
Para staf perempuan itu, masih asik mengobrol di luar. Menceritakan tentang kisah Darania dan Azka. Semua mendengarkan dengan jelas. Kecuali Elis masih resah dengan hatinya sendiri. Tinggal satu minggu lagi, sampai akhir bulan. Elis harus Bagaimana? Surat pengunduran diri sudah di tangan Azka. Tapi Azka masih belum menyetujuinya. Azka meminta Elis untuk berpikir lagi, namun waktunya seminggu lagi.
Seorang dokter dan perawat pun mendatangi Darania. "Dara," panggil perawat Emi, melihat Darania mengobrol dengan teman stafnya.
Semua menoleh, ke arah suara perawat itu. Darania menghampiri perawat dan dokter itu.
"Perawat Emi, gimana kabarnya," tanya Darania sambil memeluk perawatan yang hampir separuh baya itu.
Lilian, Elis dan Shintia bengong melihat Darania mengenal perawat dan dokter itu, tersenyum kepada gadis itu, yang menyalami dokter separuh baya itu. Gadis itu, membalas pelukan perawat Emi. Terlihat mereka begitu akrab, membuat mereka penasaran.
Soni keluar dari ruangan Azka, melihat kedua orang tuanya, perawat dan dokter itu pun menemuinya. Laki-laki itu, begitu sopan kepada dokter dan perawat itu, membuat Elis penasaran. Mereka agak jauh dari ruang Azka, membuat mereka, tak bisa mendengarkan apa yang dokter, perawat, soni dan Darania ucapkan. Dokter dan perawat itu, pun melihat arah Elis, saat berbincang dengan Darania dan Soni. Tatapan perawat dan dokter itu, membuat Elis berdebar, deg degan tak karuan.
Soni menyalami kedua orang tuanya Dokter Rian dan perawat Emi, gadis itu tersenyum melihat Soni begitu sopan terhadap orang tuanya.
"Yah, aku sudah mempunyai calon sekarang," ucap laki-laki serius.
Dokter Rian dan perawat Emi melihat Darania. Mereka berdua menyangka Daranialah yang menjadi calonnya Soni. Laki-laki memperhatikan tatapan orang tuanya, ia pun berkata, " Yah, Bu bukan Dara, tapi gadis yang memakai baju coklat itu." tunjuknya ke arah gadis yang memakai baju coklat pada saat itu.
Darania menutup mulutnya. Tak percaya dengan apa yang di ucapkan Soni? Dokter Rian dan perawat Emi pun melihat ke arah Elis. " Dia cantik, terus Darania sama siapa kalau bukan sama kamu?" tanya perawat Emi berharap gadis itu, yang menjadi pendamping putranya.
"Dara punya Azka, Bu! Aku pilih gadis itu saja. Dia masih gadis," ucapnya lagi, kembali melihat Elis dari kejauhan.
"Azka, waw kabar bagus, akhirnya anak itu, mau membuka hatinya lagi," ucap perawat Emi sumeringah, melirik gadis yang di sebelah putranya yang tersipu malu, membuat wajahnya semerah buah tomat.
__ADS_1
"Apakah gadis itu, menerima kamu yang sudah punya buntut?" tanya Dokter Rian, mengkhawatirkan putra semata wayangnya.
"Aku yakin, dia menerima Yasmine sebagai anaknya," ucap laki-laki tersebut yakin 100%. Karna, menurut Azka gadis itu, sudah lama menyukainya, pasti ia menerima Yasmine sebagai anak sambungnya.
"Ayah dan Ibu, setuju saja dengan keputusan kamu nak, apa pun itu, Ibu setuju saja," ucap Dokter Rian sambil tersenyum.
"Makasih yah, bu," ucapnya, memeluk kedua orang tuanya.
"Ibu sama Ayah baru ke ruang Azka dulu, ingin melihat keadaannya." ucap perawat Emi pamit. Laki-laki itu pun melepaskan pelukannya.
Darania senyum-senyum sendiri melihat Soni.
"Kamu, kenapa?" tanya Soni melihat ke arah Darania.
