
Arya bingung harus bagaimana?, Melihat Vivian di hajar Ibas habis-habisan. Arya tak bisa diam saja, Arya benar-benar sudah tak tahan, melihat itu. Arya pun melangkah menuju tempat Ibas menghajar Vivian. Baru saja, Arya melangkah dua langkah, seseorang entah siapa itu, tiba-tiba menghajar balik Ibas.
Bruk Bruk Bruk hajar seseorang secara membabi buta, terus-terusan menghajar balik Ibas. Arya kembali ke tempatnya, menjadi penonton. Arya sendiri tak tau siapa laki- laki yang menghajar Ibas secara berutal itu, tak terlihat wajahnya sama sekali.
Vivian dengan wajah penuh memar dan bengkak di seluruh wajahnya, hanya bengong melihat Ibas dihajar seperti itu. Vivian sama sekali tak mengenal laki-laki itu.
Baku hantam itu, terus terjadi. Keduanya tak mau kalah, Apalagi Ibas sudah begitu kesal karna, ada laki-laki yang tak di kenalnya menghajarnya untuk membela Vivian. Ibas kesal, ada yang mengbela Vivian.
Bagi Ibas, Vivian itu cuman sampah yang harus di buang ke tempatnya. Sama sekali tak berharga, walaupun Vivian sudah menjadi Ibu dari anaknya. Tetap Vivian tak berarti. Apalagi dengan Vivian yang sok ikut campur dalam urusanya. Mengadu sekutu untuk Azka.
Laki-laki itu, yang tak tau siapa namanya. Terus-menerus menghajar Ibas sampai Ibas mengaku kalah dan kabur seketika. Namun sebelum kabur Ibas nyumpahin Laki-laki itu, "Awas saja urusan kita belum selesai, Aku akan balas nanti" Ibas langsung berlari sempoyongan lari entah kemana?.
Vivian masih terdiam harus bagaimana?. Vivian baru sadar saat laki-laki itu, mengulurkan tangannya, untuk membantu Vivian berdiri, "Kamu tak apa-apa?" tanyanya membuat Vivian memcoba berdiri dengan bantuan laki-laki itu.
"Aku tak apa-apa" jawab Vivian membuang muka, Vivian melihat sekilas laki-laki itu, Wajahnya cukup tampan dengan gaya resminya.
Vivian melihat wajah laki-laki itu lagi, wajahnya sedikit bengkak di bagian mulut. Darah segar menetes di bagian mulutnya.
"Maafkan aku" Vivian menunduk meneteskan air matanya. Vivian merasa bersalah pada laki-laki yang tak di kenalnya itu. Laki-laki itu, yang tak tau siapa namanya itu?, Malah menolong Vivian.
Laki-laki itu tersenyum, sambil mengangkat dagu Vivian. "Harusnya, aku yang minta maaf, karna, datang terlambat. Lihatlah wajah cantikmu jadi memar seperti ini" ungkapnya merasa menyesal melihat wajah Vivian, sudah penuh dengan memar.
"Kenapa kamu nolong aku?" tanya Vivian, masih tak percaya ada malaikat baik hati ini, malah menolongnya.
Huuuhhhhh, Laki-laki itu menghembuskan nafas panjang. "Aku tak bisa melihat seorang wanita di siksa secara fisik seperti itu" gumanya yang langsung duduk di lantai sambil mengusap mulutnya yang mengeluarkan darah.
"Dia suamiku" guman Vivian, duduk di samping laki-laki itu.
__ADS_1
Laki-laki itu terkejut mendengar pengakuan Vivian. Laki-laki itu, melihat Vivian dengan pandangan yang sendu dan lirih. Antara kasihan dan iba.
"Kenapa kamu masih bertahan dengan laki-laki yang kasar seperti itu?" tanyanya mempertanyakan kesetiaan Vivian. Yang masih bertahan dengan kelakuan Ibas yang seperti itu.
Vivian terdiam, meneteskan air matanya dan menghapus air matanya lagi. kemudian tersenyum, melihat laki-laki itu. Dan beranjak berdiri.
"Sekali lagi, terima kasih" guman Vivian mulai melangkah, namun di tahan laki-laki itu, dengan memegang tangan Vivian.
