
Lama Tasya menunggu, Azka tak kunjung datang. Akhirnya gadis itu pun meninggalkan Resto.
Azka sudah tau sedari tadi, Kalsu Tasya ingin menemuinya. Namun Azka beneran malas untuk menemui gadis itu. Dari pertama kali melihat, laki-laki itu sudah tak suka. Bukan tive Azka, Wanita seperti Tasya. Gadis seperti Tasya, tak layak diperjuangkan. Hanya indah untuk dijadikan pajangan. Gadis tersebut menang cantik, ia seorang model. Yang selalu harus tampil cantik kapanpun dimana pun, seperti mantannya, Dewi.
Dewi, sudah menjadi model tingkat internasional. Tiga tahun yang lalu, ia sudah menikah dengan pria kebangsaan Jerman. Mereka pun sudah tinggal di sana, sekarang.
Terkadang, Azka sesekali, melihat Sosmed milik Dewi. Pengikutnta sudah banyak mencapai jutaan, Laki-laki itu pun salah satu pengikut Dewi. Walau gadis itu, tak mengetahuinya.
Kring kring kring.
Suara ponselnya berbunyi sedari tadi. Laki-laki itu, malas sekali untuk mengangkat ponselnya. Ia tau, siapa yang menelponnya sejak tadi? Tiada lain, Tasya! Azka beneran malas berurusan dengan gadis agresif itu. Setiap hari gadis itu, sekalu mengganggunya tanpa lelah.
Laki-laki itu pun merasa jengkel, akhirnya mengangkat telpon dari gadis tersebut, "Halo," jawabnya dibalik telpon.
"Akhirnya kamu jawab telpon aku," ucapnya merasa senang, pada akhirnya, laki-laki yang ditunggunya, menggangkat telponnya.
"Ada Apa?" tanya Azka sinis.
"Aku mengganggumu, Azka!"
"Hmm," jawabnya malas.
Baginya, gadis ini begitu menyebalkan de gan sikap agresifnya, membuat laki-laki itu merasa risih. Namun gadis itu, tak menyadarinya.
"Aku kangen kamu, aku sengaja datang ke Resto untuk bertemu denganmu, namun kamu terlalu sibuk, sehingga aku tak dapat menemuimu."
"Oh."
"Ko, cuma Oh sih, kamu tak merindukan aku?"
"Sayangnya, aku tak pernah merindukanmu!"
"Azka, kenapa kamu selalu seperti itu? Tak bisa kah, kamu melihatku sebentar?"
"Maaf, Aku begitu sibuk hari ini. Aku tak punya waktu untuk meladenimu."
"Sebentar saja, bisa kah kita bertemu sore ini?"
"Maaf tak bisa?"
__ADS_1
"Sebentar saja?"
"Maaf." Azka menutup ponselnya. Laki-laki itu begitu malas untuk berbicara pada gadis itu.
"Ka, Azka," gerutunya kesal. Karna, laki-laki tersebut langsung menutup telponnya. Membuatnya kesal. Gadis itu, tak diberi kesempatan untuk bisa berbicara lagi padanya.
"Tak berhasil!" seru Doni, berada di samping Tasya. Melihat gadis itu, cemberut karna, kesal.
Tasya tersenyum kecut, melihat reaksi Doni yang begitu menyebalkan.
"Harusnya Lo lebih keras lagi, untuk mendekati Azka," ledek Doni, mengkompori gadis itu. Untuk semakin keras mengejar laki-laki seperti Azka.
"Ngomong doang, emang gampang? Melakukannya yang susah," bentak gadis itu, kesal dengan ucapan Doni.
"Lo kurang berusaha saja?," ucapnya berpaling menerawang jauh ke lamunannya, "Kali ini, Tasya harus bisa mengoda Azka. Laki-laki itu tak boleh lebih sukses darinya. Hasil usahanya kini, harus secepatnya ia hancurkan bagaimana pun caranya?" itu yang Doni pikirkan.
Gadis itu pun kesal, dengan Doni. Ia tau, Doni hanya memanfaatkannya untuk kepuasannya sendiri. Namun, tak bisa di pungkiri gadis itu juga tak bisa melepaskan laki-laki sesukses Azka. Ia sudah bisa membayangkan hidupnya akan makmur sampai tujuh turunan bila, ia berhasil mendapatkannya.
🍀🍀🍀🍀
Di tempat lain.
Lamunannya buyar saat seseorang menghampirinya, "Hay," sapa Soni sudah berdiri dihadapannya tanpa gadis itu, sadari.
Gadis itu, menoleh dan tersenyum ke arah Soni.
