
Tepat jam 2.00 siang, Darania bergegas keluar ruangan staf. Ia segera bersiap untuk segera pergi.
Darania merasa tak nyaman bila harus diantar Azka. Walau sebenarnya Azka, selalu mengantarkan semua karyawannya, bila terjadi sesuatu pada karyawannya. Azka ingin memastikan bahwa Azka bisa di andalkan oleh karyawannya. Makanya Azka tak ingin dipanggil Bos. Azka lebih senang dipanggil Mas Azka dari pada Bos Azka. Terkecuali Soni, memanggil Azka dengan sebutan nama, karna Azka sendiri yg memintanya.
Darania keluar mengendap-endap dari ruangan staf, agar tak ketahuan Shintia yg dari tadi sibuk sendiri dengan pekerjaannya. Elis sudah dari tadi, sebelum makan siang sudah berada di depan kasir. Soni, memang selalu sibuk di gudang makanan dan Pantry.
Langkah Darania terhenti begitu Shintia memanggilnya. Shintia memang karyawan termuda di ruangan staf. Dan Shintia sendiri sudah bekerja selama 2 thn di Resto.
"Mba udah selesai," tanya Shintia sedari tadi memperhatikan Darania.
Darania berdiri mematung, menoleh pada Shintia dengan senyum masamnya.
"Iya Shin,"jawab Darania singkat, dan gugup karena, ketahuan Shitia.
"Tadi, Mas Azka berpesan sama aku. Kalau Mba Dara sudah selesai, segera ke ruangan Mas Azka," ucap Shintia cuek, kembali pada pekerjaannya. Ia sudah menyampaikan, apa yang disuruh oleh Bos? Terserah mau dipatuhi atau tidak.
"Oh oke," jawab Darania singkat dan gugup.
Shintia kembali sibuk, setelah Darania keluar ruangan staf.
Dengan malas, Darania berjalan ke ruang Azka. Namun ia tak ada di ruangannya. Membuat Darania, merasa bahagia, "Mungkin Azka lupa, itu lebih baik. Karna Darania, tidak nyaman bila harus di antar Azka," pikirnya.
Begitu terkejutnya Darania, saat melihat Azka sudah berada di parkiran, depan Resto. Azka berdiri di samping mobil Pajero sport-nya. Dari kejauhan ia tersenyum padanya, senyum ejekan bagi Darania. Azka lebih licik dari yang Darania duga. Azka sudah diselangkah lebih maju darinya. Ia, tak pernah menyangka, Azka akan berpikir seperti ini.
__ADS_1
Azka menghampiri Darania, "Berangkat sekarang?"tanyanya, membuyarkan lamunan Darania.
Darania mengangguk tak bisa berkata-kata lagi.
"Ayo," ajak Azka, menarik tangan Darania agar segera masuk mobilnya.
Dari jauh, Soni memperhatikan Azka dan Darania. Entah kenapa, ada rasa cemburu dihatinya? Soni tau, Azka hanya mengantarkan Darania, untuk menemani mamahnya kontrol ke rumah sakit. Namun kenapa, Soni merasa marah dan kesal, melihat mereka? Elis memperhatikan Azka dan Darania, dan melihat ke arah Soni! Elis merasa sedih, kenapa Soni tak cemburu padanya? Kenapa Soni tak membuka hatinya untuknya? Dari dulu, ia sudah memcintai Soni, namun Soni memilih Kalula? Ia begitu memcintai Soni, Semua ini, merasa tak adil baginya. Ia berharap, suatu hari nanti Soni akan membalas cintanya.
Di mobil, Darania terdiam melamun sendiri. Azka bingung harus mulai dari mana! Agar suasananya tak canggung seperti dalam kuburan.
"Di mana rumahmu?" tanya Azka sambil menyetir mobilnya, mulai mencairkan suasana kaku dan canggung seperti di kuburan. Namun Darania, tak mendengar ucapan Azka, ia masih sibuk dengan lamunannya.
"Eh iya Pak, Eh Mas," ucap Darania gugup, membuyarkan lamunannya sedari tadi.