"Tunggu, aku belum tau siapa namamu?, berapa no ponselmu? di mana tempat tinggalmu?" tanya laki- laki itu seperti sedang mengintrogasi tersangka kejahatan dan menanjak bangun namun masih memegang tangan Vivian.
Vivian tersenyum, sambil melepaskan tanganya dari tangan laki-laki itu, " Maafkan aku" gumanya, tak sadar masih memegang tangan Vivian.
"Untuk apa, kamu tau nama aku. Aku sudah bersuami dan memiliki satu anak" jawab Vivian sambil tersenyum.
"Aku tak tenang, bila kamu masih bersama suamimu itu, jadi beri aku kesempatan untuk membuktikan aku bisa menjagamu, dan anakmu" ucap laki-laki itu, berusaha lebih keras untuk bersama Vivian.
Laki- laki itu masih menunggu jawaban dari pertanyaannya itu. Entah kenapa? Laki-laki itu tertarik dengan Vivian. Setelah melihat Vivian di hajar oleh suaminya itu. Laki-laki itu, jadi bersemangat untuk mengejar Vivian.
Vivian mulai melangkah, laki- laki itu, terdiam. Laki-laki sudah berputus asa. Karna, Vivian tak menjawab pertanyaan nya. Laki-laki hanya bisa melihat Vivian berjalan meninggalkannya sendiri. Laki-laki itu, berharap bisa bertemu Vivian lagi. Laki-laki itu, hanya bisa melihat punggung Vivian, yang mulai menjauh.
Vivian, berjalan melangkah pelan, terlihat dari ujung matanya, laki-laki itu, terlihat sedih. Vivian jadi tak tega. Melihat laki-laki yang sudah menolongnya itu.
Vivian pun menoleh, Laki-laki itu masih berdiri di tempatnya.
"Namaku Vivian" teriak Vivian yang sudah mulai menjauh dari laki-laki itu.
Laki-laki tersenyum sumeringah, mendengar nama, wanita yang di tolong ya itu. "Namaku Ken, Kenzo"
__ADS_1
Vivian tersenyum mendengar nama laki-laki yang menolongnya itu. Dan kembali berbalik. Namun Vivian menoleh lagi, Vivian rasa, perlu memberikan no ponselnya pada Ken"
"Ken" pangil Vivian.
Ken, tersenyum mendengar namanya di sebut.
"Masih tertarik dengan no ponselku" tanya Vivian lagi.
Ken tersenyum sambil mengangguk.
"Catatnya, aku ga akan mengulangi nya lagi!" seru Vivian tersenyum.
Ken, segera mengambil ponselnya dari saku celananya. Vivian menyebutkan no ponselnya, dengan sekali sebut. Tak ada ulangan untuk no ponselnya itu.
Ken, tersenyum setelah mengetik no Vivian di ponselnya. Vivian pun melangkah pergi meninggalkan Ken, yang masih berbunga-bunga karna, Vivian memberitahukan namanya dan no ponselnya pada Ken.
Arya masih memperhatikan Vivian dan Ken dari tempatnya. Arya tersenyum. Dan mulai pergi dari tempatnya. Karna, Vivian sudah aman. Arya yakin, Ken bisa menjaga Vivian dari Ibas. Arya sudah melihat langsung begitu kuatnya Ken, menghajar Ibas.
Ibas menang, pantas dihajar seperti itu. Walau, bukan Arya yang menolong Vivian. Namun Arya sudah cukup tenang. Melihat Vivian tersenyum seperti itu. Arya juga sudah merasa Ken tertarik pada Vivian.
Arya mulai berjalan lagi, teringat Doni yang akan mencelakai Azka dan Darania. Perasaan Arya tak tenang kini, Arya kenal betul, Doni orangnya seperti apa?. Doni itu, laki-laki yang nekat. Doni akan melakukan apapun demi uang. Apalagi, Ibas sudah memberikan cukup uang pada Doni.
Arya mulai panik, Arya tak menemukan Azka dan Darania. Sebenarnya, kemana mereka pergi. Ibas dan Doni pun tak ada. Arya mulai panik segera mencari Soni. Untuk membantu nya mencari Azka dan Darania.
Bersambung...
Jangan lupa like yah...
__ADS_1
Mampir juga ke novel aku yang lain, "Irani Gadis Indigo" dan "Kisah Kita" Terima kasih.