"Aku tak nyangka, kamu sudah minta izin sama orang tua kamu untuk bersama Elis," ucap Darania sambil senyum.
"Kalian saingan?"
"Tidak juga sih, cuman aku ngerasa panas saja, kalau Azka lebih dulu menikah dibanding aku? Masa Duren sekeren aku, kalah sama bujang lapuk kaya Azka!" serunya sambil menoleh ke arah gadis itu, sembari mengodanya.
Gadis itu cemberut, saat laki-laki itu mengatakan kekasihnya bujang lapuk, membuat gadis tersebut merasa kesal sekali.
Dokter Rian dan perawat Emi pun melirik gadis yang bernama Elis sambil tersenyum, di balas oleh gadis itu. Laki-laki itu, berjalan mendahului Darania berjalan di belakang dokter Rian dan perawat Emi. Laki-laki tersebut tersenyum saat melewati gadis itu, membuat gadis itu bingung dengan perlakuannya akhir-akhir ini. Hatinya bertanya-tanya sendiri, "Ada apa denganmu." gadis itu pun menghembuskan nafas panjang, saat laki-laki tersebut memasuki ruangan Azka.
__ADS_1
Likian menarik tangan Darania, sebelum gadis itu, masuk ruangan kekasihnya, "Aku mau tanya sama kamu?" tanya Lilian yang sudah sedari tadi penasaran.
"Ada apa Mba?" tanya balik Darania.
"Kok, kalian terlihat akrab dengan dokter dan perawat itu, kamu mengenalnya Dara?"
"Oh, Dokter Rian dan perawat Emi, mereka berdua yang merawat mamahku."
"Ada lagi?" tanya Lilian masih penasaran.
"Kalian mau tau??" tanya gadis itu, sembari menggoda mereka.
Semua menganguk, tanpa terkecuali, "Mereka...." gadis itu tak melanjutkan ucapannya ingin membuat mereka semakin penasaran.
"Mereka apa..?" tanya Shintia yang ikut penasaran ketularan kepo Lilian.
Elis dan Lilian menganguk.
"Mereka berdua itu, orang tua Soni," bisik gadis tersebut pelan.
"what's" Lilian seakan tak percaya dengan ucapan Darania. Wanita itu, dekat dengan Soni, namun ia tak pernah menanyakan tentang orang tuanya. Membuat ketiga wanita itu, terkejut setelah mengetahui Dokter dan perawat itu, orang tua Soni.
Elis terdiam, ia menyadari ada yang lain yang mereka bicarakan. Sikap dokter dan perawat itu, berbeda kepadanya. Apalagi dengan sikap Darania? Mereka menyembunyikan sesuatu darinya. Gadis itu tau, kalau laki-laki yang ia cintai mulai memcintainya. Gadis tersebut terus berpikir tentang laki-laki itu. Pikirkan sudah pesimis duluan. Bukan tanpa alasan yang bersikap seperti itu, ia menyadari kalau kalau dirinya tak ada harapan untuknya. Di lihat dari setiap gadis yang mendekatinya begitu cantik dan menawan. Gadis itu, pesimis dengan apa yang akan terjadi. Hatinya sudah bertekat untuk melepaskan laki-laki itu. Ia hanya ingin bahagia. Walau kebahagiaan itu, tak bisa memihaknya. Elis tak pernah mengetahui tentang perasaan Laki-laki tersebut terhadapnya. Selalu saja, dalam pikirannya, ia kalah saing dengan gadis -gadis yang lebih dari segalanya darinya. Hatinya sakit mengingat semua itu. Gadis tersebut selalu menyakinkan dirinya sendiri untuk pergi jauh dari perasaannya yang semakin hari semakin besar untuknya. Mungkin sudah saatnya ia pergi dari hidup laki-laki yang cintai. Gadis itu pasrah dengan hatinya yang telah terluka karna, tak bisa memiliki laki-laki yang ia cintai, yang selalu ia simpan dalam hatinya. Gadis itu, tak mengetahui tentang kebahagiaan yang sedang menanti di depan matanya, yang tinggal selangkah lagi, menuju kebahagiaan yang tak bisa ia tolak sama sekali.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa like yah..