
Azka masuk ruangannya, wajahnya memerah karna, malu. Azka sampai tak sadar, dengan gadis itu, begitu pula gadis itu. Darania. Keduanya merasakan malu, oleh kelakuannya sendiri.
Lama gadis itu berdiam diri di toilet. Ia masih belum bisa menghilangkan perasaan gugupnya tadi. Sepasang mata mereka bertemu, getaran rasa dalam hati mereka begitu membekas dihati Azka dan Darania. Kali ini, Darania merasa berdebar lagi Karna, seorang Azka.
"Duh aku kenapa sih? Kok aku deg-degan seperti ini," pikirnya sendiri, sembari melihat cermin di toilet wanita. Wajahnya masih merah, antara senang, gugup dan tentunya terkejut melihat laki-laki itu, yang membuatnya gelisah setiap hari.
Azka sudah membuatnya tak tenang. Dengan memikirkannya setiap hari, setiap malam gadis itu, teringat laki-laki itu yang membuatnya tak bisa bernafas dengan tenang.
Gadis itu, masih melihat cermin, ia melihat bayangan Azka dipantulan cermin itu. Gadis tersebut terkejut karna, bukan dirinya yang berada di pantulan cermin. Laki-laki itu, tersenyum melihatnya, Gadis itu, beberapa kali mengucek kedua matanya. tak mungkin salah melihat, gadis tersebut melihat cermin itu, kembali. Bayangan dirinya masih berada dipantulan cermin itu. Ia tersenyum sendiri, dengan tingkahnya, menurutnya konyol.
Laki-laki itu, senyum sendiri teringat kejadian tadi. Wajah gadis itu, terlihat lucu saat ia gugup melihat gadis itu, yang masih cantik seperti biasanya. Darania benar-benar mencuri hatinya. Laki-laki itu, telah jatuh cinta kepadanya. Gadis itu, sudah mengoyahkan hatinya yang tangguh, menghancurkan benteng pertahanan lnya yang kuat. Badai saja tak mampu menggoyangkan hatinya. Namun seorang Darania, dengan sekejap membuatnya begitu memcintainya dalam hitungan hari. Laki-laki itu, tak mengharapkan kan cintanya dibalas. Namun ia hanya ingin berjuang untuk cintainya. Apalagi, saat ia mendengar dari Soni, kalau gadis itu, baru saja, ditinggalkan tunangannya. Walau sulit, laki-laki itu akan berusaha untuk mengejarnya. Dan tak akan pernah menyerah untuk mendapatkan cintanya.
Darania kembali ke ruangannya, wajahnya sudah tak merah lagi. Ia tak ingin Lilian mengodanya lagi. Akhir- akhir ini, emak-emak itu, sering mengodanya karna, menyadari gadis itu, menyukai bosnya. Emak-emak itu, begitu peka dengan kondisi Darania dan juga Azka. Ia lebih pengalaman dari dua orang itu. Walau pada akhirnya, ia harus berpisah karna, sebuah pengkhianatan dari mantan suaminya.
Lilian tersenyum melihat gadis itu, saat gadis itu, kembali ke ruangannya, "Kenapa mba Lili senyum-senyum gitu?" tanyanya polos. Gadis itu, tak menyadari kalau ia menjadi tontonan menarik untuk emak-emak satu itu.
"Akhirnya, yang ditunggu masuk juga," godanya lagi.
__ADS_1
"Mba Lili ngomong apa?" tanyanya lagi, terlihat wajahnya mulai merah karna, malu teringat kejadian tadi.
"Uhhh, wajahmu sudah seperti tomat matang, tinggal dimakan, enak."
Gadis itu, tertunduk malu, ia tak bisa berkata-kata lagi. Gadis tersebut tak bisa melawan emak-emak satu ini, bila diladeni urusan akan panjang. Dan semakin ia senang karna, berhasil mengorek-orek hatinya lebih dalam lagi.
Shintia dan Elis tersenyum.
Deg.
Entah kenapa? Hati Soni, mulai bergetar tak jelas melihat senyum gadis yang bernama Elis itu. Setelah sekian lama, hatinya terpikat oleh gadis itu, selain almarhum istrinya Kalula.
