
Wanita itu, masih saja menangis. Membuat ketiga laki-laki ini bingung harus bagaimana? Sampai seseorang mengetuk pintu dari luar.
Tok Tok Tok.
Semua menoleh ke arah pintu, namun wanita tersebut masih menangis tak peduli dengan yang datang.
Clek.
Pintu di buka dari luar, "Pagi," terdengar suara yang tak asing bagi mereka. Seorang gadis tersenyum kepada semuanya. Wanita itu beranjak begitu tau, Siapa gadis itu? Wanita tersebut menghampiri dan memeluk gadis itu. Membuat Darania bingung, "Mba kenapa?" tanyanya.
Azka tersenyum melihat gadis itu, dengan kejutan yang ia berikan. Karna gadis tersebut tak memberitahunya kalau hari ini, ia akan datang menemuinya.
Angga dan Soni tersenyum melihat gadis itu. Lilian masih menangis, membuat gadis tersebut berusaha menenangkannya. Namun tetap saja menangis, "Bos bolehkan pinjam ruanganya sebentar?" tanya Darania sambil tersenyum.
Laki-laki itu pun mengangguk mengizinkan dua perempuan itu, untuk memakai ruanganya. Karna bila tidak, wanita itu tak akan pernah bisa bekerja dengan benar. Darania pun mengajak Lilian untuk masuk ke ruangan Azka. Agar wanita itu bisa leluasa memceritan semuanya.
Soni menggelengkan kepalanya, urusan wanita memang rumit. Laki-laki itu pun kembali mengerjakan pekerjaannya. Angga pun mengerjakan pekerjaannya, walau pikiranya tak bisa berkonsentrasi. Ia bertanya-tanya ada apa dengan wanita itu. Sudah dua hari ia melihat wanita itu, selalu menangis. Pria tersebut menjadi penasaran ingin mengetahui apa yang terjadi kepada wanita itu.
Kring Kring Kring.
Suara ponsel Azka pun berbunyi, ia melihat no yang tak ia kenali, namun laki-laki itu pun mengangkat telponya, "Halo," jawabnya.
"Azka, ini aku Vivian," ucap suara di balik telpon.
"Ada apa Vi?"
"Aku di rumahmu sekarang."
__ADS_1
"Ohw ada ibu-kan."
"Iya Tante Arisa ada di rumah, aku membutuhkan pekerjaan? Bisa kah kamu menolongku?"
"Baiklah, ada dua posisi kosong di resto, mungkin besok kamu bisa datang ke sini?"
"Terima kasih Azka, telah menolongku!"
"Kebetulan saja, ada posisi kosong di sini?"
"Besok aku pasti datang."
"Yah aku tunggu."
🍀🍀🍀🍀
Wanita itu, menghapus air matanya dengan ujung jarinya, "Aku senang kamu datang," ucapnya masih teringsak-isak menangis.
Gadis itu tersenyum. Wanita itu, mulai menceritakan tentang mantan suaminya yang datang kemarin. Mencoba meminta maaf dan ingin kembali kepadanya. Setelah yang telah dia lakukan kepada wanita itu. Lilian juga menceritakan tentang perbuatan dia kepadanya, yang berselingkuh dengan keponakannya sendiri. Meninggalkan wanita itu, satu hari setelah ia melahirkan putri keduanya Elsa. Hati wanita itu, begitu sakit melihat dia lagi dihadapannya. Pria yang menyakitinya tak mengerti dengan perjuangan wanita itu, membesarkan kedua putrinya sendiri tanpa uang yang sepeser pun. Ia berjuang sendiri, menghadapi semuanya. Dengan mudahnya ia meminta maaf setelah ia menghancurkan hidupnya.
Gadis itu, hanya bisa memeluk wanita itu, yang masih menangis. Gadis itu, pernah merasa sebuah pengkhianat yang begitu menyakitkan. Namun sekarang ia sudah bisa berdiri sendiri. Wanita itu masih terus menangis. Membuat gadis itu, tak bisa menemui kekasihnya.
Sedari tadi laki-laki itu berdiri di luar ruangannya mendengar semuanya. Ia turut prihatin dengan keadaan anak buahnya itu. Walau ia belum pernah dikhianati, namun ia pernah merasa kehilangan. Walau sekarang hatinya sudah merasa berbunga melihat kekasih hatinya.
