharap, Darania bisa kembali padanya. Ibas yakin, Darania akan bisa menerima Baby Luna.

__ADS_1


Vivian entah ada dimana sekarang?. Lama Ibas menjaga Baby Luna. Sesekali Ibas membuatkan susu untuk Baby Luna. Karna Baby Luna masih berusia 7 hari. Dan Asi Vivian tak keluar sama sekali. Jadi dengan terpaksa baby kecil ini. Di berikan susu Formula untuk makanannya.


Baby Luna begitu cantik. Seperti Vivian. Namun Ibas tak berharap, Baby Luna tak memiliki sifat seperti Vivian.


Semua pekerjaan Ibas. Terhenti sudah. Karna, Ibas memilih menjaga Baby Luna. Rasa sayangnya kini tumbuh bersama saat Ibas mulai memeluk Baby Luna untuk yang pertama kalinya. Ibas begitu menyayangi Baby Luna.


Sampai malam, Vivian masih belum pulang. Ibas sudah menelpon, menchat, mengirim pesan SMS. Namun tak di jawab sama sekali. Ibas benar benar kesal sekali. Gara gara Vivian. Pekerjaannya tak ada yang beres.


Tepat jam 11 malam. Vivian baru saja pulang. Dengan semua belanja yang begitu banyak, sampai memenuhi seisi ruang tamu. Saking banyaknya belanjaan Vivian.


Vivian membuka sepatunya, begitu sampai di rumahnya. Dan langsung merebahkan tubuhnya di kursi sofa sambil memainkan ponselnya. Vivian masih terlihat cuek saat Ibas mengendong Baby Luna.


Ibas pun, menidurkan Baby Luna yang sudah mulai terlelap dan langsung mendatangi Vivian yang sedang bersantai manja itu.


"Kamu darimana saja, jam segini baru pulang?" tanya Ibas bernada tinggi sambil menahan kesal yang sudah memuncak sambil kebun ubun.


"VIVIAN" pangil Ibas sambil teriak saking marah karna terlihat Vivian yang masih cuek.


"Apa sih??" tanya Vivian masih cuek tak peduli.


Ibas sudah benar benar murka dengan sikap Vivian yang begitu dingin dan menyebalkan karena bersikap cuek. Dan Vivian benar benar tak bertanggung jawab karna sudah menelantarkan baby mereka.


Vivian melihat Ibas, dengan sudut matanya. Vivian tambah tak peduli sama sekali. Vivian malah tambah meledek Ibas. Karna terus cengengesan memainkan ponselnya.


Dengan kesal, Ibas merebut ponsel itu, dari tangan Vivian dan membantingkan ponsel itu, sampai rusak dan terbelah menjadi dua. Saking marahnya Ibas terhadap Vivian.

__ADS_1


Vivian hanya melihat ponselnya yang sudah rusak di lantai. Tanpa komentar aoapun. Vivian beranjak bangun dari tempat duduknya dan melangkah pergi.


Namun langsung di halangi Ibas. Dengan menarik tangan Vivian dan langsung menampar pipi Vivian.


"PLAK" tampar Ibas begitu keras yang mendarat ke pipi kanan Vivian.


Vivian melihat Ibas dengan tatapan penuh kebencian. Sambil mengelus elus pipi kanannya dengan tangannya.


"Kamu seorang ibu sekarang. Berani sekali kamu menelantarkan baby mu sendiri. Kamu malah asik belanja sampai tengah malam. Istri macam apa kamu" teriak Ibas. Sudah tak bisa menahan amarahnya sendiri.


"Kamu, tanya aku istri macam apa aku. Apakah kamu juga ga merasa kamu juga sudah menjadi suami yang baik untuk aku" balas kembali Vivian. Sambil membentak bentak Ibas. Tak mau kalah dengan Ibas.


"Kamu mulai berani yah sama aku" bentak Ibas lagi, mulai mengayunkan tangannya akan menampar Vivian lagi.


"Tampar saja aku lagi bila itu membuatmu puas" bentak Vivian sambil mendekatkan pipi kiri ke muka Ibas.


"Memangnya aku tak tau, Apa yang kamu kerjakan selama seminggu ini. Kamu terus terusan menguntit Darania. Sekarang kita dah menikah. Kamu suami aku sekarang. Kenapa kamu masih mengejar Wanita sialan itu" tutur Vivian semakin marah, membuat air matanya keluar karna cemburu. Karna lebih mementingkan Darania. Mantan tunangannya dari pada Vivian istrinya sendiri.


Ibas terdiam sejenak. Ibas tak menyangka kalo. Vivian tau, apa yang Ibas lakukan dalam seminggu ini.


Vivian mulai menangis karena cemburu. Lagi lagi karna Darania. Vivian semakin membenci Darania. Darania selalu mendapat semua yang ia inginkan. Tuhan sudah tak adil pada Vivian.Itu yang di pikirkan Vivian saat ini. Karna sudah mendapatkan Ibas pun, Ibas masih mengejar Darania. Padahal sudah jelas, Darania akan menikah dengan sepupunya Azka.


Ibas tak bisa mengelak lagi. Apa yang dikatakan Vivian menang benar. Ibas ingin mengejar Darania lagi. Itu yang ada dalam pikiran Ibas sekarang. Mengharapkan Darania lagi.


Vivian melangkah pergi meninggalkan Ibas sendiri. Vivian begitu memcintai Ibas. Makanya Vivian berani menghiyanati Darania. Darania menang sahabat Vivian dulu. Saat Vivian kuliah di luar negri. Vivian cukup dekat dengan Darania. Tapi Vivian tak pernah tulus bersahabat dengan Darania. Vivian begitu iri dengan Darania yang selalu mendapatkan semua yang Vivian mau. Darania begitu cantik populer. Dan banyak kelebihan Darania yang lain. Membuat Vivian tak suka dan membenci Darania. Padahal Darania tulus menyayangi Vivian. Semua sudah Darania korban kan untuk Vivian. Tapi balasan yang Vivian berikan untuk Darania begitu menyakitkan Darania. Darania tak pernah berpikir kalo Vivian bisa Setega itu pada Darania. Namun Vivian malah berpikir terus membenci Darania. Selama Darania menjadi saingan nya terus. Vivian sudah cukup untuk berpura pura berteman baik dengan Darania. Vivian cape, bila harus mengalah untuk Darania. Vivian sungguh membenci Vivian.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like yah... Jangan lupa mampir ke novel aku yang lain. "Irani Gadis Indigo" dan " Kisah kita" terima kasih sudah membaca karya saya.


__ADS_2