Gadis itu, telah masuk hatinya begitu saja tanpa ia suruh. Laki-laki itu, menjadi gelisah karna, perasaannya ini. Ia berpikir, "Kenapa tak dari dulu, ia menyadari perasaannya ini? Laki-laki itu menyesal karna, baru sekarang ia merasa jatuh cinta, kepada Elis."
Gadis itu, menyadari sikap Soni berubah selama dua hari ini. Ia tak mengerti apa yang terjadi pada laki-laki yang ingin ia lupakan. Seakan sikapnya berubah tanpa ia minta. Hatinya mulai goyah lagi, namun gadis ini sudah teguh dengan pendiriannya untuk melupakannya dan pergi darinya selamanya. Karna, jujur saja gadis itu mulai lelah mengejar cinta yang tak pasti.
🍀🍀🍀🍀
__ADS_1
Laki-laki itu, terus mencari cara, untuk bertemu dengan Darania. Laki-laki tersebut pun memikirkan ide jahil. Untuk membuat gadis itu, harus bolak-balik ruanganya. Laki-laki itu, tak bisa melihat gadis itu, di ruangannya. Makanya biar gadis itu yang menemuinya di ruanganya.
Beberapa saat kemudian, laki-laki itu memulai ide jahilnya. Azka memanggil Darania ke ruangannya. Untuk mengerjakan tugas yang menurutnya bisa dilakukan oleh bosnya. Awalnya gadis itu tak masalah. Dengan semua perintah dari bosnya ini. Sampai hampir sepuluh kali, Azka memanggilnya untuk tugas sepele lainya.
Gadis itu, masuk ruanganya, ia terdiam sambil minum air sebanyak-banyaknya. Gadis tesebut begitu kesal karna, kelakuan bosnya ini. Ia tak bisa marah, ia berusaha menahan rasa kesal untuk bertahan bekerja di tempat ini. Darania lelah karna, harus bolak-balik ruangan Azka, memakai sepatu hak tinggi. Kakinya sudah mulai merah dan bengkak. Namun ia masih menahanya. Belum sampai lima menit, Laki-laki itu memanggilnya lagi.
"Dara.. Dara..Dara," panggil Azka di ruangannya.
Darania menghembuskan nafas panjang, Kali ini, ia benar-benar kesal. Hatinya terus berdumel tak karuan. Namun ia tak bisa marah. Kakinya begitu terasa sakit, saat ia harus berjalan ke ruangan Azka, "Mau apa lagi?" pikirnya kesal. Menahan sakit di kakinya saat masuk ruang Azka lagi.
Gadis itu, mengetahui kalau bosnya ini. Sedang mengerjainya. Ia terlihat kesal saat masuk ruang Azka. Gadis itu, berdiri di depan meja Azka. Laki-laki itu, pura-pura sibuk dengan semua berkas di mejanya. Gadis itu, tak mau berbicara atau marah-marah pada bosnya. Ia merasakan sakit pada tumit kakinya. Yang ia tahan, untuk menemui bosnya ini.
Laki-laki itu, melirik gadis itu sesaat. Karna, gadis itu masih menerima dengan perlakuan darinya. Laki-laki tersebut berpikir, "Kenapa gadis ini, hanya diam saja. Bahkan tak berkata sepatah kata pun." Laki-laki ini ingin. melihat Darania, marah atau mengomel-ngobel marah dan kesal. Namun di luar dugaan ia hanya diam saja, diperlakukan menyebalkan seperti itu. Tanpa mengeluh sama sekali.
"Kamu sudah mengerjakan apa yang aku suruh!" serunya mencairkan suasana, sembari melihat gadis itu.
Gadis itu, hanya mengangguk tak mengucapkan sepatah kata pun. Laki-laki itu, melihat wajah lelah dan penuh keringat karna, ulahnya. Sebenarnya ia kasihan pada gadis itu. Namun gengsinya terlalu tinggi untuk mendatangi gadis itu, di ruangannya. Makanya ia berusaha untuk gadis itu, yang datang sendiri ke ruangannya.
__ADS_1
Bersambung.
Mampir yah ke novel Author yang lain, "Irani gadis indigo" dan "Kisah Kita" terima kasih.