Sekarang, laki-laki itu tak bisa setiap hari melihat gadis yang membuatnya jatuh cinta. Keduanya sama-sama sibuk. Hanya bisa meluangkan waktu sebentar saja, itu pun jika ada waktu.
Gadis itu tau, kalau kekasihnya berada dibalik pintu, ia tak bisa meninggalkan wanita ini. Ia tau keadaan wanita ini sedang merasa sakit hati.
__ADS_1
"Maafkan aku, Dara. Aku tau datang ke sini untuk menemui Azka. Tapi aku malah mengacaukan semuanya," ucapnya masih menangis.
Gadis itu tersenyum, "Kita teman Mba, sudah sepantasnya aku mendengarkan keluh kesah temanku ini," ucap gadis tersebut sambil tersenyum.
"Aku harus bagaimana Dara? Dia terus saja menganguku," ucapnya lagi merasa bingung menghadapi pria yang menyakitinya.
"Biarkan saja Mba, mulai saja dengan cinta baru," godanya.
"Maksud apa?" melihat gadis itu serius.
"Kan ada Mas Angga."
Wanita itu tesenyum, ia tak tau apa yang dirasakan untuk pria itu. Yang jelas perasaannya membaik melihat pria itu. Wanita itu, belum bisa mengatakan bahwa ia jatuh cinta pada pandangan pertama kepada pria itu. Namun entahlah?
Setelah membaik, Lilian kembali ke ruangannya. Wanita itu membiarkan sepasang kekasih itu untuk bermesraan di kantornya. Terserahlah mau melakukan apa?.
Laki laki itu masuk setelah Lilian keluar ruanganya. Laki-laki tersebut mengunci ruanganya. Dan menyuruh siapa pun tak menggangunya untuk saat ini?.
Gadis itu tersenyum saat kekasihnya mengunci ruanganya dari dalam, "Kamu mau ngapain sampai ruanganya dikunci!" seru gadis itu.
Laki-laki tersebut menghampiri kekasih dan mulai mencium bibir kekasih dengan mesra, ******* habis seluruh bibir gadis itu. Gadis itu pasrah saat kekasihnya menciumnya dengan mesra.
Keduanya merasakan kerinduan yang mendalam di dalam hati keduanya. Lama Laki-laki tersebut menciumi seluruh bibir, pipi, hidung, telinga, mata, dan yang terakhir keningnya, memeluk erat tubuh mungil gadis itu, "Aku senang, kamu menemuiku sayang," gumannya.
Gadis itu, tersenyum lagi. "Aku merindukanmu sayang," ucap gadis itu.
Laki-laki itu, kembali mencium bibirnya. Namun kali ini, gadis itu yang paling yang agresif dari laki-laki tersebut. Membuat laki-laki itu semakin menyukainya. Bahkan laki-laki itu mulai berani memegang payudara gadis itu, sambil terus mencium bibirnya yang semakin membuat suasana semakin panas. Tangan nakal laki-laki itu, mulai memasuki setiap lekukan tubuh gadis itu, yang tak bisa gadis tersebut tolak. Bahkan kemeja gadis itu, sudah terbuka kancingnya satu persatu, untuk pertama kalinya laki-laki itu, melihat payudara milik kekasihnya yang putih. Gadis itu pun duduk di meja kantornya, laki-laki itu mulai menciumi setiap bagian payudaranya menyusuinya dengan lembut, membuat gadis itu mendesah merasakan kebahagiaan dalam bercinta. Pakaian yang pakai gadis itu, sudah sebagai terlepas. Laki-laki itu tak berani menyentuh bagian sensitif gadis itu, ia ingin merasakan setelah gadis itu menjadi istrinya. Ia hanya mencium bagian dada gadis itu, memberi tanda merah sebagai tanda kepemilikan bahwa gadis itu miliknya sekarang. Seluruh dada gadis itu, penuh dengan tanda merah yang laki-laki itu berikan untuk kekasihnya. Laki-laki itu, masih semangat menyusui kepada gadis itu, sambil memegang payudara sebelah lagi. Sedangkan gadis tersebut mengerang merasakan kenikmatan bercinta dengan kekasihnya yang jarang mereka lakukan karna, keduanya sibuk.
__ADS_1
bersambung...