Darania tertunduk malu. Kenapa Darania malah gugup saat bersama Azka? Azka memang laki-laki baik pada setiap karyawannya. Namun entah kenapa? Ia merasa tersentuh dengan kebaikan Azka. Belum pernah ada seseorang yang begitu tulus seperti yang Azka lakukan. Dari dulu hanya sebuah kepalsuan yang ia terima. Kali ini l, Azka benar-benar telah menyentuh hatinya, merasa tak berdaya dengan hidupnya. Walau bagi orang lain, sikapnya biasa, namun bagi Darania, begitu berharga.
Darania mulai meneteskan air matanya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Azka, mulai panik karna Darania menangis.
"Apa kata-katany salah? Kenapa gadis ini malah menangis," pikir Azka dalam hatinya, benar-benar tak tau kenapa ia menangis?
Darania menghapus air matanya dengan ujung jarinya, "Maaf Mas, tidak seharusnya, aku seperti ini," ucapnya terisak-isak, menahan air matanya agar tak keluar lagi.
__ADS_1
"Tak apa-apa, menangislah, kalau itu, bisa membuatmu tenang," ungkapnya, pada Darania.
Hiks Hiks Hiks
"Aku tak tau, kalau ada yang begitu baik padaku. Mungkin bagimu ini, biasa. Tapi bagiku, ini begitu berarti untukku," gumannya kembali menangis.
Azka memberhentikan mobilnya.
"Maaf Dara, bila saya ikut campur dalam urusan pribadimu. Kalau kamu ada masalah, kamu bisa cerita sama aku."
"Terlalu rumit Mas, untuk diceritakan sekarang. Lagi pula pasti mamah saya nunggu di Kontrak-an dengan cemas, karna saya belum datang!" seru Darania, tak ingin melanjutkan obrolannya dengan Azka, rasanya sakit, bila harus menceritakan kisahnya pada orang yang baru dikenalnya dua hari ini. Apalagi dia bosnya sendiri! Ia tak ingin bergantung, pada siapapun?Dan hidup diatas kakinya sendiri. Tak ingin merepotkan Bosnya atau siapapun itu? Ia tak ingin tertipu untuk yang kedua kalinya. Walau Azka baik padanya, namun ia tak mempercayai Azka sepenuhnya, dan menjadi bahan gosip di tempat kerjanya. Karna, memanfaatkan kebaikan dan berhutang budi pada bosnya.
"Maafkan saya, seharusnya saya tak ikut campur dalam urusan pribadimu," ucapnya sedikit kecewa, Karna, gadis ini, belum mempercayainya. Azka ingin lebih dekat dengannya, ia harus bersabar untuk bisa mendekatinya.
Azka pun kembali menyetir mobilnya.
Darania melihat Azka kecewa, belum saatnya ia bercerita pada Azka. Darania masih takut, pada Azka, rasa sakit dihatinya, masih nampak, ia tak ingin menabur garam dilukanya. Semua begitu cepat, terjadi begitu saja dalam hidupnya, sepuluh tahun bersama dia, tak menjadi jaminan, untuk menggapai kebahagiaannya. Semua mimpinya runtuh seketika, oleh pengkhianatannya yang tak pernah terpikirkan olehnya selama hidupnya.
Azka masih fokus menyetir, sesaat Darania melirik Azka, dan kembali dengan lamunannya, Azka menanyakan di mana ia tinggal? Darania pun menunjukan arah menuju kontra-an, Ia benar-benar cemas dengan kondisi mamahnya. Azka tak berbicara lagi, bukan karna, ia marah. Namun Azka sedang memikirkan untuk lebih dekat dengannya. Berbeda dengan yang Darania pikirkan, ia memikirkan mamahnya dan juga sikap bosnya ini, ia benar-benar merasa tak enak, sudah membuat Azka kecewa. Itu yang di pikirkannya. Membuat keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai tak terasa, mereka sudah sampai di kontra-an Darania. Dan mereka masih terdiam, tak ada kata yang keluar dari keduanya. Sibuk dengan lamunannya masing-masing, sibuk dengan hati mereka sendiri.
Bersambung....
Huu, semangat.... Lanjut Revisi....
__ADS_1