Sepasang mata cantik memperhatikan Darania dan Soni. Gadis itu begitu cemburu melihat kedekatan mereka. Gadis itu, hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apa-apa? Ia pun berpikir, "Kenapa bisa sedekat itu?" Membuat Elis merasa tak nyaman,hatinya benar-benar terbakar api cemburu yang berkobar-kobar dalam hatinya melihat mereka bersama.
Shintia, melirik Elis sesaat. Ia menyadari kalau Elis menyukai Soni. Mungkin hanya gadis itu yang menyadari tentang perasaan Elis saat ini, bahwa ia sedang cemburu.
Lilian beranjak dari tempat duduknya. Mendatangi Darania dan Soni yang sedari tadi, mereka bercanda-canda sampai terlihat Darania tertawa lepas setelah Soni datang menghampirinya.
"Kalian ngomongin apa'an sih? Aku jadi kepo?" tanya Lilian berdiri disamping Soni.
Darania tersenyum melihat Lilian. Wanita itu, pun mengajak Shintia dan Elis untuk bergabung dengan mereka.
"Lis, Tia ke sini sebentar. Kita rileks sejenak. Mumpung tak ada Mas Azka," serunya.
Elis tersenyum, tak berani menghampiri mereka bertiga. Ia begitu malu pada Soni. Melihat senyum laki-laki itu, membuat hatinya begitu meleleh. Laki-laki selalu membuat Elis, selalu mengaguminya.
__ADS_1
"Kalian berani santai seperti ini? Aku lapor Azka loh?" godanya dibarengi tawa Darania dan Lilian.
"Kalau mau lapor, tinggal lapor saja? Kita tak takut?" Lilian semakin menggoda Soni.
Soni, tersenyum mendengar ucapan Lilian. Sepasang mata Elis dan Soni tanpa sengaja bertemu. Tatapan Elis menyiratkan rasa cinta yang begitu dalam pada laki-laki itu. Mereka tak pernah tau, tentang isi hari mereka. Keduanya bahkan tak berkedip saat mereka saling memandang satu sama lain. Melihat keindahan cinta yang mereka rasakan dalam hati yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata . Hingga lamunan keduanya buyar saat seseorang berteriak dari luar, membuat kegaduhan.
"Aku ingin ketemu Azka?" bentak seorang gadis yang begitu cantik dan juga sexy. Berteriak-teriak di luar Resto. Karna, seseorang mencegah gadis itu masuk ke dalam.
"Maaf kak, saya sudah bilang dari tadi. Mas Azka sedang berada di Resto Cabang," ucap waiters masih terlihat ramah. Menjelaskan pada gadis yang marah-marah di depan Resto itu.
"Kalian bohong sama aku, Aku tau Azka ada di dalam," bentaknya lagi.
Mendengar kegaduhan itu, membuat Soni, Lilian, Darania, Elis dan Shintia keluar ruangan untuk melihat, siapa gadis yang membuat kegaduhan itu.
"Gadis gila itu lagi," guman Lilian pelan. Saat semuanya keluar ruangan.
"Memang gadis itu siapa Mba?" tanya Darania penasaran, saat ia berdiri disamping Lilian. Melihat gadis itu, begitu sempurna dimata Darania.
"Siapa lagi, kalau bukan penggemar Mas Azka?" Lilian tak suka melihat gadis itu.
Darania mengerutkan keningnya, melihat gadis itu, dari kejauhan.
"Kehadiran mereka, hanya menggangu saja," ucap Shitia risih dengan gadis itu.
Darania menoleh ke arah Shitia. Ia benar-benar tak mengerti dengan ucapan Shitia. Darania benar-benar bingung kali ini.
Melihat reaksi Darania, Lilian pun bergumam lagi, "Mas Azka sering membuat para gadis patah hati!"
Darania melihat gadis itu, begitu sempurnanya dia. "Gadis itu, ditolak Azka, apalagi dirinya, hanya gadis biasa," itu yang dipikirkan Darania saat ini.
"Aku kasihan sama gadis-gadis itu?"
"Kasihan kenapa?" tanya Darania semakin tak mengerti.
"Kasihan saja, mereka sudah tau, Mas Azka dingin sedingin gunung es. Masih saja mengejarnya mati-matian. Kalau aku, tidak mau mengejar laki-laki seperti itu! Buang waktu dan tenaga. Cape hati dan pikiran."
Darania, menelan salivanya, saat mendengar ucapan Lilian. "Bagaimana bisa, Azka menolaknya gadis sesempurna itu," Darania berpikir seperti itu. Memikirkan dirinya sendiri.
Bersambung...
__ADS_1