
Azka memperhatikan Darania dari balik jendela, ruanganya. Rasanya ia, ingin menyapa Darania, namun sulit sekali untuknya melangkah. Kakinya membeku seperti batu, padahal ia datang lebih pagi untuk bertemu dengannya. Setelah karyawan lain masuk, akan susah untuk bertemu dengannya dan ia juga akan sibuk dengan pekerjaannya. Lamunannya buyar ketika pintu kantornya diketuk dari luar.
Tok tok tok.
Azka menoleh ke arah pintu, ia segera duduk dikursinya, dan pura-pura sibuk dengan dokumennya.
Cklek.
Darania, membuka pintu ruang Azka, "Pagi pak," sapa Darania, sambil tersenyum.
Azka melirik Darania, yang langsung duduk di hadapannya, "Ada apa?" tanyanya pura-pura judes, untuk menutupi hatinya yang gugup.
"Maaf pak, bolehkah saya minta izin sore ini,? tanyanya, berharap Azka memberikannya izin.
"Izin untuk apa?" tanyanya mulai serius, memandang wajah Darania dengan serius.
Huuuuufffff.
Darania menghembuskan nafas panjang, "Maaf pak, saya harus mengantar mamah untuk kontrol jam 03.00 sore. Saya akan mengganti waktu ini, dengan hari yang lain," ucapnya sembari memohon. Berharap Azka mengizinkannya.
"Maafnya, kalau boleh tau, mamah anda sakit apa?" tanya Azka mulai penasaran.
"Minggu kemarin, penyakit vertigonya kambuh. Harusnya ia, di rawat inap. Namun mamah tak mau, di rawat inap. Ia ingin rawat jalan saja," jawabnya serius.
"Di rumah sakit mana, mamah anda akan kontrol?" tanyanya mulai penasaran dengan semua tentang Darania.
Darania berpikir, "Kenapa Azka mulai ingin tau, tentang mamahnya? Membuatnya bingung, namun ia tak mempermasalahkan itu, toh mamahnya memang sedang sakit.?
__ADS_1
"Di rumah sakit Harapan Kita," jawabnya masih bingung.
Azka berpikir sejenak dan mulai bertanya, "Bagaimana, Kalau saya yang mengantar mamah anda?" Azka refleks menawarkan diri untuk pergi dengannya.
Darania bingung, dengan penawaran Azka. Ia masih bertanya-tanya, maksudnya apa? Ia berpikir, apakah ia, memperlakukan ini, padanya? Atau sama semua karyawan seperti ini? Semua ini, membuatnya bingung. Tak ingin ke-GR-an karna, sikap Azka.
"Anda jangan salah paham, saya tak ada maksud lain. Saya hanya ingin mengantar saja, soalnya pada jam segitu, jalanan mulai macet. Saya takut anda akan terlambat mengantar mamah anda," ucapnya menjelaskan pada Darania.
Ucapannya membuyarkan lammunan Darania, "Maaf pak, saya tak ingin merepotkan bapak! Saya antar mamah saya sendiri, saja!" tolak Darania.
"Kalau anda menolak! Saya tidak akan kasih anda izin," ucapnya lagi, dengan senyum jahat. Secara tak langsung memaksa Darania untuk menerima tawarannya.
Dengan berat hati, Darania menerima tawaran Azka. Walau sebenarnya ia tak enak, jika harus merepotkan bosnya. Namun ia juga tak bisa menolaknya. Darania pun pamit, kembali ke tempatnya, walaupun hatinya masih merasa tak enak.
Azka tersenyum, melihat expresi Darania seperti itu. Sedari tadi jantungnya tak berhenti berdetak. Ia bingung, dengan dirinya sendiri. Sikapnya kali ini, menjadi melunak bila didekatnya. Berbeda dengan yang lain.
Soni menghampiri Darania, yang sedang melamun setelah keluar dari ruangan Azka.
"Bagaimana sudah minta izinya," tanya Soni, penasaran. Karna tadi pagi, Ia sudah bercerita pada Soni, untuk mengantar mamahnya kontrol.
Darania menganguk.
"Kenapa, Azka tak memberikan izin?" tanyanya lagi.
"Aku di berikan izin, tapi..." Darania tak melanjutkan ucapannya.
"Tapi kenapa?"
__ADS_1
"Tapi, dia yang mengantar aku dan mamah ke rumah sakit!".
Soni tersenyum.
Soni teman pertama Azka di kota Salatiga, umurnya sama dengan Arya, adiknya Azka. Soni duda beranak satu. Soni pernah menikah, dan baru dua tahun rumah tangga, istrinya meninggal. Karena melahirkan anak pertamanya, putri Soni sekarang, berusia tiga tahun, dan di asuh oleh mamahnya Soni.
Soni masih belum bisa move on dari sang istri, bukanya tak ingin menikah lagi. Namun ia mempertimbangkan tentang statusnya seorang duda beranak satu. Soni termasuk laki-laki yang tampan dengan tubuh atletis dan kekar dengan tinggi 175 cm. Mamahnya slalu menjodohkan Soni dengan anak dari temanya. Namun Soni menolak, Ia masih betah menduda. Bukannya tak ingin mencarikan ibu baru untuk putri kecilnya. Soni belum siap, untuk kembali berumah tangga. Ia masih memcintai sang istri, itu membuat Azka dan Soni merasa cocok sebagai teman.
Teman sesama patah hati, karena keduanya ditinggal sang kekasih hati. Soni masih beruntung, setidaknya masih bisa merasakan indahnya berumah tangga, berbeda dengan Azka yanh mengalami Kisah yg tragis.
Soni, Azka duda dan perjaka yang paling tampan di Rerto. Keduanya menjadi Idola karyawan disini. Mereka lebih menyukai Soni dibanding Azka. Soni lebih ramah di
banding Azka. Soni lebih menawan, dari Azka. Mungkin benar, duda lebih menggoda dari perjaka, karna mereka, sudah berpengalaman di banding Azka, masih perjaka tong-tong.
Azka masih bersih, tak pernah bermain dengan gadis manapun. Berbeda dengan Soni, ia selalu ingin melepas hasrat biologisnya dengan gadis-gadis manapun, sesuai keinginannya.
Soni, tak pernah bercinta dengan gadis perawan, ia tak ingin merusak gadis gadis itu, baginya keperawanan mereka,milih suaminya, Soni tak berhak soal itu.
Soni menikah dengan istrinya, saat ia masih perjaka dan perawan. Soni begitu menyayangi alhmrhum istrinya, Kalula. Ia laki-laki yang baik, sama seperti Azka, ia begitu setia pada istrinya. Namun hasratnya tak bisa ia kendalikan ia butuh, sentuhan wanita, sebagai pelampias nafsunya.
Sepasang mata terlihat cemburu, memperhatikan keakraban Soni dan Darania. Dia, Elis sedari tadi melihat mereka. Sudah sejak lama Elis mencintai Soni. Namun ia tak bisa sedekat itu, dengan Soni. Padahal ia, sudah lima tahun bekerja bersama Soni. Namun tak bisa meluluhkan hati Soni. Hubunganya dengan Soni tak ada kemajuan. Elis begitu pemalu, sudah bergaul. Berbeda dengan Darania, yang supel dan mudah bergaul. Baru dua hari saja, Darania sudah dekat dengan semua orang membuatnya iri.
Tanpa Elis sadari, Soni sudah sejak lama memperhatikan Elis. Namun Elis sendiri tak menyadari itu, ia hanya melihat Soni, namun tak memperhatikan Soni. Elis begitu sulit didekati, membuat Soni bingung, harus mulai dari mana. Itu yang membuat mereka seperti ini, kenal hanya sekedar kenal saja. Tak pernah, bertegur sapa, apalagi mengobrol?
Elis ingin bisa seperti sifat Darania. Namun itu, begitu sulit untuknya. Elis sudah takut, sebelum mencoba untuk mendekati Soni. Elis hanya berdiri di tempat. Untuk melihatnya dari sana, tak ingin mencoba beranjak. Kehadiran Darania, membuatnya tersadar, ia tak bisa diam ditempatnya. Posisinya terancam karna, Darania. Ia tak ingin, sampai Darania bersama Soni. Sudah terlalu lama Elis menunggu, mulai sekarang ia akan mengejar Soni. Mengejar kebahagiaannya sendiri.
Bersambung...
__ADS_1
Sudah Revisi, membagi waktu dengan dua bocah....